
Kredit Pinterest.com
Rio menggebrak meja di hadapannya. Tak berselang lama, pria itu maju lantas memukul anak buahnya. Anak buah Rio langsung jatuh tersungkur. Satu tatapan penuh ancaman, Rio berikan. Dan wanita yang sudah setengah telanjannggg di hadapan Rio langsung pergi dari sana. Ketakutan melihat kemarahan Rio.
Rio sendiri sudah melepas pakaiannya, ya pria itu sedang otewe bercinta dengan perempuan yang sudah disediakan oleh tangan kanannya. Tapi suasana hati Rio seketika berubah. Laporan dari anak buahnya, membuat pria itu murka.
"Cari dan temukan dia. Tidak peduli caranya. Aku mau dia kembali hidup-hidup."
Kata Rio penuh penekanan. Anak buahnya mengangguk patuh. Lantas berlalu dari hadapan Rio. Meninggalkan pria itu yang memejamkan mata sambil mengepalkan tangannya.
"Harusnya aku tiduri kau dulu, supaya kau tidak bisa lari dariku." Gumam Rio kesal. Pria itu lantas mengambil ponselnya. Masih bertelanjang dada. Sebuah foto terpampang di sana. Foto seorang gadis yang baru saja membuat darahnya mendidih. Susah payah Rio menahan hasratnya pada gadis itu, ternyata dia bisa kabur dari pengawasan Rio.
"Mada, ke manapun kau lari. Aku akan bisa menemukanmu."
Gumam Rio kembali melihat foto gadis yang dia panggil Mada itu. Rio menggeser layar ponselnya dan tampaklah foto Lyli di sana. Gadis cantik itu terlihat seksi memakai tank top dan hot pants. Foto yang Rio dapat secara candid.
"Sepertinya aku harus mencari pelampiasan." Ucap Rio. Masuk ke pintu sebelah. Menyambar satu kemeja lantas memakainya.
Dua puluh menit kemudian, mobil Rio sudah masuk ke parkiran rumah sakit. Pria itu tersenyum melihat sang kekasih yang sedang berjalan ke arahnya. Senyum Lyli seketika membuat hasrat Rio yang belum tuntas kembali menggebu.
"Ke apartemenku?" tanya Rio tiba-tiba. Apartemen pria itu lebih dekat dari pada milik Lyli. Lyli mengerutkan dahinya. Jika Rio mengajaknya pulang ke apartemen pria itu, hal tersebut berarti Rio sedang ada masalah.
Sepanjang perjalanan menuju tempat Rio, pria itu tidak melepaskan genggaman tangannya pada Lyli. Adik Leon itu semakin heran dibuatnya.
"Ada apa?" tanya Lyli ketika keduanya masuk ke unit sang kekasih. Gadis itu melepas coat panjangnya. Menyisakan kemeja berwarna baby blue yang cukup mengekspose pakaian dalam Lyli.
"Apa kamu sengaja memancingku, hemmm?"
__ADS_1
Lyli sedikit terkejut kala tangan Rio melingkar di perutnya. Pria itu menempatkan kepalanya di bahu Lyli. Rio seketika mengumpat miliknya yang langsung merespon saat dada Rio menempel ketat di punggung Lyli.
Lyli sejenak terdiam, kenapa hari ini Rio jadi agresif. Biasanya tidak. Tidak tahan lagi, Rio mulai mencium leher Lyli, setelah menyingkirkan helaian rambut gadis itu. Tubuh Lyli meremang, meski rasanya masih kalah dahsyat dibanding sentuhan Ian.
Lyli seketika ternganga, kenapa dia malah memikirkan Ian, saat dirinya sedang bersama Rio. Setengah melamun membuat Lyli tidak sadar jika dirinya sudah membalas ciuman Rio. Tangan Lyli bahkan sudah melingkar di leher sang kekasih.
Untuk pertama kalinya, Rio menyentuh Lyli. Pria itu mencium Lyli dengan lembut. Intens dan dalam. "Ahh, Lyli kamu membuatku gila." Ucap Rio di sela pria itu mengambil nafas. Detik berikutnya, Rio kembali menyerang bibir Lyli.
Pria itu semakin memperdalam ciuman mereka. Yang membuat Lyli diam saja saat Rio menciumnya adalah bayangan wajah Ian yang memenuhi kepalanya.
"Ian sialan! Bagaimana malah dia yang ada di otakku." Maki Lyli berusaha menikmati ciuman dari Rio.
*
*
Braakkkkk
Setelah Leon memeriksa, pria itu tidak menemukan apa-apa. Padahal mobilnya jelas menabrak sesuatu. Bahkan ada noda merah, yang adalah darah setelah Leon memeriksanya. Leon melihat sekelilingnya. Yang tertabrak mobilnya tengah terluka.
Mata pria itu memicing, hingga dalam kegelapan malam, Leon menangkap pergerakan lambat dan terlihat menahan sakit, di sebuah padang ilalang di tepi jalan raya itu.
"Tunggu!"
Leon berlari mengejar sosok yang dia duga tertabrak mobilnya. Bukannya berhenti, sosok itu justru berusaha lari. Leon yang sigap dan cepat tentu dengan mudah bisa menyusul orang itu. Leon menyentuh pundak orang itu, dan betapa terkejutnya dia ketika tahu sosok itu seorang wanita.
"Tidak! Jangan tangkap aku! Biarkan aku pergi!"
Teriak wanita itu ketakutan. Leon mengerutkan dahi melihat wanita itu langsung berjongkok ketakutan. Bahkan tanpa melihat wajah Leon. Wanita itu menangis tersedu-sedu, sambil menyembunyikan wajahnya di antara dua lutut yang dia peluk sendiri.
__ADS_1
Leon melihat ke kiri dan kanannya. Sepi, tidak ada seorang pun melintas di jalan itu. Tapi wanita itu terus menggumamkan kata yang sama. "Jangan menangkapku, jangan mengejarku."
"Nona...."
Leon berusaha bicara selembut mungkin. Pria yang biasanya tegas dan keras itu, cukup kesulitan saat harus bicara lembut di depan orang lain selain adiknya.
Mendengar suara Leon, wanita itu justru menutup telinganya rapat-rapat. "Aku tidak mau tinggal di sini. Aku mau pulang." Gumam wanita itu lagi.
"Nona...ayo kita ke rumah sakit dulu. Tangan Nona terluka." Leon membujuk wanita itu agar mau diperiksa. Lengan wanita itu berdarah, mungkin bagian itu yang menabrak mobilnya.
Wanita itu terdiam mendengar kata rumah sakit. Ya, dia harus ke rumah sakit. Dia harus membuktikan kalau dirinya tidak gila. Perlahan wanita itu mengangkat wajahnya, melihat ke arah Leon. Bahkan dalam keremangan malam dan sinar bulan sebagai penerang, bisa Leon lihat betapa cantiknya wanita itu.
"Rumah sakit dan polisi. Aku mau ke tempat mereka." Ucap wanita itu lirih. Wanita itu melihat penuh ragu ke arah Leon yang kini berjongkok di hadapannya.
Leon bisa melihat ketakutan dalam bola mata wanita itu. "Kamu mau ke rumah sakit? Mau ke kantor polisi? Ayo aku antar." Bujuk Leon.
Untuk sesaat wanita itu terdiam. "Kamu gak bohong kan? Aku gak dikurung lagi kan? Aku tidak di......"
Wanita itu mulai menangis. Hingga Leon reflek memeluk wanita itu. Bisa Leon rasakan rasa takut yang sangat dalam diri wanita itu. "Aku tidak bohong. Kita akan ke kantor polisi. Juga rumah sakit."
Perlahan Leon memapah tubuh ringkih itu. Keluar dari padang ilalang yang gelap dan menyeramkan itu. Namun baru beberapa langkah, tubuh wanita tersebut melemah. Dalam pelukan Leon, wanita itu tidak sadarkan diri. Leon tentu panik. Pria itu dengan cepat menggendong wanita yang bahkan nama saja dia tidak tahu.
Setelah mendudukkan wanita itu. Leon melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Bisa Leon lihat, siku dan lengan wanita itu berdarah. Dalam perjalanan itu, timbul banyak tanya dalam benak Leon. Siapakah wanita yang meski terlihat lusuh dan kotor, tetapi masih nampak cantik? Siapa juga yang telah mengejar dan ingin mengurung wanita ini.
"Siapa kamu?" Gumam Leon lirih.
***
Up lagi readers,
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Terima kasih.
*****