Mafia Kena Karma

Mafia Kena Karma
Selalu Menunggu


__ADS_3

Rio tampak serius membaca laporan di ruang kerjanya. Laporan mengenai beberapa transaksi narkoba dan senjata yang ia dapatkan akhir-akhir ini. Pria itu tampak kesal. Beberapa transaksi gagal dilakukan. Ada yang karena terciduk polisi. Atau gangguan pihak ketiga.


"Apa aku harus menghabisi kakakmu juga?" gumam Rio lirih. Yup, Rio baru saja menghabisi seorang kepala polisi yang selalu saja menghalangi langkahnya untuk melakukan transaksi di kota sebelah. Kota yang berupa pelabuhan dengan beberapa pantai dan pulau tersembunyi yang bisa dijadikan lokasi transakasi tanpa ketahuan pihak ke tiga, baik polisi atau klan mafia lain.


Jika keadaan begini terus, Rio bisa rugi. Biaya yang dia habiskan untuk mendatangkan narkoba dan sejata ilegal itu sangat mahal. Belum dengan resiko yang harus Rio hadapi. Pria itu mengusap dagunya sedikit berpikir. Namun pikirannya tengah buntu saat ini.


Rio menghela nafas, lantas melirik ponselnya yang berbunyi. Sebuah pesan masuk ke dalam benda canggih itu. Rio tersenyum melihat siapa yang menghubunginya. "Waktunya bersenang-senang." Kata Rio riang. Pria itu meraih jasnya lalu berdiri dari kursinya. Meja itu langsung bergeser permukaannya. Berganti dengan sebuah visual meja yang normal untuk pemilik kafe.


Rio keluar dari kafenya setelah berpamitan pada tangan kanannya. Namun baru saja Rio akan masuk ke mobilnya. Sebuah suara membuat pria itu menoleh. Wajah Rio berubah, antara senang dan khawatir.


*


*


"Bagaimana keadaannya?" Leon bertanya pada dokter yang merawat Mada. Pria itu tengah menunggu Mada yang baru saja selesai mandi. Mengantarkan pakaian yang dibelikan oleh Lyli, pria itu jadi tertarik untuk bertemu Mada. Apalagi setelah mendengar penjelasan dari dokter kalau keadaan Mada semakin baik.


Terdengar suara pintu kamar mandi dibuka. Leon seketika melongo. Melihat Mada yang terlihat cantik. Sangat berbeda dari pertama kali mereka bertemu.


Begitupun Mada, wanita itu cukup terkejut melihat Leon yang berada di kamarnya. Pasalnya Leon jarang mengunjunginya selama dirinya dua minggu di rawat di rumah sakit.


"Mbak Mada, masih ingat dengan Pak Leon. Dia yang menolong mbak Mada hari itu."


Seorang perawat menerangkan pada Mada siapa Leon. "Halo, masih ingat padaku?" Leon bertanya sambil mengulurkan tangannya, mengajak Mada bersalaman. Mada dan Leon saling pandang. Hingga kemudian dengan ragu, Mada membalas jabat tangan Leon. Kakak Lyli itu tersenyum. Sungguh wanita bernama Mada ini terlihat cantik di mata Leon. Mata Leon tidak berkedip beberapa detik, waktu menatap Mada. Hal itu membuat Mada salah tingkah. Mada mengangguk sebagai jawaban pertanyaan Leon.


"Apa keadaanmu semakin baik?" lagi Leon bertanya. Dan anggukan kembali menjadi jawaban untuk pertanyaan Leon. Pria itu menghembuskan nafasnya pelan.


"Bicaralah, aku tidak akan menyakitimu." Ucap Leon lagi. Leon tahu kalau dia harua ekstra sabar menghadapi Mada.


"Mau minum sesuatu. Adikku tadi membelikan boba."


Mendengar kata adik, Mada mengangkat wajahnya. Melihat Leon mengingatkan Mada pada seseorang. Seorang gadis yang beberapa kali menjenguknya. Gadis cantik yang sekilas mirip dengan Leon.


"Dia...." Mada berusaha mengingat nama gadis itu. Namun dia tidak juga ingat.


"Namanya Lyli." Kata Leon singkat.

__ADS_1


"Ah...itu. Aku lupa." Balas Mada reflek. Jawaban Mada membuat Leon tersenyum, sepertinya wanita di depannya ini mulai bisa berinteraksi dengannya.


Mada menerima cup boba dari Leon. Untuk sesaat Leon kembali terpesona pada sosok Mada. Mata bulat, hidung mungil, mancung serta bibir kecil wanita itu sangat menarik dipandang mata. Memakai sweater oversize dan rambut dikuncir sederhana membuat Mada terlihat cantik.



Kredit Pinterest.com


Meet Sheria Amada, abaikan ponselnya. Mada belum pegang ponsel waktu itu.


Setelahnya dua orang itu mulai membuka obrolan, mencoba saling membuka diri. Hal ini sangat disarankan untuk membantu pemulihan kesehatan jiwa Mada.


*


*


Lyli mengerutkan dahinya saat namanya dipanggil oleh seseorang. Gadis itu menoleh dan dilihatnya sepasang suami istri tengah berjalan ke arahnya. Dalam gendongan sang suami, seorang anak kecil tengah tersenyum padanya.


"Dengan dokter Lyandra Ortega?" si wanita bertanya sambil menjabat tangan Lyli.


"Abian ya?" tukas Lyli. Dan anak yang dipanggil Abian itu mengangguk mantap.


"Wah sudah sembuh." Celetuk Lyli.


"Terima kasih untuk bantuannya waktu itu." Si pria berucap.


"Andrea, dan ini suami saya Andra." Wanita itu memperkenalkan diri.


"Nama kalian mirip ya." Kekeh Lyli. Namun tawa Lyli seketika hilang.


"Dia adalah keponakanku."


Satu kalimat dari Ian membuat Lyli terdiam. Jika Abian adalah keponakan Ian, berarti antara Andrea atau Andra adalah saudara Ian. Lyli menggelengkan kepalanya pelan. Mencoba mengusir pikiran-pikiran buruk dari otaknya. Karena Lyli sedang luang. Gadis itu menemani Abian dan Rea, menunggu sang ayah membayar administrasi kontrol Abian. Mereka cepat sekali akrab. Berbincang tentang banyak hal. Dengan Abian sesekali menimpali.


Di tempat lain, Ian tampak keluar tergesa-gesa dari lift. Setelah mendapat kabar kalau Abian baru saja selesai kontrol dan berada di ruang tunggu. Pria itu hanya ingin melihat Abian dan juga Rea, sang adik sekilas.

__ADS_1


Ian berjalan cepat tanpa melihat kiri dan kanannya. Sampai sebuah panggilan menghentikan langkah Ian.


"Arka....!" Ian seketika berbalik dan terlihatlah Andra, si adik ipar. Sesaat Ian tergugu. Dia tidak tahu harus bagaimana. Bertemu Andra adalah hal di luar dugaan. Dia ingin lari tapi Andra mencegahnya.


"Jangan lari lagi, hadapi dia." Ucapan Andra membuat Ian mengepalkan tangannya. Bertemu Rea? Dia sama sekali belum siap.


"Aku belum berani bertemu dia." Kata Ian akhirnya. Keduanya berada di lorong buntu di dekat sebuah jendela di lantai dua.


"Apa lagi yang kau takutkan?"


Ian memicingkan mata pada Andra. Dia tidak yakin kalau Andra tidak mengetahui apapun tentang dirinya. Terlebih Jack dan Max dekat. Sedang Jack sangat terbuka pada Andra.


"Kau tidak tahu siapa aku." Ujar Ian. Kedua pria itu saling tatap.


Terdengar helaan nafas diiringi suara tawa mengejek keluar dari bibir Andra. Pria tampan itu membuat Ian mengerutkan dahinya.


"Kau pikir aku sebodoh itu. Kau...Johanes Arka Kian Rivaldy, pemimpin dari klan Black Chimaera, di negara M atau...."


"Cukup!" Ian berujar tegas. Dua pria itu kembali terdiam. "Apa kau tahu kalau dia selalu menunggumu pulang. Dia terkadang menangis dalam diam. Dan kau tahu apa yang aku rasakan?"


Andra menjeda kalimatnya. Pria itu berusaha mengatur emosinya. Andra pikir dia sudah kehilangan rasa hormatnya pada kakak iparnya. Tapi dia tidak peduli. Dia lebih memikirkan sang istri yang sangat ingin bertemu Ian, kakaknya.


"Aku merasa tidak berguna karena tidak bisa memenuhi keinginannya. Bertemu denganmu. Rea, kau tahu sendiri kalau dia sendirian sejak kecil. Dia sangat bahagia saat tahu kalau dia punya kakak kandung."


Ian seketika terkejut. Apa Rea tahu kalau dia adalah kakaknya. Tidak mungkin, tidak ada yang memberitahu Rea soal dirinya.


"Berhentilah bicara. Aku tidak tahu apa yang kau katakan." Ian berbalik, saat itulah tubuh Ian membeku di tempatnya. Waktu seolah berhenti berjalan.


"Dia selalu menunggumu." Andra berucap lirih dari arah belakang Ian.


***


Up lagi reader.


Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.

__ADS_1


****


__ADS_2