Mafia Kena Karma

Mafia Kena Karma
Impas


__ADS_3


Kredit Pinterest.com


Meet Lyandra Daniela Ortega


Ketika operasi selesai satu setengah jam kemudian, Lyli tidak mendapati Ian berada di ruang tunggu. Padahal pria itu tadi mengatakan akan mengantarnya pulang. "Sekalinya brengsek ya tetep aja brengsek!"


Maki Lyli sembari keluar dari ruang operasi. Lyli akan masuk ke kamar mandi di ruangannya ketika seorang perawat mengejarnya. "Oh, sign ya?" Tanya Lyli. Namun perawat itu menggelengkan kepalanya. Wanita paruh baya itu mengatakan kalau tanda tangan pertanggungjawaban operasi tadi di-sign oleh pak dirut sendiri.


Lyli melongo. Jika begitu, semua resiko akan ditanggung oleh Ian. Gadis itu ingin mencari Ian tapi mengingat dirinya masih bau ruang operasi. Lyli akhirnya meraih ponselnya. Mencoba menghubungi nomor Ian yang entah dia sendiri punya atau tidak. Mata Lyli membulat ketika melihat kontak pertamanya bukan lagi sang kakak, tapi A. Lyli mengerutkan dahi. Merasa tidak mengenal nomor itu. Lyli mencoba menghubungi nomor itu. Tapi tidak aktif. Hanya suara panggilan yang dialihkan.


"Hai Ly, sorry lagi sibuk. Gak bisa jawab panggilan. Tinggalin pesan aja ya. Nanti kuhubungi balik."


Lyli mengerutkan dahinya. Bagaimana bisa nada mailbox-nya tahu kalau dia Lyli. Aneh, gumam Lyli. Gadis itu melanjutkan ritual mandinya.


Lyli melangkah keluar dari kamar mandinya. Sedikit terkejut melihat Rio yang ada di ruangannya. Untung saja dia sudah berpakaian lengkap. Lyli sedikit merinding melihat tatapan Rio.


"Sudah lama?" tanya Lyli. Ada rasa tidak nyaman saat dia dan Rio berada di satu ruangan tertutup hanya berdua. Berbeda dengan saat bersama Ian. "Kenapa rasanya lain?"


Ian memang kocak dan tengil padanya. Tapi pria itu selalu memberikan rasa aman pada Lyli saat berada di dekat Ian. Berbeda saat bersama Rio. Ada rasa khawatir saat Lyli bersama Rio.


Keduanya melangkah keluar rumah sakit. Saat itulah, Ian melihat Rio yang menjemput Lyli. Rio melihat Ian, tapi Lyli tidak melihat Ian. Kesempatan itu digunakan oleh Rio untuk membuat Ian cemburu. Pria itu meletakkan tangannya di pinggang ramping Lyli.


Ian mengetatkan rahangnya melihat hal itu. Sementara Lyli sibuk dengan ponselnya. Sampai Lyli masuk ke mobil Rio. Dan melajukannya ke luar rumah sakit. Ian hanya bisa memukul kemudi mobilnya. Marah, jelas pria itu marah sekali. Dia pikir sudah melajukan mobilnya secepat yang dia bisa. Namun rupanya dia masih kalah cepat dibanding Rio.


"Oke, fine. Kau menang kali ini. Tapi tidak lain kali." Ian berkata sambil melihat mobil Rio yang semakin jauh dari pandangannya.


"Jangan berpikir kau bisa menyakitinya."


*

__ADS_1


*



Kredit Pinterest.com


Lyli masuk ke rumahnya bersama Rio, sebagai pacar Lyli selama setahun ini. Pria itu bisa masuk ke rumah keluarga Ortega. Rumah minimalis di pusat kota. Namun dengan pemandangan asri yang mengelilinginya. Leon, kakak Lyli sengaja memilih hunian di tengah komplek. Untuk berjaga-jaga jika terjadi hal buruk. Mudah meminta tolong.


Saat keduanya masuk, Leon ternyata sudah ada di rumah. Rio tersenyum melihat kakak Lyli itu. Obrolan pun mengalir. Bagi Leon, Rio punya nilai plus di matanya. Pria itu sangat nyaman saat mengobrol dengan Rio. Keduanya punya minat yang sama. Bisnis kafe, karena itu mereka bisa nyambung saat berbincang.


Di depan Lyli dan Leon, Rio mengaku mempunya kafe. Total 3 kafe dan resto. Pria itu juga tengah belajar berinvestasi di pasar saham.Tanpa Leon tahu, maksud pasar saham bagi Rio adalah prostitusiii. Pria itu benar-benar bermuka dua.


Setelah setengah jam berbincang, Rio undur diri. Sikap santun Rio berhasil memikat perhatian Leon. Hingga kakak Lyli itu berpikir kalau Rio benar-benar pria baik.


Setelah kepergian Rio, giliran Lyli yang disidang oleh Leon, mengenai Ian yang menginap di apartemen sang adik malam itu. Meski Lyli curiga soal luka Ian. Entah mengapa di depan sang kakak, Lyli bisa berbohong demi seorang Ian. Ini aneh.


"Dia sedikit demam malam itu. Aku hanya sekedar memberinya obat turun panas dan anti inflamasi. Setelahnya dia malah tidur di sofa. Ya sudah kubiarkan."


Lyli mengangguk yakin. Dia tahu Ian brengsek di matanya. Tapi pria itu terkenal gentle sejak zaman sekolah. Suka berkata suka. Benci ya dia katakan benci. Konsisten, kata yang tepat untuk mewakili Ian.


Mendengar jawaban Lyli, Leon menarik nafasnya sejenak. "Memangnya ada apa? Kenapa kakak bertanya soal Ian?"


Pria menjawab, "Ada kemungkinan dia terlibat dalam penjualan dan distribusi organ manusia. Kamu tahu kan rumah sakit kalian....."


Pria itu lantas menceritakan secara garis besar, temuan penyidiknya. Di mana, rumah sakit Ian sudah lama menjadi pusat penyaluran dan penjualan organ manusia. Namun yang aneh, semua clear. Ada prosedur yang bisa dibuktikan soal hal itu. Pihak rumah sakit selalu bisa menjawab semua pertanyaan dari tim investigasi. Juga semua bukti yang akurat selalu mengiringi penyidikan anak buahnya.


"Aneh bukan? Terlalu sempurna itu aneh. Justru hal itu memanggil kami untuk menyelidikinya."


Lyli manggut-manggut. Yang dikatakan Leon benar. Semakin bersih justru semakin mencurigakan. "Lalu ...mau kakak, aku harus bagaimana?"


Leon menatap sang adik penuh arti. Baru saja akan menjawab. Ponsel Leon berdering. Pria itu beranjak dari depan sang adik. Tak lama Leon berpamitan, anak buahnya menemukan gudang narkoba. "Hati-hati." Satu pesan yang selalu Lyli ucapkan pada sang kakak.

__ADS_1


"Aku akan selalu pulang untukmu." Kata Leon mengusap lembut kepala sang adik.


*


*


Di sisi lain, X menggeram marah. Salah satu gudang narkobanya berhasil ditemukan oleh pihat kepolisian. Dia yang tengah menghajar seorang jalllangg yang ingin kabur darinya semakin bertambah marah.


Bertempat di lantai paling bawah dari sebuah kafe miliknya, pria itu tengah memegang pisau yang baru saja dia gunakan untuk mengancam seorang wanita cantik berpakaian minim, yang tampak tak berdaya di hadapannya.


"Bagaimana mereka bisa menemukannya?"


Geram X, pria itu menatap nyalang pada anak buahnya. Gudang itu penuh dengan kokain yang baru dia datangkan dari kartel Meksiko. Bisa dipastikan jika dia akan rugi besar.


"Siall! Bagaimana mereka bisa menemukan gudang tersembungi itu." Tanya X marah. Pria itu beranjak pergi dari ruangan itu. Setelah menyuruh dua anak buahnya memberi pelajaran pada wanita malam tersebut. Padahal tadinya X ingin membuat lukisan di punggung wanita tersebut. Lukisan dari bekas luka yang dia torehkan di kulit wanita itu. Tapi moodnya menghilang setelah kabar itu sampai padanya.


Senyum mengembang di bibir dua anak buah X, mereka akan berpesta sampai pagi. Tak berapa lama, jerit kenikmatan itu samar terdengar dari ruang kedap udara itu. Setelah dua pria itu secara bersamaan menggarap wanita cantik itu.


Di tempat lain, Ian tertawa puas. Kali ini pria itu berkali-kali memuji kinerja sistem peretasnya.


"Andai kau nyata, kau sudah kuberikan hadiah, Eye." Kekeh Ian. Sementara si sistem hanya bisa mengoceh tanpa ekpresi.


"Kau membuatku marah. Aku membuatmu rugi. Jadi kita impas." Kata Ian senang. Pria itu lantas keluar dari ruang rahasianya. "Mau ke mana?" tanya The Eye.


"Ketemu pacar. Malam minggu woy....."


***


Up lagi readers,


Jangan lupa tinggalkan jejak. Ritual jempolnya ditunĝgu. Terima kasih.

__ADS_1


****


__ADS_2