
karena dewa memang ingin mengtraktir teman-temannya lalu ia beranjak dari meja yang di tempatinya menuju bagian kasir resto.
"mbak saya mau bayar". ucap dewa
"mas yang duduk di nomor 9 yang pojok ya?" tanya kasir tersebut
"iya mbak." angguk dewa
"meja nomor 9 semuanya sudah di bayar mas"
"saya belum bayar kok mbak" dewa sedikit bingung
"iya, memang bukan mas yang bayar. tadi ada perempuan yang bayarin meja nomor 9".
"siapa ya mbak, kami tidak membawa teman perempuan".
"ada apa, Wa...?" tanya teman dewa
"ini semua makanan kita sudah dibayar, tapi aku ngak tahu siapa yang bayar". tutur dewa
"yang membayar semua makanan yang mas-mas pesan tadi, seorang perempuan cantik rambutnya panjang, usianya sepertinya sama dengan mas-mas sekalian dan mbak tadi terlihat buru-buru sekali". jelas mbak kasir
"siapa ya? ohh aku tahu mungkin saja salah satu fans kamu kali. Wa..." timpal teman lainnya
"iya udah pasti fans kamu tu. udah jangan di fikirin, enak juga ya punya fans tampang oke mah enak dan banyak untungnya." timpal teman lainnya.
__ADS_1
"ya udah mbak, terimakasih ya".
dewa dan teman-temannya keluar dari resto and bakry tersebut. dewa yang membawa mobil pulang sendiri karena semua temannya juga membawa kendaraan masing-masing.
**********
"mang, ini aku juga beliin brownies untuk mamang dan buku bacaan juga, terima ya mang." ucap tiara pada mang seno
"aduh non. merepotkan saja saya tidak enak atuh." jawab mang seno dengan menunduk
"tidak apa-apa mang, saya ingin memberi ini saya ikhlas kok, terima ya mang kalau tidak tiara marah nih sama mang seno." ucap tiara melipat tangannya
"jangan marah non, iya saya terima. terimakasih sekali non maaf saya merepotkan non tiara saja."
"tidak kok mang, aku masuk duluan ya".
"papi sudah pulang?" tanya tiara
"sudah dari tadi, mana brownies papi?"
"papi yang kepingin ya mi? tanya tiara saat mami tiara baru muncul dari dapur membawa piring dan pisau
"iya..." jawab mami tiara sambil membuka brownies tersebut dan memotong-motongnya.
"pak, buk, non. Saya pulang pamit pulang ya." ucap mang seno
__ADS_1
"sini mang cobain dulu." ucap papi tiara yang menunjuk brownie tersebut.
"terimakasih pak, tadi non tiara juga membelikan saya." jawab mang seno sambil menunduk
"owhh.... kamu juga beliin mang seno sayang?" tanya mami tiara. tiara hanya mengangguk.
"saya boleh pamit pulang pak, buk?"
"ya mang. hati-hati salam sama keluarga ya." timpal mami tiara. keluarga tiara memang tidak pernah menilai rendah seseorang karena status kedudukan dan profesinya, bagi mereka semua orang berhak di hargai walaupun mereka orang biasa
"Ya pak buk. terimakasih sekali lagi non. saya pamit ya" ucap mang seno dan berlalu keluar dari rumah majikannya menuju rumahnya untuk bertemu keluarganya.
"baik dan murah hati sekali anak papi ini". timpal papi tiara sambil mengelus kepala tiara.
"tetap sopan terhadap siapa saja tanpa membeda-bedakan, sopan kepada siapa saja yang kita temui, dan selalu berbuat baik dan jangan lupa tolong-menolong itulah yang akan membuat seseorang bisa menilai kualitas diri kita" tutur papi tiara
Mutiara terasa tertusuk mendengar perkataan papinya mengenai sopan santun terhadap siapa saja, ia kembali teringat akan perlakuannya terhadap dewa yang sangat tidak pantas di perbuat. mutiara mencerna ucapan papinya memang selama ini orang tua tiara selalu mengajarkan nilai-nilai baik dalam kehidupannya, tiara merasa sangat bersalah karena tidak bisa menjalankan apa yang telah orang tuanya ajarkan.
.
.
.
.
__ADS_1
.
JANGAN LUPA LIKEEE😊