
Kredit Pinterest.com
Ian masuk ke sebuah rumah yang lumayan mewah. Tidak terlalu besar, tidak juga kecil. Ada password yang harus Ian berikan untuk masuk ke rumah itu. Meski rumah itu terlihat terbuka namun ada dinding transparan yang melingkupi rumah itu bak pagar tak kasat mata. Plus perlindungan ekstra ketat dari sistem yang diawasi langsung oleh Fao.
Begitu dia masuk ke dalam rumah, satu sapaan salam menyambut Ian. Pria itu segera membalas. Seorang anak kecil berusia tiga tahun langsung berlari ke arah Ian.
"Ayah sudah pulang?" tanya bocah yang sudah lancar bicaranya itu.
"Faaz, jangan memanggil Uncle begitu." Seorang wanita berhijab dengan pakaian gamis longgar menutup tubuh wanita itu sampai ke mata kaki. Penampilan wanita itu sungguh menyejukkan mata dan hati.
"Tidak apa-apa. Mungkin dia merindukan Abinya."
"Dengar Ummi, ayah tidak marah."
Perempuan itu hanya bisa menarik nafasnya berat. Sudah tiga hari dia berada di sini. Meninggalkan negaranya. Memenuhi permintaan sang suami yang sangat mencemaskan keselamatannya dan putra semata wayang mereka, Faaz.
"Ayah, sampai kapan Faaz dikurung. Bosanlah."
Ian dan wanita itu saling pandang. Sedetik kemudian keduanya sama-sama memalingkan wajah. Mereka ingat harus menjaga pandangan.
"Maaf Faaz, tapi keadaan di luar masih bahaya. Masih banyak orang jahat. Kalau tidak begitu Faaz pasti sudah main dengan Felix dan Rose juga Leandro."
Wajah bocah cilik itu langsung berubah sendu. Meski dia paham dengan keadaan yang tengah mereka hadapi, tetap saja naluri seorang anak kecil maunya ya bebas bermain.
"Sabar ya Faaz," si ibu menenangkan Faaz, yang meski terlihat kecewa namun berusaha memahami situasinya.
"Aku tidak bisa berada di sini terus menerus, K." Wanita itu berkata, kali ini memandang wajah Ian.
"Tidak selamanya. Hanya sampai keadaan negaramu kondusif dan Mark pulih setidaknya 60%. Tenang saja Andreas akan merawatnya dengan baik."
"Tapi aku akan membawa kekacauan dalam hidupmu. Kamu baru saja memulai hubungan dengan Lyli. Jika dia tahu kau membawaku masuk ke sini dengan status sebagai istrimu. Dia akan salah paham. Hubungan kalian akan kandas."
"Aku siap untuk itu, Lyn. Kau tahu kan...."
__ADS_1
"Kau tidak mencintaiku kan?" potong wanita yang Ian panggil Lyn itu.
Kredit Pinterest.com
Recall Azlyn Maiza Khairunisa dari karya Princess's Handsome Bodyguard
"Tentu saja.....tidak. Aku memutuskan berhenti sejak Faaz lahir. Aku menyukai anak itu." Balas Ian meyakinkan.
Lyn menarik nafasnya pelan. Karena perseteruan dengan satu klan mafia di negaranya, membuat keamanan istana Lyn sedikit terguncang. Dalam negosiasi terakhir, suami Lyn, raja negara M, Mark Victor Emmanuel terluka serius. Suami Lyn itu bahkan mengalami koma hampir tiga hari. Sebelum jatuh koma, Mark, meminta wanita itu mengungsi keluar negara M.
Awalnya Lyn menolak, dia ingin merawat sang suami saat sakit. Namun saran dari penasehat dan sahabat, juga tangan kanan Mark, membuat Lyn kalah. Dan terpaksa memenuhi permintaan Mark untuk pergi sementara membawa Faaz, demi keselamatan mereka.
Saat ini situasi negara M sangat kacau, pertentangan militer dengan kelompok mafia terjadi tiap hari. Ian bahkan mengaktifkan kembali klan mafia miliknya yang hampir dua tahun ini dia bekukan.
Klan Black Chimaera bekerja begitu cepat dibawah komando tangan kanan Ian yang baru, Sebastian Arturo. Dibantu dengan militer pimpinan Fao, dua kelompok itu mulai membasmi para pengacau yang membuat suasana ibu kota negara M terasa mencekam selama seminggu ini. Belum diketahui siapa dalang dari kekacauan yang terjadi saat ini. Meski begitu, pelan tapi pasti suasana negara M mulai kondusif.
Keadaan Mark sendiri dikabarkan mengalami kemajuan yang pesat. Status koma itu perlahan mulai bisa diatasi, pria itu kini dalam masa penyembuhan meski kesadarannya belum pulih.
"Pertemukan aku dengan Lyli. Dia tidak boleh salah paham dengan kehadiranku." Pinta Lyn. Wanita itu sungguh takut akan timbul fitnah dan tentu saja, salah paham antara Lyli dan Ian.
Ian melepas jasnya sambil membuka laptop. Pria itu mulai menggerakkan jarinya di atas keyboard benda persegi itu.
"Line is secure."
Suara The Eye terdengar. Tak berapa lama, wajah Fao muncul di layar milik Ian. "Bagaimana di sana?" Ian bertanya. Pria itu membuka kancing kemejanya perlahan.
"Cukup baik. Arturo benar-benar mesin pemburu di medan perang," puji Fao. Ian tersenyum penuh arti. Sebastian Arturo, tangan kanan pilihan Ian setelah Max.
Fao lantas menceritakan kalau dalang dari kekacauan ini mengarah pada anak buah Carlos dan Eduardo, paman Mark yang menaruh dendam pada Mark. Akibat kematian sang putra, Miguel.
"Bukankah mereka sudah dihabisi sampai akarnya?" tanya Ian.
"Belum, ada beberapa yang berhasil lepas dan menggantungkan hidupnya pada klan lain. Dari sana mereka mulai menyusun rencana untuk mengganggu kestabilan pemerintahan Mark."
__ADS_1
Fao menghela nafasnya. Mungkin terdengar tidak terlalu serius, tapi bagaimanapun juga Fao dan yang lainnya harus mempertimbangkan keselamatan keluarga inti kerajaan. Mark, Lyn dan Faaz tentu ada di urutan pertama prioritas itu. Disusul oleh Hans, Ve dan Felix. Ketiganya sudah diungsikan ke kediaman keluarga Lee di Prancis, dengan pengawalan ekstra ketat.
"Bagaimana di sana?" Fao balik bertanya.
"Faaz mulai bosan. Dan Lyn terus mendesakku agar bicara pada Lyli. Kau tahu kan jika ini hal yang rahasia. Bukan aku tidak percaya pada Lyli, tapi untuk mencegah bocornya informasi ke publik, aku harus meminimalkan kontak antara Lyn dan dunia luar." Ian beralasan.
"Itu pilihanmu. Kau sendiri yang memilih mengambil jalan ini. Resikonya hubunganmu akan hancur....."
"Dan Leon bisa membunuhku karena aku dua kali menyakiti adiknya."
Fao terkekeh di ujung sana. "Salah sendiri disuruh jujur kok susah amat."
"Sik to, tidak segampang itu." Ian menyela.
"Apa susahnya kau tinggal ngomong sama Lyli. Aku yakin dia bisa menerimanya. Dia gadis dengan pemikiran luas dan terbuka, dia akan menerima penjelasanmu. Terlebih Leon, dia polisi. Dia akan paham dengan situasi dan kondisinya. Lambat laun Leon akan tahu, sebab aku sudah menghubungi Menteri Pertahanan, minta suaka. Aku tidak mau kasus Ve terulang lagi."
Hening menyapa, dua orang itu sibuk dengan pemikiran yang berkecamuk di benak masing-masing.
"Aku sarankan kau ikuti permintaan Lyn. Jelaskan semua pada Lyli. Dia merasa bersalah dengan keadaanmu waktu itu. Dia tentu tidak ingin hal yang sama terulang kembali. Pikirkan lagi soal itu."
Pembicaraan virtual itu terputus saat alarm peringatan dari The Eye berbunyi.
"Ada masalah?" Ian bertanya panik. Pasalnya wajah Fao langsung terlihat gusar. Pria itu tengah menggerakkan jarinya di atas keyboard dengan lima atau enam layar komputer menyala sekaligus.
"Aku hubungi lagi nanti....Arturo aku perlu bantuanmu...ada tanda-tanda pergerakan pasukan pemberontak menuju istana. Kali ini kekuatannya lebih dari lima ratus orang."
"Gila! Mereka ingin perang terbuka apa di sana?"
"Well, aku harus pergi. Rahasiakan ini dari Lyn."
Fao menghilang dari layar. Meninggalkan Ian dengan pikiran yang seketika berkelana ke mana-mana. Di zaman modern dan mereka mengerahkan lebih dari 500 orang untuk berperang. Ini benar-benar mengerikan.
****
Up lagi readers.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
****