Mafia Kena Karma

Mafia Kena Karma
Sosok Lain


__ADS_3

Ian melajukan motornya menuju rumah sakit. Riel menghubunginya kalau Mada membuat onar. Pria itu mengumpat, kenapa juga menghubungi dirinya bukan Leon. Yang bertanggungjawab soal Mada adalah Leon. Bukan dirinya. Ian hanya menandatangani berkas persetujuan peng-rahasiaan identitas Mada, yang sampai sekarang belum sempat Ian selidiki.


Saat sampai di parkiran Ian melihat Lyli yang sepertinya sudah habis jam dinasnya. Gadis itu berjalan sambil memainkan ponselnya. Tanpa kata, Ian menarik tangan Lyli untuk mengikutinya.


"Eh busyet, main tarik aja sih." Protes Lyli.


"Nanti aja ngomelnya." Potong Ian cepat. Pria itu membawa Lyli masuk ke lift. Begitu keduanya berada di dalam lift, kecanggungan Lyli rasakan. Gadis itu teringat jika bukan karena bayangan pria di sampingnya, malam itu pasti Lyli sudah habis di tangan Rio.


Lyli dan Rio telah bergelut panas di atas kasur Rio. Dengan tubuh sudah setengah topless. Rio mulai menjelajah tubuh Lyli saat gadis itu teringat pada Ian. Lyli reflek mendorong tubuh Rio. Pria itu tentu marah. Hasratnya sudah diubun-ubun eh gagal lagi dapat pelampiasan. Detik berikutnya Rio melesat masuk ke kamar mandi. Melepaskan sisa pakaiannya, lantas mulai menyalakan showernya. Dalam keadaan biasa, dia pasti sudah meminta anak buahnya untuk mengirim seorang wanita ke apartemennya. Tapi berhubung ada Lyli tidak mungkin dia melakukannya. Malam itu Lyli selamat dari terkaman Rio.


Trinnngggg


Bunyi lift yang terbuka membuyarkam lamunan Lyli. Lagi-lagi, Ian asal menarik tangan adik Leon itu. "Jangan ditarik napa? Malu tahu."


"Lalu maunya bagaimana biar gak malu? Berduaan di kamar gitu? Siapa takut." Kekeh Ian. Lyli baru saja akan membalas omongan Ian ketika mereka sampai di sebuah ruang rawat. Dari dalam sana terdengar suara teriakan. Disertai suara barang pecah.


Pintu dibuka dan terlihatlah Mada yang mengamuk. Di situ ada Riel dan beberapa perawat. Juga seorang dokter.


"Pawangnya sudah dihubungi?" Tanya Ian. Riel menjawab kalau Leon sedang bertugas di lapangan. Mendengar nama sang kakak disebut membuat Lyli kepo. Tapi sebelum menyalurkan kekepoannya. Mereka harus menghandle amukan Mada yang seperti kerasukan.


"Dia gak kesurupan kan?" Riel bertanya tengil.


"Kesurupan tu gak ada ya." Sangkal Lyli.


"Nyatanya itu ada." Asisten Ian itu menunjuk Mada dengan dagunya. Konyol benar pria yang satu itu. Berbanding terbalik dengan Max yang selalu serius.


Lyli perlahan mendekati Mada. Lyli sedikit banyak tahu ilmu membujuk orang ngamuk. Sebab dia sering dapat treat dari sang kakak kalau dia lagi ngambek.

__ADS_1


"Ooohh, sebut saja nama kakakmu. Dia pacarnya."


Lyli menghentikan langkahnya lantas menoleh pada Ian. Bagaimana ceritanya sang kakak punya pacar depresi dan dia tidak tahu. Ian membuat tanda dengan tangannya meminta Lyli membujuk Mada.


Perlu beberapa waktu bagi Lyli untuk membujuk Mada. Hingga emosi wanita itu bisa dikendalikan. Serta memudahkan seorang dokter memberikan obat penenang pada Mada.


"Sekarang jelaskan, ada hubungan apa dia dengan kakakku?" todong Lyli. Ian pun mulai menjelaskan kalau Mada, Lyli mengerutkan dahi mengetahui perempuan itu bernama Mada, dibawa oleh sang kakak. Menurut pemeriksaan wanita itu mengalami depresi dan stres tingkat akut.


"Bagaiamana kakakku ketemu dia? Kok dia gak pernah beritahu aku."


"Ya itu kamu tanyakan sama kakakmu. Kalau perlu sampai gelud, kalau dia gak mau jawab. Seru itu." Lyli mendelik mendengar jawaban santai dari Ian.


Ketiganya meninggalkan kamar Mada. Membiarkan wanita cantik itu beristirahat. "Kau mau pulang? Sama Rio?" Cerocos Ian.


Lyli menggeleng pelan. Sejak kejadian almost making love itu, Lyli belum bertemu Rio lagi. Ada rasa canggung dalam diri Lyli. Menjawab pertanyaan Ian, Lyli hanya menggeleng. Ketiganya baru keluar lift ketika ponsel Ian kemballi berbunyi. Kali ini nama Max yang muncul di sana.


Riel yang tahu ada siapa di lantai 15 hanya diam mengikuti sang atasan. Sementara Lyli tidak punya pilihan lain selain mengekor Ian.


"Bagaimana keadaannya?" Ian bertanya panik. Melihat cermin dua arah di depannya. Di sana dilihatnya Rea yang tengah menangis dalam pelukan Andra sambil berjalan keluar kamar.


"Dia siapa?" pertanyaan Lyli membuat tiga pria itu sadar akan keberadaan gadis itu di sana. Max dan Riel saling pandang. Tidak tahu harus menjawab apa. Sementara Ian justru terpaku melihat kisruhnya keadaan di kamar VVIP di depan sana.


"Tidak! Anak itu bisa kejang."


Lyli berlari keluar dari ruangan itu. Dan muncul di ruang sebelah. Lyli dengan cepat bicara pada dokter anak dan spesialis saraf anak yang ada di sana. Lyli menyampaikan pendapatnya dan pandangannya. Belum juga Lyli selesai bicara, Abian sudah menunjukkan tanda-tanda kejang. Situasi menjadi tidak terkendali.


Seorang dokter saraf anak dengan cepat mengambil satu botol obat antikonsulvan (anti kejang). Lantas menyuntikkannya melalui lengan Abian. Di mana bocah itu hampir menggigit lidahnya sendiri. Dengan bola mata berkedip-kedip cepat.

__ADS_1


Satu detik, dua detik, lima menit, sepuluh menit. Obat mulai bekerja, dan Abian mulai tenang kembali. Semua orang menarik nafasnya lega. Abian bisa terhindar dari kejang yang bisa memperburuk keadaan anak itu.


"Terima kasih, Dok. Kalau bukan karena kejelian Anda. Saya mungkin akan terlambat menolong dia. Tahu sendiri dia putra orang penting. Dan dirut sendiri yang meminta kami merawatnya." Ucap dokter dengan name tag Dr. dr. Rahadian, Sp A, dokter spesialis anak. Di belakangnya ada rekan Lyli dari divisi yang sama yaitu Neurologi (Saraf). Juga seorang dokter bule bermata biru dengan name tag Mark Harsya Olivander.


"Memang dia siapa, Dok?" tanya Lyli kepo.


"Abian Abizard Sky." Rekan kerja Lyli yang menyahut. Lyli mengerutkan dahinya. Sky? Keluarga Sky? Ada hubungan apa Ian dengan keluarga Sky. Gadis itu melihat ke arah Ian yang berada di balik tembok.


Sementara di luar ruangan Abian, Rea masih menangis dalam pelukan Andra. Tak berapa lama, Mark keluar dari sana dan menjelaskan situasinya. Semua yang ada di sana langsung menarik nafasnya lega.


Sementara di sisi lain, seorang pria tampak diam setelah mendengar laporan dari anak buahnya. Pria tua yang seluruh rambutnya sudah memutih itu tampak memandangai sebuah bingkai foto di atas meja sembari mendengar anak buahnya bicara.


"Apa kita perlu menghabisinya juga?" tanya pria berperawakan tinggi besar itu.


"Tidak perlu. Biarkan dia bicara apa yang dia ketahui. K akan menghabisinya jika dia bicara tidak sesuai keinginannya."


Pria di depannya mengangguk paham. "Pancing terus salah paham antara keduanya. Dengan begitu mereka akan saling menggigit dan saling bunuh. Itu yang aku suka. Biar mereka hancur karena ulah sendiri dan aku yang akhirnya untung."


Ternyata ada sosok lain yang memancing di air keruh.


***


Up lagi readers.


Jangan lupa ritual jempolnya. Terima kasih.


****

__ADS_1


__ADS_2