Mafia Kena Karma

Mafia Kena Karma
Penculikan


__ADS_3

Lyli berjalan pasrah saat dua pria bertubuh besar, dengan raut wajah sangar membawa dirinya masuk ke sebuah ruangan yang keempat sisi dindingnya terbuat dari kaca. Melewati beberapa ruang operasi dengan satu brangkar dan dua orang berada di dalamnya. Juga sebuah kotak yang Lyli sangka kotak es atau semacamnya.


"Operasi pengangkatan organ dalam." Batin Lyli menduga.


Tubuh Lyli disentak kasar saat masuk ke ruangan yang menyilaukan mata. Ruangan itu sangat terang bagi Lyli yang baru saja dari suasana temaram. Mata Lyli perlu beradaptasi dengan cahaya terang.


"Dia menyelinap masuk, tuan." Lapor satu dari pria itu. Lyli menundukkan wajahnya, takut melihat wajah orang yang mungkin sebentar lagi akan jadi malaikat pencabut nyawanya.


Suara pintu ditutup membuat tubuh Lyli bergetar ketakutan. Dia kini hanya berdua dengan orang yang dipanggil tuan oleh pria tadi. Pria itu duduk membelakangi Lyli, jadi gadis itu belum melihat rupa wajah orang tersebut.


"Apa yang kau ingin tahu?" Lyli seketika mengangkat wajahnya begitu mendengar suara yang sangat familiar untuknya.


"Ian...kenapa? Bagaimana?" Pertanyaan Lyli terputus-putus. Dia tidak percaya melihat Ian duduk di kursi di depan Lyli, keduanya hanya dipisahkan oleh sebuah meja.


"Apa yang ingin kamu ketahui sampai kamu berada di sini?"


Sorot mata Ian tajam menatap ke arah Lyli, yang masih bingung dengan kejadian ini. Apa Ian ada hubungannya dengan ini semua?


"Siapa kamu?" pertanyaan pertama yang lolos dari bibir Lyli. Dia sungguh tidak percaya dengan apa yang dia lihat.


"Aku adalah pemimpin di sini." Jawab Ian tegas. Ian pikir, dia tidak bisa selamanya menyembunyikan semua dari Lyli. Jadi karena Lyli sudah ada di depannya, ya lebih baik diclearkan saja semua. Lyli bisa menerima atau tidak, itu akan jadi urusan nanti. Yang penting dia sudah berusaha jujur pada gadis itu.


Lyli memundurkan tubuhnya mendengar jawaban Ian. Gadis itu tidak percaya kalau dugaan sang kakak benar selama ini. Ian ada hubungannya dengan sindikat penjualan organ dalam manusia.


"Jadi kamu....selama ini...." Haishh, Lyli sampai kehilangan kata-kata. Otaknya seketika blank. Dia sungguh tidak tahu harus berkata apa. Ian tersenyum melihat wajah bingung Lyli.


"Aku memang mengambil organ dalam mereka tapi bukan untuk dijual. Ada orang memesan, baru aku carikan." Lyli jadi semakin shock dengan jawaban enteng dari Ian. Seolah yang dia lakukan benar. Tidak menyalahi aturan hukum.


"Itu kejahatan Ian!" Kali ini Lyli berteriak. Dia harus melepaskan rasa sesak yang mengganjal di hatinya. Ian tersenyum mendengar teriakan Lyli. Pria itu tentu tahu apa yang dipikirkan oleh Lyli.

__ADS_1


"Kejahatan dan ilegal, jika aku melakukannya tanpa izin. Tapi aku legal. Aku dapat otoritas khusus dari lembaga yang berwenang soal hal ini." Terang Ian menunjukkan sebuah surat dengan stempel dari dinas terkait juga tanda tangan resmi dari beberapa nama pejabat yang memimpin beberapa lembaga penting di negeri ini.


"Ini palsu! Pasti palsu!" Lyli masih tidak percaya dengan apa yang Ian katakan. Gadis itu hampir saja menangis. Namun Lyli buru-buru menghapus air mata yang menggenang di pelupuk matanya.


"Semua terserah padamu. Percaya atau tidak. Jika aku memang bersalah. Depkes sudah turun tangan saat aku tertangkap kemarin. Tapi mereka diam saja. Karena mereka tahu aku bisa melepaskan diri dengan caraku." Pria itu menegakkan tubuhnya, lantas menatap Lyli dengan satu tangan menopang dagunya. Sangat tampan juga berkarisma.


"K....ada yang harus kamu tanda tangani." Ucapan Max membuat Lyli memandang Ian. Juga panggilan Max untuk Ian.


"Uppps, maaf. Ada tamu rupanya." Max berkata santai seolah tidak terjadi apapun. Pria itu bermaksud keluar kembali, namun Ian meminta berkas yang Max bawa.


"Mereka yang datang padaku untuk menjual organ dalam mereka. Itu cara tersingkat untuk mendapat uang. Tanpa mencuri tanpa melakukan kejahatan."


"Itu kejahatan Ian!" teriak Lyli lagi.


"Jika aku memaksa mereka. Tapi mereka sendiri yang mau." Ian mendorong dokumen yang baru saja dia tanda tangani. Lyli meraih berkas itu dengan tangan bergetar. Bola mata Lyli bergerak dari kiri ke kanan. Membaca satu persatu kalimat yang tercetak di sana. Sebuah surat pernyataan kalau yang bersangkutan bersedia menjual ginjalnya dengan harga yang sudah tertera dalam berkas itu.


"Satu hal Ly. Aku tidak pernah memaksa mereka. Sama seperti diriku yang tidak pernah memaksamu."


*


*


"Percaya atau tidak itu terserah padamu."


Lyli mengusap wajahnya kasar. Gadis itu baru saja pulang bertemu Rio di kafenya. Lyli berusaha melupakan kejadian di ruang bawah tanah itu, dua hari yang lalu. Namun bukannya menghilang, ingatan itu justru semakin kuat.


Semua masih terbayang jelas, saat Ian mengantarnya keluar dari sana. Bagaimana mereka melakukan operasi pengangkatan organ dalam itu dengan cekatan.


Lyli menghembuskan nafasnya kasar. Gadis itu tengah berada di sebuah taman, seorang diri. Lyli tadinya akan diantar Rio, tapi tiba-tiba pria itu dihubungi tangan kanannya. Ada masalah di kafe mereka yang lain. Terpaksalah Rio membiarkan Lyli pulang sendiri.

__ADS_1


Gadis itu baru akan pergi dari sana, ketika tiga orang pria mendekatinya. Lyli jelas takut, terlebih melihat tampang mereka yang menyeramkan.


"Ikutlah dengan kami secara baik-baik." Seorang dari mereka berucap. Hal itu tentu membuat Lyli panik. Otaknya menyuruh lari, tapi kakinya sama sekali tidak bisa digerakkan.


"Tidak mau! Kalian siapa?" Lyli bertanya dengan wajah mulai pucat. Dia adik polisi, tapi belum pernah berhadapan dengan satu penjahat pun. Lyli belajar bela diri dasar, tapi kalau keadaannya begini. Hilang semua jurus yang pernah dia latih. Bahkan jurus paling dasar pun dia tidak bisa melakukannya. Melarikan diri.


"Kalau tidak mau ikut baik-baik, jangan salahkan kami jika kami menggunakan cara kasar." Pria itu mendekati Lyli, lalu menarik tangan gadis itu. Lyli ingin berteriak. Tapi pria itu langsung membekap mulutnya. Lyli meronta, berusaha melepaskan diri. Satu ide muncul, Lyli menggigit tangan pria yang membekap mulutnya. Pria itu reflek melepaskan bekapannya, juga cekalannya pada tangan Lyli.


Lyli langsung berlari meninggalkan tempat itu. Heran sekali, kenapa tempat itu jadi sepi, biasanya jam segini ramai dengan orang yang sedang jalan-jalan di sana.


"Nasibmu sial sekali, Ly!" maki Lyli dalam hati. Sementara tiga pria itu terus mengejar Lyli.


"Jangan lari kau!" teriak mereka bergantian.


"Ampun, salahku apa sih? Mereka itu siapa? Mana larinya pada kenceng-kenceng lagi. Engap kan aku jadinya." Monolog Lyli dalam hati.


Lyli sudah melihat jalan raya, ketika kakinya tersandung polisi tidur. Gadis itu tersungkur, dengan siku menjadi tumpuan. Rasa perih seketika terasa di tangan dan lututnya.


Di belakangnya, seorang pria langsung menarik paksa tubuh Lyli berdiri. Gadis itu meringis ketika seorang dari mereka menjambak rambutnya.


"Berani kau kabur dari kami."


Lyli memejamkan mata menahan perih di kepalanya. Saat itulah satu tendangan membuat pria yang memegangi Lyli terjatuh ke aspal.


"Brengsek!!! Berani kalian mengusiknya?!" Teriak pria itu. Tiga pria itu saling pandang, bisa-bisa gagal penculikan mereka kali ini.


****


Up lagi readers

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Terima kasih.


****


__ADS_2