Mafia Kena Karma

Mafia Kena Karma
Fitnah


__ADS_3

Tangisan Abian melengking di ruang UGD, melihat sang mama yang akhirnya harus mendapat perawatan. Meski Rea tidak mengalami cidera parah. Namun melihat sang mama yang dikerumuni banyak dokter dan perawat membuat bocah laki-laki itu ketakutan. Ditambah melihat Lyli yang tampak lemah saking shocknya. Hanya Andra saja yang terlihat baik-baik saja. Pria itu sibuk menenangkan Abian sambil menunggu Gina datang. Abian dekat dengan Gina.


"Aku akan membuat perhitungan dengannya." Ian menyentak jarum infus yang terpasang di tangan kirinya. Pria itu mengalami luka di kaki meski tidak parah. Hanya lecet dan memar. Namun karena Ian juga shock menyebabkan tubuhnya menjadi lemas.


"Jangan gila kamu K....Ian." Ian mendelik mendengar panggilan lirih Jack.


"Kau lihat, baru berapa menit aku bertemu adikku. Dan ancaman bom sudah meneror kami. Lebih baik aku tidak bertemu Rea, tapi tahu, kalau mereka baik-baik saja."


Ian berteriak penuh emosi. Dia sungguh tidak bisa membayangkan akan kehilangan Rea lagi seperti dulu. "Jangan pernah pergi lagi!" Satu suara membuat Ian terdiam.


"Kalau sampai kakak pergi lagi, awas!" Ancam Rea yang duduk di kursi roda dengan Abian yang duduk di pangkuannya.


"Tapi Re, aku gak mau kamu, kalian dalam bahaya. Terutama dia." Ian mengusap lembut puncak kepala Abian. Sungguh, Ian rela menukar semua yang dia punya dengan keselamatan dan rasa aman untuk Rea dan keluarganya.


"Apa kamu pikir kami akan diam saja. Kamu tidak percaya pada kemampuan kami dalam melindunginya. Dia adalah penerus Sky Airlines Corp. Keselamatannya di atas segalanya."


Andra menjawab tegas kekhawatiran Ian. "Heleh, nyatanya kalian lengah saat di sana." Gerutu Ian.


"Kan ada kakak yang backing." Cengir Rea. Ian melengos mendengar perkataan sang adik.


"Karena itu kita perlu bekerjasama. Untuk menjaga mereka tetap aman. Kita perlu bersatu." Ujar Andra tajam.


Ian terdiam, tak berapa lama Gina datang. Wanita itu lumayan terkejut melihat banyaknya anggota kepolisian yang berada di depan rumah sakit Ian. Mobil Andra yang terbakar pun masih berada di sana.


"Aunty....." teriak Abian. Bocah laki-laki itu langsung masuk dalam gendongan Gina. Setelah Abian dibawa pergi. Masuklah Leon. Pria itu mulai bertanya ini dan itu. Dengan Andra, Rea dan Ian serta Lyli menjawab bergantian. Hampir setengah jam, kakak Lyli itu menginterogasi mereka. Dibantu seorang officer yang mencatat hal penting dari keterangan para saksi.



Kredit Pinterest.com


Leon ya guys..


Setelah semua dirasa cukup, Leon undur diri. Namun sebelum keluar dari kamar itu, Leon bertanya pada Ian. "Dari rekaman CCTV, dari mana kau tahu kalau ada bom di mobil tuan Sky?"

__ADS_1


Sesaat Ian terdiam. Dia perlu jawaban yang tepat untuk pertanyaan Leon. Dengan keahlian Leon, bisa dipastikan kalau pria itu bak lie detector (alat pendeteksi kebohongan) berjalan.


"Aku hanya merasa, ada yang tidak beres soal mobilnya." Jawab Ian pada akhirnya. Leon sesaat memandang Ian, lie detector sedang bekerja.


"Baik, aku pergi dulu kalau begitu." Pria itu berlalu dari hadapan Ian dan yang lainnya. "Kami akan terus mengusut kasus ini."


Ian berdecih pelan, hingga hanya Rea yang bersuara. "Jangan aneh-aneh ya, Kak." Rea memperingatkan. Wanita itu cukup tahu kalau sang kakak suka sembarangan ambil tindakan.


*


*


"Jangan bertindak gegabah, Kak." Ucapan Rea membuat Ian menghentikan langkahnya.


"Nggak. Kakak gak ke mana-mana. Cuma mau ngerjain pekerjaan Kakak." Jawab Ian tersenyum manis pada Rea, yang berjalan ke arahnya. Wanita itu lantas masuk ke mobil Ian yang akan mengantarkan keluarga sang adik pulang.


"Uncle, ndak itut pulang?" Abian bertanya. Terapi Gina sukses mengurangi trauma Abian akibat ledakan mobil sang papa di depan mata. Gina seorang psikiater.


"Iya...iya nanti uncle datang ke rumah." Jawab Ian pasrah. Begini amat punya adik yang serasa minta ganti rugi setelah lama tidak bertemu.


Hari mulai merayap gelap, ketika Ian melambaikan tangannya pada Jack. Pria itu membawa Gina dan Abian di kursi depan. Andra dan Rea di kursi belakang.


Setelah mobil Rea tidak terlihat, pria itu berbalik arah. Berjalan menuju basement khusus miliknya.


"Posisi terakhir." Ian berucap lirih pada The Eye.


"Di markasnya." Ian menyeringai mendengar jawaban The Eye.


Tak berapa lama, pria itu sudah berada di antara mobil-mobil yang sedang melaju di jalanan ibu kota. Menggunakan motor, mempermudah Ian dalam berkendara. Di tambah kemampuan The Eye, membuat perjalanan Ian terasa menyenangkan. Beberapa kali The Eye mengarahkan sang tuan untuk berbelok kiri atau kanan. Menghindari kepadatan arus lalu lintas yang mulai menghadang perjalanan Ian.


Setelah melewati keriwehan jalanan ibu kota yang kadang membuat banyak orang stres. Motor Ian alias si Belalang mulai memasuki jalanan yang lebih sempit. Meski sempit, kendaraan yang melintas lumayan banyak. Di sebuah tikungan, Ian membelokkan motor sportnya.


Berhenti di sebuah bangunan mirip gudang dari luarnya. Ian dengan santai turun dari motornya. Pria itu berjalan masuk ke dalam gedung yang tampak terbengkalai. Namun itu hanya covernya saja. Begitu Ian masuk, pria itu langsung melumpuhkan seorang penjaga. Memotong jari telunjuk pria itu. Lantas menempelkannya pada finger print yang Ian temukan di balik tumpukan kardus sebagai kamuflase.

__ADS_1


"Passcode 190323." Ian menekan passcode setelah finger print terverifikasi.Sesuai arahan The Eye. Setelahnya sebuah handle pintu muncul di dinding lapuk depan Ian. Seringai Ian terbit. Dia akan bersenang-senang malam ini.


Setelah pintu dibuka, sebuah pemandangan yang bertolak belakang dengan ruang sebelumnya Ian dapatkan. Sebuah ruang dua lantai dengan area luas mirip lapangan. Seperti tempat untuk berlatih, sebab di dinding di seberang sana tergantung berbagai macam senjata. Mulai dari pistol, senapan laras panjang, pedang, belati, tombak bahkan trisula pun ada.


"Wah, pemilik tempat ini sepertinya pecinta seni bela diri. Bukan begitu X!" Teriak Ian.


Mendengar suara yang bukan suara tuannya. Beberapa penjaga langsung bermunculan dari sisi kiri Ian. Melihat ada penyusup, mereka reflek menodongkan pistol masing-masing ke arah Ian.


"Pemanasan di mulai." Ian tersenyum lantas mulai berlari ke arah para penjaga yang langsung menghujani Ian dengan timah panas. Namun Ian dengan cepat melemparkan dua pisau belati dari balik lengan bajunya. Membuat gerakan berputar untuk menghindari peluru yang terlanjur dimuntahkan dari moncongnya.


"Aaarrrgghhh."


Suara erangan terdengar, bersamaan dengan dua penjaga yang tubuhnya tumbang ke lantai. Mati. Teman mereka tentu terkejut, namun mereka belum sempat bersiap ketika satu tendangan melumpuhkan satu lagi penjaga. Detik berikutnya satu pukulan kembali menjatuhkan penjaga, hingga tersisa tiga orang.


Serangan Ian benar-benar akurat disertai perhitungan yang matang. Tiga orang itu memundurkan langkahnya, saat menyadari lawan mereka mampu mengatasi serbuan peluru yang mereka berikan. Ian jelas bukan orang sembarangan.


"Pelurumu tidak akan melukaiku." Kata Ian meledek. Ketiga penjaga itu saling pandang.


"Pergilah, aku tidak ada urusan dengan kalian. X keluarlah. Mari buat perhitungan soal bom tadi siang. Beraninya kau menyentuh mereka."


Teriakan Ian membuahkan hasil. Sebab satu suara tak lama terdengar dari lantai dua.


"Aku tidak menyerang siapapun hari ini. Kau jangan memfitnahku!"


Suara pria itu terdengar tegas, dingin serta penuh intimidasi. X berdiri satu lantai di atas Ian.


***


Up lagi readers


Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.


****

__ADS_1


__ADS_2