Malu Tapi Mau

Malu Tapi Mau
bab 6


__ADS_3

Bel tanda waktu jam pelajaran pertama akan segera dimulai pun berbunyi. para siswa yang semula masih diluar kelas, mulai memasuki ruang kelas masing-masing. begitu juga dengan Dewa dan teman-temannya yang lain. dan mutiara harus dibuat terkejut, begitu melihat dewa ternyata juga kelas XI-A dimana dia berada.


Mati aku! ternyata dia anak kelas XI-A juga, keluh mutiara dalam hati. Celaka, itu berarti aku akan bertemu dengannya. padahal aku telah membuatnya marah dan kesal. ya tuhan, apa yang harus aku lakukan? bagaimana kalau dia akan membalas dendam padaku atas apa yang ku ucapkan padanya? sanggupkah aku menghadapinya?


Dewa memandang ke arah mutiara dengan pandangan tajam namun dingin. saat itu juga jangung mutiara berhenti berdetak. mutiara pun menundukan kepala, tak berani beradu pandang dengan cowok itu. perasaan hatinya semakin bertambah kacau tak menentu. apalagi ketika dewa melangkah ke arahnya, mau pingsan rasanya mutiara saat itu juga. untungnya dewa hanya lewat, karena ternyata bangku cowok itu tepat di belakang bangku yang mutiara duduk.


tidak lama kemudian, wali kelas XI-A masuk.


"selamat pagi, anak-anak...?"


"pagi, buk....! sahut semua siswa siswi.


"sengaja ibu masuk kelas ini, dan jam pertama pelajaran di tunda dulu, karena sebagai wali kelas ibu ingin memberitahu pada kalian, kalau haru ini kalian kedatangan teman baru. Nah, kalian tentunya ingin berkenalan dengan teman baru kalian itu kan?" tanya wali kelas


"Ya, buuuu.. !" sahut para siswa siswi.


"Baiklah. tiara, coba kamu maju ke depan sini dan perkenalkan dirimu pada teman-teman baru mu...".


"baik, bu."


mutiara pun menurut bangun dari duduknya, kemudian dengan di saksikan oleh seluruh mata yang ada di kelas itu, dia melangkah maju ke depan kelas lalu berdiri di depan papan tulis, tepat di tengah-tengah.


"pagi teman-teman...?" sapa mutiara sembari tersenyum ramah. Namun ketika matanya memandang ke arah dewa, seketika senyumnya menghilang dengan sendirinya. apalagi dia melihat sorot mata cowok itu tampak tajam, laksana sorot mata seekor elang yang siap akan menerkam anak ayam, dan tentunya anak ayam itu adalah dirinya.


"Pagi..." sahut teman kelas


maafkan aku dewa. sungguh tadi aku tak bermaksud seperti itu. aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu. kalau kamu marah, aku akan memakluminya. aku memang salah, aku bukannya berterimakasih padamu yang telah berbuat baik kepadaku, tetapi malah bersikap menyinggungmu dan menyakiti perasaanmu. sekali lagi maafkan aku, desah mutiara dalam hatinya.


"perkenalkan semuanya Nama saya mutiara zahra cantika, tapi teman-teman bida memanggil saya dengan mutiara atau tiara saja, atau senyaman kalian saja..."


"nama yang cantik. secantik orangnya..." timpal siswa cowok yang lain.

__ADS_1


mutiara tersipu malu


"terimakasih atas pujiannya..."


"kalau boleh tahu, kamu pindahan dari mana? tanya siswi cewek.


"sebelumnya, aku sekolah di SMA Negeri 5 kota padang.


"Ohhhh... dari padang rupanya?!" celetuk dewa tiba-tiba


"Ya."


"Pantas saja..." kata dewa lagi


"apanya yang pantas, Dewa?" tanya wali ibu kelas.


"lagak dan gayanya itu..." dewa tersenyum sini terhadap mutiara.


"persis dengan pelayan rumah makan!" tutur dewa dengan suara yang dapat di dengar oleh seluruh orang di dalam kelas.


Grrrrr.... meledaklah suara tawa para siswa dan siswi dikelas saat itu juga. membuat raut wajah mutiara seketika menjadi pucat. bahkan mata mutiara tampak berkaca-kaca hampir ingin menangis. hatinya menjerit, kenapa kamu tega memperlakukan aku seperri ini dewa? aku tahu kalau aku salah padamu, tetapi kenapa kamu terlalu kejam membalasnya?


"Dewa....!" sentak julie


"Ya, ada apa?"


"Jaga mulutmu itu!"


"Hmmm... kenapa kamu yang marah?"


"kamu sudah kelewatan, Dewa!"

__ADS_1


"kalau kelewatan ya putar balik kenapa jadi susah?" timpal dewa dengan tersenyum


"Ya!" timpal alda. "kamu pikir kamu itu siapa,sehingga seenaknua saja mempermalukan teman kami!"


"Ohhh... begitu ya? jadi rupanya si pelayan rumah makan itu teman kalian?" gumam dewa dengan tersenyum.


"Ya, kenapa memangnya? dan kami tak akan tinggal diam, kalau salah seorang teman kami dihina !" tegas Bianca


"Wah, wah, wah.... sorry sorry kalau begitu. aku tak tahu si pelayan rumah makan ini adalah salah seorang teman kalian juga. pantas sikap dan tingkahnya, sombong dan congkak seperti kalian. tidak tahu cara berterimakasih...! kecam Dewa.


"apa maksudmu berkata seperri itu, dewa?" tanya gresya.


"tanya saja pada teman kalian itu," jawab dewa


"sudah... sudah... kenapa kalian jadi saling bertengkar?" lerai wali kelas.


"Dan kamu dewa, tak semestinya sebagai siswa teladan di sekolah ini, kamu bersikap seperti itu. sebagao siswa teladan tentunya kamu lebih tahu mana yang baik mana yang tidak. mencela atau menghina seseorang, apakah itu termasuk perbuatan baik, Dewa?"


"Tidak, Bu..."


"apakah sesuai dengan pendidikan moral yang di ajarkan?"


"tidak, Bu..."


"jadi, kenapa kamu melakukannya pada mutiara?"


"Maafkan saya bu."


"apa sebelumnya kamu punya masalah dengan dewa, mutiara?" tanya wali kelas lagi


Dewa hanya diam tak menyahuti. dia hanya diam sembari menundukan kepala.

__ADS_1


__ADS_2