
_______
Hari sudah pagi~
.
.
Tok tok tok !!!
" Elli sudah pagi sayang ! Sudah jam 8 lewat, Nak !". Kata Bu Sari dari depan pintu kamarnya.
" Ya Bu !". Sahut Elli dalam kamar. Bukan masih terbaring di atas ranjang melainkan merebahkan kepala di atas meja rias.
Semalaman tidurnya tidak nyenyak. Berbagai macam posisi rebahan dia coba. Entah di bawah kasur, di lantai kamar bahkan di bak mandi pun Elli coba, agar bisa tidur dengan tenang. Alhasil, tidur dengan topangan kepala di meja rias.
Hingga jam 6 pagi dia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Karena itu, Elli sudah mandi dan berpakaian kerja hanya muka yang masih tertutup masker. Niat ingin merias wajah malah ketiduran . Terhitung kurang lebih 2 atau 3 jam saja Elli tidur. Takut mata panda timbul, Elli mensiasati dengan masker yang di belikan Kakaknya.
Dengan tenaga setengah-setengah, mulai dandan sebentar. Pantulan wajah Elli sungguh datar dan tidak berkharisma, seperti nyawa tersisa separuh. Mengambil tas kemudian lekas ke ruang makan untuk sarapan.
" El, kamu gak papa?". Tanya Ayah
Elli menggelengkan kepalanya. Sambil makan roti yang sudah di potong dengan pisau kecil. Ketika di sendok, roti itu tidak masuk ke dalam mulutnya. Apakah dia lagi hampa atau rapuh, makan saja tidak semangat.
" El, kamu kenapa?". Sahut Ibu yang menyentuh tangan sang anak. Ketika masih belum ada sahutan, Bu Sari menggoyang tubuh Elli.
" Eh. Ibu? Ini jam berapa?". Tersadar dari lamunannya.
" Jam setengah 9, apa kamu sakit? Kalau sakit ijinlah dulu. Atau Ayah akan mengantarkan mu ke rumah sakit !". Ujar Ibu khawatir.
Mencium kening sang Ibu dan mencium tangan sang Ayah. Kemudian berjalan cepat keluar. " Gak papa Bu. Elli kerja ya !". Melambai manja pada Ibunya.
Lajunya mobil berkecepatan cukup tinggi, ketika sampai di rumah sakit Elli menaiki lift buru-buru tidak lagi memandang petugas lainnya yang terus melihat dirinya. Setidaknya hari ini dia klarifikasi tentang hubungan dia pada teman-teman kerjanya.
Ketika sampai ruangan dan membuka pintu, hanya ada Fikran seorang.
" Fik, yang lain mana?". Gelagapan
" Di bawah mungkin, kenapa El?". Tanya Fikran masih santai.
" Maaf tentang yang di tv tadi malam, itu-" ucapannya terpotong
Fikran tersenyum kecil. " Aku tahu, hanya aku yang tidak percaya kalau semua itu memang tidak benar. Aku percaya kok sama kamu El. !" .
Garis tegak di bibir kini melengkung dengan sempurna. Hatinya lega, Fikran mau percaya padanya. " Makasih Dokter Fikran. Kamu memang teman terbaik !". Mengacungkan jempol.
" Jadi itu hanya sandiwara?" Bu Caca mendadak masuk ruangan.
Elli kegirangan mengangguk kepalanya berulangkali. " Iya !". Ucap Elli tegas.
Bu Caca sudah di depan Elli. " Iya aku tahu, lagian dia tidak cocok untukmu. Bos itu agak agresif orang nya !". Bisik Beliau yang mengundang tawa memekar di wajah Elli.
" Oh ya, kita ada operasi hari ini. Karena Bos lagi off dan di ganti kamu. Sebentar lagi di mulai. !" Kata Fikran dengan wajah serius
__ADS_1
Karena mood sudah mulai membaik, Elli dengan senang hati menjalankan tugas-tugas wajibnya sebagai ahli medis.
_________
" Mocu wajahmu kenapa?". Tanya si Ibu.
Hari ini bos besar lagi off, namanya bos ya suka-suka dia. Keadaan wajah Reijal berbeda, dibawah mata jadi terlihat hitam. Sempat tertidur dengan lelap beberapa jam, namun itu tidak berlangsung lama bukan dikarenakan Gery tapi karena pikiran Reijal sangat liar mengingat kejadian beberapa hari terakhir.
" Mocu, lebih baik kamu mengambil cuti sebentar. Refreshing ! Banyak kerja akhirnya setres sendiri kan ?!". Ucap si Emak yang lagi mengunyah makanan
Menepuk kedua pipinya dengan keras sampai si Ibu benggong. " Tidak Bu, kerjaan masih banyak. Aku belum bisa mengambil cuti sembarangan !". Jawab Reijal menyendok sarapan pagi nya. " Ibu lagi apa? Kok bawa laptop segala di meja makan?". Sambung Reijal masih binggung. Si Ibu juga terlihat senang melihat sesuatu di layar laptop.
" Astaghfirullah Bu !!! Itu kapan Bu?" Si Bibi ikutan nonton membuat Reijal jadi mulai penasaran.
" Lihat waktunya Bi. Hebat juga si cowoknya Bi, bisa dekat gitu sama ceweknya !" Jelas si Ibu sambil melirik Bibi di belakang lagi berdiri.
Mata Reijal tengah menyaksikan kelakuan Emak dan Asisten rumah tangga nya. " Bu, kita lagi makan kok Ibu nonton film India di sini. " Memutar laptop si Ibu dan sekarang mengarah ke mata Reijal. " Astaghfirullah, Ibu !!!!!!". Reijal tak kuasa menahan malu dan berdiri dari tempat duduknya.
Senyum sinis. " Kamu istighfar lihat kelakuan mu sendiri ?!".
Menutup laptop dan di tentengnya. " Apaan ini Bu? Sejak kapan balkon ku ada Cctv nya?". Ujar nya kesal.
" Sejak pindah ke sini memang sudah ada Cctv di situ. Kenapa? Mau di hapus? Hapus aja. Ibu sudah punya salinannya !". Wajah santai dan menunjukkan berupa flashdisk di tangan beliau. Bibi berdecak kagum di antara kedua pihak. Kemudian pergi untuk menghindari amukan.
" Jangan-jangan, Ibu pasang kamera di kamar ku ya ?". Imbuh Reijal gugup, nampak pucat pasi. Takut ketahuan.
Menopang dagu dengan tangan di atas meja. " Entah !". Si Ibu pergi begitu saja meninggalkan putranya yang sudah mulai terlihat setres dan malu.
Hari ini dia berniat mencari kamera-kamera di kamarnya yang tersembunyi. Bu Linah memang hebat dalam mengawasi anak kesayangannya. Sampai Reijal malu akan perbuatan diri sendiri.
______
" Em, dia makan di luar katanya !". Jawab Kiki. " El, bagaimana bisa kalian kenal sampai bikin acara di tv segala. Tahu gak, kalian berempat jadi trending. Bisa-bisa kamu jadi artis !". Kata Kiki begitu semangat.
Berbisik " Itu acara hanya akal-akalan dia aja. Hubungan kami tidak benar, aku tetap bawahan dia disini !".
Kiki mulai mengerti, intinya sahabat nya sekarang lagi salah paham dan sialnya tidak mau mendengar penjelasan dari Elli atau yang lain karena di makan cemburu buta.
Elli tahu Gara belum mempercayai dirinya apalagi penjelasannya nanti. Dia juga nampak jelas terus menghindar pertemuan sama Elli. Serba salah dibuatnya, Elli terus berpikir bagaimana caranya Gara bisa kembali seperti dulu. Tidak sedingin ini kalau di dekati.
Selesai makan masih ada waktu untuk bersantai riang di ruangan. Kiki dan Fikran masih harus ada kerjaan sebentar baru menyusul Elli nanti. Melihat Gara masuk Lift sendirian, wanita cantik itu bergegas cepat masuk ke dalam lift.
Dengan cepat Elli menyudutkan Gara ke dinding lift. " Hei ! Kamu marah sama aku?". Menatap Gara yang kebingungan.
" Em !" .
" Kenapa? Aku tidak melakukan kesalahan. Orang yang berbuat salah, aku hanya korban !". Jelas Elli masih dalam posisi sama. Pandangan mata tidak sejajar karena Gara lah yang lebih tinggi.
" Em !".
" Dengarkan aku ! Dia dengan aku tidak ada hubungan apa-apa, itu hanya akal-akalan saja. Kalau aku tidak nurut, aku pasti di bantai sama dia !". Ucap Elli tegas sampai harus menghentakkan tubuhnya berulang kali.
" Em !". Melirik ke lain dan melipat kedua tangannya.
__ADS_1
" Aku sudah jujur sejujurnya sama kamu, kok gitu terus jawabnya sih !". Mulai jengkel.
" Ehm !".
Menghela nafas berat. Menarik kerah baju Gara cepat sampai wajah mereka sudah sangat dekat. "Jadi kamu tidak percaya padaku ?". Menatap Gara serius. Sudah tidak ada manja-manja nya lagi. Begitu juga Gara memandang dengan serius.
Karena kesal sudah tidak dipedulikan. Elli melepas tarikan dan genggaman kerah Gara yang begitu kuat, sampai baju nya kusut. Lift yang perlahan-lahan terbuka membuat dia beralih dan sudah tidak mau berkata apapun lagi.
Keadaan dengan hitungan detik berubah terbalik. Sekarang Elli yang di sudutkan Gara. Lift sengaja Gara tutup kembali. Kedua mata saling menatap serius dan tegang. " Kalau sudah begini kamu mau tanggung jawab atas luka di hatiku?".Kata Gara menyentil bibir bawah Elli.
Mau mundur tidak bisa, Elli hanya benggong tidak tahu harus apa. " Luka?"
" Ehm. Luka di sini !". Mengambil tangan Elli dan di letakkan di dadanya.
" Maksudnya?". Tanyanya heran
Gara tersenyum kecil. " Sudahlah ! Lupakan". Menghambur rambut Elli.
Berpikir sejenak, binggung sudah jelas tapi dia bersyukur Gara sudah memperlihatkan senyumnya. Di tambah Elli juga membalas senyum itu dengan sangat tulus dan manis.
Tring !!!!
Ponsel Elli berbunyi. Gara melepas Elli dan membiarkan dia mengangkat telepon.
" Halo?". Elli
" Bagaimana sih kamu ini dek. Gara apa Reijal ? Kakak sudah serba salah mau membatalkan makan kita !". Ayu
" Jangan di batalkan Kak. Si R itu hanya sandiwara di depan tv. Gak ada beneran nya !".
" Kenapa El?". Tanya Gara.
" Ini kak Ayu nanya jadi atau gak acaranya !" Bisik Elli pada Gara. Mereka sudah keluar dari Lift. Gara merebut ponsel Elli.
" Halo Kak, ini Gara".
" Eh Gara, lagi sama Elli ya?". Jawab Ayu.
" Iya Kak. Acaranya malam Minggu kan kak, saya sudah siap kok !". Kata Gara melirik Elli.
" Begitu ya, ya sudah kakak tunggu ya nanti malam Minggu. Yang ganteng, kalahin si Reijal itu. Kakak dukung kamu !". Ketus Ayu membuat semangat Gara menggebu-gebu.
" Hehe makasih Kak !".
_______
" Aku sendiri binggung disini. Untuk apa aku hadir kalau hanya melihat adegan tidak jelas. Aku bahkan belum bisa membantu Elli !". Gery mengomel sendirian.
" Sabar. Orang sabar di sayang Allah !". Jawab Fikran.
Tatapan tajam mengarah ke Fikran yang sedang tertawa pelan. " Kamu ini, coba deh pikir buat apa aku kembali ke bumi. Katanya menjalan kan misi, tapi kok ceritanya jadi lain". Masih saja mengomel.
" Tahu tidak pribahasa. Sakit-sakitan dahulu bersenang-senang kemudian. Nah itu, cocok buat mu ! Biarlah dulu sakit ngelihat dia di apa-apain sama orang". Gumam Fikran kesenangan.
__ADS_1
" Agh ! Bicara sama kamu sama aja bicara sama patung !". Ketus nya jengkel dan cemberut.
" Lah, aku sekarang lagi bicara sama hantu. Mending sama patung kan, wujudnya ada bisa disentuh lagi !". Fikran mulai tak kuasa menahan tawa.