Malu Tapi Mau

Malu Tapi Mau
MTM #47 Kiki dan Ana


__ADS_3

________


Di suatu malam, tepat perjanjian Diana dan Kiki bertemu pertama kalinya tanpa ada pengawasan berlebihan dari si Kakak yang juga rekan kerja dari Kiki. Kedua insan ini masih tidak bergeming dalam sebuah mobil hitam yang melaju.


Entah apa yang berkecamuk dalam diri sampai keduanya masih tidak membuka celah bibir yang tertutup rapat. Hanya suara desas-desus kendaraan di jalan raya. Secanggung itulah keduanya, biasa ditemani sang kakak atau bahkan Elli yang membuat semua berjalan lancar tanpa hening.


Ketika lampu merah memberi tanda untuk berhenti dan mempersilahkan para penyebrangan jalan berlalu lalang didepan sana, gadis yang di sapa Ana tersebut menoleh ke sudut kiri dimana jendela kaca mobil terbuka luas. Namun, tatapan itu segera dia tundukkan dengan cepatnya.


Ada lambaian dari luar sana, seseorang yang bakal ikut serta dalam reunian besar nanti. Lambaian seperti tidak ikhlas dengan sorotan mata tajam mengintimidasi ke arah gadis berbaju coklat duduk dalam mobil. Detik ke 10 Kiki menoleh keluar sana, entah siapa dia tidak mengenal seseorang yang melambai seperti mengenal di antara keduanya.


" An, apa kamu kenal dia?". Tunjuk Kiki sambil mengintip dari jendela Ana yang terbuka.


" Ti-tidak Kak !". Jawab Ana sembari menggenggam roknya dan menunduk kaku.


Klakson dari arah belakang sudah terdengar. Kiki tidak menggubris kecurigaan dirinya. Melajukan kembali mobil yang dia bawa dengan kecepatan sedang. Sejak saat itu, Ana selalu menunduk kepala seperti berharap pulang.


" An, apa kamu sakit? Kalau sakit, kita pulang saja". Ujar Kiki pelan.


" Tidak Kak, aku baik-baik saja kok". Jawabnya balik masih menyimpan rasa gugup.


Kata baik-baik saja cukup ampuh untuk mengelabuhi orang lain yang tidak ingin orang tahu kalau kegaduhan batinnya mulai kacau. Apalagi mobil sudah terparkir rapi di halaman gedung sekolahnya dulu. Sangking gemetar dia tidak mengetahui Kiki sudah membukakan pintu mobil untuknya.


Kiki sedikit menunduk dari luar mobil. " Ayo, tidak apa-apa. Aku kan sudah berjanji menjaga mu malam ini". Ucapnya meyakinkan gadis muda tersebut. Sedikit ampuh untuk mengurangi rasa traumanya. Tangan yang terulur pun di sambut lembut Ana.


Cantik bukan dia malam ini dengan di gandeng pria dokter muda, pasangan yang serasi dengan warna pakaian yang sama. Berjalan sejajar memasuki gedung sekolah. Undangan hanya di khususkan untuk dua orang saja, dipergunakan bersama Kiki karena Gara enggan ke sana meskipun dipaksa adiknya sendiri.


Para tamu menyaksikan sepasang yang belum resmi pacaran itu dengan sangat dalam. Dari masuk pintu Aula yang besar sampai di tengah kerumunan orang-orang. Kiki sangat tahu itu bukan tatapan senang melainkan tidak suka. Bagaimana bisa gadis secantik Ana melakukan kesalahan sampai dibenci seluruh sekolah? Berat sekali tersenyum di balik kisah kelam yang terukir kembali.


Lantunan musik dari atas panggung membuat suasana dalam gedung riuh. Dekorasi yang bertulis selamat datang dengan dihiasi bunga-bunga besar, sungguh indah dengan warna merah putihnya. Namun, seluruh pasang mata belum beranjak dari keduanya itulah penyebab Ana terus menunduk merangkul erat lengan sang sahabat kakaknya.


" An, kita makan dulu yuk. Perutku sangat lapar, apa kamu tidak dengar suaranya. Gurrr gurrr gurrr gitu !". Canda ya membuat lirikan semakin dekat.


" Apa bunyinya begitu? Aku tidak dengar, Kak". Jawab Ana. Keduanya belum pergi dari tengah aula. Membiarkan orang menatapnya.


" Bercanda, hanya ingin kamu senyum dikit. Jangan ditekuk, ntar mereka tidak lihat wajah mu !". Bisik Kiki.

__ADS_1


Sedikit gurauan saja bisa membuat lekukan dibibir berwarna merah. Keduanya sudah tidak canggung saling senyum lagi. Masih bergandengan, mereka ke meja prasmanan yang telah di sediakan.


" Apa kamu mau makan nasi? Atau yang manis saja?". Tanya Kiki mengambil dua piring beserta sendok dan garpu nya.


" Ikut kakak aja". Gumam Ana, masih tidak nafsu untuk makan sebelum pesta ini berakhir.


" Oke, tapi tunggu sebentar di sini ya. Apa kamu berani?".


Mengangguk pelan. Sesaat rangkulan, gandengan itu terlepas. Padahal kan Kiki tidak jalan jauh darinya. Mereka masih saling melirik meskipun terkadang terhalang orang yang berjalan didepan Ana. Sekarang giliran Kiki mengambil makan dua sekaligus ditangannya, nampak Ana melihatnya sungguh kesusahan.


Ana melangkah ke depan namun sialnya di hadang orang hingga tidak terlihat lagi Kiki disana. Kelima gadis itu menghalangi nya. " Kak !". Ana mencoba mengeluarkan suara nyaring, tapi itu nihil. Rasanya tenggorokan nya begitu kering.


" Hei cewek, apa kabar?" Tanyanya sembari menyentuh helaian rambut Ana yang tergerai indah. Segelintir kalimat yang terlontar judes itu sangat membuat tubuh Ana kikuk. " Bawa dia !!!". Perintahnya pada keempat teman yang sudah bertengger sejak tadi di sisi kanan kiri.


" Kak to-!!!!!". Telapak tangan nan wangi sudah menutup mulut Ana yang terbuka lebar. Dia di seret paksa oleh kawanan makhluk tidak dia kenal ke luar pesta.


" Njel, ini cewek mau kamu bawa ke mana?". Tanya si temannya yang tengah menutup mulut Ana dengan kain kecil lalu di ikat dibelakang kepala Ana.


Si cewek berbaju merah menyala itupun terlihat memimpin perjalanan, Ana sejak tadi mencoba berontak tidak karuan. Suaranya parau tertutup kain yang membentang dalam mulut yang tertutup. Perjalanan sudah jauh dari tempat pesta.


_______


Prrakkkkkk !!!!


Piring terjatuh menghampas ubin putih yang menghiasi lantai. Makanan susah payah dia ambil dalam hitungan lebih dari 5 menit karena antrian sudah lenyap dalam hitungan detik saja. Riuh nya acara ikut berhenti.


" An !". Kata Kiki mulai panik.


Langkahnya tidak beraturan kesana kemari mencari Ana dalam kerumunan orang yang satu pun tidak dia kenali. Sambil terus teriak memanggil nama Ana, pesta meriah itu sudah kacau. Melirik arah panggung lalu berlari cepat. Satu-satunya cara tahu Ana dimana karena tempat itu lebih tinggi. Kiri kanan ekor mata Kiki belum juga melihat gadis berbaju coklat di antara tamu.


" Pinjam !". Merebut mikrofon dari vokalis band. " Maaf saya kehilangan belahan jiwa saya, tolong kembalikan Ana. Saya tidak mau berbuat gaduh di sini !". Ancamnya memandang sorot mata tidak suka yang berlimpah pada Kiki.


Mikrofon dengan lantang dia lempar hingga menimbulkan suara berdenging dari dalam aula gedung. Melompat dari depan panggung, berlari membelah lautan manusia yang mengacaukan jalannya. Entah berlari kemana, dia cuma berpikir harus mencari Ana sesegera mungkin.


Kiki meraih ponsel dari dalam sakunya. " Halo, Rio bisa kamu ke sini ke gedung sekolah B. Apa kamu sedang bertugas, tolonglah aku. Kakak ipar mu hilang. Cepatlah, aku curiga dia di aniaya temannya !". Jelas Kiki tergesa-gesa.

__ADS_1


" Kakak Ipar? Aku baru pulang kerja. Aku dekat dari situ. Sebentar lagi sampai !". Jawabnya.


________


Dalam ruangan yang hanya di terangi sebuah senter ponsel membuat kedua mata Ana sangat silau. Kelima wanita dan disusul keempat pria entah siapa, Ana tidak tahu karena di ruangan tempat dia disekap cukup gelap.


Sekumpulan anak-anak yang sangat tidak punya perikemanusiaan mengepung Ana. Mengancam, menunjuk, menonjol sampai diri mereka puas dan menertawakan gadis malang itu. Butiran bening berjatuhan dari ujung mata Ana, secuil itu tidak ada rasa kasihan.


Kesalahan apa yang membuat mereka begitu gila untuk sekongkol menyiksa gadis muda tersebut kalau bukan karena kejadian yang menimpa sejak dia sekolah. Ana sebagai gadis pintar disekolah selalu menaruh hati kagum pada jajaran guru-guru nya. Dia berhasil untuk itu. Tapi, kejadian naas itu tidak bisa dihindari lagi.


Satu sekolah tahu kalau itu adalah takdir namun dalam kelas Ana itu adalah penyebab dari Ana sendiri. Seorang wali kelas masih berumur 29 tahun sangat begitu di sayangi, meninggal di tempat saat menyelamatkan nyawa Ana di tengah jalan. Acara Pramuka yang dilaksanakan disekolah berakhir bencana, menyaksikan guru muda berjenis kelamin laki-laki itu menghembuskan nafas terakhirnya di tengah jalan.


Kecelakaan maut disaksikan barisan anak-anak sekolah dan pastinya kelas Ana seluruhnya ikut dalam acara Pramuka berkedok wajib dihadiri. Sejak itulah, dirinya selalu saja dapat perlakuan buruk dari teman sekolah bahkan ada guru yang tidak menyukai keberadaan Ana. Gadis malang tersebut begitu kuat menahan bebannya sendiri namun saat dia tidak kuat, justru Ana membagi pada sang Kakaknya.


Lagi, meskipun raga nya sudah tidak bersekolah. Dia masih diperlakukan tidak baik. Malam ini, semua orang dalam ruangan redup itu begitu nafsu untuk menyiksanya. Bukankah itu cara yang kotor? Mereka belum berpikir demikian. Yang penting senang dan bisa membalas kematian demi kematian.


Tangan diikat begitu juga kaki. Tubuhnya sudah sangat kotor dan berdebu. Dandanan nya tidaklah cantik lagi, rambut pun sudah porak-poranda di kepalanya. Gemetarnya tubuh, ramainya hati yang seakan tidak bisa berteriak. Membuatnya sungguh tersiksa.


" Mudah sekali kau senyum didepan kami. Lupa sama hutang nyawa Lo?". Laki-laki berdiri didepannya mulai kembali membuka suara lantang.


Kak Gara Kak Kiki Kak Elli !!!!!!! Ana


Dalam hati Ana terus berteriak keras berharap suara hati tersebut tersampaikan ke mereka semua. Kelakuan yang tak pantas terus Ana dapatkan hingga bajunya mulai mengeluarkan suara sobekan. Sungguh air mata yang tak bisa dia bendung lagi. Dirinya juga tidak bisa berkutik atau bergerak.


Kak Kiki. Tolong aku !!!! Ana


" Kenapa? Berharap pacar mu menolong? Ngarep banget sih !!!!". Apitan dagu Ana dia hempaskan hingga membentur ke meja yang berada disisinya.


" Waw, santai Njel. Dia berdarah tu. Hati-hati Lo masuk penjara !". Gurau laki-laki tadi, suara tawa mulai gaduh. Apalagi kalau bukan menertawakan gadis malang rapat di pijakan kaki mereka.


" Gak peduli masuk penjara. Yang penting nyawa dibayar dengan nyawa". Cewek baju merah kembali menimpali omongan temannya sendiri.


" Ya juga sih, kamu kan kebal hukum. Njel ". Sahut sang teman cewek.


" Cih !!!! Aku calon anggota polwan. Diam, atau tidak ku tarik kepala mu !!". Ancamnya lagi sampai berani memperlihatkan kepalan tangan didepan mata teman-teman nya.

__ADS_1


__ADS_2