
___________
Kiki bersama Rio sang adik sepupu menolong Ana. Kejadian dramatis tersebut berlangsung begitu cepat. Pengeroyokan terhadap Ana sudah usai di bekuk polisi. Tempat persembunyian berhasil ditemukan tidak lama saat Rio datang menghampiri Kiki. Beberapa orang mencoba melawan tapi bagaimana bisa melawan para aparat di hadapan sendiri.
Ucapan syukur berlimpah atas Maha pencipta mendengar doanya. Kiki mendekat pada gadis yang penampilannya sudah berantakan. Bendungan air mata sejak tadi terus banjir membasahi pipinya dan getaran bibir mulai terasa sangat berat. Ana menyaksikan para penyiksanya di amankan dan entah dibawa kemana, dia tidak peduli.
Karena sejak kejadian itu. Rio sudah merekamnya dari luar seluruh wajah pun terlihat jelas dari sudut jendela luar saat keduanya sedang mengintip. Kiki sempat gegabah namun berhasil dihentikan Rio dengan tarikan baju. Tidak lama setelah itu, Kiki menerobos karena tak tahan mengamati air mata gadis yang dia sangat sukai itu keluar berjatuhan.
" An, tenanglah. Kamu sudah aman". Ucap Kiki dengan suara lemah lembut, ketika kain terikat dia buka cepat.
Tatapan sepasang bola mata coklat begitu dalam, ada ucapan syukur begitu banyak tersirat dari sana. Pelukan hangat Ana sudah mendekap tubuh Kiki yang tinggi, tangisan sudah terdengar begitu nyaring. Pria berbaju coklat itu menenangkan nya, mencoba menyapu pelan punggung belakang Ana secara lembut. Layaknya sedang berkata, tenang lah aku ada disini.
Dalam ruangan redup itu, masih ada cahaya yang tersisa. Sejak tadi Rio ada disitu menyaksikan mereka berdua yang satu menguatkan satunya.
" An, baju mu?!". Ucap Kiki
Kiki sungguh-sungguh amat emosi, beraninya orang-orang bejat itu menyentuh seorang Ana. Pelukan belum juga dia lepaskan, karena Ana tahu sobekan itu tepat didepan tubuhnya. Dia malu, dia begitu malu menunjukkan kekacauan dirinya saat ini.
" Ki. Ayok !". Rio berkata untuk pergi dari sana.
" An, coba lepas sebentar saja?". Kiki mendorong pelan tubuh Ana yang segera cepat dia tutup dengan kedua tangan yang menyilang didepan dadanya. Kiki menunduk dia tahu wanita pasti akan malu tubuhnya terekspos.
Satu persatu kancing baju sudah dia lepas, Kiki tidak menggunakan jaket atau jas. Hanya baju kemeja berwarna coklat sama dengan baju Ana yang sudah sobek dimana-mana. Kemeja berlengan panjang sudah dia kibas kan ke tubuh Ana, setidaknya itu bisa menutup bagian yang tidak untuk di umbar.
" Kak Ki-kiki, nanti dingin ?". Kata Ana masih terdengar sisa-sisa suara tangisan di bibirnya yang bergetar laju.
Sama sekali Kiki tidak menjawabnya karena pikiran itu penuh dengan berbagai adegan tidak bermoral pada Ana. Tubuh Ana yang berhadapan dengannya, segera dia dekap sangat dekat. Meletakkan kedua tangan gadis tersebut melingkar ke lehernya hingga kepala Ana sudah bersandar di pundak nya. Kiki mulai berdiri pelan sambil mengangkat tubuh Ana pelan sampai kedua kaki bergantung di sisi kanan kiri Kiki.
Sambil memegang tubuh Ana, dia melangkah maju. Bagaikan seorang pahlawan yang rela telanjang dada hanya untuk si gadis berbaju sobek. " Maaf, aku mengendong mu tanpa ijin. Diam ya, kita akan pulang !". Bisik Kiki.
Ana menutup wajah merahnya dengan terus menempel pada bahu Kiki. Dia malu, dia sedih dia juga tersakiti tapi entah kenapa perkataan dari Kiki yang selalu dia panggil Kak begitu menenangkan batinnya yang hancur. Berjalan bersama Rio, sang sepupu hanya menghela nafas pendek berjalan di belakangnya.
__ADS_1
Kiki yang selalu bercanda dan mengeluarkan lelucon tidak jelas mulai berubah malam ini, diam dengan tatapan tajam membuat orang-orang yang memperhatikan mulai menunduk kepalanya. Mempersilahkan Kiki dan pria polisinya itu berjalan melewati para tamu.
Kak Kiki ? Ana
Langkah kaki sudah berhenti didepan parkiran mobilnya. Kendaraan polisi sudah tidak ada disana. Baguslah, kalau tidak Kiki pasti akan menghantamkan semua orang yang terlibat dalam penyiksaan Diana. Rio pamit pulang dan mengurus sisanya untuk sang Kakak. Memberikan tas kecil yang dia temukan di ruangan tadi, itu adalah tas Ana.
Bayangan Rio bersama motornya telah pergi melaju. Kiki masih mengendong Ana dengan manisnya. Membuka pintu mobil sambil terus menahan tubuh Ana takut terjatuh. Kiki sudah mendaratkan tubuh Ana di bangku depan tepat disampingnya.
Ketika Ana menoleh, entahlah itu wajah yang tidak dia kenali. Itu bukan Kak Kiki yang dia kenal. Tidak ada senyum di raut wajahnya. Tidak seperti biasa, hanya terlihat cukup dingin dan kaku. Bagaimana bisa seorang penuh candaan berubah secepat itu, pikir Ana.
Kiki sudah duduk di bangku dan menyetir pelan. Sungguh Ana ingin menegur tapi hatinya tidak enak. Tubuh Kiki memang sangat ideal tapi tetap saja dia harus menahan angin. Apalagi keempat jendela tidak dia tutup. Mata nya sembab dan bengkak belum lagi luka di pelipisnya masih tersisa darah.
Mobil masih melaju dijalan besar. Ana binggung harus melakukan apa kali ini, orang-orang di lampu merah menyaksikan tubuh Kiki terbuka dan dirinya berantakan. Pasti seluruh mata itu memandang mereka lagi bertengkar hebat. Entahlah, pikiran negatif semakin menghantui kepalanya.
Beberapa menit, mobil berhenti. Tapi bukan berhenti didepan apartemen Kakaknya melainkan disebuah toko baju. Lagi-lagi Ana binggung, itu bukan toko baju cowok melainkan cewek. Kiki bahkan tidak malu memperlihatkan dadanya malahan Ana yang sangat malu. Tidak lama dari itu, Kiki sudah kembali dengan tas belanjaan di tangannya. Namun tubuhnya masih saja terbuka.
" Kak, kakak ngapain?". Gumam Ana pelan melihat Kiki sudah menyalakan mesin mobil.
" Em". Menoleh. " Ini nanti pakailah". Kiki menyodorkan tas belanjaan ke Ana.
" Kamu ganti di rumahku saja. Aku akan cerita nanti ke Gara soal ini. Tenanglah, aku tidak ada niat macam-macam sama gadis yang ku sukai !". Jelasnya begitu tegas.
__________
Dalam Apartemen tidak begitu luas. Rizky Alatas alias Kiki sudah mempersilahkan Ana untuk membasuh dirinya di kamar mandi. Sedangkan dirinya duduk menyandarkan kepala. Isi kepala yang masih saja belum tenang, kepalan tangan semakin erat. Beberapa detik saja dia tepis.
Perutnya masih belum terisi apalagi Ana. Mau masak pun mungkin tidak akan sempat. Jam segini dia memesan makanan cukup banyak dari ponsel canggihnya. Ketika makanan sudah sampai, Ana juga belum keluar dari kamar mandi. Lebih baik dia menyiapkan di meja makan dan mengganti baju cepat.
Duduk di ruang makan yang tanpa partisi yang berdekatan dengan dapur kecilnya. Dia sudah duduk disana menunggu gadis itu selesai membasuh diri.
Suara pintu kamar mandi terdengar membuat Kiki terlonjak kaget dari lamunannya. Melihat Ana berdiri mematung disana. " An, kita makan dulu ya ". Kata Kiki.
__ADS_1
Keduanya makan dengan lahap. Ana melirik ke pria didepannya ini yang sangat lahap dan laparnya. Hatinya bersyukur ada orang yang baik padanya. Kiki pun melirik saat Ana masih asik menyantap makanan didepannya. Ada doa dari matanya, doa yang dia panjatkan untuk terus memberikan rasa aman dan bahagia untuk Ana. Meskipun melewati rintangan begitu berat.
Selesai makan dan membersihkan nya. Kiki sudah menyiapkan kotak obat untuk mengobati memar ditubuh Ana hingga kakinya. " Tidurlah. Besok pagi-pagi aku akan antarkan kamu ke rumah !". Ucap Kiki masih fokus dengan perawatan luka di kaki Ana.
" Makasih Kak sudah baik padaku. Maaf kak, belum bisa membalas perasaan kakak yang tulus !". Ucap Ana pelan.
Kiki masih senyum padahal dia tahu hatinya masih sakit mendengar pernyataan Ana. Cinta yang terus bertepuk sebelah tangan. " Gak papa,An. Aku di dekatmu saja sudah senang !". Balas Kiki yang terdengar sangat tulus ditelinga Ana.
Dia tahu, keduanya tahu kalau Ana masih belum diijinkan mengenal pacaran dari kedua orang tua nya. Entah apa penyebabnya, Ana tidak bertanya dan cuma mengiyakan saja agar orang tuanya tidak khawatir. Sang Kakak juga sangat menjaganya hingga sekarang di kampus, Ana sudah bisa mulai mengenal teman yang baik.
" Kakak pasti akan dapat kekasih yang baik dari pada Ana. Dan wanita itu pasti sangat beruntung,Kak. ". Ujar Ana.
Kiki sudah selesai lalu duduk bersejajar pada Ana dan mencoba memandang wajahnya. " Amiin. Dan gadis beruntung itu, cuma kamu. Aku akan menunggu !". Kata Kiki lalu menghilang pergi meletakkan kotak obat.
Ana telah terlelap dalam balutan selimut tebal dan kasur putih yang luas milik Kiki. Ana sudah masuk dalam mimpi indahnya dan ini sudah jam 10 malam. Dirinya masih duduk di sofa menunggu seseorang datang berkunjung yang sejak tadi dia tunggu.
Sesaat pintu terbuka, kedua tamu terhormatnya sudah tiba yang satu berwajah panik dan satu tampak diam kaku entah memancarkan perasaan apa. Gara dan Rio datang bersamaan kedalam apartemen Kiki.
" Mana Ana? Dimana?". Kata Gara mencari adiknya.
" Gara tenanglah, dia tidur. Aku tidak aneh-aneh. Aku tidak setega itu kali. Duduklah . Sepupuku akan menjelaskannya !". Ucap Kiki berkepala dingin.
Ketiga pria muda tersebut sudah duduk manis di sofa depan. Kiki duduk bersebelahan dengan Rio yang masih saja menggunakan seragam kerjanya. Kiki tidak menjelaskan secara detail hanya bukti rekaman diambil Rio telah menjelaskan semuanya. Seorang Kakak yang amat menyayangi adiknya pasti sangat marah. Sangking emosinya, dia berani bilang untuk menghukum mati pada orang didalam video tersebut.
" Gara. Mereka sudah di amankan. Terserah Ana mau bagaimana nanti pada mereka. Ana yang memutuskan. Kita hanya sebagai saksi ". Jelas Kiki
" Kak tenanglah. Kami sudah mengamankan mereka. Tidak ada lagi yang membully nya. Karena otak dari semua telah di tangkap !". Jelas Rio. Entah dia berbicara pada siapa nya kakak iparnya.
" Makasih Ki sudah menjaga Ana. Sejak dia keluar dari rumah, aku begitu khawatir. Aku sudah melarangnya tapi dia tetap kekeh melawan semua lukanya !". Menatap Kiki, baru kali ini Kiki melihat sahabatnya itu menangis. Sungguh, dia menyayangi Ana lebih dari dirinya sendiri yang hanya bermodalkan usaha.
" Tenanglah. Aku sudah berjanji menjaganya kan? Jadi apa ini masuk dalam penilaian mu untukku sebagai calon ipar mu?". Gurau Kiki.
__ADS_1
" Asem ! Sempat-sempatnya minta restu. Dasar kerupuk peyek !". Ketus Gara.
" idih, lu tu botol bekas !". Balas Kiki.