
__________
Dari sudut depan tenda berdiri. Ada sosok pria bersama rekannya duduk menunggu seseorang. Gara masih gelisah menunggu kedatangan Elli, komunikasi disini tidak bisa mengunakan apa-apa kecuali doa. Dia tahu bersama seorang tentara Elli akan aman namun dia tidak bisa membayangkan kalau hati seorang Elli merasa nyaman dengan orang tersebut. Bisa-bisa usahanya akan sia-sia disini.
Gery sudah merasa salah melangkah. Dia menyesal tidak ikut dengan Elli tadi, dia malah menghilang menuju tempat Gara berada untuk menghentikan wanita itu pergi. Hari juga sudah mulai gelap, kecemasan semakin menganggu batin kedua pria tampan yang masih berdiri didepan tenda.
Sementara itu Fikran cukup menghela nafas pada kedua aksi temannya. Sebagai teman dia tidak tahu harus melakukan apa selain pasrah dan berdoa Elli segera pulang. Kalau tidak kedua orang itu akan gila, terus berpikir tidak jelas.
Di sisi lain, Sinta dan Alya mendapat giliran mandi bersama. Keduanya belum juga berbicara masih nampak diam-diaman meski tubuhnya tidak begitu jauh.
_______________
Dorrrrrrrrr !!!!!!
Tembakan begitu melayang jauh dari dalam pos keamanan. Peluru tersebut hanya mengenai pijakan tanah bukan pada Pak Mukhlis. Aksinya telah ketahuan Dimas dan Pak Herman, begitu cepat dia berlari menjauh dari sana.
Namun Pak Herman sudah melaporkan buronan tersebut ke polisi lain disekitar desa. Pak Mukhlis adalah salah satu buron yang dicari aparat polisi. Dia bukan penjahat kelas kakap melainkan dirinya sudah mencuri berbagai jenis hewan di desa yang dia bawa lari entah kemana. Sapaan beliau di desa lain adalah Pak Muy, dia sudah merajalela ke sana kemari mencari nafkah dengan cara tersebut.
Sebelum peluru melayang tepat di tanah berpasir itu, Elli hanya bersantai membayangkan alunan musik di kepalanya. Sambil bersenandung riang di dalam mobil. Tidak ada yang bisa dia kerjakan didalam hanya duduk diam dan mencari cara mengisi kebosanannya.
Namun hal tidak diinginkan terjadi tepat hari ini, didepannya. Asik sekali dalam alunan musik terbang di kepalanya. Ada suara gedoran dari balik jendela mobil yang tertutup. Suara gedoran itu sangat terlihat keras membuat dirinya enggan membuka. Wajah pria paruh baya yang dia kenal begitu dekat pada matanya seraya menodong sebuah pisau dari luar.
Segera saja dengan cepat Elli menyalakan mobil. Kepanikan membuat diri tetap stabil. Entah orang tua itu berbicara apa, suaranya sangat tidak jelas ditelinga Elli di tambah gaduhnya kaca mobil. Teriakan mulai histeris. Jari tangan saja sudah gemetar tidak jelas hingga tubuhnya terikut.
****** Gila, Ya Allah tolong aku ! Gery bantu aku !!!!!! Elli
Doa terus dia panjatkan didalam mobil. Orang tua tersebut masih berbuat nekat berusaha membuka pintu mobil Elli. Sekilas melihat tombol klakson mobil, secepat kilat telapak tangan yang melebar sudah mendarat di sana sampai suaranya mulai riuh.
Untung Dimas dengan sigap menolong Elli. Sayangnya Pak Mukhlis sudah berlari menjauh dari tempat Elli bertengger.
" Eh, kenapa aku disini?". Ujar Gery. Melihat dirinya muncul di kawasan tidak dia kenali. Melihat sekitar dengan mata yang terbuka lebar.
" Dokter, kamu gak papa?". Dimas sudah berada di depan pintu mobil. Meletakkan kembali pistol nya.
Elli?? Gery
Pintu mobil terbuka. Tampang nya memang panik tapi dia bersyukur orang tadi tidak sempat berbuat apa-apa padanya. Keluar dari mobil dengan pelan. Menarik nafas panjang lalu dihembuskan untuk menetralkan seluruh kepanikan tadi.
" Maafkan aku, aku memberi tumpangan pada penjahat. Dia pencuri yang dicari polisi". Gumam Dimas melirik Elli tersungkur lemas.
" Eh, pencuri? Elli?. Dimana? Jangan-jangan orang yang berlari tadi ?". Gery melirik kebelakang. Mengingat sedikit ingatan yang secara tiba-tiba dia kesini. Berpasan dengan pria paruh baya dengan baju kumalnya berlari compang-camping tidak jelas. " Aku akan selesaikan". Gery pun menghilang lagi.
__ADS_1
Kemudian muncul kembali entah bagaimana caranya hanya dia yang bisa melakukan layaknya sulap. Melihat pria tersebut bersembunyi di balik rumah kosong tidak terpakai. Gery berdiri didepan rumah berbahan kayu, melihat sosok pria membawa karung goni memasuki rumah tua didepannya.
Langkah kaki yang sudah berpijak pun dia mainkan dengan pelan mendekat dalam rumah tua yang dimasuki Pak Mukhlis. Apa yang sudah dia saksikan dalam rumah itu, dari diluar memang terlihat tak layak dihuni. Saat dirinya bisa menembus dinding disana, dia mengamati banyak hewan berkumpul dengan posisi merebahkan diri di lantai rumah.
" Sial sekali hari ini. Aku tidak tahu wanita itu bersama tentara, kalau tidak aku sudah berhasil mengambil perhiasan dan kameranya. Lumayan menghasilkan uang !". Tukasnya yang tak sadar rencana busuk itu didengar oleh Gery. Dia juga tidak sadar kalau Gery sudah memperhatikan dirinya.
" Oh dia pencuri?". Ucapnya geram. Gery dengan hati-hati mencoba mengangkat karung didekatnya. " Aku yakin, Elli memangil ku ke sini !". Kata Gery Mahesa yang percaya dirinya bertambah. Apa yang membuat dia tersenyum melebar begitu kalau bukan dia berhasil menyentuh karungnya.
Gery sengaja mendekat dan menghampiri pria yang lagi duduk sambil mengibas-ngibaskan topi nya untuk menghasilkan angin. Karung itu sudah dekat depan mata Pak Mukhlis, sesaat di hadapkan dengan karung yang berjalan namun bergantung. Dirinya bergetar ketakutan. Sedangkan orang yang mengerjai nya malah tertawa terbahak-bahak.
" Si-siapa kamu?". Ucapnya gelagapan. Sambil terus memundurkan diri. Hingga tubuhnya mulai bergetar saat berdiri bersandar di dinding kayu jabuk itu.
" Rasain ! Berani banget sama hantu ganteng !!". Gurau Gery masih memegang erat karung yang dia gantung-gantung dan memainkannya.
Terlihat si pria paruh baya dihadapannya ketakutan. Berjalan pelan bersandar di dinding rumah. Sampai keadaan tubuhnya diujung dekat pintu. Tanpa sadar, Pak Mukhlis keluar berlarian.
Jlebbb !!!!!
Sangat tidak beruntung. Dia berlari keluar dan sialnya berpasan dengan para polisi yang berlari mencari keberadaan nya. Berlari hanya dua langkah saja tangan sudah diborgol dengan cepat. Gery terlihat dari luar rumah tua itu lagi cekikikan tidak bisa menahan lucunya ekspresi orang takut. Entah takut sama hantu atau sama polisi.
Sementara itu di tempat Elli bersama Dimas. Elli masih saja cemas duduk didalam pos polisi. " Dokter, tenanglah. Minum dulu !". Memberikan botol minum pada Elli.
" Em. Makasih !". Balas Elli mengambil pemberian Dimas dan langsung dia teguk sekali saja. Antara haus atau memang sekedar melegakan tenggorokan yang kering.
Rasa lega mulai menjalar dalam benaknya. Namun masih saja takut melihat wajah orang itu. Apalagi saat tahu kalau si pelaku mengincar perhiasan di telinga dan gelang emas yang Elli gunakan. Bersama benda canggih yang tak sengaja Elli perlihatkan dalam mobil.
___________
Pukul 6 lewat. Elli bersama Dimas makan di warung kecil, masih dalam kawasan kampung tadi. Dengan Gery duduk manis bersebelahan dengan Elli yang makan begitu lahap.
" Tampangnya sudah bisa aku baca, makhluk yang begini ini mulai menyukai cewek didepannya !". Kata Gery tidak suka menatap Dimas yang selalu mencuri pandang pada Elli.
" Pulang malam apa gak papa? Aku takut di tegur sama komandan mu !". Tanya Elli .
" Tidak. Justru kalau ada masalah disini aku harus ikut serta membantu. Apa kamu masih takut dengan kejadian tadi?". Menyudahi suapan makan ke mulutnya.
" Em. Iya ! Tapi gak papa, beruntung ada Pak polisi sama kamu disini. Jadi desa ini aman !". Jawab Elli tanpa melihat raut wajah senyum dari Dimas. Gery mau muntah mendengar dan melihat tampang pria tentara tersebut. Pasti dalam hatinya dia bangga, Elli mengucap namanya.
" Padahal aku yang menangkap penjahat itu !". Tambah Gery menunjuk dirinya sendiri. Meskipun tidak ada satupun menyaksikan aksi heroiknya.
Beberapa menit, makanan sudah selesai dihabiskan. Berjalan menuju mobil yang terparkir depan warung. Duduk manis sambil menikmati jalanan yang akan dilalui begitu gelap. Pertama kalinya dia menjelajahi hutan malam-malam. Biasa ketemu mayat di rumah sakit tidak setakut ini.
__ADS_1
" El, apa kamu mau mendengar ceritaku? Biar kamu tidak melamun". Kata Dimas masih memegang kemudi
Menoleh. " Cerita apa?". Balasnya balik.
" Tahu gak di kampung ini ada cerita lucu. Serius mau dengar?". Candanya
Mengangguk berkali-kali sambil meraih cemilan di tengah mereka berdua.
" Modus ni !". Oceh Gery masih geram. Hatinya belum menerima kalau tentara itu menjadi kekasihnya Elli.
" Dulu di kampung ini lahir cewek bernama Merlin. Disisi lain lahirlah seorang cowok juga bernama Laung. Entah bagaimana ceritanya mereka menjadi teman masa kecil yang amat bahagia. Bermain bersama, tertawa bersama. Pokoknya selalu bersama sampai Laung selalu nginap dirumah Merlin untuk tidur bersama".
" Lalu?". Elli mulai antusias mendengar dongeng malam itu. Gery malah ikut-ikutan. Padahal dia tadi tidak mau terpancing.
" Mereka bersekolah di tempat yang sama. Karena kampung ini hanya sampai SMP, mereka berdua meminta ijin tu sekolah di desa sebelah tapi tinggalnya di asrama ". Dimas menjeda ceritanya. Fokus pada jalanan.
" Lalu apa lanjutan nya?". Ucap Elli balik hingga terus memandangi Dimas.
Menoleh dan tersenyum manis. " Kamu semangat banget dengarnya?". Tanyanya
" Aku suka cerita seperti ini. Pasti entar hidupnya bahagia ya?". Menimpalinya lagi.
" Akhirnya kedua orang tersebut berhasil membujuk orang tua mereka. Dan mereka melanjutkan sekolah ke SMA dan tinggal di asrama yang berbeda. Sejak masuk sekolah, mereka selalu di gosipkan pasangan terbaik membuat orang pada iri !". Saat mata Dimas memandang Elli disampingnya. Entah kenapa, wanita cantik itu begitu sangat ingin tahu ceritanya.
" Apaan lanjutannya. Modus banget lu pisang lembek !". Ketus Gery yang duduk di bangku belakang.
" Saat menginjak kelas 3 dekat ujian Nasional. Keduanya resmi berpacaran karena saling suka. Saat itulah keduanya semakin dekat, dekat banget !".
" Sedekat apa?". Tanya Elli
" Sangking dekatnya, sebelum ujian nasional keduanya mengalami musibah. Merlin tidak ikut dalam ujian. Sedangkan Laung ikut namun cemas. Mereka dilanda kegelisahan tak berujung. Merlin tidak melanjutkan sekolahnya lagi, dia terpaksa pulang kembali ke kampung".
" Kenapa?". Gery dan Elli bertanya bersama.
" Hubungan mereka melebihi batas, Merlin hamil dan anak yang dia kandung adalah anak Laung. Sayangnya Merlin sudah mengandung 3 bulan namun Laung tak kunjung bertanggung jawab. Dia pasrah, dia malu, dia sedih dan batinnya kacau. Terpaksa dia mengakhiri hidup dengan mengubur kan dirinya sendiri didalam tanah bersama anaknya."
" Lalu bagaimana cowoknya?". Ucap Elli.
" Sepertinya cerita ini jadi serem deh !". Ujar Gery mulai merinding.
" Laung pulang membawa kabar gembira dia lulus dari SMA dan mendapat beasiswa kuliah. Kabar itu ingin dia sampaikan ke Merlin yang menunggu. Namun, sampainya di sana. Merlin menghilang tanpa jejak. Beberapa hari kemudian, dia tahu kalau pacarnya bunuh diri. Laung semakin gila, hatinya hancur. Dia pun ikut mengakhiri hidupnya dengan memotong kepalanya sendiri. "
__ADS_1
" Dimas, kok ceritamu jadi serem sih !". Keluh Elli
" Katanya mau dengar. Aku cerita saja. Tapi saat itu, orang kampung ini tidak mau anaknya sekolah jauh-jauh takut kebablasan. Apalagi malam hari kedua keluarga selalu di hantui. Merlin minta di bantu melahirkan. Sedangkan Laung minta bantu mencari kepalanya !". Jelas Dimas tertawa. Sedangkan Elli menutup telinganya dengan erat dan memejamkan matanya.