Mafia Kena Karma

Mafia Kena Karma
Terjebak


__ADS_3

Ian mengerutkan dahi, melihat rekam medis dari keponakannya, Abian Abizard Sky.


"Meningitis?"


Riel mengangguk membenarkan ucapan sang atasan. "Kok bisa?" Ian bertanya lagi.


"Mereka baru kembali dari umrah, di sana kan beresiko tinggi dengan virus itu."


"Bukannya sebelum pergi sudah diberi vaksin meningitis."


Riel mengedikkan bahunya. "Bagaimana sih kerjamu?" Ian mendengus kesal. Pria itu lantas memutar kursinya. Setelah terdengar pintu dikunci, lima monitor The Eye muncul dari balik dinding yang bergeser di ruang kerja Ian. Kacamata hologram langsung memindai retina Ian. Setelah terverifikasi, pria itu mulai bekerja. Dengan Riel juga mulai mengulik keyboardnya.


"Aneh. Abian sudah divaksin. Tapi kenapa masih bisa kena meningitis."


Di sebelahnya Riel memicingkan mata. Menatap ratusan CCTV yang berhasil The Eye retas di hotel tempat Rea dan keluarganya menginap selama di Arab Saudi. Makkah Royal Clock Tower, A Fairmont.


"K, liat deh. Ini bukan room service kan?" Riel menunjukkan sebuah rekaman CCTV yang memang mencurigakan. Sebagai orang yang sudah lama bergelut di dunia bawah. Ian, Riel dan Max tentu paham dengan bahasa tubuh tiap orang. Mereka bisa menganalisa siapa orang itu dari bahasa tubuh mereka.


"Mereka...sial! Ada yang sengaja menginfeksi Abian." Ian mengepalkan tangannya kuat. Keduanya mulai menganalisa wajah-wajah yang mereka curigai dari layar monitor itu. Dengan The Eye sesekali memberikan informasi. Sampai satu dua wajah muncul di layar utama The Eye.


"Start face recognition."


The Eye mulai bekerja dan tak berapa lama, dua data muncul di monitor kanan dan kiri foto tersebut. Disertai lokasi terakhir keduanya dikesan.


"Kalian cari mati denganku!" gumam Ian lirih. Pria itu baru saja akan mengambil kunci motornya ketika ponselnya berbunyi. Suara Max di seberang membuat Ian turun ke UGD dengan cepat.


"Ada apa?" pria itu bertanya pada Max. Sang asisten baru saja akan menjawab ketika suara Leon terdengar dari arah kirinya.


"Bisa kita bicara sebentar?" Leon berjalan mendahului Ian. Masuk ke ruang UGD. Pria itu lantas menjelaskan kalau dia menemukan seorang wanita yang kemungkinan mengalami tindak kekerasan. Jadi Leon minta izin pada Ian selaku pemilik rumah sakit agar dia punya akses lebih pada wanita itu.


"Imbalannya?" Leon memicingkan mata mendengar pertanyaan Ian.


"Maksudmu apa?"

__ADS_1


"Kau minta akses lebih padaku. Maka aku juga minta akses lebih padamu."


Leon terkekeh. Dia baru tahu kalau Ian sangat licik. "Dengar pak dirut. Semua keputusan ada di tangan adikku. Aku tidak peduli siapa yang akan jadi pasangan Lyli. Asal adikku bisa bahagia."


Baik Ian maupun Leon tersenyum, deal dengan kesepakatan mereka. Tak berapa lama seorang perawat memberitahu kalau pasien sudah sadar. Ian dan Leon menerobos masuk ke ruang pasien. Dilihat oleh mereka, seorang wanita duduk sambil memeluk lututnya. Ketakutan. Leon mendekat mencoba bicara pada wanita itu.


"Namanya Mada, Pak."


Seorang dokter lantas menjelaskan keadaan Mada. Di mana wanita ada kemungkinan mengalami masalah mental karena tindak kekerasan fisik dan sekssuuall. Leon dan Ian saling pandang. Ian mengerutkan dahinya, merasa pernah melihat wajah Mada, tapi di mana.


"Apa dia perlu dirawat?" Leon bertanya sambil memandang wajah Mada yang tertunduk.


"Sebaiknya begitu. Kita akan mengobservasinya dalam beberapa waktu ke depan."


Leon mengangguk paham. Sesaat kembali bicara pada Ian, agar identitas Mada disembunyikan. Dan Ian menyanggupinya. Mengikut pengaturan dari Ian, Mada ditempatkan di ruang biasa tapi serasa VIP. Dokternya khusus pilihan Ian, pun dengan perawatnya.


"Mada.....namamu Mada kan?" Leon mulai berkomunikasi dengan Mada. Sesaat Leon tertegun melihat bagaimana cantiknya wajah Mada.


Melihat reaksi Leon, Ian terkekeh. "Naksir lu?" Leon melotot mendengar ejekan Ian. "Nggak bakal gue restuin, biar Lyli milih elu juga."


Ucapan Mada semakin menguatkan ada yang tidak beres dengan keadaan Mada. Wanita itu kembali melamun. "Dia cuma ingat namanya." Ian menyampaikan keterangan dari dokter. Leon melirik ke arah Mada. Raut wajah ketakutan tapi pandangan matanya kosong.


*


*



Kredit Pinterest.com


Kawasaki Ninja H2R


Ian melajukan motornya menuju sebuah lokasi yang The Eye tunjukkan. Motor sport itu meliuk-liuk dan menyalip beberapa mobil yang menghalangi jalannya. Dengan kecepatan maksimal mencapai 400km/jam, menjadikan motor asal pabrikan Jepang tersebut salah satu yang tercepat di jalanan, Kawasaki Ninja H2R.

__ADS_1


Helm fullface, jaket kulit dan sepatu boot membuat penampilan Ian seperti geng motor jalanan. Pria itu memecut motor berwarna hitam itu menuju sebuah kafe di pinggiran kota. Sebuah kafe yang terlihat biasa tapi menyimpan hal luar biasa di dalamnya.


Ian merangsek masuk, mengabaikan peringatan dari dua orang security yang berjaga di depan kafe. Semua orang melihat ke arah Ian yang tiba-tiba sudah di depan meja bartender. Segelas kecil Vodka dengan kadar kandungan alkohol 40% kini berada di depan Ian. Pria itu memindai keadaan kafe itu. Kafe ini hanya kamuflase dari sebuah klub malam elite yang ada di bawah tanah.


"Pertemukan aku dengan tuan Hendrick." Ian berkata setelah menenggak habis Vodka miliknya dan menyelipkan tiga lembaran uang ratusan ribu. Si barterder mulai memindai wajah Ian. Pada kesempatan itu peran The Eye dimulai. Dalam pikiran si bartender, yang dihadapannya bukanlah wajah Ian yang sebenarnya.


"Password."


"Someone must die tonight." (Seseorang harus mati malam ini)


Si bartender membimbing jalan Ian. Sebuah kode terdengar di tekan, dan The Eye langsung meng-copi kode rahasia itu. Terdengar bunyi klik dan pintu terbuka. Di balik tembok itu terdengar hingar bingar musik yang dimainkan oleh DJ di depan sana. Ian berjalan melewati kerumunan manusia yang menggerakkan tubuhnya mengikuti tempo lagu.


Ian yang mantan player tak segan meraba tubuh wanita berpakaian seksi yang dia lewati. Dalam keadaan berdesakan dan suasana temaram, hal itu sangat mudah dilakukan. Mata Ian memindai ruang di lantai dua. Sampai tiba-tiba tangan ramping menarik tubuh Ian. Membawa tubuh Ian ke tengah lantai dansa yang padat pengunjung. "Kau ingin bersenang-senang?" tanya Ian dengan tangannya menyentuh tubuh bagian belakang wanita seksi itu. Dengan agresif, wanita itu meraup bibir Ian lantas memagutnya penuh gairah.


"Hendrick Peterson, arah jam 3 lantai dua."


Ian menyeringai di tengah lummatan wanita itu yang semakin dalam. Satu tangan Ian menarik pistol yang dia sembunyikan di boot kirinya. Tanpa orang sadari, sebutir peluru melesat ke sasaran yang The Eye tunjukkan. Peluru itu meluncur tanpa menimbulkan suara. Selain berperedam, kerasnya musik di tempat itu sedikit banyak memberi keuntungan pada Ian.


"Kau tidak memeriksanya lebih dulu?"


"Itu hanya pancingan."


Jawab Ian, kembali melanjutkan sesi bertukar ludah dengan wanita yang kini menempel ketat di tubuh Ian.


"Sial! Dia merangsanggku!"


Terdengar tawa mengejek dari The Eye, mengetahui Ian terjebak dengan permainannya sendiri.


****


Meningitis atau radang selaput otak yang disebabkan oleh jangkitan virus atau bakteri.


Up lagi readers,

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Terima kasih.


****


__ADS_2