Mafia Kena Karma

Mafia Kena Karma
Moment Manis


__ADS_3

Ian keluar dari ruangan itu setelah memastikan kalau sang keponakan baik-baik saja. Setidaknya keadaan Abian sudah bisa diatasi. Pria itu kembali menuju parkiran ketika suara Lyli memanggilnya. Wanita itu berlari dengan nafas ngos-ngosan.


"Mau ke mana?" tanya Lyli berpegangan pada lengan Ian.


"Pulanglah. Apa lagi." Jawab Ian sedikit acuh. Lah dia punya acara mau interogasi orang. Malah yang tercinta nyamperin. "Bisa gak sih datang pas timingnya tepat. Biar bisa berduaan gitu." Gerutu Ian dalam hati.


"Ikut dong." Cengir Lyli. Ha? Ian melongo mendengar permintaan Lyli. Biasanya ni anak perawan susah banget di ajak barengan.


"Eerrrr....." Ian menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Gagal sudah acaraku menghajar orang malam ini. Lagi, Ian menggerutu dalam hati.


"Gak boleh ni?" sungut Lyli. Dia sedang ingin menghindari Rio, sebab pria itu sejak tadi menghubungi dirinya ingin bertemu. Dan Ian bisa jadi alasan yang tepat untuk mengelak dari Rio.


"Boleh sih. Cuma hari ini aku bawa si Belalang."


Lyli melongo. Belalang? Siapa lagi itu. "Belalang siapa?" tanya Lyli kepo. Ian menunjuk motor di belakang Lyli dengan dagunya. Lyli membalikkan tubuhnya, mata gadis itu pun membulat melihat motor nuungging milik Ian. Keren sih, tapi outfit Lyli yang memakai dress selutut apa kabarnya.


"Gimana? Masih mau ikut?"


Motor Ian melaju kencang di jalan raya. Pria itu seolah lupa kalau ada Lyli yang ikut dengannya. Pada akhirnya gadis itu "merampas" jas Riel yang kebetula lewat. Lyli lantas mengikatkannya pada pinggangnya. Jas Riel lumayan menambah panjang dress Lyli. Hingga paha gadis itu tidak ke mana-mana saat naik si Belalang.


"Minta ganti rugi pada bosmu." Kata Lyli santai setelah memakai jas Riel. Riel tentu melongo, bagaimana bisa jasnya berakhir di pinggang ramping Lyli dan menutupi bokong seksi Lyli.


"Otak dijaga, otak." Ian menggertak Riel. Cukup tahu ke mana pikiran sang asisten berkelana. Riel pun nyengir sambil menggaruk kepalanya. Sementara Ian mulai naik ke atas motornya, diikuti Lyli. Sesaat gadis itu merapikan jas Riel agar menutupi kakinya. Tak berapa lama, motor Ian melenggang keluar dari parkiran rumah sakit itu.


Lyli sempat mengeplak bahu Ian ketika pria itu menggeber motornya dengan kecepatan yang membuat Lyli ketar ketir. "Sorry lupa. Kelamaan jomblo sih. Jadi lupa kalau bawa penumpang." Kata Ian ketika keduanya berhenti di lampu merah.


"Sengaja ya?" Protes Lyli karena tubuh gadis itu menempel di punggung Ian yang terbalut jaket. Tangan Lyli melingkar di perut Ian.


"Gaklah. Ada bayarannya lo nganterin pulang." Elak Ian, padahal memang iya, dia sengaja mempercepat laju motornya agar Lyli mau memeluknya.

__ADS_1


"Perhitungan banget sih." Gerutu Lyli.


Ian tidak mempedulikan gerutuan Lyli. Yang penting mereka bisa berduaan, dengan Lyli yang memeluk dirinya. Asyiik, nikmat mana lagi yang kau cari. Setidaknya ini dulu. Kalau minta lebih, bisa didor kepala Ian oleh Leon. Bagaimanapun dia harus bersikap baik pada Leon, jika disuruh duel tembak, bisa jadi Leon akan kalah melawan Ian.


Motor Ian masuk ke parkiran sebuah kafe. Hal ini membuat Lyli mengerutkan dahinya. Pasalnya dia minta Ian untuk mengantarnya langsung ke rumah. Tidak ada acara mampir-mampir. Tapi Ian, siapa sih yang bisa menebak isi pikiran dirut rumah sakit itu.


Menghindari protes, gadis itu hanya mengekor ketika Ian masuk ke kafe tersebut. Tanpa memanggil pelayan, Ian langsung naik ke rooftop, di mana sebuah pemandangan langit malam langsung menyambut mata Lyli. Jika dibanding Rio, Ian sepuluh kali lebih romantis. Dia tahu cara mengambil hati wanita. Tentu saja, dia kan player. Pasti pro-lah saat menggoda wanita.


Batin Lyli berperang sendiri sembari mengikuti langkah Ian duduk di sofa yang menghadap ke arah kota.



Kredit Pinterest.com


"Kenapa malah ke sini?" tanya Lyli.


"Laper, By." Lyli hampir tersedak mendengar Ian memanggilnya By.


"Baby-lah, masak bibiii. Apaan sih gak ada manis-manisnya." Gerutu Ian cepat. Lyli seketika menatap wajah Ian, di mana pria itu tengah melepas jaket kulit yang dipakainya. Kaos hitam ketat seketika menjadi pemandangan bagi mata Lyli. Otot tubuh Ian tercetak sempurna di balik kaos itu.


"Otak...otaak...please jangan baper." Lyli merapalkan doa dalam hati.


"Malah diam. Kenapa? Gak suka dipanggil baby. Apa mau dipanggil dengan nama lain?"


"Eh? Kenapa ni orang makin ke sini, makin ke sana sih?" Kembali Lyli bermonolog dalam hati.


"Panggil Lyli aja."


"Gak romantis dong, By. Sudahlah kamu cocok di panggil Baby."

__ADS_1


Perdebatan itu terputus ketika seorang pelayan kafe mengantarkan pesanan mereka. Sepiring salad organik menjadi menu makan malam Lyli. Gadis itu terpaku menatap Ian. Bagaimana Ian tahu kebiasannya. Beberapa waktu kemudian, keduanya asyik dengan makanan masing-masing. Sepiring steak tenderloin saus barbeque tandas di mulut Ian.


"Jadi apa yang ingin kamu tahu. Kamu gak mungkin kan nebeng aku tanpa tujuan?"


Lyli sedikit terkejut saat Ian tahu modusnya. Tidak ingin berbohong, Ian menjawab semua pertanyaan Lyli tanpa terkecuali. Untungnya apa yang Lyli tanyakan hanyalah seputar Abian. Kenapa itu anak sampai terserang meningitis padahal sudah divaksin.


Dan jawaban mengejutkan Lyli dengar dari bibir Ian. Bibir Ian mulai bercerita soal siapa Abian dan Rea sang adik. Lyli tidak menyangka setelah mengetahui kalau Abian adalah keponakan Ian. Pantas saja pria itu begitu cemas saat keadaan Abian drop.


"Sudahlah, jangan bahas itu lagi. Sekarang mana hadiahku. Masak jauh-jauh nganterin gak dikasih hadiah." Protes Ian.


Entah karena sudah hafal dengan kelakuan Ian atau bagaimana, Lyli dengan cepat mengecup singkat pipi Ian. Pria itu cukup terkejut dengan aksi Lyli. Meski detik berikutnya pria itu tersenyum.


"Makin pinter aja kamu By." Kata Ian sambil membelai rambut panjang Lyli.


Lyli mencebik kesal mendengar pujian Ian. "Soal Abian, bisa kamu rahasiakan dulu. Aku belum siap bertemu mereka." Pinta Ian.


"Nggak masalah." Tukas Lyli santai. Gadis itu masih memakan saladnya yang belum habis. "Karena kamu sudah bersikap baik padaku. Aku juga punya hadiah untukmu." Sambung Ian. Lyli memicingkan mata melihat Ian yang mendekatinya.


Detik berikutnya, Ian menarik tubuh Lyli ke arahnya. Setelahnya, pria itu langsung mencium bibir Lyli. Lembut dan dalam. Ian tidak ragu untuk memagut bibir Lyli. Awalnya gadis itu menolak. Tapi permainan bibir Ian benar-benar memabukkan. Hingga Lyli tidak berdaya sama sekali untuk menghindar.


"Sama aja gak sih. Lepas dari kandang singa malah masuk ke kandang harimau." Maki Lyli dalam hati.


Sedang Ian berasa dejavu dengan kejadian tersebut. "Inilah salah satu moment manis dalam hidupku."


***


Up lagi readers


Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.

__ADS_1


****


__ADS_2