
Malam itu, berita menghebohkan muncul di berbagai portal pemberitaan. Baik online maupun offline. Semua dengan headline sama, "Ian Rivaldy, ditangkap atas keterlibatan dalam sindikat perdagangan organ dalam manusia" Malam itu juga, Ian dijemput di kantornya untuk dimintai keterangan sebagai saksi. Leon sendiri yang menjemput Ian.
Setelah makan malam dengan Mada selesai. Leon mendapat panggilan dari anak buahnya, yang melaporkan penemuan terbaru mereka. Surat perintah penangkapan untuk Ian pun turun. Leon segera meluncur ke kantor Ian.
Kilatan lampu dari pemburu berita tampak berkelap kelip menyambut wajah Ian yang tidak ditutupi masker sama sekali. Pria itu tampak santai menghadapi tuduhan yang dilayangkan padanya.
"Santai amat." Ledek Leon. Keduanya sudah berada di mobil polisi. Dengan Leon sendiri yang mengawal Ian. Borgol bahkan sudah terpasang di tangan Ian.
"Aku gak salah. Ngapain takut." Ian menjawab santai. The Eye mengaku kalau dia teledor, tidak memberitahu Max dan Riel, soal dokumen cetak yang tertinggal di base camp data tersebut.
"Setelah aku keluar dari tempat itu, awas. Kau akan kukembalikan pada Fao." Ancam Ian melalui pikirannya.
"Jangan dong. Fao kejam padaku. Dia menyuruhku kerja rodi. Nggak istirahat, gak dibayar."
Ian mengulum senyumnya. Ada juga sistem peretas mengeluh soal jam kerja dan gaji. "Mana ada gaji untukmu!" Desis Ian.
"Harusnya ada. Nanti aku usulkan di UU ITE soal gaji sistem peretas."
Ian hampir meledakkan tawanya. Ada-ada saja ulah The Eye. Mirip karakter Max dan Riel kalau digabung jadi satu.
"Yakin amat gak salah. Buktinya mengarah padamu lo. Tanda tangan dan stempelnya adalah milikmu." Leon berucap santai.
"Bagiku, itu tidak membuktikan apa-apa. Aku akan segera bebas, tidak lebih dari 24 jam.
La prison, pas ma place." (Penjara, bukanlah tempatku)
"Nous verrons plus tard." (Kita lihat saja nanti)
Dua pria itu saling melempar senyum. Tidak tahu bagaimana hubungan dua pria itu sebenarnya. Mereka terkadang saling dukung. Terkadang saling serang. Saling terkam.
Sementara itu, kehebohan terjadi di keluarga Sky, Rea seketika berteriak histeris begitu melihat berita sang kakak ditangkap polisi.
__ADS_1
"Re, tenang dulu. Itu kan baru dugaan. Belum terbukti." Andra berusaha menenangkan sang istri. Sementara Rea sudah menangis tersedu. Andra dan Jack saling pandang. Sedang Daniar, ayah Andra hanya menyimak.
"Apa perlu bantuan Papa?" tanya Daniar. Sebagai pebisnis kelas kakap, Daniar tentu punya koneksi dengan orang-orang penting. Termasuk pihak kepolisian.
"Nggak dulu Pa, terima kasih. Dia pasti bisa mengatasi ini. Mereka punya tim pengacara yang hebat. Theo Ivano. Kalau sampai naik sidang. Setidaknya Theo bisa membela Ian dengan baik."
Daniar mengangguk setelah mendengar nama Theo disebut. Siapa sih yang tidak tahu sepak terjang Theo di dunia persidangan dan hukum. Andai orang luar tahu bagaimana Theo bisa begitu akrab dengan Ian. Theo juga salah satu orang yang pensiun dari dunia bawah. Pria itu kini aktif sebagai pengacara. Profesi yang mampu menutup jejaknya di dunia hitam. Dibantu The Eye, Theo sering mendapatkan bukti yang bagi sebagian polisi, sangat sulit untuk di dapat. Tapi tidak bagi The Eye.
Peretas yang mampu mengakses data dari berbagai web di seluruh dunia. Baik yang biasa, sampai yang luar biasa tingkat kerahasiaannya. Dari web biasa, dark web sampai web dan situs organisasi penting dunia, yang terkenal dengan sistem pengamanan dan firewall berlapis-lapis. The Eye mampu menembusnya. Mendobrak sistem mereka lantas mencuri datanya tanpa terdeteksi.
Namun tetap saja ada yang kurang dari The Eye, sistem itu punya satu karakter manusia yang kadang membuat Ian jengkel. Pelupa, semua berawal dari Fao yang tidak sengaja memberikan sifat manusiawi pada program The Eye, saat pertama kali pria itu menciptakan sistem peretas tersebut. Jadilah The Eye yang kadang lupa dan emosian.
"Sudah masuk sana." Kata Leon, mendorong pelan tubuh Ian masuk ke dalam sebuah sel.
"Sendirian nih. Gak ada teman gelud dong." Kekeh Ian.
"Jangan ngadi-ngadi ya kamu!" sungut Leon. Sementara Ian terkekeh melihat wajah kesal Leon.
"Gak takut kamu sama Theo?"
"Semua bukti mengarah padamu. Kau akan dipenjara untuk waktu lama."
Ian tertawa, menurutnya sangat lucu saat mendengar Leon ingin memenjarakannya. "Aku akan keluar besok, dan jika aku keluar besok, paling lambat besok sore. Bersiaplah untuk punya adik ipar diriku."
"Ogah! Nggak sudi! Aku gak mau punya ipar sepertimu."
Leon berlalu dari hadapan Ian dengan hati dongkol setengah mati. Bisa-bisanya Ian masih ingat Lyli saat hukuman penjara sedang mengintainya. Meninggalkan Ian yang tergelak dalam tawanya.
*
*
__ADS_1
"Kak memangnya kabar itu benar ya?"
Hampir dini hari saat Leon sampai di rumahnya. Begitu masuk, pria itu sudah disambut pertanyaan oleh sang adik. Leon menghembuskan nafasnya kasar. Berjalan menuju kulkas, lantas meminum air mineral sampai habis setelah pria itu mengambilnya dari dalam kulkas.
"Ya, begitulah. Ada beberapa dokumen yang berisi surat permintaan organ vital yang ditandatangani oleh Ian, berstempel lagi."
Lyli mendudukkan tubuhnya lemas di sofa. Pikiran gadis itu seketika melayang ke mana-mana. Dia pernah sekali tersesat, ke sebuah ruang bawah tanah. Saat Lyli salah menekan tombol lift. Bukannya menekan angka satu, gadis itu malah menekan angka nol dua kali. Hasilnya Lyli masuk ke sebuah ruangan yang menurutnya sangat menyeramkan. Di mana dia melihat banyak brankar dengan tubuh atau jasad yang berada di atasnya. Entah masih hidup atau mati.
Saat itu Lyli tidak berani keluar dari lift, sebab dia mendengar sebuah suara yang terdengar mengerikan di telingannya. "Brankar nomor tiga jantung, hati, ginjal, kornea."
Lyli hampir muntah mendengarnya. Dia dokter bedah saraf tapi dia tidak sefrontal itu dalam berucap soal organ vital manusia. Masih ada sedikit basa basi dalam hal itu. Gadis tersebut langsung menekan tombol naik, tidak peduli dia muncul di lantai berapa. Sampai sekarang bayangan tempat itu masih ada di benak Lyli. Tempatnya steril seperti tempat operasi di rumah sakit. Namun suasananya horor sekali, mirip ruang pejagalan, astaga... Lyli langsung mengeplak kepalanya sendiri. Mencoba menghilangkan bayangan mengerikan itu dari kepala Lyli.
"Kamu kenapa, Ly?" tanya Leon yang sejak tadi heran dengan kelakuan sang adik.
"Gak apa-apa sih, Kak. Emang itu buktinya valid?"
Leon mengangguk sambil memperhatikan ponselnya. "Tapi dia bilang akan keluar dari sana besok, besok sore paling lambat. Kakak jadi penasaran, trik apalagi yang akan dia gunakan untuk meloloskan diri kali ini." Kata Leon kepo.
Penangkapan Ian kali ini jadi sebuah gebrakan besar bagi karir Leon, apalagi jika dia bisa membuktikan kalau Ian sungguh terlibat dalam bisnis haram tersebut. Namun Leon sadar, tidak akan semudah itu memenjarakan Ian. Pria itu seperti belut, licin dan sangat sulit ditangkap.
"Lihat saja Ian, bagaimana kau akan berkelit dari masalah ini?"
***
Up lagi readers.
Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan.
Jangan lupa ritual jempolnya. Terima kasih.
****
__ADS_1