
____________
Waktu subuh mereka sudah di bangunkan, Sinta dan Elli sudah mulai membuka mata. Perlahan bangun dari tempat tidur seadanya, layaknya lagi kemah Pramuka. Udara yang cukup dingin menembus hingga masuk ke dalam diri.
" El, apa kamu sudah bangun?". Ucap Gara dari balik tenda.
" Sudah, perhatian banget !". Sinta muncul dari tenda melihat sosok pria tampan lagi berdiri kokoh.
" Al, kami shalat dulu ya. Nanti bangunnya jangan telat !". Bisik Elli menyentuh bagian pundaknya.
" Em !". Jawab Alya singkat dan kembali ke tidurnya.
Elli menyusul ke luar melihat Sinta dan Gara tengah mengobrol. Kemudian Fikran yang baru saja terlihat mendekat. " El, apa ini pacarmu? Dia terlalu protektif !". Meraih lengan Elli yang mengapit tas mukena nya.
" Idih !". Gumamnya pelan . " Fik, ayo shalat. Mau ngapain?". Ujar Gara melihat Fikran melirik ke dalam tenda wanita.
" Oh. Iya iya !". Fikran menghampiri Gara dan berjalan menjauh dari tenda. Kembali melirik ke belakang namun Gara raih wajah Fikran agar kembali fokus ke jalan.
" Hei bangun !". Bisiknya ke telinga Alya
Alya belum menjawab ajakan tersebut dan memilih tetap memejamkan matanya. Namun, tiap detik dan berulangkali ajakan itu begitu menimpa telinganya. Membuat kedua mata Alya terbelalak keluar karena merasa terganggu. " Aduhhhhh berisik !". Ucapnya sudah duduk.
" Ternyata benar kamu bisa melihat ku !". Sambung Gery, sedari tadi sudah iseng.
Alya terduduk dengan mata yang sayu. " Kalau bisa memangnya kenapa? Apa hubungannya? Sana pergi aku mau tidur !". Alya mengusir Gery namun belum juga ingin pergi. Hatinya begitu penasaran pada si Alya.
" Apa kamu sama seperti Fikran? Dia juga bisa melihat ku !". Gery menjelaskan secara singkat. Wanita itu tidak peduli dan terus membelakangi dirinya lalu kembali merebahkan diri.
" Gak tahu !". Jawabnya singkat.
Merasa diabaikan, Gery Mahesa pun pergi keluar seraya mengumpat dalam hatinya. Sosok wanita itu tidak cocok dengan dirinya kalau di ajak berbicara apalagi berdebat, yang ada hanya menimbulkan perang.
Selesai sudah waktunya shalat subuh. Tinggal nunggu matahari sedikit menerangi bumi baru akan mandi. Jam segini wanita bernama Alya Yuan bahkan tidak berkutik dari tempat tidur nya sendiri. Tidur nyenyak sambil memeluk sebuah boneka. Sempat-sempatnya dia membawa boneka.
" Satu. Dua. Tiga !!!". Sorakan riuh terdengar dari luar tenda. Suara lantang yang khas dari para tentara. Beberapa menit, Alya sudah bisa tertidur namun kali ini dia sangat terganggu. " Aghhhhhhh !!! Berisik !!." Membangun kan tubuhnya, berjalan keluar perlahan mengikuti suara tersebut berasal.
Sedangkan di Sisi lain Elli dan Sinta masih berdiri kaku dengan wajah benggong menyaksikan berbagai koleksi roti sobek berlarian didepan mereka. Jam segini para prajurit pada lari pagi dan sialnya hanya menggunakan celana dinas mereka tanpa baju sehelai pun di tubuh.
Wajah masih muda dan segar berlari mengelilingi kawasan sambil bersorak-sorai semangat menghitung tiap langkah kaki. Pemandangan yang sangat langka dan menakjubkan. Ketiga wanita itu terpukau,hingga tiap ekor mata memperhatikan terus sampai sosok bayangan mereka tiada.
" Wah !". Elli berdecak kagum.
" Moment langka, jarang-jarang cuci mata". Sambung Sinta yang juga memegang peralatan mandi di tangan.
" Ternyata lebih ganteng kalau begini". Seru Alya ikut-ikutan menonton.
Tanpa sadar dari arah samping Fikran bersama Gara terheran-heran melihat rekan kerjanya diam mematung disana bukannya pada mandi. Saat mendekat dan di depan mereka ada barisan tentara yang lewat. Gara sudah tahu penyebab mematung nya ketiga wanita tersebut.
" Dasar cewek mata nya gak bisa di jaga !". Omel Gara langsung menghampiri dan mendekat.
Gara sudah didepan Elli menghalangi jarak pandang si Elli dari depan. Wanita itu masih fokus kesana-kemari mencari celah tontonan yang amat langka. Hal itu entah kenapa di ikuti Fikran dan melakukan nya pada Alya.
__ADS_1
" Minggir Gara, aku lagi sibuk !". Terlonjak dan memukul bahu pria tersebut.
" Aduh minggir deh ! Iri banget lihat orang bahagia." Menoleh pada Fikran yang terus membentang tangan kemana-mana.
" Kamu sibuk apa? Lihat keseksian mereka?". Wajahnya merenggut.
" Apaan sih?". Jawab Elli memancing jengkel Gara makin bertambah.
" Aku ngikut aja Gara lakuin. Maaf kalau itu ganggu !". Jawab Fikran masih dengan posisi yang sama.
" Satu. Dua. Tiga. !!!". Suara itu kembali mendekat dengan sangat lantang dan nyaring membuat Gara dan Fikran menoleh ke barisan panjang tersebut.
" Wah !". Elli masih terus terkagum-kagum. Gara yang melirik mulai iri.
" Pagi Komandan". Sapa Gara berteriak sambil hormat pada seseorang di belakang barisan yang berperan sebagai pemimpin. " Boleh kami ikut?". Senyum ditebarkan
" Boleh. Silahkan baris di belakang". Menunjuk pada barisan yang masih berlari dengan serentak.
Bergegas seorang Wawan Negara dan Fikran Mathin melepas pakaian dan hanya menggunakan celana pendek. Mata yang tertuju pada barisan depan berlari pagi malah teralihkan pada tubuh Gara persis sama dengan tubuh para prajurit tentara tersebut. Apa yang membuat Alya menutup wajahnya kalau bukan Fikran bertingkah sama dengan Gara. Kedua wanita itu tidak menyangka kalau pria terdekatnya memiliki aset berharga.
Gara melambai tersenyum pada Elli, Fikran yang hanya memperhatikan langkahnya membuat Alya menatap kosong, bagaimana sempat dia membuat tubuhnya begitu indah di pandang. Sejak dulu kurus kering seperti orang meminta perlindungan pada sekitarnya.
" Tunggu !!!". Gery berteriak mengikuti Fikran lari pagi.
" Dasar anak muda, cemburu aja segitunya !". Celoteh Sinta menggeleng kepalanya sambil terus senyum.
" Emang situ sudah tua? Em. Kelihatan sih, sudah keriput !!". Menimpali bicara sang Leader nya.
" Eh? Terus kemarin sempat perhatian sama Fikran kenapa?". Tanya nya penuh rasa penasaran.
Tersenyum lebar." Perhatian karena anaknya juga seperti itu ke anak saya. Ya gak papa kan?. Sudah kita mandi dulu, kerjaan menunggu kita". Seru Sinta menarik dan merangkul Elli serta Alya.
Disisi lain, Fikran dan Gara tengah melakukan olahraga layaknya seorang prajurit tentara.
" Kamu celana hitam ! Lakukan yang benar !!!! Baru hitungan 10 sudah loyo begitu !!!". Bentak sang Komandan berparas muda nan ganteng.
" Siap !!!!". Sorak Gara yang terkena tegur.
" Kamu juga yang benar !! Badan kalian bagus tapi lemah !!!". Masih mengomel kedua pria tersebut.
Melakukan push up di tengah lapangan yang matahari sudah mulai naik dan teriknya. Keringat sudah mulai bercucuran.
" Ini karena ulahmu. Lain kali aku gak mau ikut-ikutan !". Bisik Fikran berasa tersiksa.
_______________
Selesai mandi ketiga wanita cantik tersebut sudah bersiap mengenakan jas kebanggaan mereka. Melakukan medical check up untuk para prajurit di tenda medis. Satu persatu di periksa membuat barisan sendiri di depan Elli, Alya dan Sinta.
" Bapak. Jaga kesehatan nya jangan terlalu memikirkan istri di rumah." Goda Sinta membuat pria tua berbadan buncit itu tersenyum.
" Siapa lagi yang saya pikirkan kalau bukan keluarga. Dokter juga pasti begitu kan?". Sahutnya kembali.
__ADS_1
" Kebetulan saya punya anak sudah 2 dan suami 1. Saya selalu memikirkan mereka kalau jauh begini". Jawab Sinta dengan santainya.
****** Gila. Masih muda sudah dua anak? Elli
Supaya apa dia menceritakan rumah tangga nya. Ya tahu, kami di sini pada single. Pakai nyindir segala ! Alya
" Mereka berdua kemana sih. Lama bener, antrian panjang tahu !". Omel Alya sendiri sambil memeriksa.
Elli dengan senang hati tanpa mengeluh terus menebar senyum. Sejak tadi antrian makin nambah. Entah kenapa Sinta mendapat sedikit pasien. " Dok, apa di suntik sakit?". Tanya pria yang tidak sempat Elli lihat padahal lagi dia periksa.
" Tidak. Hanya di gigit semut." Balas Elli.
" Masalahnya saya takut, Dok." Sahutnya berbisik pada Elli dengan dekat.
Elli yang menoleh sampai tak berkutik. Wajah nya tampan, manis dengan senyuman di bibir dan alis tebal membuat nya sempurna. " Eh. Gak papa, saya akan pelan-pelan kok."
" Dokter Elli?" Memainkan alis saat Elli sedikit melirik.
" Eh. Em !". Jawab Elli menyudahi pemeriksaan.
" Saya Dimas Prayudha !". Jawabnya lalu beranjak keluar dengan senyum manis.
Di sisi sebelah Elli ada Alya dengan terus menekuk wajah saat memeriksa para tentara muda. " Selanjutnya !". Ucap Alya masih menunduk.
Beberapa menit pemeriksaan berlalu. Fikran dan Gara tiba dengan tergesa-gesa. Fikran membantu Alya dan Gara pastinya membantu Elli. Beberapa kali Elli mendapat lirikan mata dari para pria namun kali ini ada nya Gara mereka sudah tidak berani. Malah diam, senyum dan berterimakasih dengan sopan.
" Kemana aja?". Bernada kesal menyoroti mata Fikran.
" Gak kemana-mana, sejak tadi sudah di sini". Jawabnya bergurau. Si Alya tidak terpancing candaan garing tersebut. Malah melotot tajam.
Usai itu, Elli melepas jas nya meletakkan di tenda tempat mereka istirahat. Disusul Sinta dan Alya si jutek. Lalu berjalan bersama menuju kantin makan. " El, kamu pacaran sama Gara?".
" Hah? Tidak !". Sahutnya tegas.
" Kamu pacaran sama Fikran?". Melirik Alya yang lagi melipat tangan didepan dada nya sendiri.
" Siapa yang bilang, dia hanya teman sekolah ku. Bukan pacar !". Tukasnya keras.
" Fik. Aku curiga sama Alya. Tadi pagi memang dia melihat dan berbicara pada ku!". Kata Gery ikut berjalan di sisinya. " Kamu temannya, masa tidak tahu anak itu sama seperti mu?!".
" Aku tidak tahu !". Jawab Fikran
" Tidak tahu apa, Fik? Oh ya, sekali-kali cobalah membuat Dokter Alya itu senyum. Sejak datang di sini wajahnya terus dia tekuk. Kecuali saat pagi, mereka begitu terpana sama cowok-cowok di sini !". Imbuh Gara.
" Aku tidak tahu cara membuat dia senyum. Sejak dulu dia memang tidak pernah senyum. Wajahnya memang begitu. Kamu dengar tidak aku bercanda saja di balas sama diamnya. Mau bagaimana lagi ?". Memelas pasrah.
" Apaan? Ni aku senyum !". Alya menimpali ocehan Fikran yang jelas terdengar dari arah belakang. Dan memperlihatkan senyum ala-ala hantu yang seram.
Gara yang ikut menyaksikan malah tertawa ngakak begitu juga Elli yang tak sengaja menyaksikan dari celah-celah di antara mereka.
" Hei kenapa kamu tertawa? Aku tidak melawak !!!". Omelnya menunjuk si Gara dengan tampang mengintimidasi.
__ADS_1
" Kamu tahu, kalian berdua mirip. Sejak dulu mirip mungkin. Senyum saja sama. Sama-sama menakutkan !". Kata Gara membuat Elli tak henti-hentinya tertawa.