
_________
Keluarlah mereka dari pintu utama rumah sakit. Gerbang memang tidak tertutup namun saat ini, wartawan masih belum sadar. Kalau yang di tunggu keluar dari pintu masuk.
" Hei wanita Hobi teriak ! Motor Ayah mu yang mana?". Tanya Reijal binggung, melihat jejeran motor di parkiran.
Elli tidak menyahuti nya, dia berinisiatif mencari sendiri letak motor butut sang Ayah. Celingak-celinguk, satu persatu melirik. Dan akhirnya ketemu juga, motor keluaran era 70an dengan warna hitam. Sedikit kuno tapi masih dipakai Ayah Elli.
" Oke. Naiklah ! Jangan bilang mau lari dari aku?". Melirik Elli masih berdiri kokoh berjarak tidak jauh dari Reijal.
Gugup akan ada hal baru terjadi, dia berjalan pelan dan di sodorkan helm untuk di kenakan. " Buruan ! Gak lihat apa fans ku banyak di depan sana !!". Ucapnya bernada judes.
Elli sudah duduk di sisi belakang motor, duduk menyamping. Tangan masih di pangkuannya. " Hei ! Aku mau ngebut jadi pegangan. Kalau ketinggalan bagaimana ?!". Masih bicara bernada kasar dengan ekor mata masih melirik ke belakang.
Ketika motor sudah siap dan Elli sudah berpegangan. Kris dengan suara lantang memangil nama Reijal. Entah itu tindakan bodoh atau hebat, sungguh para wartawan mendengar teriakan Kris. Dan berlarian mendekat parkiran.
Kemana penjaga, entahlah mereka tidak terlihat. Dengan mudah wartawan masuk berlarian. Berkerumun, berkumpul dan berdesak-desakan pada ketiga orang tersebut. Elli yang semula duduk di kursi belakang kini harus turun sebentar menghindari amukan media yang haus akan info dan gosip.
Sana sini pertanyaan terlontarkan. Sampai Elli harus beberapa kali terbentur kamera wartawan ataupun tangan-tangan wartawan yang terus maju. Karena Kris yang membuat masalah, dia melindungi mereka berdua. Terlihat hantukkan kamera di jidat membuatnya terluka.
Akibat kejadian itu, awak media bisa terkendali dan sudah diam tanpa desak-desakan berebutan info dari Reijal. " Apa sakit?". Tanya Reijal penuh arti pada Elli yang menyentuh jidatnya. Elli masih dalam pelukannya. Menatap kembali para awak media dengan tajam. " Hei kalian membuat wanita tidak bersalah terluka !! Kalau mau informasi dari aku, yang tertib kalian pernah belajar tata tertib gak??!!!". Menunjuk wartawan dengan wajah jengkel.
" Tenanglah. Dia pasti akan konfirmasi berita yang di isu kan !". Tambah Kris berada di depan Reijal.
" Kalian pulang dari sini, ini rumah sakit !!!! Aku akan mengadakan jumpa pers di Star Cafe jam 9 malam ! Puas kalian ?". Ucapnya angkuh.
Kris hanya menggeleng kan kepala nya. Kemudian kembali menoleh para wartawan. " Apa kalian sedang meliput? Kameranya on?". Sela Kris membiarkan Reijal mengobati luka wanita itu. Jawaban tidak dari awak media membuat hati nya lega. " Maaf, aku sahabat pria di belakang itu dan wanita bernama Fani. Untuk itu aku akan ikut dalam jumpa pers nanti malam. Ada hal yang ingin ku sampaikan !". Tungkasnya tegas.
" Kalau perlu siarkan live. Aku tidak peduli !". Sambung Reijal, membawa Elli masuk kembali ke rumah sakit. Meninggalkan awak media yang sudah membuat hatinya kembali membara.
Mereka berdua sudah sampai di IGD hanya untuk meminta plester luka. Elli di bawa ke ruangan biasa Reijal bekerja di IGD dan duduk di ranjang pasien. Sedangkan Reijal mencari plester luka yang biasa di simpan di kotak P3K.
" Kalau saja Kris tidak teriak. Ini tidak akan terjadi !". Omelnya sendiri. Membuka lemari mencari kotak yang di maksud.
" Beliau teman mu?". Suara Elli mulai terbuka.
" Sahabat ku !". Berdiri di hadapan Elli lalu mengobati luka kecil di jidatnya membuat Elli sedikit meringis sakit. " Diam ! Kalau tidak aku gigit !". Gumamnya fokus pada luka Elli.
Mendengar kata gigit, Elli sudah kesal setengah mati dibuat atasannya. Tapi, kedua bola mata Elli tidak berhenti memandang wajah tampan bos kerjanya sendiri. " Apa lihat-lihat ?!". Ujarnya keras. " Malam ini aku akan menjemputmu jam 7 ikut dalam jumpa pers nanti !!. Gak ada penolakan kalau tidak aku akan menculik dan menjual mu ". Ancamnya pada Elli. Membuat wajah Elli mundur
__ADS_1
Pikirnya, sekedar untuk menemani saja dia akan ikut. Keadaan sudah mulai kondusif, motor pun sudah melaju pelan sambil menikmati udara di sore hari. Elli enggan memegang pinggang Reijal, dia masih kesal ingin dia keluarkan semua keluh kesah hari ini tapi tidak ada gunanya. Pasti dia yang kena imbasnya juga.
Motor sudah di gerbang dan masuk ke rumah. " Ini kuncinya. Awas lu lari ntar malam !". Bernada mengancam.
Elli membuang wajahnya rasa tidak sudi memandang pria yang semena-mena pada dirinya. Masuk ke rumah dengan terus memasang wajah cemberut tanpa salam .
" Non sudah pulang? Mau makan apa ni non, ntar bibi siapin deh !". Goda si Bibi masang senyum manis.
" Gak mood Bi, mana Ayah ?". Tanya Elli menatap tiap-tiap ruang.
" Jemput Ibu. Jadi non makan malam aja gitu. Padahal Bibi sudah siapin kentang goreng sama gorengan sayap ayam, Non. Siapa tahu mau di cemilin?". Gumam si Bibi dengan logat Betawi nya
" Mana? Berikan sama Elli sekarang. Mau di bawa ke kamar !". Suruh gadis itu. Hatinya lagi kacau, jadi butuh hiburan perut dan butuh sendiri di kamar.
Masuk kamar, meletakkan nampan makanan di meja biasa dekat jendelanya. Enggan menganti baju kerja nya. Melempar tas di kasur kemudian makan dengan lahap santapan yang dia bawa ke kamar.
________
Baru saja Reijal pulang dan memasuki ruang tengah, dia sudah dapat sambutan si emak garang di tambah jeweran di telinga nya.
" Hebat ya ! Ngerepotin tetangga sebelah !! Gimana jadinya kalau mereka gak suka. Elli gak bisa jadi mantu ibu !!!!". Omel si Emak.
" Jangan banyak alasan, Ibu sudah usaha-".
Reijal membuka baju nya dan memperlihat luka cakaran yang tertutup. " Ini, lihat apa yang dilakukan wanita yang Ibu suka. Dan tangan ini juga akibat ulahnya !!!". Masih menebar simpati dari Ibu nya.
Bu Linah semakin menarik telinga putranya tersebut. Reijal mengerang kesakitan. " Gak mungkin Elli menyakar kamu tanpa alasan kuat. Pasti kamu sudah buat salah sama dia ya? Jawab jujur !!!". Omel si Ibu lagi.
" Kok Ibu bela dia sih. A-aduhhh Bu lepasin dong, bagaimana mau di jelasin kalau Ibu gini?". Ujar putranya. Akhirnya di lepas sang Ibu." Dia akuuuu-". Melirik si Ibu dengan mata genit. Alis seolah di naik turunkan.
Bu Linah awalnya tidak mengerti. Tapi lama-lama mengerti juga. " Ja-jadi ka-kalian?". Cengar-cengir melihat anaknya dan Reijal malah membalas dengan senyum juga. Kambuh sudah penyakit anak dan Ibu. " Oke, besok Ibu siap-siap melamar Elli. Kamu libur kerja dan-". Bu Linah mundar-mandir di depan Reijal.
" Bu tenanglah, itu nanti Ibu pikirkan. Sekarang Ibu bantu aku telepon Paman Han aku mau adakan jumpa pers disana untuk klarifikasi masalah Fani !". Jelasnya menghentikan aksi si Ibu.
" Itu sih gampang. Tapi cerita kan pada Ibu, kenapa Elli semarah itu sampai anak Ibu yang ganteng ini di cakar?". Menyentuh kedua pipi sang Anak.
Tidak di sahuti. Malah Reijal memonyongkan bibirnya memberi kode pada Ibu dan berlari ke kamar atas. Wajah Ibu mulai senang. " Awas kamu ya, kalau anak orang kenapa-kenapa. Ibu nikahi kalian berdua !". Teriak Beliau tapi Reijal malah tidak peduli kemudian masuk kamar.
____________
__ADS_1
Jam 7 Reijal sudah siap dengan rapi dan pastinya Tampa paripurna. Menunggu Elli memasuki mobilnya. Ketika berjalan memasuki mobil, mata Reijal terbelalak. Bukan karena Elli begitu mempesona.
Apa anak itu gila? Kaos dan celana training SMK nya yang dia pakai ! Reijal
" Hei bodoh ! Kamu kira aku mau ngantar anak sekolahan darmawisata? Apa-apaan baju itu ?". Ucapnya kesal dan enggan menyalakan kendaraan nya.
Elli terheran dan terus melihat pakaian nya. " Kata kamu aku sekedar menemani. Ya sudah gini aja gak masa-". Pembicaraan itu terhenti akibat Reijal kembali berulah. Mengigit bibir bawah Elli.
" Ganti !!!!". Bentak si Reijal sampai teriak didalam mobil, sudah hobinya memang.
Pasrah dari pada telinganya meledak. Wajah cemberut membuka pintu. Belum lagi gigitan terus di layangkan bos gilanya itu.
Pakkkk !
Elli sekuat tenaga membanting pintu mobilnya.
Mampus Gila tu dokter ! Sudah sembarangan nyium. Sekarang nyuruh-nyuruh ganti baju ! Gak ada lembut-lembut nya !!!! Elli
Apa tadi aku main nyosor sendiri? Astaga diriku sudah gila !!! Hentikan ini, tubuh ku sering bergerak sendiri ! Reijal
Apa yang dilakukan nya selalu dirinya sendiri protes. Waktu sudah lebih dari 15 menit. Elli pun keluar dengan tampilan maksimal menjauhi teriakan si Dokter Tarzan.
Kedua kalinya mata pria di mobil ini terbelalak besar melihat sosok Elli berjalan memasuki mobilnya. Kali ini penampilan nya sudah sempurna. Kedua hati kian berdebar.
" Gitu dong ! Jalan sama aku jangan jelek-jelek sudah jelek juga malah nambah jelek nya. Setidaknya rapi, dandan. Biar kamu juga bangga jalan sama aku, ka-". Melirik Elli. Tampak mulut Elli komat Kamit tidak jelas mengikuti Omelan Reijal, sampai bibir maju ke depan ,lidah keluar dan semacamnya. Begitu kesal yang dia pendam. Namun pandangannya fokus ke depan.
Dia kira dandan gini gampang apa? Ayah sampai shock melihat ku apalagi Ibu ! Dia kira aku mau ke kondangan ! Menyebalkan. Elli
" Hehhh !". Teriak Reijal membuat Elli terlonjak melirik pria yang lagi marah. " Apa maksud mulut mu? Mengolokku? Hebat bener !!!". Omel nya memajukan wajah terus di depan Elli.
" Ti-tidak !". Ungkapnya gugup.
" Tanggung jawab ! Mana lidah mu itu !".
Mulai lagi deh gila nya . Elli
Kali ini Elli menolak untuk tidak mengeluarkan lidahnya lagi. Pasti di gigit pria gila di hadapannya. Meskipun kepala nya terus maju membuat Elli sudah mentok termundur dan bersandar di kaca jendela mobil.
Kecupan sekali mendarat dengan cepat nya. Muachh !!! Namun sayangnya, punggung tangan Elli lah yang dia kecup. Karena spontan saja Elli menutup bibirnya sebelum hal gila di lakukan bos nya.
__ADS_1