
"Mutiara..."
"Ya, bu?"
"apa kamu punya masalah dengan dewa?"
"mana mungkin, Bu!" celetuk alda
"kenapa kamu berkata begitu, Alda?"
"Ya, karena mutiara kan anak baru disini . dan dia baru berteman dengan kita, termasuk dewa. jadi, mana mungkin mutiara ada masalah dengan dewa yang baru dikenalnya? saya rasa, dewa nya saja yang sok. mentang-mentang siswa teladan dan pintar, jadi seenaknya saja menghina orang lain!" tutur alda.
"ibu tahu siapa dewa, alda. dia bukan tipe anak yang seperti yang kamu tuduhkan. katakan yang sebenarnya, ada apa sebenarnya antara kamu dengan mutiara, dewa? sehingga kamu dan mutiara menyimpan perseteruan?"
"lebih baik ibu tanya saja sama dia, Bu. sebab kalau saya yang menjawab, nanti teman-temannya menilai saya mengada-ada."
"Mutiara..."
"Ya, bu?"
"tolong jelaskan pada ibu, ada apa antara kamu dan dewa sebenarnya?"
Dengan kepala menunduk, akhirnya mutiara menceritakan apa yang sebenarnya terjadi antara dia dan dewa, sehingga akhirnya kini terjadi hal seperti itu.
"sungguh saya tak bermaksud menyinggung perasaannya, Bu. wajarkan kalau saya menanyakan hal itu pada orang yang belum saya kenal?" kata mutiara berusaha membela diri.
"Ya! kamu benar, tiara!" sambut julie.
"sebagai seorang perempuan, kita memang harus ekstra hati-hati pada cowok yang pura-pura bermaksud baik. padahal di balik kebaikannya, tersembunyi niat yang buruk!"
"Julie! kamu tidak boleh bicara seperti itu!" tegas wali kelas. "ucapanmu bukan membuat baik suasana, justru akan semakin memperburuk keadaan saja."
__ADS_1
julie terdiam.
"ibu sudah mendengar mengenai sepak terjang kamu dan teman-temanmu yang bergabung dalam kelompok cewek anti cowok. selama ini pihak sekolah masih mentolelir sepak terjangmu. karena kami menilai masih dalam batas wajar. tetapi kamu sudah kelewatan, maka jangan kira pihak sekolah tidak akan bertindak. kamu mengerti, Julie...?"
"mengerti, bu."
"kembali pada kamu berdua, dewa dan mutiara. kini kalian sudah sekelas, maka lebih baik saling memaafkan dan lupakan kesalah pahaman di antara kalian."
"ya, bu..."
"ya sudah, ibu rasa cukup perkenalannya. kamu boleh duduk kembali ketempatmu, mutiara."
"terimakasih, bu."
mutiara pun meninggalkan depan ruang kelas, menuju bangku dimana dia akan duduk. saat itu, matanya kembali beradu pandang dengan dewa. ingin sebenarnya mutiara tersenyum, namun karena dia melihat dewa menunjukkan wajah tak bersahabat, akhirnya mutiara mengurungkan niatnya itu. mutiara balas menunjukkan wajah yang serupa pada dewa. rupanya kamu mengajak perang, dewa. baik kalau begitu maumu, akan aku ladeni! tegas mutiara dalam hati. dia merasa tak takut, karena toh mutiara memiliki teman-teman yang siap akan membantu dan membelanya.
"ya sudah, sebentar lagi pelajaran pertama akan dimulai," kata wali kelas. kemudian dia pun meninggalkan ruang kelas. tidak lama kemudian setelah wali kelas keluar, guru KIMIA pun masuk kek kelas itu.
"pagi, pak...!" sahut para siswa siswi
"bagaimana kabar kalian hari ini?"
"baik pakkk....."
"syukurlah.... itu berarti kalian siap untuk mengikuti pelajaran yang akan saya sampaikan. Oh ya, disini ada siswi baru, kan?
"Ya, pak."
"kalian sudah berkenalan?
"sudah pak..."
__ADS_1
"bagus. semoga kalian bisa bekerjasama. namun tentu saja kerjasama dalam hal kebaikan, bukan dalam hal mencontek yaa..."
"ya pakk.."
"mana siswi barunya?"
"saya pak. " mutiara mengangkat tangan kanannya.
"siapa namamu?"
"mutiara pak."
"Mutiara..."
"ya, pak?"
"semoga kamu bisa mengikuti pelajaran yang saya berikan. "
"saya akan berusaha, pak."
"bagus! mari kita mulai pelajaran kita hari ini anak-anak..."
Guru KIMIA pun kemudian menyuruh para siswa untuk mengeluarkan buku panduan siswa. lalu menyuruh mereka membuka halaman yang akan mereka bahas. setelah itu, guru pun menerangkan materi yang ada, sementara para siswa berusaha mendengarkan dengan seksama. sehingga kalau waktu guru bertanya, mereka tidak kebingungngan seperti kambing congek.
.
.
..
..
__ADS_1
...