
Kredit Pinterest.com
Terdengar suara pintu ditutup, membuat Ian tersenyum. Pria itu duduk dengan santai di balkon kamar Lyli. Ya, Ian sempat berlari ke arah balkon kamar gadis itu sebelum pintu kamar terbuka dan Leon masuk ke kamar Lyli. Pria itu tersenyum mendengar Leon yang ingin Lyli menyelidiki soal rumah sakit Ian.
"Astaga, belum pergi juga."
Kata Lyli, saat melihat Ian yang malah duduk santai di beranda kamarnya sambil menikmati pemandangan langit malam. "Tempatmu asyik." Jawab Ian pelan.
Balkon Lyli setengah terbuka. Ada dinding transparan di depan sana. Melindungi Lyli dari pandangan orang luar. Terlebih jika pakaian Lyli seperti ini.
"Kamu suka pake begituan?" Seharusnya Ian tidak perlu bertanya. Survei membuktikan kalau wanita suka memakai pakaian terbuka saat di kamar
"Kenapa? Aku di kamarku sendiri. Ada yang salah?"
"Kan ada aku. Ganti sana."
"Kamu kan sudah mau pulang. Pergi sana."
"Siapa bilang aku mau pulang sekarang. Belum dapat hamper kok pulang. Rugi." Balas Ian. Lyli mengerutkan dahi, hamper? Siapa yang hajatan? Pikir Lyli.
"Hamper? Siapa yang kondangan?"
Ian tertawa tertahan melihat reaksi Lyli. "Jangan polos-polos amat napa? Apa kamu memang suka dipolosin?"
Lyli mencubit lengan Ian. Pria itu sontak meringis. Ian mencubit di bekas luka tembak Ian. "Sakit Ly. Baru juga sembuh. Masak sudah mau dilukai lagi. Lyli dengan segera memeriksa lengan Ian. Untung saja tidak berdarah lagi.
"Kira-kira dong Ly, kalau mau nyubit. Pilih area yang membuat mengerang nikmat, jangan area yang membuat diriku meringis sakit."
Lyli langsung mengeplak lengan Ian, hingga pria itu meringis. "Pulang sana!" Usir Lyli.
"Bagi hampernya baru aku akan pulang."
"Hamper apaan sih? Gak ada yang lagi hajatan."
"Hamperku ini...." Ian menarik tubuh Lyli mendekat. Lantas tanpa ragu menyergap bibir ranum Lyli. Gadis itu berontak. Berusaha mengakhiri hamper sialan ide Ian.
__ADS_1
"Dikit doang, Ly. Kurang."
Kata Ian ketika Lyli mengurai paksa ciuman Ian. "Gak ada. Dulu aja nolak. Sekarang main cium." Akhirnya Lyli mengungkapkan isi hatinya pada Ian.
"Oo masih marah soal yang dulu. Maaf..."
"Terlambat!" Judes Lyli. Gadis itu ingin turun dari pangkuan Ian tapi Ian menahan pinggang Lyli.
"Selama kamu belum menikah. Aku akan nguber kamu."
"Kalau begitu besok aku akan menikah."
"Siapa takut? Sekarang juga kalau kamu mau aku bisa nikahin kamu."
Lyli mendelik mendengar ucapan Ian. Percaya diri sekali pria itu. Ian pikir, apa Lyli akan semudah itu menerima Ian setelah penolakan memalukan sepuluh tahun lalu.
"Siapa juga yang mau nikah sama kamu." Desis Lyli dengan wajah memerah. Baru Ian, pria yang sibuk mengajaknya menikah sejak pria itu bangun setahun lalu. Bahkan Rio belum pernah sekalipun mengungkap arah hubungan mereka mau dibawa ke mana. Ada banyak hal yang tidak Lyli paham soal Rio. Begitupun sebaliknya.
Berbeda dengan Ian dan Lyli. Ian tahu benar hal yang Lyli sukai dan tidak dia sukai. Sama seperti Lyli yang tahu kebiasaan Ian. Emmm, tidak semua mungkin. Lyli mungkin tidak tahu kebiasaan Ian yang kalau tidur naked.
"Kamulah. Siapa lagi." Pria itu mendekatkan wajahnya ke leher Lyli. Menciumnya perlahan. Adik Leon itu seketika menjengit. Reflek yang membuat Ian bingung.
"Emmm....."
Ian melongo. Tidak percaya jika Lyli dan Rio tidak pernah berciuman atau melakukan hal lebih dari sekedar berduaan saat pacaran. "Seriusan Ly?"
Lyli memaksa turun dari pangkuan Ian. Duduk sendiri, meninggalkan rasa kepo Ian yang makin meninggi. Melihat sikap Lyli yang seperti membenarkan, Ian seketika menepuk dahinya. Tidak menyangka jika Rio tidak pernah menyentuh Lyli. Pria itu jadi kembali berpikir. Apa tujuan sebenar Rio memacari Lyli.
"Aku tadinya ingin membalas berapa kali dia menciummu, aku juga akan melakukannya."
Lyli benar-benar marah kali ini. Bagaimana bisa Ian berpikir melakukan itu padanya. Apa Ian pikir dirinya bahan candaan atau apa.
"Sorry Ly, sorry. Aku cuma tidak mau ada bekas Rio pada dirimu."
Teriak Ian ditengah pukulan Lyli yang tidak berhenti. "Pikiranmu tu gimana sih? Main balas-balasan gitu."
Dan suara teriakan tertahan Ian terus terdengar. Untung ada dinding transparan yang kedap suara. Hingga suara Ian tidak berkumandang di malam yang semakin larut.
__ADS_1
*
*
"Apa maksudmu?"
"Anak adikmu di rawat di sini."
Ian langsung berdiri, menerima map dari Riel. Lantas membacanya sambil berjalan keluar ruangannya. Pria itu mengerutkan dahinya saat melihat berkas di tangannya. Anak Rea dan Andra, Abian, 4 tahun. Ian semakin mengerutkan dahinya melihat rekam medis Abian.
Ian masih belum mau menemui Rea, meski sudah lama kembali. Entahlah apa yang menjadi pertimbangan Ian. Hingga pria itu belum ingin bertemu Rea. Padahal Jack, pengawal pribadi keluarga Sky, beberapa kali menyambangi Ian. Menanyakan soal hal itu.
"Apa sudah ketemu penyakitnya?"
Riel menggeleng mendengar pertanyaan Ian. Pria itu masuk ke lift dan tak lama muncul di area VIP lantai 15. Berjalan beriringan dengan Riel, Ian masuk ke sebuah ruangan.
Riel menekan sebuah remote yang dia bawa sejak tadi. Di depan Ian, dindingnya langsung bergeser. Dari lapisan kaca dua arah. Ian bisa melihat wajah sembab Rea. Wanita itu tampak menangis. Menggenggam tangan sang putra yang terbaring lemah dengan selang oksigen terpasang di hidung mungil bocah yang bernama Abian itu.
Di sebelahnya tampak Andra, sang adik ipar yang mengusap lembut punggung Rea. Mata Ian tiba-tiba berkaca-kaca. Sekian lama dia pergi, akhirnya dia bisa melihat wajah sang adik yang sangat dia rindukan.
Ian perlahan menyentuh kaca dua arah itu. Menyentuh wajah Rea. Sang adik semakin cantik dan matang saja. Tak lama Riel mulai menjelaskan keadaan Abian. Ian terdiam mendengar penjelasan Riel. Dari tempatnya berdiri, bisa Ian lihat betapa lucu dan imutnya sang keponakan.
"Apa dia mendapat perawatan terbaik?"
"Tentu saja. Menyandang nama Sky saja sudah membuatnya istimewa. Apalagi jika mereka tahu dia keponakanmu."
"Jangan beritahu siapapun soal jatidiri mereka."
"Tapi Ian. Apa kau tidak ingin bertemu dengannya? Apa kau tidak rindu pada adikmu? Juga keponakanmu."
Pertanyaan Riel membuat langkah Ian terhenti. Rindu? Tentu saja dia merindukan sang adik. Dia sangat ingin menemui Rea juga keponakannya. Tapi sekarang apa waktunya tepat. Di mana musuh masih terus mengincarnya dan mengulik masa lalunya. Mencari tahu siapa orang yang berkaitan dengan dirinya dulu.
Tidak! Dia tidak mau membahayakan Rea dan keluarganya. Biarlah rindu ini dia tanggung sendiri. Asal sang adik dan keluarganya baik-baik saja, Ian rela menahan rindunya
***
Up lagi reader.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Terima kasih.
****