
Leon masuk ke dalam ruangan lantas menutup pintunya dengan kasar. Ian dan Rio hanya bisa saling pandang. Ian masih bertelanjang dada dengan masker oksigen berada di hidungnya. Lyli baru saja selesai memeriksa dan membalut luka di bahu Ian.
"Komplit, kiri sama kanan gak ada yang iri!" ketus Lyli. Ian hanya nyengir mendengar omelan Lyli. Sementara Rio menatap jengah tingkah dua orang yang ada di hadapannya.
"Sekarang jelaskan semua. Aku perlu laporan yang valid." Leon berucap tegas membuat Ian dan Rio kembali saling pandang.
"Laporan model apa? Bilang aja mantan mertua gue dendam anaknya gue bunuh," balas Ian enteng.
Leon menatap tajam pada Ian. Apa pria itu tidak sadar kalau hal ini terdengar pihak kepolisian, Ian bisa dijebloskan ke penjara. Membunuh, kepemilikan senjata api. Leon seketika mengusak kasar kepalanya.
"Ian, lu tahu gak, kalau orang di luar sana dengar elu bunuh istri elu, elu bakal di penjara." Leon berkata gemas pada dua pria yang masing-masing memasang tampang innocent-nya.
"Itu kalau mereka punya bukti." Kata Ian dengan pandangan penuh arti pada Leon.
"Maksudmu?" Kakak Lyli itu melirik pada CCTV yang berada di sudut ruangan. Leon tahu dengan pasti kalau kamera pengawas itu berfungsi dengan baik. Mereka juga tahu kalau yang mereka bicarakan adalah hal yang sensitif.
"MATIKAN CCTV-nya." Ian berkata lirih. Dan The Eye langsung merespon. Leon memandang Ian penuh tanya.
"Oke, sekarang kita bebas bicara." Kata pria itu dari balik masker oksigennya.
"Siapa kalian sebenarnya?" Dari tadi pertanyaan itu yang berputar di kepala Leon. Melihat bagaimana Ian dan Rio menggunakan pistol. Reflek mereka dalam menembak. Bisa dipastikan kalau dua pria itu sangat akrab dengan benda laras pendek itu. Boleh dikatakan jika mereka sering menggunakan senjata api itu.
"Jujur atau bohong?" Rio yang bertanya setelah minta persetujuan Ian untuk bicara.
"Tentu saja jujurlah." Leon menjawab tidak sabaran.
"Oke, tapi jangan terkejut ya," goda Rio. Pria itu menatap Ian yang malah menyandarkan kepalanya ke bahu sofa. Seolah menyerahkan semuanya pada Rio untuk membuka kedok mereka di depan Leon.
"Kami mafia," kata Rio pelan namun penuh keyakinan. Hening sejenak. Leon seolah tengah mencerna dua kata yang baru saja terucap dari bibir Rio.
"Kalian pasti bercanda kan?" akhirnya kata itu yang bisa terucap dari Leon.
"Tentu saja tidak. Kami tidak bercanda. Biarkan aku bercerita sedikit soal kami." Ujar Rio. Detik berikutnya, mengalirlah cerita soal dua pria itu. Di mana Rio bahkan dengan detail menceritakan kalau dirinya bandar narkoba, dan sering berhubungan dengan triad Hongkong. Juga kartel Meksiko.
__ADS_1
Sedang Ian, karena pria itu sudah mundur dari dunia bawah, yang jadi nilai minus adalah kesukaannya akan membunuh para penjahat yang memburunya. Lantas mengambil organ dalam mereka lalu menjualnya.
Leon terduduk lemas di sofa. Dia tidak menyangka kalau dua pria yang sama-sama punya hubungan dengan sang adik adalah penjahat kelas kakap. Bandar besar, juga pelaku penjualan organ dalam. Meski resmi dan bukan black market.
"Kalian benar-benar gila!" Teriak Leon. Jika Leon sampai berteriak karena pengakuan Rio. Dua pria itu justru tertawa heboh melihat reaksi Leon.
"B aja kali lu. Gak usah sok pake drama gitu napa?"
Leon berjalan mondar mandir seperti orang linglung. Dia bingung harus melakukan apa. Lebih tepatnya, apa yang harus dia lakukan pada dua orang ini.
"Kau bingung dengan apa yang akan kau lakukan?" tanya Ian setelah melepas masker oksigennya. Pria itu sudah tidak merasa sesak. Terlebih melihat angka saturasi oksigen miliknya telah mencapai 95%.
Leon seketika menghentikan aksinya, jalan-jalan bak gosokan listrik. Sambil melipat tangan, pria itu melihat lurus ke arah Ian.
"Aku bertanya pada kalian, apa yang kalian inginkan?"
"Yang jelas, aku tidak mau di penjara," jawab Ian tegas. Rio juga mengangguk pelan.
"Gak enak di penjara," tambah Rio. Leon langsung menendang ujung sepatu Rio.
"Lalu aku harus bagaimana?" Leon cukup frustrasi menghadapi semua ini.
"Aku punya solusinya." Rio dan Leon langsung melihat ke arah Ian.
"Apa? Masuk penjara? Ogah ya," tolak Rio mentah-mentah.
"Gue juga ogah kali. Banyak nyamuk, gak ada kasur," gerutu Ian. Rio pun meledakkan tawanya, teringat kalau Ian pernah mencicipi tidur di hotel prodeo semalam.
"Kita cari kambing hitam." Ketiganya bertukar pandang penuh arti. Untuk beberapa waktu mereka hanya diam. Sampai Leon menemukan petunjuk.
"Itulah kenapa, kau menginginkan Samuel Santos hidup-hidup? Dia adalah umpanmu?" tebak Leon. Kini paham jalan pikiran Ian. Sudut bibir Ian tertarik membentuk senyuman.
"Bawa masuk," perintah Ian. Tak lama pintu diketuk dan nampaklah Riel yang membawa setumpuk berkas yang langsung Leon terima.
__ADS_1
"Aku membantumu menangkap ikan besar kali ini." Kekeh Ian menatap penuh ejekan pada Rio yang langsung melengos saking kesalnya.
Leon membuka satu persatu berkas yang Riel berikan. Semakin ke sini bola mata Leon semakin melebar tidak percaya. Pria itu sesekali menoleh pada Rio yang acuh dengan tingkah kakak Lyli itu.
"Gila Rio! Ini tembak mati yang nunggu elu." Rio nyengir mendengar gerutuan Leon. Rio memang bandar narkoba besar dengan gudang penyimpanan tersebar di beberapa tempat. Plus jaringan pengedar yang tersusun rapi dan cantik. Mereka sangat lihai mengelabui polisi. Selalu pintar menyelamatkan diri saat penyergapan terjadi.
"Tembak saja mantan mertua gue. Dia gak kalah busuknya dari dia." Rio mendelik mendengar perkataan Ian.
"Sembarangan kalau ngomong!"
"That's true, Buddy. Cuma syaratnya kau harus berhenti dari sana. Aku bersihkan namamu dan menimpakan semua kesalahanmu pada Santos. Kau harus mulai hidup baru. Ada kakak yang menunggu permintaan maafmu."
Dua pria itu saling pandang untuk beberapa waktu. Ada tujuan lain kenapa Ian melakukan hal ini. Hidup Rio dan Mada dikacaukan sejak awal oleh Carlos dan Samuel. Dimanipulasi sedemikian rupa, hingga Rio terjerat jaringan narkoba dan memiliki rasa benci pada kakaknya sendiri. Ian sangat bersimpati akan hal itu.
Hidup yang Rio jalani sekarang bukanlah keinginannya, berbeda dengan dirinya yang memang memilih menjadi mafia sejak kecil dan berhenti saat waktunya tiba dan dia menginginkannya.
"Oke, semua clear, waktunya pulang. Aku lelah."
Dua pria itu berdiri lantas keluar dari ruangan itu bersamaan. Meninggalkan Leon yang langsung marah-marah. "Woy, jelaskan dulu dari mana kau dapatkan semua bukti ini!!" teriak Leon kesal.
Ian tidak menggubris sama sekali kemarahan Leon. Yang terpenting semua masalah sudah selesai. Dengan Samuel Santos yang akan menggantikan keduanya, mendekam di penjara untuk waktu yang lama.
"Hari ini yang indah untuk memulai hidup baru kan?" tanya Ian pada Rio yang melihat langit malam bertabur bintang.
"Welcome to the bored daily life. Selamat datang di kehidupan harian yang membosankan." Kekeh Ian sembari berjalan menuju Riel dan Max yang sudah menunggunya.
Rio mendengus kesal mendengar perkataan Ian. Pria itu melakukan hal yang sama, masuk ke mobil seorang tangan kanannya. Mulai besok, Rio akan menjalani kehidupan baru sebagai Mario Erlan Airlangga bersama sang kakak Sheria Amada Airlangga.
***
Up lagi readers.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Terima kasih.
__ADS_1
***