Malu Tapi Mau

Malu Tapi Mau
MTM #29 Dalam Lift 2


__ADS_3

Elli berhenti di depan pintu sambil terus mengatur nafasnya yang kacau. Membuka pintu paksa, langkahnya gontai membuat seluruh temannya panik terutama Gara.


" El, kamu kenapa?". Hendak beranjak dari kursi.


Belum sempat dia menjawab, Elli sudah berlari menuju toilet.


" Elli kenapa? Apa dia bertemu monster?". Sahut Fikran. Melirik Gery. Sedari tadi, Gery tidak beranjak keluar. Tahu dirinya wanita itu akan pergi sama Ayahnya, jadi dia tidak perlu mengawasi nya lebih jauh lagi.


" Hei, aku tidak tahu ! Aku dari tadi di sini. Teman !". Jawab Gery yang mengerti lirikan temannya itu.


" Mungkin dikejar masalah kali !". Sambung Kiki melirik teman-temannya itu. Krik. Krik. Krik.. garing, malah dapat tatapan tidak suka dari mereka berdua.


_____________


Sementara itu, Reijal sudah menerobos masuk ruangan kerja Kris dengan dramatis. Menyentuh bagian dadanya yang sakit akibat cakaran makhluk wanita buas.


Kris menoleh heran. Ruangannya tidak begitu luas. Hanya ada dirinya dan beberapa lemari berisi buku dan laptop di atas meja. Terlihat wajah kesal Reijal masih terbawa hingga mendarat duduk dengan benar di depan Kris.


" Hei, ada apa ini? Bukannya bos memiliki ruangan sendiri?". Sapa Kris.


Pakkkk !


Menghantam meja dengan kepalan tangannya. " Aku rasanya mau gila. Pertama tanganku ini kejepit lift. Kedua, lihat ini !". Membuka kancing bajunya dan memperlihatkan luka yang telah ditutup kain kasa. " Ini di cakar harimau betina !". Ujarnya geram.


Kris mencoba menangkap penjelasan sahabat nya ini. Namun sungguh dia tidak mengerti siapa yang di maksud harimau betina. " Hei tenanglah. Bukannya kamu sudah putus sama Fani? Bagai-".


" Aku tidak membicarakan nenek lampir itu. Aku berbicara tentang Elli. Sungguh, ingin aku cabik-cabik, ku ulek-ulek, ku masak hidup-hidup !". Raut wajahnya sudah merah dikuasai amarah. " Belum lagi ini, jantungku makin tidak jelas. Dag dig dug terus, Kris. Coba kamu temani aku periksa dulu !". Kata Reijal yang tampak polos. Polos-polos tak tahu diri.


Reijal sudah nampak serius malah di balas suara tawa yang nyaring dari Krisnaka Sostro. " Tunggu. Tunggu !! Coba ulangi, kata mu jantungmu berdebar ? Terus Elli ?." Masih ada kata yang dia ingin utarakan. Di urungkan karena tidak kuat tawa itu membludak.


Reijal heran. " Apa kamu kira aku melawak? Ini hal serius, Kris !". Gumamnya meyakinkan.


Menahan tawanya kemudian mengambil nafas dan di keluarkan. " Memangnya salahmu apa sampai badanmu di cakar gitu?". Menyeka air yang keluar di ujung mata Kris.


Mencondongkan wajahnya. Bernada berbisik. " Aku mengigit lidahnya !". Dengan spontan Kris melepak kepala Bosnya itu.


" Itu hal sepadan sama apa yang kamu lakukan,Jal. Dia bukan siapa-siapa mu. Kamu main nyosor aja !". Kris ikutan geram sama tingkah sahabatnya kini.


Mengeluh kesakitan. " Biarkan, itu aku anggap satu sama. Lalu, apa kamu tahu jantungku ini kenapa?".


Kris menghela nafas berat, menyenderkan lagi kepala di kursinya. Memutar-mutar pelan tanpa henti. " Aku tidak tahu. Meskipun kamu cek ke dokter Jantung atau penyakit dalam. Itu tidak terdeteksi sama mereka. Mau nya kamu ke psikiater aja !".


" Kamu kira aku gila. Sudahlah, aku kembali bekerja saja. Ini membuang-buang waktu ku !". Menjawab dengan wajah kusut. Memicingkan mata melihat Kris yang masih asik berputar. Keluar ruangan membanting pintu.


" Umurnya berapa sih itu anak. 5 tahun? Jatuh cinta aja kagak tahu ! Parah banget sih !". Keluh Kris dan kembali melanjutkan kerjanya.

__ADS_1


Reijal kembali dengan kesibukan nya begitupun Elli. Bayang-bayang kejadian dalam lift masih terus melayang kemana-mana. Elli merasa malu, Reijal merasa kesal bercampur aduk malu layaknya anak remaja baru mengalami puber yang baru kenal namanya jatuh cinta.


Tapi, sungguh mereka bekerja dengan semangat terkadang senyam-senyum sendiri seperti jamannya Fikran tidak jelas. Kondisi hati kedua insan ini labil, senang iya marah juga iya.


Jam terus berlalu, kali ini hujan yang tadi siang menguyur kota mereka sudah reda pas di jam 4 sore. Pas saat jam pulang kerja.


Ting !


Pria Mesum : Jangan pulang sama orang lain. Kalau tidak, aku akan tarik kamu lagi. Mengulang kejadian di dalam lift


Apaan sih ! Sok ngancam - ngancam aku. Apa kurang ya cakaran ku tadi? Harusnya kedua tangan ku mencakar tubuhnya ! Elli


Wanita Gila : Lihat aja entar !


" Apa maksudnya lihat aja entar? Apa yang di lihat?". Katanya masih duduk di ruangan memegang ponsel.


Elli masih mengerjakan beberapa tugas lagi di ruangan. Gery masih mengawasinya. Fikran, Kiki dan Gara sudah pamit pulang. Katanya mereka akan kembali ke rumah sakit nanti malam. Gagal rencana ingin numpang sama Gara, karena kerjaan belum beres.


Wawan Negara : Kalau tidak ada yang jemput. Beritahu aku ! Aku pasti datang menjemput mu.


Membaca pesan wa dari Gara, senyumnya memekar di bibir. Setidaknya dia sudah tenang dan kembali menyelesaikan pekerjaan nya.


Baguslah kalau Gara menjemput nya. Aku balik aja. Masih mau berlatih lagi sebelum aku melaunching bakat ku. Gery


Pria Mesum : Maksud mu apa? Mau lari dari ku?


Reijal tidak tenang melanjutkan kerjaannya. Membanting telepon dan beralih ke ponsel namun tidak ada balasan. Tanda centang biru dua tapi tidak dia balas hingga kini. Mengambil kunci motor dan bersiap pulang.


" Kamu bereskan meja saya ya. Saya mau pulang !". Melewati Rika begitu saja bagai hembusan angin kencang.


Membuka pintu dengan gagah berani menuju lift masih memandang ponsel berharap Elli membalas pesan. Dia bahkan terlihat online tapi tidak ada keterangan mengetik muncul. Lift kemudian tertutup.


Elli berlarian menyusul lift yang hendak tertutup. Kali ini refleks, Reijal bersembunyi membalikkan tubuh dan menarik jasnya hingga menutupi kepala.


" Agh ! Akhirnya sampai !". Ucapnya lega tanpa melihat seseorang di dalam lift dan berbalik badan. Menatap pintu lift. Lalu pintu tersebut tertutup. Terlintas sudah ide cemerlang Reijal. Sedangkan Elli, asik memandang ponsel . " Gak akan ku balas, dasar Pria mesum !! Aku akan membakar mu hidup-hidup !". Ujarnya geram. Hinga menghentakkan kakinya berkali-kali.


Oh begitu. Lihat saja nanti ! Reijal


Keadaan menjadi de Javu. Lift seakan mati begitu saja. Suasana gelap, hening dan sepi. Elli temundur beberapa langkah dan bersandar di dinding lift. Sungguh dalam hatinya segala macam doa dia panjatkan. Takut terjadi hal-hal yang tidak di inginkan.


Karena gelap, Reijal tidak perlu lagi bersembunyi. Melangkah mendekat dan mengulang hal sama. Menjepit tubuh Elli sekuat mungkin.


" Si-siapa kamu?". Tanya Elli gugup.


Layar ponsel Reijal menyala pas di depan mata Elli, itu sangat silau hingga tidak bisa memandang orang di depannya.

__ADS_1


" Ku mohon. Ja-jangan perkosa aku ! Aku masih ingin hidup tenang. Aku mau menikah dengan cara ba-baik-baik !". Ungkapnya terbata-bata dan ketakutan.


" Cakaran mu menembus daging ku. Apa kamu mau menukarnya lagi dengan lidah mu?. HAHHHH !!!". Bentak Reijal mengapit bibir Elli.


Reijal !!! Elli


Berkali-kali menggeleng kan kepala nya. Elli tidak bisa menjawab karena takut dan dadanya berdebar kencang. Sebelah tangan Reijal sudah fokus untuk menindih kedua telapak tangan Elli di dinding. Dan bergantung di atas kepalanya.


Elli terus saja menggeleng kan kepala. Dia memberontak. " Aku tidak akan memperkosa mu ! Kalau aku mau lebih baik aku melamar mu. Diam lah sedikit bodoh !". Mengerang keras.


Akhirnya Elli menuruti Reijal untuk diam. Dia juga tidak teriak, hanya suara nafas nya begitu dekat dengan telinga Reijal. Tangan sebelah lagi melingkar di pinggang Elli.


Apa yang mau dia lakukan ! Ya Allah. Maafkan aku, aku sudah banyak dosa hari ini ! Elli


" Mana lidah mu. Keluarkan cepat ! Kalau tidak, lehermu yang ku gigit !!!". Memberikan perintah diluar nalar. Pikirannya liar.


" Bu-buat apa?" Elli berani bertanya. Meski gelap, wajah mereka sudah sangat dekat.


Reijal memeluk Elli dengan eratnya. " Keluarkan !". Masih membentak Elli.


Takut, dia memejamkan matanya tidak mau melihat apapun di depan meskipun gelap. Kemudian dengan sangat pelan mengeluarkan lidah mungil.


Melakukan hal yang sama. Kali ini Reijal menggigitnya dengan keras, hingga Elli terlonjak dan sedikit memberontak. Namun, pelukan Reijal juga semakin erat.


" Itu tidak sebanding dengan cakaran mu ! Bagaimana rasanya?". Tanyanya penuh arti .


Kenapa jantungku makin gila. Hentikan ! Jangan bertanya rasa apa. Memalukan !!! Elli


Rasanya membuatku ketagihan ! Bodoh ! Pikiranku makin gila ! Reijal


Karena tidak ada sahutan dan jawaban Elli. Reijal melepaskan tangan Elli dan masih memeluknya erat. Entah kenapa, dia memaksakan Elli terbenam dalam dadanya dalam pelukannya. Itu membuat hati seorang Reijal hangat.


Fix. Dia gila ! Elli


Apa yang ku lakukan. Tubuhku refleks memeluknya !. Astaga, aku malu atas semua yang kulakukan hari ini. Reijal


___________


Sementara itu, di ruang pengamanan untuk pemantauan seluruh cctv di rumah sakit. Nampak petugas dan pastinya Kris menepuk jidatnya sendiri. Melihat kelakuan bejat sahabat nya didalam lift.


Kedua petugas yang duduk memantau rekaman cctv terus menundukkan kepalanya atas perintah Kris. " Apa dia sudah gila?". Ketus Kris nampak heran.


____________


Lift sudah menyala dan mereka berdiri dengan posisi benar. Seolah kejadian tadi tidak terjadi dan enggan mereka ingat sama sekali.

__ADS_1


Atas dasar apa dia mencium ku seenaknya. Aku akan bakar dia hidup-hidup !!! Elli


Baru sadar, aku ******** ! Reijal


__ADS_2