Mafia Kena Karma

Mafia Kena Karma
Bodohnya Aku


__ADS_3


Si pengantin baru 🤭🤭🤭


Pernikahan Leon dan Mada akhirnya terlaksana. Dalam beberapa menit, status Mada berubah jadi seorang istri dan Leon menjadi seorang suami. Rio langsung menangis haru, dia menikahkan kakaknya sendiri, dia yang melow. Rasanya senang bercampur sedih saat melihat sang kakak tersenyum bahagia setelah resmi dipersunting oleh Leon. Bisa Rio lihat, jika dua orang itu kini saling mencintai.


Sama dengan Lyli, gadis itu juga memeluk sang kakak dengan derai tangis penuh syukur. Kakaknya kini memiliki pasangan hidup.


"Maaf, kakak egois. Harusnya kakak menunggu kamu menikah dulu. Jika seperti ini, kamu jadi sendiri kan?" Leon sedikit menyesal dengan keputusannya. Dia tidak memperhatikan perasaan Lily. Namun di luar dugaan, jawaban Lyli membuat hati Leon tenang.


"Bentar lagi juga aku nyusul. Jadi jangan khawatir. Lagian kakak dah tua juga. Keburu karatan nanti. Nikmati aja pernikahan kalian."


Leon tersenyum mendengar jawaban Lyli, meski terdengar absurd, enak saja dirinya dibilang karatan. Leon memperhatikan Lyli yang berjalan menjauhi pelaminan, bergantian dengan tamu yang mengantri ingin mengucapkan selamat pada pengantin baru.


Mata Lyli memindai seluruh venue pernikahan sang kakak, mencari satu orang yang sejak tadi ia ikuti. Namun setelah acara ijab kabul selesai, pria itu malah menghilang entah ke mana. Ian berlaku sebagai saksi pernikahan dari pihak Mada. Tadi Lyli melihat pria itu tengah berbincang dengan Rio, tapi sekarang tidak terlihat jejaknya di mana-mana.


Gadis itu berputar-putar di tempat itu. Sedikit kesulitan karena kebaya pres bodi yang dia pakai plus rambut yang disanggul membuat Lyli pusing. Biasa memakai celana panjang dan rambut dicepol asal, style Lyli sekarang serasa menyiksa dirinya. Ditambah heels delapan senti semakin membuat Lyli tidak nyaman bergerak. Berkali-kali gadis itu hampir oleng karena sepatu terkutuk itu.


"Kawinan pake sneakers bisa gak ya. Atau pake swalow aja sekalian. Ribet amat dah." Gerutu Lyli sejak tadi. Gadis itu kembali mencari, dan....dapat. Dilihatnya Ian yang tengah keluar dari venue sambil menerima panggilan di ponselnya.


"Aku akan kembali setengah jam lagi. Katakan saja apa yang kamu dan Faaz inginkan. Akan kubelikan."


Sepenggal kalimat yang Lyli dengar sebelum Ian menutup panggilannya setelah menyanggupi apa yang orang di ujung sana minta.


"Ian....," tubuh Ian membeku mendengar panggilan Lyli. Beberapa hari ini, dia memang sengaja menghindari Lyli. Ian tidak ingin menyakiti Lyli namun sepertinya dia tidak bisa menghindar lagi kali ini.


Situasi di negara M masih kacau. Setelah penyerangan 500 orang kemarin berhasil dibendung oleh militer negara itu yang bekerjasama dengan klan mafia miliknya. Keadaan kini justru semakin parah. Di mana pihak lawan, yang memproklamasikan diri mereka sebagai pemberontak, beralih melakukan teror pada penduduk sipil. Para pemberontak itu menculik, membunuh bahkan memperkosaa para gadis yang mereka temukan di jalan. Tidak pandang bulu. Tua muda, pria wanita, anak-anak semua menjadi korban kekejaman para pemberontak itu.


Meski pemerintah sudah turun tangan berpatroli di jalanan setiap saat. Dan angka kejahatan itu semakin berkurang, tapi ketakutan dan kepanikan penduduk masih tinggi. Dengan situasi seperti ini, Lyn tentu saja belum bisa kembali ke negaranya. Sampai batas waktu yang tidak dapat ditentukan.

__ADS_1


Oleh karena itu, Ian dalam beberapa hari ini telah berpikir. Jika Lyli tidak mampu menerima penjelasannya, maka Ian akan melepaskan gadis itu. Sebab status Lyn adalah istri Ian saat ini. Dan dia tidak bisa menyebut nama Lyn sembarangan. Fao sudah memberitahunya kalau jaringan pemberontak itu telah menyebar untuk mencari Lyn dan Faaz, setelah tahu ratu dan putra mahkota negara itu telah diungsikan ke luar negeri.


"Ada yang ingin aku tanyakan," Lyli mulai bicara. Sesaat, gadis itu melihat kebingungan di wajah Ian.


"Apa yang sedang terjadi di antara kita?" tanya Lyli. Di depannya Ian hanya bisa diam. Tidak tahu harus menjawab apa.


"Apa aku berbuat salah? Sampai kamu menghindariku beberapa waktu ini." Perkataan Lyli membuat hati Ian tercubit. Lyli tidak salah, dirinya yang salah. Pria itu bisa melihat kalau Lyli masih memakai cincin pemberian darinya. Cincin yang ia janjikan akan segera ia tukar dengan cincin pernikahan. Ian menarik nafasnya dalam lantas menundukkan wajahnya.


"Maaf....," hanya kata itu yang bisa Ian ucapkan.


"Apa maksudmu dengan maaf?" kejar Lyli. Untuk sesaat keduanya diam. Lyli menunggu jawaban Ian dan pria itu tengah memilah kata. Satu sisi diri Ian memaki kebodohan pria itu. Apa salahnya sih tinggal berkata jujur. Kalau dirinya sedang on duty sekarang. Tengah melindungi istri seorang teman.


"Aku pikir kita perlu break sebentar...."


"Alasannya?" potong Lyli cepat. Lyli perlu alasan yang masuk akal untuk menerima permintaan Ian.


"Aku sedang menjaga seorang wanita...."


"Dan seorang anak...."


"Kau bahkan memiliki anak darinya? Ian kau keterlaluan, kurang ajar! Apa kau ingin mengulangi kejadian sepuluh tahun lalu!"


"Ly.....dengarkan aku dulu. Aku belum selesai bicara...."


"Tidak perlu! Nikahi dia! Kasihan anakmu!"


Ha? Ian melongo dengan sikap Lyli. Dia belum selesai bicara dan Lyli sudah menjatuhkan vonisnya. Menikahi Lyn? Gila saja! Dia bisa diburu seantero rakyat negara itu


"Ly...Lyli....dengarkan aku dulu! Aku belum selesai menjelaskan!"

__ADS_1


Klunting.....


Lyli melempar cincin pemberian Ian setelah melepasnya sambil menangis. Gadis itu sudah menangis tersedu. Air mata Lyli membuat suara Ian tercekat di tenggorokan.


"Masih belum cukup ya kau menyakitiku sepuluh tahun lalu. Sekarang kau ingin melanjutkannya lagi. Hebat.....dan lihatlah aku. Betapa bodohnya aku bisa dua kali terjerat pada satu kesalahan yang sama."


Lyli berlalu setelah mengatakan satu hal yang membuat Ian sadar, dia kembali menyakiti hati Lyli. Pria itu bahkan tidak punya bantahan untuk menyangkal ucapan Lyli. Dia juga tidak punya keberanian untuk mengejar Lyli yang berjalan menjauhinya.


"Ly....Lyli....dengarkan aku....buughhhhh, aawww.....Rio sakit!!!" pekik Ian setelah Rio tiba-tiba muncul di hadapannya, langsung menghadiahkan bogem mentah padanya.


"Dasar bajiinngann! Bisa-bisanya kau melakukan ini pada Lyli!" maki Rio. Ian seketika sadar kalau Rio mendengar pembicaraannya dengan Lyli.


"Bukankah itu bagus. Kau bisa mengejarnya sekarang."


"Bangsaatttt!!!" Rio kembali memaki sambil mencengkeram kerah baju Ian. Ada lebam biru di pipi Ian. Namun Rio tidak peduli. Rio sangat marah saat melihat Lyli menangis setelah bicara dengan Ian. Terlebih pria itu mendengar dengan jelas percakapan dua orang itu.


Ian tersenyum mendengar umpatan Rio. "Apa kau tidak ingin mengejarnya. Dia akan menyetir bak orang gila jika sedang marah. Itu sangat berbahaya."


Rio seketika melepaskan cengkeramannya pada Ian. Lantas berlari mengejar Lyli.


"Jangan berikan alkohol padanya!" teriak Ian lagi. Detik berikutnya pria itu mengusap kasar air mata yang mulai luruh dari netranya.


"Aku menyakitinya...lagi." Batin Ian penuh sesal. Kali ini, dia tidak tahu. Apa akan ada kata maaf yang tersisa untuknya setelah masalah negara M selesai. Atau dia akan selamanya dicap sebagai pria brengsek, tidak berperasaan. Setelah dia secara nyata menyakiti hati Lyli, dua kali.


"Bodohnya aku," maki Ian dalam hati.


*****


Up lagi readers.

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya ya, terima kasih.


*****


__ADS_2