Malu Tapi Mau

Malu Tapi Mau
MTM #43 Hukuman 2 : Medis Perbatasan


__ADS_3

______


" Dokter Elli, ayo ikut aku !". Ucap Sinta semangat bahkan tidak terlihat letih apalagi haus.


Elli yang di ajak pun buru-buru meneguk air dan berdiri. Mengikuti arah Sinta berjalan. Karena dia sudah senior, Elli harus menghormati nya. Tidak jauh mereka berjalan kaki memasuki tenda medis yang tersedia di sana.


" Ada apa Dok?". Tanya Sinta melihat jajaran tentara yang terluka.


Elli kemudian mendekat. " Luka nya?". Memandang luka di lengan seorang pria. Dengan cepat Elli mencuci tangan terlebih dahulu dan mengambil peralatan medis lainnya. Membersihkan luka dan menutup luka yang seperti luka sobek dengan teliti.


" Terimakasih !". Ucap nya. Dengan dibalas senyuman dari Elli.


Meskipun tak banyak yang diperiksa, Elli dan Sinta cukup sigap dan bisa menyelesaikan pekerjaannya sedangkan yang lain masih istirahat sejenak.


" Dok, ada berapa di sini petugas medisnya?". Tanya Sinta pada seorang dokter yang sudah sejak tadi di tenda. Ada 3 orang dan semuanya pria paruh baya.


" Dokter 3 dan perawat 2. Yang 2 nya ada di tenda sebelah, Dok !". Jawab orang tersebut.


Sinta melirik Elli yang sudah selesai dalam pemeriksaan ketiganya. " El, panggil mereka. Kita tidak ada waktu bersantai !". Ujarnya tegas.


" Ba-baik Dok !".


Elli berjalan keluar tenda dan menemukan teman-teman nya tergeletak di bawah. " Teman-teman. Dokter Sinta meminta ku untuk memanggil kalian, ada pasien di tenda darurat sedang terluka ringan !". Gumam Elli.


Gara dan Fikran tak menyahuti perintah hanya berdiri tegap sambil membawa barang. Alya masih enggan berdiri. " Dokter Al, apa kamu masih lelah? Istirahat lah dulu !". Kata Elli dan kemudian pergi.


" Cih ! Dasar kalian, tidak bisa apa ngasih waktu mandi dulu, rehat dulu. Kotor-kotor gini memeriksa orang?". Ujar Alya sendiri dan rasa kesal terus membawanya hingga detik ini.


Beberapa jam selesai dalam tugas. Elli dan yang lain keluar berbarengan. Mereka melihat Alya masih duduk santai di tempat tadi.


" Lapor !! Kalau mau mandi di sana. Dan di sebelahnya tempat kalian istirahat.". Seseorang menghampiri barisan Sinta dan Elli.


" Baik. Terimakasih". Jawab Sinta ramah.


" El, kita mandi dulu !". Gumam Gara melihat Elli sibuk sama Alya namun ditahan. Lalu menyusul Sinta berjalan ke depan.


Fikran lah yang berinisiatif menegur Alya. " Kita di suruh mandi dulu. Kamu gak mau mandi?". Tanyanya berdiri pas di hadapan wanita tersebut.


Menoleh. " Dimana? Aku sudah gerah sejak tadi?".


Fikran mengambil koper milik Alya dan membawanya. " Ikuti aku !!".


Alya langsung berdiri dan mengikuti langkah Fikran di depannya. Kaki Alya terasa berat dan pegel serta celana yang sudah sangat kotor membuat tubuhnya gatal.


" Kamu tidak suka berada di tempat ini?". Fikran memberi pertanyaan tanpa melihat ke belakang.


" Tidak !". Jawabnya singkat.


" Kenapa? Ini tugas kita. Semoga kamu menjalankan nya dengan senang hati dan ikhlas, Al". Ujar Fikran lembut.


Akhirnya, sampailah mereka ke sebuah rumah kayu cukup luas. Ruangan di dalam layaknya gedung tanpa pembatas dinding. Hanya sekat-sekat gorden untuk membatasi tiap orang di sana. Tenaga medis pun memiliki tempat tersendiri.

__ADS_1


" Apa ini?". Tanya Alya binggung, matanya terus melihat tiap sudut isi rumah.


" Dokter Sinta membawa kita melihat-lihat tempat mereka istirahat !". Jawab Fikran.


Sinta bagaikan ketuanya. Kemana dia mengarahkan mereka, di situ lah mereka dan berada di belakang nya. Kali ini Sinta kembali membawa rekan kerjanya ke tempat peristirahatan mereka. Meskipun dengan hanya tenda biasa dan tempat tidur ala kadarnya yang penting bisa beristirahat.


" Cowok di sana. Di sini cewek !". Tunjuk Sinta pada Gara dan Fikran.


Fikran meletakkan koper Alya tepat di depannya. Sedangkan Gara melambai pada Elli. Sinta membongkar barangnya dan mengambil peralatan mandi.


" Serius ini tempat kita tidur? Kenapa hanya di sediakan tenda? Sedangkan mereka di dalam ruangan?". Sahut Alya bernada tidak suka.


" Dokter Alya. Kita hanya berlima kalau mereka banyak, maklum kalau tempat kita begini". Jawab Sinta masih mencari barang dalam tasnya.


" Aku tidak akan nyenyak tidur begini, pasti dingin ! Kamu kan ketuanya, kenapa gak minta tempat yang bagusan sedikit !". Ocehnya menunjuk Sinta dengan sorotan mata yang tajam.


" Kamu sendiri saja yang memohon sana. Aku tidak manja seperti mu !". Jawab Sinta serius.


Alya mendekati tubuh Sinta. " Apaan? Manja? Mulut tu di jaga baik-baik. Mau ngajak berantem lu?". Alya mulai terbakar emosi.


" Alya lebih baik kita mandi dulu, masalah tempat tidur mu coba tanyakan sama orang yang berwewenang di sini !". Elli bernasehat bijak. Namun Alya membalasnya dengan mata tajam dan membuang mukanya.


****** Gila ini orang nyolot banget ! Ribet kalau di tim ada yang ginian. Elli


Sinta menarik lengan Elli dan membawanya beranjak dari tenda meninggalkan Alya yang masih mencari peralatan mandinya. Berjalan keluar berpasan lagi dengan Fikran dan Gara yang lagi menenteng handuk dan gayung.


" Kita mandi dulu. Di sini waktunya sangat-sangat disiplin. Kalau kamu telat dikit aja gak bisa ikut makan malam !". Ujar Sinta pada mereka.


" Fik, aku lihat Alya tidak suka berada di sini?!". Gumam Gara. Mereka berdua mendapat giliran mandi duluan.


" Em. Aku tahu." Jawab Fikran.


" Kamu kenal dia? Aku lihat kamu begitu peduli sama Dokter Alya?". Toleh Gara sambil mengacak rambutnya yang di beri sampo.


" Kenal, dia satu SMA dengan ku." Jawab Fikran santai sambil membalur sabun ke tubuhnya.


Mata Gara terpejam tapi dia menoleh pada Fikran di sebelahnya. " Eh serius? Kalian di pertemukan saat kerja gini? Jangan-jangan cinlok lagi". Goda Gara yang tangan masih di kepalanya.


Fikran tersenyum. " Eh. Apaan? Aku mau sama Elli aja !".


Mata yang terpejam pun terbuka meskipun perihnya air sampo menguyur mata. " Apaan? Awas lu nikung !". Tunjuknya.


" Hahaha, itu sampo di basuh dulu. Maksa bener ngelihatnya. Ntar perih !". Oceh Fikran melihat tingkah Gara.


" Awas lu diam-diam nyimpan rasa sama Elli. Batal pertemanan kita !". Bisik Gery. Dia juga lagi mandi di dekat Fikran. Entah dia jenis hantu apaan.


Serrrttttt !!! Srettt !!!


Shower pun di nyalakan nya dan membasuh seluruh tubuh mereka yang sedang mandi.


Kembali ke kamar mandi wanita~

__ADS_1


Elli bersama Sinta masih dalam kamar mandi sedangkan Alya masih mengantri nomor terakhir dan masih ada 2 lagi didepannya.


Astaga. Mandi aja pakai ngantri. Keburu panuan aku ! Alya


Mandi seorang wanita memang lama tapi di sini sudah diberi waktu hanya 3 menit perorang. Elli dan Sinta sudah keluar. Maju selangkah lagi tak lama giliran dia mandi. Alya sedikit pun tidak mau menoleh pada Sinta. Mereka sepertinya ada dendam.


Tiga menit berlalu, Alya sudah mendapat giliran mandi. Saat masuk dengan terus menyapu pandangan ke sudut kamar mandi. Dia menghela nafas berat. " Jangan ganggu aku mau mandi !". Ucap nya bernada keras entah pada siapa.


" Jorok banget sih, gak ada bathtub nya, showernya juga gini-gini amat. Ini kerja apa lagi KKN ya?". Omelnya sendiri sambil membalurkan sabun dan shampo.


Setelah sabun dan shampo dia basuh lagi dengan air. Kemudian lanjut lagi ritmen lainnya yang entah apa. Apalagi peralatan mandi nya cukup banyak dan harus di jejal satu-satu.


Menoreh pada tulisan di atas showernya. " Mandi hanya 3 menit? Idih, mandi segitu cepatnya bersih juga gak tu. Ribet ya kalau tinggal di sini. Apa-apa harus patuh ! Kalau gak di hukum !". Masih mengomel sendirian.


" Neng ! Orang baru ya?. Di sini tu tempat orang pada mati !". Bisik wanita tua.


" Diam. Aku mau mandi ! Jangan ganggu. Budek ya?". Ucap Alya kasar. Dan orang tersebut pun menghilang.


Selesai mandi dia kembali ke tenda. Elli dan Sinta sudah tidak di sana, entah kemana dia meninggal kan Alya sendirian di tenda. Karena sekarang sudah sore. Mereka harus berkumpul di aula besar tiap sore.


" Al, apa kamu masih di dalam ?". Teriak Fikran dari luar. Bayangan itu tampak jelas terlihat di pintu tenda. Dan membelakangi tenda.


" Kenapa?". Jawabnya singkat.


" Aku menunggumu. Kita harus ke lapangan sekarang. Ada acara di sana, kita wajib ikut. Kalau tidak kita di hukum apalagi sampai terlambat". Teriak Fikran.


" Kamu duluan aja !".


" Ku tungguin kamu !". Gumamnya masih berdiri di luar.


Saat hendak ganti baju, semacam serangga melintas di punggung belakang Alya. Dia berteriak dari dalam. Dengan cepat Fikran membuka celah masuk tenda.


" Aghhh ! Ngapain kamu masuk?". Ujarnya menutup tubuhnya dengan handuk. Dan kembali histeris ketika merasa geli pada daerah belakang nya. Melompat sana sini berlari hingga Fikran pun menangkapnya.


" Tenanglah, hanya serangga biasa !". Mengambilnya dari tubuh Alya dan kembali menutup dengan handuk. " Cepat ganti, waktu kita gak banyak !". Imbuh Fikran sambil tersenyum lalu keluar dengan cepat.


" Sejak kapan dia berani memberiku perintah ?!".


______________


Acara selesai saat adzan magrib. Shalat bersama di masjid salah satu desa di sana. Tidak juga besar, namun cukup menampung umat muslim yang hendak shalat. Sedangkan yang non muslim menunggu di kantin untuk makan bersama. Karena Alya berbeda agama. Dia menunggu sendirian di kantin dengan di temani prajurit lainnya.


Waktu makan tiba, seluruh orang berbaris mengantri mengambil hidangan yang tersaji. Gara,Elli, Fikran dan Sinta sudah duduk di meja tempat Alya duduk sendirian. Mereka menyantap makanan tanpa suara. Karena itu peraturan nya.


Gara memberi sedikit lauk pada piring Elli. Yang kemudian di balas dengan senyum manja nya. Hal itu di lakukan Fikran pada Alya, Alya sempat binggung lalu menatap mata Fikran memberi kode.


" Apa?". Ucapnya tanpa suara.


Tidak di jawab hanya senyuman saja sudah cukup mewakili semua. Wanita cantik berbaju putih itu pun segera melahap nya depan Fikran.


" Enak bener makan gituan. Aku cuma mie instan di cup doang !". Ucap Gery

__ADS_1


Alya yang melotot pada Gery, kemudian memainkan mata. " Eh, keknya wanita itu tahu keberadaan ku !". Bisik Gery pada Fikran.


__ADS_2