Mafia Kena Karma

Mafia Kena Karma
X Dan K


__ADS_3

"Analisa selesai, match. Dia X."


Ian tersenyum samar. Hari ini, akhirnya dia berhasil menemukan X, pemimpin mafia yang beberapa kali mengganggu kerja anak buahnya. Pria di hadapan Ian memakai masker. Meski sebagian wajahnya tertutup tapi Ian bisa melihat mata X yang menyimpan bara dendam padanya.


"Apa yang telah kulakukan padamu, hingga kau terus mengusikku?"


Tanya Ian, siaga. Pria itu tahu dia sendiri. Jadi semua harus dia tangani seorang sendiri. Mendengar pertanyaan Ian, X tertawa sumbang di balik maskernya. Bagi Ian yang mafia, membunuh mungkin hal biasa. Tapi pria itu tidak tahu orang yang dia bunuh mungkin berarti bagi orang lain.


"Kau membunuh Pamanku!"


Kata X blak-blakan. Dia ingin tahu bagaimana Ian akan menanggapi tuduhannya.


"Pamanmu? Siapa?"


"Carlos Xavier. Dia mati di negara M."


Ian cukup terkejur mendengar X adalah saudara dari Carlos. "Ehhmm, mungkin kau salah paham. Tapi maaf saja ya, pamanmu pantas mati."


Doooooorrrrrrr,


Ian mundur satu langkah saat X menembak tanah di depannya. "Jangan membohongiku!"


"Kau tidak percaya? Dia yang membunuh raja dan ratu negara itu sebelum raja yang sekarang berkuasa....oohh WTF!!!!"


Ian mengumpat sekaligus mencabut pistol dari pinggangnya. Kini keduanya berdiri dengan pistol saling teracung pada pihak lawan. Jarak keduanya pun hanya sejengkal. Dua moncong pistol itu tepat berada di kening lawan. Satu tarikan dari pelatuk masing-masing, bisa dipastikan jika timah panas yang ada dalam pistol itu akan meledakkan kepala lawan. Keduanya saling bertatapan tajam.


"Jangan bicara omong kosong padaku!"


"Kau tidak percaya? Aku punya buktinya!"


"Kau pikir aku akan percaya pada bukti yang sudah kau manipulasi. Jangan harap!"


X menendang pistol keduanya, hingga pistol itu melayang ke udara setelah terlepas dari tangan masing-masing. Selanjutnya duel tangan kosong pun terjadi. X menendang, tapi Ian sigap menghindar. Perlambatan gerakan Ian memberi celah pada X untuk memukul perut Ian.


Ian terhuyung mundur. Merasakan nyeri di perutnya. Jeda sejenak, detik berikutnya giliran Ian yang intens menyerang X. Kali ini, Ian menggunakan kecepatan penuh saat menghajar X. Meski X bisa menghindar, tapi serangan tanpa jeda dan akurasi serangan yang tinggi, tak urung membuat X lengah juga. Kali ini dagu pria itu yang kena tendang ujung kaki Ian.


X menelan sesuatu yang terasa asin. Dagu bagian dalamnya terluka. "Aku katakan sekali lagi. Kau salah paham sangka padaku. Pamanmu pantas mati."


Sebuah tembakan terarah pada keduanya. Dua pria itu tak ayal berlari ke pistol masing-masing. Lantas membalas setiap tembakan yang datang pada mereka.


"Urusan kita belum selesai, K!"

__ADS_1


"Kau masih belum sadar juga, X!"


Keduanya berpisah jalan, untuk memecah konsentrasi pasukan yang tiba-tiba merusak kesenangan duel mereka. "Brengsek!" X mengumpat bersamaan dengan K yang memilih keluar dari tempat itu.


*


*


Ian menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Melepas jaket kulitnya. Lantas melepas kaosnya. Seketika pemandangan menggoda mata terlihat jelas. Ian menyentak kasar pembalut yang Lyli pakaian tadi pagi. Hanya ada sedikit noda darah di sana. Membiarkan tubuhnya topless, pria itu menyandarkan tubuhnya di punggung sofa, meneguk satu botol air mineral. Lantas memejamkan mata.


"Hubungi Fao."


Pinta Ian. Sistem The Eye langsung merespon. Bodo amat kalau di negara M masih malam, atau pria yang bernama Fao itu tengah bergumul panas dengan sang istri. Ian tidak peduli.



Kredit Pinterest.com


Meet Fao


"Apa maumu?" Suara ketus Fao membuat Ian tersenyum puas. Dia pikir telah menganggu waktu menyenangkan Fao. Dan itu membuat Ian senang.


"Tentu saja kau menggangguku! Aku sedang bermain dengan putraku. Dan kau mengacaukannya."


Wajah Ian mendadak kesal. "Kenapa wajahmu begitu? Apa kau pikir telah mengganggu acara tanam sahamku. Kau salah. Makanya cepat nikah! Gangguin orang senang aja! Sudah katakan cepat ada apa?!"


Serentetan makian dari Fao membuat Ian melengos. Dia makin kesal saja dengan pria yang satu itu. Hacker terhebat yang pernah ada. Mungkin sampai sekarang belum ada yang mampu menggeser kemampuan Fao.


"Aku bertemu keponakan Carlos."


Tangan Fao bergerak cepat. Mencari data Carlos. "Dia tidak punya siapapun. Semua saudara kandungnya mati dalam pemberontakan di wilayah utara. Kecuali....."


"Orang yang sangat dekat dengan Carlos." Fao kembali bergerak lincah. Tak lama pria itu menghentikan gerakannnya.


"Tidak. Dia dekat...."


Fao menatap Ian yang masih setia topless tanpa mengenakan baju. "Lyli....."


Keduanyapun terlibat adu debat. Masing-masing kekeuh dengan pendapatnya. Fao ingin Ian menyingkirkan X segera. Tapi Ian tidak ingin membuat Lyli depresi lagi. "Lalu maumu bagaimana?"


Tanya Fao kesal. Ian menarik nafasnya pelan. "Aku akan melindungi Lyli. Kau tahu kan aku...."

__ADS_1


"Jadi yang dikatakan Max benar. Kau sedang menjalani karmamu. Aku pikir kisah cintamu adalah karma buatmu. Kau menghabisi istrimu sendiri...."


"Hei, itu karena dia memberitahu para bajjiinggan itu soal Rea...."


"Lalu kau jatuh cinta pada ratu kami. Kau menyedihkan K!"


"Hentikan itu!"


Ian berteriak marah, sementara Fao tertawa puas melihat kekesalan di wajah Ian. Yang dikatakan Fao nyatanya benar semua.


"Kita tidak membahas soal cerita cintaku. Tapi kita sedang membahas X."


"Tapi semua berhubungan K!" Lagi-lagi Ian memalingkan wajahnya dari Fao. Hening sejenak, hingga terdengar helaan nafas dari bibir Fao.


"Terserah bagaimana kau akan bertindak. Jika X berpikir kau membunuh pamannya. Ada kemungkinan dia ingin balas dendam. Padahal aku yang menembak Carlos. Mendekati Lyli mungkin salah satu cara yang dia ambil untuk melaksanakan niatnya. Mengingat dia tidak bisa mendekati Rea, selama berada dalam lindungan keluarga Sky dan Aherne. Apalagi Lyn, dia tidak akan bisa menyentuhnya."


Ian terdiam. "Bagaimana dia?" Fao sesaat melihat Ian melalui layar monitor di depannya. "Lyn tahunya kau sudah menikah. Mark sengaja mengatakan hal itu, untuk membuat Lyn berpikir kalau hidupmu baik-baik saja."


"Raja sialan! Masih jomblo aku ini!"


Maki Ian di depan Fao. "Kau bisa dikenai hukuman karena menghina raja."


"Bodo amat!" Ian mematikan sambungan monitor dengan Fao. Pria itu memejamkan matanya. Sesaat meresapi perkataan Fao. Ya...ya...katakanlah dia sedang kena karma. Menyia-nyiakan ketulusan Lyli di masa lalu, berbuah pahit pada kisah cintanya. Istrinya mengkhianatinya, lalu dia jatuh cinta pada istri orang. Ian menjambak rambutnya kasar.


Dan kini musuhnya berada dekat sekali dengan Lyli, ditambah kakak Lyli sudah menaruh kepercayaan pada pria itu. Semakin susahlah Ian untuk mendekati Lyli. Selain itu sikap Lyli sama sekali belum mau berdamai dengannya. Masih jutek dan ketus pada Ian, tiap kali bertemu.


"Rio, aku akan mengawasimu. Jangan harap kau bisa menyakiti Lyli."


Tak berapa lama ponsel Ian berdering. Benda pipih itu seketika sudah berada dalam genggaman.


"Datanglah ke rumah sakit. Ada masalah. Penting."


Suara Max terdengar panik. Tidak biasanya Max bersikap seperti itu. Rasa penasaran membuat Ian segera masuk ke kamarnya. Dalam lima menit, pria itu sudah berada dalam mobilnya. Membaca laporan dari The Eye, laporan yang seketika membuat Ian mengatupkan rahangnya, marah.


******


Maaf jika part ini sedikit berhubungan dengan karya sebelumnya, yaitu Princess's Handsome Bodyguard juga Andra dan Rea. Semoga kalian gak bingung ya...


Jangan lupa tinggalkan jejak, ritual jempolnya ditunggu. Terima kasih....


*****

__ADS_1


__ADS_2