
Kaca mobil sedikit dibuka, cukup untuk melesatkan satu peluru ke arah mobil lawan Ian. Mobil Ian dikendalikan sepenuhnya oleh The Eye.
Doorr
Ciitttt
Duarrr
Satu mobil berhasil Ian lumpuhkan. Pria itu menargetkan tangki bahan bakar mobil tersebut. Ledakan terjadi di tengah jalan raya yang sudah disterilkan oleh asisten virtual Ian.
"Kau menarik perhatian, Ian." Lyli berucap dengan wajah pias. Ledakan itu terjadi di depan matanya. Dan kini dua mobil masih mengejar mobil Ian.
"Cari jalan lain." Perintah Ian. The Eye merespon. Meski masih di jalan tol, tapi mobil Ian mulai menepi. Satu tembakan kembali mengarah ke mobil Ian. Kali ini mengenai body belakang mobil sport itu.
"Yah, kau kena masuk panti rehab habis ini." Kekeh Ian. Sedang Lyli langsung mendelik mendengar ucapan Ian. Pria itu mulai membidik sasarannya. Satu tembakkan di lesatkan Ian dari sisi kaca Lyli. Gadis itu memundurkan tubuhnya, saat Glock Ian berada tepat di depan wajah Lyli.
"Ian, kau gila!" Desis Lyli ketakutan. Suara peluru teredam terdengar lirih. Tak lama mobil lawan Ian mengerem mendadak. Saat si pengemudi ambruk di atas kemudinya. Mati.
"Yang ini serangan jantung. Pelurunya tidak akan terdeteksi oleh metal detector."
"Kok bisa?" tanya Lyli bingung.
"Ya, bisalah. Teknologi sekarang sangat canggih Nona. Bos, sepertinya kau perlu mengajak calon istrimu ini touring ke gudang senjatamu. Dari pada dia pingsan nanti. Lebih baik dia semaput sekarang." The Eye mode cerewet on.
Lyli lagi-lagi terbengong mendengar celotehan The Eye.
"Ide bagus." Sahut Ian cepat. Pria itu kini bersiap membidik satu mobil yang masih setia menguntitnya.
"Mati kau!" desis Ian lirih. Kali ini ban mobil yang dijadikan sasaran.
"Brengsek!!!" teriak musuh Ian.
"Kok gak jadi dimatiin?" heran Lyli
"Errrr...biar mereka mancing bosnya keluar."
Door...
__ADS_1
Door...
Door...
"Sial!" Ian menghentikan mobilnya melintang di tengah jalan. "Ciiiittttttt." Bunyi rem tiga mobil terdengar begitu memekakkan telinga Lyli. Selanjutnya Ian langsung menembakkan dua Glock-nya sekaligus. Lawan Ian tidak sempat membalas. Pria itu sama sekali tidak memberi jeda pada lawannya.
Lyli langsung merosot tubuhnya. Enggan melihat mobil di hadapannya hancur dengan kaca berserakan di aspal jalan. Serta pengemudinya yang mati bersimbah darah.
"Bereskan mereka." Satu perintah meluncur dari bibir Ian. Mobil pria itu melaju kembali. Kali ini dengan Ian yang mengemudikannya sendiri. Lyli masih setia dengan posisi sama dengan sebelumnya.
"Sudah beres, Ly." Bujuk Ian lirih. Pria itu membawa mobilnya kembali ke rumah sakit. Lyli tampak diam, tidak merespon. Gadis itu masih berusaha menghilangkan bayangan kejadian yang baru saja dia alami. Itu tadi nyata, bukan mimpi kan? Lyli mencubit pipinya. Awwww, sakit. Berarti ini nyata. Lyli menatap Ian yang terkekeh melihat tingkah Lyli. Mobil Ian sudah masuk ke parkir khusus milik pria itu.
"Kenapa?" Ian penasaran dengan reaksi Lyli soal kejadian tadi. Pria itu sengaja membawa Lyli dalam kehidupannya sebagai seorang mafia. Pilihan sudah Ian jatuhkan. Jadi pria itu ingin, Lyli mulai tahu soal dirinya. Termasuk kejadian seperti tadi, mungkin akan sering terjadi. Jika mereka bersama.
"Ini gila! Ini nyata, bukan mimpi." Lyli menjawab seperti orang linglung.
"Tentu saja ini nyata. Termasuk ini...." Pria itu langsung menangkup wajah Lyli. Lantas menciumnya lembut. Ian melakukannya agar Lyli sedikit rilek dan membuat Lyli percaya. Kalau dirinya akan melindungi Lyli bagaimanapun caranya.
Lyli kini mulai terbiasa dengan tindakan Ian yang suka tiba-tiba melakukan sesuatu. Pria itu memagut bibir Lyli lembut. Sementara Lyli mulai memejamkan mata, menikmati permainan bibir Ian.
Seperti terkena hipnotis. Lyli mengangguk, mengiyakan perkataan Ian. Setelahnya, pria itu kembali mencium Lyli untuk beberapa waktu.
*
*
"Rio, bisa bertemu? Ada yang ingin kubicarakan denganmu."
Satu pesan dari Lyli, membuat Rio gusar. Dia tahu apa yang ingin Lyli bicarakan. Pria itu menatap keluar jendela ruang kerja di kafe miliknya. Beberapa waktu berlalu, tangan kanannya mengetuk pintu ruang kerja Rio. Pria itu memberitahu kalau Lyli sudah datang.
Tak berapa lama, Lyli telah duduk di hadapan Rio. Gadis itu tampak cantik, sembari meminum Lemonade, favorit Lyli. Jenis mocktail tanpa alkohol.
"So...apa yang ingin kamu bicarakan?" Rio tampak tenang saat mulai bicara.
"Ini soal kita." Ada jeda saat Lyli menjawab pertanyaan Rio. Hingga gadis itu menarik nafasnya dalam. Lalu mulai bicara lagi.
"Ayo kita putus." Ucap Lyli cepat. Sesaat Rio terdiam. Setelahnya Rio malah tersenyum.
__ADS_1
"Apa ini soal kalian? Kamu dan Ian? Kalian bersama?" Tanya Rio sembari menatap wajah Lyli. Pria memang mencintai Lyli. Rasa itu baru tumbuh akhir-akhir ini. Namun Rio ingin memberi kesempatan pada Ian dan Lyli untuk berhubungan. Jika Lyli tidak bahagia dengan Ian. Baru Rio akan menjaga gadis itu.
"Kalau kamu sudah tahu? Kenapa tenang saja?" Lyli heran sekali dengan sikap Rio. Pria ini ada rasa tidak sih dengannya. Kenapa Rio bisa begitu tenang saat mengatakan dia dan Ian bersama. Tanpa ada rasa marah atau cemburu sedikitpun.
"Ian mengatakannya padaku. Dia bilang kalau mencintaimu." Balas Rio enteng. Lyli tentu terkejut dengan penuturan Rio. Tanpa beban. Semua terdengar biasa bagi Rio.
"Lalu jawabanmu?" Cecar Lyli. Dia sungguh ingin tahu bagaimana perasaan Rio yang sesungguhnya padanya.
"Jawabanku...tergantung kamu." Tukas Rio. Pria itu masih menatap wajah Lyli. Tidak memandang yang lain selain Lyli.
"Maksudnya?"
"Jika kamu bahagia dengan Ian, aku akan melepasmu. Tapi jika tidak, aku akan mempertahankanmu."
Lyli mendelik mendengar jawaban Rio. Gadis itu tidak habis pikir. Bagaimana bisa Rio menjawab demikian. Emosi Lyli meroket. Dia pikir selama ini Rio mencintainya. Namun setelah mendengar jawaban Rio, Lyli jadi ragu.
"Kamu ini sebenarnya cinta gak sih sama aku?" Lyli bertanya dengan mata mulai mengembun.
"Cinta...justru karena aku mencintaimu. Aku mengutamakan kebahagiaanmu. Aku tidak mau menahanmu bersamaku, jika itu hanya membuatmu menderita. Jadi nikmati saja hubungan kalian. Aku tidak masalah."
Plakkkk
Satu tamparan mendarat di pipi Rio. Pria itu menarik satu ujung bibirnya. "Kau sama saja dengan mengumpankanku pada Ian. Kau sama sekali tidak mencintaiku. Kau hanya....."
"Kalau rasaku padamu palsu. Kau sudah lama habis di tanganku. Aku bukan pria baik seperti yang kau lihat selama ini. Aku juga suka bercinta dengan banyak wanita."
Lyli melotot mendengar perkataan Rio. Dia sungguh tidak menyanga kalau Rio juga punya sisi lain dalam dirinya.
***
Up lagi readers.
Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
***
__ADS_1