Mafia Kena Karma

Mafia Kena Karma
Galfok


__ADS_3

Dua minggu berlalu, berkat kegigihan Rio dalam meminta maaf pada sang kakak. Mada mulai luluh. Wanita itu terdiam saat Rio menangis di depannya sambil minta maaf. Rio sungguh tidak mengenali Mada, karena itu dia main sekap saja.


Wanita itu samar-samar mulai ingat kalau dia memang punya adik, tapi hilang saat berusia 15 tahun. Dia sendiri heran, kenapa dia tidak mengenali Rio sebagai adiknya. Apa ada yang salah dengan ingatannya.


"Apa mungkin Mada dan Rio mengalami sejenis hipnotis untuk menghilangkan ingatan mereka soal keluarganya?" Elsa bertanya suatu ketika.


Indira dan Abri tampak ikut berpikir. "Bisa jadi. Tapi kan itu tidak penting sekarang. Yang penting dua orang itu sudah mulai berdamai. Tidak main lempar barang ke adiknya. Kasihan juga. Hidup mereka dibuat berantakan oleh si Santos itu. Dendam boleh, tapi yang bersangkutan juga sudah dibunuh, masak anak-anaknya masih diadu domba juga. Kejam sekali dia." Tukas Abri sambil berpikir. Ketiganya manggut-manggut, idem dengan ucapan Abri.


Dalam beberapa hari hubungan Mada dan Rio mengalami perkembangan yang cukup pesat. Keduanya sudah bisa ditinggalkan makan berdua. Biasanya Mada akan ketakutan saat berdua bersama Rio. Namun sekarang tidak. Rio sendiri sadar kalau dirinya banyak berbuat salah pada sang kakak. Karena itu dia sungguh-sungguh ingin minta maaf dan memperbaiki kesalahannya.


Rio ingin sang kakak menempati rumah keluarga Airlangga sebelum menikah dengan Leon. Setelahnya baru pria itu akan menempatinya jika Mada ingin tinĝgal bersama Leon. Namun Rio ingin kalau Leon yang pindah ke rumah mereka. Dan dia akan tinggal di rumahnya sendiri.


"Kenapa begitu?" tanya Leon suatu ketika.


"Suka aja. Itu rumah terlalu gedhe, gue gak suka."


"Lah gue apa lagi. Gue sama Lyli terbiasa sama rumah minimalis. Gak ribet kayak rumah lu yang kayak mansion olang kaya."


"Memang kita olang kaya pun," balas Rio mengikuti gaya bicara Leon.


"Semprul!!" maki Leon. Rio tergelak. Hari itu kedatangan Leon bertujuan untuk minta izin pada Rio untuk menikahi Mada. Bagaimanapun, tinggal Rio, saudara yang Mada punya. Riolah yang akan menjadi wali nikah bagi kakaknya nanti.


Rio tentu saja memberikan izinnya, dia yakin bersama Leon, sang kakak akan bahagia. Hal itu Rio lalukan sebagai salah satu cara untuk menebus kesalahannya pada sang kakak. Jadi apapun yang membuat Mada bahagia, Rio akan memberikannya.


"Kami sudah, sekarang giliranmu. Lyli sudah dilamar Ian. Kamu kapan?"


"Hilal belum dapat, Bro," balas Rio.


"Gak nyari sih," ledek Leon. Rio terkekeh mendengar ledekan Leon. Rio yang sekarang jelas akan lebih selektif soal pasangan hidup. Title penerus Airlangga Grup yang tiba-tiba muncul membuat Rio seketika meroket menjadi bujang paling diinginkan saat ini. Banyak wanita yang antri ingin jadi pasangannya. Dan hal itu kadang dimanfaatkan Rio untuk bersenang-senang. Kebiasaan ONS-nya belum sembuh, meski tidak separah dulu. Terlebih para wanita itu rela menjadi penghangat ranjang seorang Mario Erlan Airlangga.

__ADS_1


"Susah nyari yang mandang gue sebagai orang biasa. Kebanyakan cuma lihat gue sebagai ATM berjalan mereka," keluh Rio.


Leon terkekeh mendengar keluhan Rio. Meski benar yang dikatakan oleh Rio. Semua orang dekat dengan Rio demi harta yang disandang pria itu. Demi mulusnya proyek mereka di masa depan. Mereka rela menjilat pada Rio. Menjijikkan sekali.


"Sebentar, gue mau nanya. Selain adik gue. Ada gak sih perempuan yang bikin lu tertarik?" tanya Leon kepo.


Rio sejenak berpikir. Hening datang menyapa untuk sejenak, sampai bunyi "gubrak" yang lumayan keras, mengalihkan perhatian kedua pria itu.


"Maaf, Pak. Gak sengaja nubruk pintu. Lupa kalau pintunya gak otomotis kaya yang di depan," suara seorang wanita terdengar.


Rio seketika menepuk jidatnya pelan. Biasa punya asisten sat set, kali ini Rio dihadapkan pada asisten yang out of the box. Meski kemampuan otak lumayan pintar. Namun kecerobohan si asisten benar-benar melampaui batas.


"Siapa?" kode dari Leon bertanya.


"Asisten gue," jawab Rio tanpa suara. Melihat ke arah seorang gadis yang masuk ke ruangannya, membawa setumpuk berkas. Gadis itu mengangguk pada Leon saat melewati pria itu.


"Ada yang lain gak?" tanya Rio, teringat kemarin si asisten itu lupa me-ngeprint surat perjanjian dengan seorang klien yang akan ditandatangani setengah jam lagi. Walhasil si asisten kelabakan jadinya.


"Dah sana dicek lagi. Tak potong lagi gajimu nanti kalau kebanyakan lupanya," usir Rio.


"Jangan dong, Pak. Nanti makan apa saya?" jawab si asisten.


Leon tergelak melihat interaksi Rio dan asisten cerobohnya. Namun Leon melihat satu hal yang beda dari Rio. Pria itu menatap si asisten lebih dari lima menit. Tanpa mengedipkan mata. Semakin mengenal Rio, Leon tahu kalau Rio bukan pria yang mudah tertarik pada perempuan. Bahkan ketika mereka telanjanngg sekalipun. Rio tidak akan melihat lebih dari lima menit.


"Kau tertarik padanya." Celetuk Leon sembari tersenyum.


"Masak sih?" tanya Rio tidak percaya.


"Dia cantik kok. Kau poles sedikit dia akan berkilau bak berlian," Leon mulai mengompori Rio.

__ADS_1


"Kalica Thalia," gumam Rio. Pria itu terdiam untuk beberapa saat. Thalia, Rio biasa memanggilnya begitu kalau amarah sudah sampai di ubun-ubun. Jika tidak mengingat Thalia ponakan tangan kanannya, Rio enggan menerima Thalia. Namun mengingat latar belakang Thalia yang dekat dengan Juan, orang kepercayaan Rio. Pria itu terpaksa menerima Thalia.


Juan menjamin kalau Thalia tahu bekerja saja, tanpa mengerti asal usul Rio. Gadis 23 tahun yang lulus dari universitas ternama tahun lalu itu sebenarnya pandai, tapi tingkat kecerobohannya seimbang dengan kecerdasannya. Terdengar nonsense, tidak masuk akal, tapi kenyataannya seperti itu.


"Dia ada hubungan dengan Leonard Daniel Ortega rupanya," gumam Thalia. Setelah gadis itu kembali ke ruangannya. Thalia mungkin terlihat biasa di mata Rio, tanpa Rio tahu, kalau Thalia adalah satu senjata yang Juan selipkan di antara riwehnya kesibukan Rio sebagai penerus Airlangga Grup.


Mengubah tampilan Thalia jadi gadis ceroboh, untuk mengecoh kepekaan insting Rio. Jika tidak Rio akan menolak mentah-mentah kehadiran Thalia. Juan ingin menambahkan satu perlindungan ekstra bagi tuannya. Dan sesuai saran Ian, menempatkan bodyguard berkedok asisten menjadi pilihan Juan.


"Thalia!!!!! Datang ke ruanganku!!!"


Thalia memejamkan mata sambil menjauhkan telepon dari kupingnya.


"Belum sebulan, budeg ini telinga," gerutu Thalia. Kembali ke mode ceroboh plus pasang tampang innocent-nya.


"Kalau gak ingat balas budi, ogah Om aku kerja sama bos Rio." Thalia masih melanjutkan gerutuannya sepanjang jalan menuju ruangan Rio. Thalia disambut tatapan tajam dari Rio saat masuk ke ruangan pria itu.


"Masak iya aku tertarik pada ni cewek. Tampangnya B aja sih. Tapi bodynya lumayan seksi. Depan sama belakang, lumayan ni."


Rio malah sibuk dengan pikirannya yang tengah menilai tubuh Thalia. Galfok dengan kehadiran Thalia.


***



Kredit Pinterest.com


Kalica Thalia, asisten pinter bonus ceroboh 🤭🤭


Up lagi readers.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.


****


__ADS_2