
Seorang pria nampak mengitari tubuh Lyli yang tertidur karena obat bius. Lyli berhasil diculik saat semua bawahan Leon bisa dilumpuhkan menggunakan peluru bius. Pria itu menyeringai puas.
"Kau bunuh anakku. Akan kubunuh juga kekasihmu." Pria itu mengusapkan sebilah pisau di pipi mulus Lyli.
"Tuan, mereka dalam perjalanan kemari." Seorang anak buah pria itu datang melapor.
"Siapkan semuanya. Kita sambut mereka." Bawahan pria itu menarik tubuh Lyli bangun, membawanya ke gudang di belakang gedung itu.
Tak berapa lama, deru mobil Ian terdengar masuk ke gudang tersebut.
"Kalian berutang banyak penjelasan padaku setelah ini." Ancam Leon. Pasalnya pria itu curiga dengan Ian dan Rio. Dua pria itu menyembunyikan rahasia besar darinya. Rio yang selama perjalanan menunjukkan gelagat aneh dengan sering memeriksa ponselnya. Pun dengan Ian.
Ian terlihat berkomunikasi dengan seseorang. Entah siapa, tapi sikap Ian benar-benar mencurigakan.
"Aku hanya bicara pada asistenku. Max dan Riel masak tidak percaya sih." Ian menjawab dengan mata menatap lurus ke dalam gudang. The Eye sudah memperingatkan ada bom dalam gudang itu. Serta Lyli yang turut berada di sana.
Ketiganya masuk dengan sikap waspada. Saat masuk mereka tidak menemukan apa pun kecuali sebuah tempat lapang mirip lapangan bola.
"Dia ini siapa sih sebenarnya?" gumam Rio sambil mengedarkan pandangannya. Mencari sebuah petunjuk siapa tahu mereka menemukan keberadaan Lyli. Mereka hanya pergi bertiga. Itu menurut Leon, padahal baik Ian maupun Rio sudah meminta dikirim anak buah mereka ke tempat itu.
"Ada di balik dinding itu." The Eye memberi petunjuk. Ian maju mendekat ke arah di dinding. Tangan Ian meraba-raba, mencari sesuatu. Sampai jari Ian menemukan sesuatu, seperti tombol kecil. Pria itu menekannya, dan klik, setelahnya ketiganya memundurkan langkahnya. Dinding itu bergeser, menepi perlahan menampilkan satu pemandangan yang membuat ketiganya melotot.
Lyli duduk di sebuah kursi dalam keadaan terikat. Sebuah bom terikat di tubuh gadis itu.
"Brengsek!!!" ketiganya mengumpat hampir bersamaan. Mereka segera mendekati Lyli.
"Ly....Lyli...bangun...." Leon menepuk pelan pipi sang adik. Sedang Ian dan Rio langsung mengamati bom di tubuh Lyli. Dua pria itu saling pandang.
"Apa perlu penjinak bom?" tanya Leon setelah dia gagal membangunkan Lyli.
"Dia kena biuslah, tidak mungkin bangun meski kau menamparnya." Kata Rio tanpa mengalihkan pandangannya dari bom di tubuh Lyli.
"Kita harus memutus koneksi jaringannya dengan pemicunya." Ian berucap lirih.
"Coding? Retas data? Kita tidak punya alatnya." Leon berucap panik.
"Di sini memang tidak ada alatnya. Tapi aku bisa melakukannya. The Eye mulai." Ian memberi perintah dan The Eye langsung merespon.
Leon terlihat tidak paham dengan ucapan Ian. Berbeda dengan Rio, pria itu bisa menduga kalau Ian tengah terhubung dengan asistennya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Leon heran.
Ian baru saja akan menjawab ketika matanya melotot, melihat siapa yang perlahan muncul di lantai dua.
"Tidak mungkin! Ini tidak mungkin!" Ian berteriak frustrasi. Jika pria itu pelakunya, sudah jelas targetnya dia. Namun kenapa Rio dan Mada turut terlibat di dalamnya.
__ADS_1
"Dia siapa?" Leon dan Rio bertanya bergantian.
"Halo, son. Long time no see. Bagaimana kabarmu?" Sebuah ucapan yang jelas hanya basa-basi atau ucapan yang digunakan untuk mengulur waktu.
"Give me five minutes more."
"Itu terlalu lama!"
"Kerjakan sendiri kalau begitu!"
"Kalau bisa sudah aku lakukan, Nona."
Percakapan pikiran Ian dan The Eye. Mengabaikan Leon yang berusaha mengorek keterangan dari pria di atas sana.
"Siapa kau?! Kenapa melibatkan Lyli yang tidak bersalah."
Terdengar decihan pelan. Tidak bersalah? Tentu saja itu tidak benar menurutnya. Semua yang berhubungan dengan musuhnya harus ikut di lenyapkan.
"Samuel Santos," gumam Ian lirih.
"Kau masih ingat padaku son, oh tentu saja kau harus ingat padaku. Karena aku mertuamu."
Leon dan Rio langsung menoleh pada Ian. Shock, dengan perkataan pria yang mengaku mertua Ian tersebut.
"Mantan guys. Mantan mertua?"
"Kau membohongi Lyli ya?" Rio berteriak marah.
"Haiisshh, bisa diam dulu gak sih!" kesal Ian. Di atas sana Samuel tersenyum melihat tiga orang itu justru berdebat sendiri.
"Mantan mertua. Gue dah pisah sama istri gue, mantan istri...."
"Lu beneran dah kewong?" kejar Leon dan Rio bersamaan.
"Nikah...nikah....kewong mah kalian gak perlu tahu," elak Ian. Pria itu menatap lurus pada Samuel yang berdiri dengan wajah memendam amarah.
"Kau ingin membalas kematian putrimu?" tanya Ian to the poin.
"Kau membunuhnya bajiinnggann!!" maki Samuel geram.
Ian tersenyum miring. Berarti benar, targetnya adalah dirinya. Namun Samuel menggunakan Rio terlebih dulu untuk menekannya. Leon dan Rio seketika menatap Ian yang tampak tenang.
"Coding sukses. Password 04042023."
Ian berlari ke arah Lyli, memasukkan kode yang dia dapat dari The Eye. Klik, bom itu berhenti timernya. Ketiganya bernafas lega. Meski begitu Samuel tampak tersenyum penuh arti.
__ADS_1
"Putrimu pantas mati. Beraninya dia mengkhianatiku!" balas Ian tenang namun penuh penekanan.
"Setelah apa yang sudah putriku berikan padamu. Kau masih berani menghinanya?" Potong Samuel cepat.
"Ayolah pak mantan mertua. Putrimu hanya memberikan tubuhnya untuk kunikmati tiap waktu."
Plakkkkkk, satu keplakan Ian terima dari Leon. Pria itu melotot mendengar perkataan Ian barusan.
"Memang dulu begitu kenyataannya, bro. Gue gak cinta tapi disuguhi body seksoy, ya gue embatlah. Sudah sah pula. Apa lagi?"
Leon dan Rio melotot mendengar jawaban enteng dari Ian. "Gak gitu juga kali ngomongnya." Rio membantah ucapan Ian.
"Lah kan mending gue nikahin, dari pada elu. Kakak ndiri aja mau diterkam. Kurang banyak apa stockmu?"
Rio mendelik mendengar Ian yang dengan santai membuka kedoknya.
"Kayak elu enggak aja!" ketus Rio.
Leon seketika shock mendengar apa yang dua orang itu obrolkan. Gila aja! Apa mereka sudah biasa dengan istilah celup sana, celup sini alias suka main perempuan.
"Seenggaknya gue gak berniat buat nidurin adek gue biar gue lama gak ketemu dia."
"Gue mana tahu dia kakak gue."
"Kalian kan cuma pisah sepuluh tahun? Masak gak bisa ngenalin muka kakak sendiri. Seenggaknya ada sedikit feelinglah kalau dia kakakmu. Gue aja yang kepisah dari kecil ada rasa kalau Rea adek gue." Cibir Ian.
"Semua itu gara-gara dia!" Maki Rio yang langsung membuat Samuel tertawa.
"Bagaimana rasa meniduri kakak sendiri? Enak?"
"Brengsek!!!!" Rio merangsek maju. Menyerang Samuel tapi satu tembakan membuat pria itu mundur lagi. Dua orang muncul di kiri dan kanan Samuel.
"Hari ini akan kubalaskan rasa sakit hati putriku padamu. Dan membalas penghinaan orang tuamu padaku. Ternyata membunuh mereka tidak cukup untuk menyenangkan hatiku."
Leon, Rio dan Ian saling pandang. Tuan dan Nyonya Airlangga meninggal karena serangan jantung sesaat setelah Rio diketahui menghilang.
"Kau membunuh ayah dan ibuku?" teriak Rio lantang. Kini semua sudah jelas. Hidup Rio sudah banyak dimanipulasi oleh orang yang berdiri di hadapannya.
"Mantan mertua laknat!" Gumam Ian lirih.
***
Up lagi readers.
Jangan lupa ritual jempolnya, terima kasih.
__ADS_1
****