
Ian mengulurkan secangkir teh hangat yang pria itu buat di pantry-nya sendiri. Satu kode dari Ian meminta Lyli meminum minuman tersebut. Namun gadis itu menggeleng.
"Jangan nangis lagi napa?" Ian setengah kesal karena sudah satu jam ini, Lyli terisak lirih di kantornya. Mendengar suara Ian, Lyli justru semakin keras menangis.
"Tinggalin aku sendiri." Kata Lyli pelan.
Ian menghembuskan nafasnya. Lantas kembali ke mejanya. Mulai meraih berkas untuk dia periksa. Sementara Lyli, gadis itu langsung mendelik melihat Ian yang benar-benar meninggalkannya sendiri. "Beneran cowok gak peka!" umpat Lyli lirih.
Sementara di meja kerjanya, Ian mengulum senyumnya. Dia dengar umpatan Lyli. Tapi pria itu hanya mendiamkan tingkah Lyli. Lama-lama gadis itu terlelap. Mata Lyli terpejam dengan sudut mata yang terlihat basah. Ian mengangkat tubuh Lyli, masuk ke kamar pribadinya. Merebahkannya di ranjang. Pria itu lantas keluar dari sana. Masuk ke ruang rahasianya. Di mana Max sudah ada di sana.
"Semua berjalan lancar. Meski Leon terus menyelidiki kita. Sejauh ini, kita masih bisa menunjukkan bukti kalau penjualan organ kita legal."
Ian mengangguk paham. Pria itu mulai menggerakkan kursornya. Mencari tahu sesuatu yang sejak kemarin mengganggu pikirannya. Beberapa waktu dua pria itu terdiam. Ian dan Max larut dalam urusan masing-masing. Mata Ian memicing mendapati hasi dari pencariannya.
"Max, apa kau yakin dia sudah mati?"
"Sonya Adiba? Aku jamin dia mati detik itu juga."
Ian terdiam memikirkan mantan istrinya dulu. Istri yang terpaksa dia habisi karena berani membeberkan identitas Rea pada dunia bawah. Hal yang membuat Rea diburu oleh beberapa klan mafia saingan Ian saat itu. Untung dia berhasil menyelamatkan sang adik waktu itu. Karena hal itu juga, Ian terpaksa pergi dari negara ini untuk menghapus jejaknya. Sampai kejadian dua tahun lalu terjadi. Saat Ian terluka parah dan meminta Max untuk membawanya kembali ke negeri ini.
"Soal kau dan Rio. Aku pikir ada orang yang mengadu domba kalian." Kata Max.
"Aku pikir juga begitu. Aku cuma tahu satu orang yang punya tato kalajengking di punggung tangannya. Tapi yang aku tahu dia sudah lama menghilang. Maksudku dia tidak lagi berurusan dengan dunia hitam lagi."
"Dan untuk Rio, seharusnya dia mengubah pandangannya setelah menonton video itu."
__ADS_1
Max menganggguk paham. "Soal bom di mobil Rea, aku pikir pelakunya orang yang sama dengan orang yang mengadu domba kau dan Rio."
Ian mengangguk pelan, setuju dengan pendapat Max. Tangan kanan Ian itu beranjak dari duduknya. Satu lampu merah berkelip-kelip. Menandakan ada panggilan dari ruang bawah tanah mereka. Ruang operasi pengambilan organ dalam. Setelah Max menghilang dalam lift. Ian pun turut keluar dari tempat itu. Masuk ke kamar pribadinya. Lantas ikut merebahkan diri disamping tubuh Lyli. Perlahan dipeluknya tubuh langsing Lyli. Sesaat Ian menghirup aroma lembut lavender yang menguar dari tubuh Lyli. Aroma yang sangat menenangkan bagi Ian. Perlahan mata Ian pun ikut terpejam.
Sementara di tempat lain. Rio tampak tertegun setelah memaksakan diri menonton flask disk yang diberikan oleh Ian. Bukan sebuah video ataupun gambar. Melainkan hanya rekaman audio yang terdengar.
Rio tahu rekaman itu dibuat sendiri oleh sang paman menjelang kematiannya. "Paman harap kau tidak menaruh dendam pada siapapun. Paman baru sadar kalau Paman sudah menjadi alat untuk melakukan rencana mereka. Paman yang membunuh raja dan ratu negara M terdahulu. Dan Paman juga berniat membunuh ratu yang sekarang berkuasa. Kematian Paman adalah karena kesalahan paman sendiri."
Selanjutnya ada sebuah video yang menunjukkan saat sang paman meletakkan briket batubara beracun dalam perapian. Hal yang menyebabkan kematian raja dan ratu negara tersebut. Juga sebuah video saat sang paman berusaha menembak ratu negara itu. Namun pelurunya mengenai punggung Ian atau K pada waktu itu.
Sebuah pesan terdengar di akhir video. "Renungkanlah dan putuskan mana yang akan kau percayai."
Rio mengusak rambutnya kasar. Kenapa sekarang muncul dua teori soal kematian sang paman. Dia perlu bertanya pada orang yang sudah menyebutkan kalau Ian lah pembunuh pamannya. Padahal yang terjadi justru sebaliknya. Pamannya menembak Ian hingga pria itu koma selama 9 bulan.
Siapa yang harus Rio percayai. Ke mana Rio harus bertanya soal kebenaran dari ini semua.
Perlahan Lyli membuka matanya. Satu hal yang dia lihat pertama kali adalah dada bidang yang terbungkus kemeja putih. Meski dua kancingnya sudah terlepas. "Alamak! Apa ini?" gumam Lyli. Perlahan wajah gadis itu mendongak, mencari tahu siapa pemilik dada bidang yang baru saja membuat otaknya melayang ke mana-mana.
"Astaga! Kan bener dia!" Lyli mencubit perut Ian. Pria itu jelas meringis sekaligus membuka matanya. "Apaan sih Ly ganggu orang tidur. Masih tengah malam ini. Tidur lagi aja."
Ampuun, suara bangun tidur Ian justru terdengar seksi di telinga Lyli. "Gak! Aku mau pulang." Lyli berusaha bangun. Namun Ian mencegahnya. "Di sini aja, gak usah pulang. Aku sudah menghubungi kakakmu tercinta." Sahut Ian enteng. Pria itu berucap masih dengan mata terpejam.
"Sial! Kenapa sih yang namanya Ian ini selalu saja terlihat tampan dari dulu." Gerutu Lyli dalam hati.
"Gak! Pokoknya pulang." Tekad Lyli. Gadis itu takut kalau Ian akan macam-macam padanya. Lyli terus berontak dalam pelukan Ian.
__ADS_1
"Ssstt bisa diam gak? Atau mau kubuat protesmu jadi desahannn." Lyli melotot mendengar ucapan frontal dari Ian. Sesaat dua mata itu saling pandang. Ian sudah membuka matanya.
"Kamu banyak berubah Ly. Si buruk rupa itu sekarang sudah jadi seorang putri." Kekeh Ian.
"Aku gak buruk rupa ya?" Sangkal Lyli.
"Iya deh, gak buruk rupa. Tapi culun." Ian melebarkan tawanya, melihat wajah manyun Lyli dengan bibir maju lima senti. "Sembarangan kalau ngomong."
"Tapi aku gak nyangka kalau bibir si culun itu sekarang manis kek gula. Tapi gak bikin diabetes. Buat nagih."
"Apaan sih!" Lyli mulai kesal dengan arah pembicaraan Ian. Dua orang pria dan wanita berada di ranjang yang sama. Sama-sama dewasa. Apa saja bisa terjadi. Termasuk yang Lyli takutkan. Saat tangan Ian mulai terulur, mengusap lembut wajah Lyli. Mata pria itu terlihat begitu teduh. Tatapan lembut yang selalu Lyli terima dari Ian.
Satu tangan Ian menarik tubuh Lyli, hingga tubuh gadis itu berada di atas tubuh Ian. "Mau apa kamu?" tanya Lyli mulai cemas.
"Nggak ngapa-ngapain. Cuma mau ini." Tangan Ian menekan tengkuk Lyli, hingga wajah gadis itu berada di depan wajah Ian. Sedetik kemudian, bibir Ian sudah meyambar milik Lyli. Melummatnya tanpa basa basi. Lyli jelas terkejut dengan serangan dadakan Ian itu.
Lyli beberapa kali menekan dada Ian, mencoba melawan. Tapi pria itu sama sekali tidak terpengaruh. Ian justru semakin beringas menyerang bibir Lyli.
"Ian gila!" pekik Lyli saat Ian melepaskan hisapannya pada Lyli. Ian tersenyum, "Siapa suruh bikin aku candu sama bibirnya. Kena karma, kena karmalah. Aku terima." Kata Ian santai. Menyadari kalau hatinya sudah bertaut sepenuhnya pada seorang Lyli.
****
Up lagi readers
Jangan lupa ritual jempolnya. Terima kasih.
__ADS_1
****