
Kredit Pinterest.com
"Isshh, pelan-pelan dong."
Protes Lyli pada Ian, yang untuk sedetik menatap pada gadis yang hanya mengenakan tank top berwarna nude tersebut. Sebuah pemandangan yang cukup menggoda mata Ian. Belahan dada Lyli beberapa kali mengintip, membuat Ian semakin panas.
"Bagaimana bisa kamu ada di sana?" tanya Lyli setelah Ian menempelkan plester pada luka di siku dan punggung Lyli. Lyli tidak habis pikir bagaimana punggungnya bisa terluka. Padahal Ian yang berkelahi saja tidak apa-apa.
Orang yang menolong Lyli adalah Ian. Pria itu mendapat laporan dari The Eye, mengatakan kalau Lyli di dekati tiga pria mencurigakan. Dan benar saja, saat Ian sampai di tempat itu, dilihatnya satu dari tiga pria itu tengah menjambak Lyli. Bisa dibayangkan bagaimana marahnya Ian. Pria itu menghajar tiga orang itu tanpa ampun. Setelah ketiganya terkapar tidak berdaya, barulah Ian membawa Lyli pergi dari sana.
"Apa yang kemarin kamu lihat belum bisa membuka matamu soal siapa aku? Atau kamu sama sekali tidak bisa menebak profesi apa yang tengah aku lakoni?" Kata Ian sembari melepas jaketnya, lalu kaosnya. Lyli langsung memalingkan wajah saat tubuh topless Ian tersaji di depan mata.
Ian melangkah ke arah lemarinya lantas mengambil satu kaos oblong, lalu memakainya. Keduanya berada di kamar Ian. Sebuah kamar yang jarang Ian tiduri karena pria itu lebih suka tinggal di rumah sakit.
Lyli menunduk mendengar perkataan Ian. Dalam hati Lyli, sejujurnya gadis itu takut untuk mengakui jenis pekerjaan yang Ian jalani. Pria yang sejak sepuluh tahun lalu mengambil hati Lyli dan kini kembali membuktikan kalau dirinya masihlah pemilik hati Lyli. Gadis itu mencoba menepis rasa yang kembali hadir untuk Ian. Namun ia sepertinya gagal.
"Mafia." Lirih Lyli. Gadis itu berucap sambil menundukkan wajahnya. Ian tersenyum tipis mendengar gumaman Lyli. Pria itu telah berdiri di depan Lyli. Sedikit memar dan bekas biru terlihat di bahu gadis itu. Juga telapak tangan dan betis Lyli lecet, meski tidak banyak.
Detik berikutnya, Ian mengangkat dagu Lyli. Tanpa basa basi, pria itu mencium bibir Lyli lembut. Satu tangan Ian berada di pipi Lyli. Mengusap pipi mulus Lyli. Tangan yang lain berada di leher jenjang Lyli.
"Ohh, shhiittt!!!" Ian mengumpat kala tubuhnya merespon aksi yang dia mulai sendiri.
"Seperti katamu. Aku adalah seorang mafia...." Mata Lyli mengerjap beberapa kali, karena hidung mereka yang masih bersentuhan. Gadis itu berusaha mencerna perkataan Ian yang menegaskan dugaan Lyli atas pekerjaan Ian.
"Tapi sudah tobat." Pria itu melanjutkan sesi bertukar saliva tersebut untuk beberapa waktu. Lyli sendiri begitu menikmati ciuman tersebut. Bahkan ketika Ian mengurai ciuman mereka, gadis itu tampak tidak rela. Hal itu membuat Ian tersenyum mengejek.
"Putuskan Rio dan kita menikah akhir bulan ini."
Duaaarrr
Mata Lyli membulat sempurna mendengar permintaan enteng dari Ian. Bagaimana Ian bisa berucap begitu enteng soal menikah.
__ADS_1
"Enak banget ngomongnya. Siapa juga yang mau menikah sama kamu." Kilah Lyli. Lain di bibir, lain di mulut. Begitulah Lyli, di lidah mengatakan tidak. Di hati gadis itu bersorak gembira. Menikah dengan Ian?
"Pilihlah. Mau tak bobol setelah menikah atau sebelum menikah. Kalau setelah menikah, aku masih bisa menahannya sampai akhir bulan. Tapi kalau tidak mau, ya sekarang saja." Ian mendorong tubuh Lyli, hingga tubuh gadis itu jatuh telentang di kasur besarnya. Tanpa aba-aba pria itu langsung menyerang Lyli. Mencium bibir gadis itu dengan gairah yang sudah setengah menguasai pikiran Ian.
"Woiiii, stop!!!" Lyli mendorong jauh tubuh Ian, sampai pria itu jadi berbaring di samping Lyli.
"Jangan gila!" Maki Lyli. Sementara Ian justru terkekeh mendengar umpatan Lyli.
"Ada banyak hal yang tidak aku ketahui soal kamu." Lyli membuka obrolan setelah keduanya diam untuk beberapa waktu. Menetralkan detak jantung, juga meredakan gejolak di bawah sana.
"Aku mafia.....mantan." Aku Ian. Pria itu menatap langit-langit kamarnya.
"Lalu?" Kejar Lyli. Gadis itu ingin mendengar semua langsung dari bibir Ian.
"Emm...aku duda." Kata Ian lagi.
"What?!!!!" Lyli langsung mendudukkan diri. Shock dengan pengakuan Ian yang seorang duda.
"Kaget bener denger kata duda. Kenapa? Nggak suka? Karena aku bukan single?"
"Eh...eh...tu bibir kalau ngomong bisa direm nggak. Kalau gak, sini aku yang kasih rem."
Lyli langsung membekap mulutnya sendiri. Tahu dengan maksud Ian. "Makanya cerita yang benar dong." Ujar Lyli dengan suara teredam.
Ian seketika tertawa mendengar suara Lyli. Seperti orang yang kena lakban mulutnya. Lyli mendengus kesal melihat Ian yang malah tertawa.
"Iya...iya...aku cerita. Aku nikah kapan ya. Sudah lama. Mungkin empat atau lima tahun lalu, waktu Rea hamil Abian yang jelas."
"Lalu istrimu mana? Kenapa pisah?"
Pria itu lantas menceritakan mantan istrinya, tapi Ian tentu tidak menceritakan soal kebiasaannya yang suka menghajar sang istri setelah mereka atau sedang bercinta. Takut Lyli kabur. Terlebih sekarang kebiasaan itu sudah hilang. Ian sudah menjadi pria normal. Ian berterus terang kalau dia membunuh istrinya karena istrinya berani membeberkan identitas Rea pada dunia bawah. Dan berakhir keduanya menjadi buruan para pembunuh bayaran.
Baca kisahnya di Andra dan Rea Let The Story Begin
__ADS_1
"Kau membunuh istrimu?" tanya Lyli tidak percaya.
"He..he..iya. Waktu itu aku masih mafia mode akut. Senggol bunuh. Masih mending senggol bacok." Jawab Ian sambil nyengir.
"Terus sekarang masih suka acara bunuh-bunuhan?" Ian tersiam mendengar pertanyaan Lyli.
"Masih sih kalau terdesak situasinya." Jawab Ian sambil menerawang.
"Ian......!!"
"Apa sih? Aku sudah tobat Ly. Bunuh orang kalau darurat."
"Nggak percaya. Kalau semalam aja kamu bilang itu bisnismu. Ngeri gak sih? Terus kalau kak Leon tanya siapa kamu. Aku jawabnya apa?" Lyli berteriak frustrasi.
"Jawab aja aku dirut rumah sakit. Kan emang begitu pekerjaannku." Ian menjawab sambil melihat Lyli yang berjalan mondar mandir di kamarnya. Memakai hot pants dan tank top, tubuh Lyli sungguh seksi juga menggoda. Beberapa kali pria itu menelan ludahnya susah payah.
"Ly...bisa diam gak?"
"Gak!" Jawab Lyli ketus. Semakin lama tingkah Lyli semakin membuat Ian gemas. Ingin rasanya pria itu menyeret tubuh Lyli ke atas ranjang. Lalu mencumbunya sampai pagi menjelang.
"Gadis ini benar-benar biang kerok." Batin Ian tersiksa.
***
Kredit Pinterest.com
Ian, mantan mafia...
Up lagi ya readers
Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
__ADS_1
***