Malu Tapi Mau

Malu Tapi Mau
MTM #27 Misi 2


__ADS_3

Sepulang kerja, setelah kunjungan teman-teman kerumahnya


______⭐______


Rumah Fikran Mathin~


" Assalamualaikum !". Mengucap salam setelah dia melepaskan sepasang sepatu putih dan meletakkan nya di rak .


" Walaikumsalam Kak !". Jawab Roni yang tidak kelihatan lagi nonton di ruang keluarga.


" Kenapa gak di kamar? Bunda mana?". Berhenti di dekat sang adik kemudian ikutan duduk di sofa. Menghempaskan tubuh .


" Bosan. Bunda lagi ke pasar tadi katanya pengen belanja". Jawab Roni santai memegang remote dan memindah channel tv.


Belum beranjak dari sofa. Karena tergugah melihat beberapa buah di atas meja telah siap di santap. " Dari siapa ini?". Tanyanya sambil mengigit buah apel.


" Teman !". Ujarnya .


Melirik si adik. " idih, bohong. Pasti pacarkan?!". Godanya .


Membalas lirikan tajam. " Sebelum Kak Fikran dapat pacar, Roni ogah pacaran !". Mendongak kesal.


" Iya iya !". Karena malas di sindir berbau pasangan. Fikran pun berdiri, berjalan memasuki kamar dengan tenang.


" Betul yang dikatakan Roni. Kapan kamu mencari pacar?". Gery menyindir Fikran .


Memelas, tampang santai. Mengambil handuk. " Terus kapan kamu latihannya? Sudah berhasil belum nyentuh barangnya ?!". Gumamnya meninggalkan Gery yang masih berdiri tegak. Dirinya berniat ke kamar mandi.


Berpikir, menatap plafon kamar dan memainkan jari di dagunya. " Iya ya, coba ahh !" .


Gery Mahesa begitu fokus berlatih sambil menunggu temannya usai keluar dari kamar mandi. Sesekali dia dapat menyentuh barang tapi gagal. Entah bagaimana caranya, pantang menyerah dalam diri Gery. Demi memudahkan dia menjalankan misi nya.


" Bagaimana. Apa ada kemajuan?". Sahut Fikran keluar dari kamar mandi.


Menghela nafas panjang. " Tidak ! Aku gagal Mulu, gak hanya gagal nyentuh benda tapi gagal menjaga cinta juga iya". Jawab Gery yang kebaperan habis. Gara-gara tidak berhasil.


" Coba deh, pikir dulu. Apa yang membuat kamu tempo hari bisa menjatuhkan buku ?!". Pertanyaan berlanjut. Fikran duduk di depan komputer nya.


Gery terdiam kaku masih berpikir dan mencoba memutar kembali kejadian saat itu di ruangan.


" Latihan dulu sampai bisa. Jangan keluar kalau gak bisa ! Awas aja melanggar !". Ancam Fikran dari balik pintu sedikit bercelah.


Berpasan dengan Bunda yang lagi membawa belanjaan cukup banyak " Sini Bun !". Menawarkan diri membawakan belanjaan. " Banyak banget Bunda belanja. Mau buat acara apaan?". Sindirnya lagi.


" Kan malam ini teman Roni pada jenguk ke sini. Jadi Bunda belanja". Jawab Beliau masih terhias senyum di bibirnya bahkan tidak henti-hentinya.


Maklum lah, saat tahu anaknya ada yang peduli sungguh membuat dirinya bahagia yang bertubi-tubi. Apalagi si Kakak Fikran juga membawa teman kerjanya kerumah. Dan sekarang Roni, anak bungsu nya mengajak teman ke rumah. Sungguh tidak masalah kalau bahan di dapur habis. Dia bisa belanja lagi nanti.


" idih Bunda. Keenakan mereka nanti. Kesini Mulu !". Jawab Roni sewot.


Bunda tidak membalas perkataan anaknya yang asik duduk di atas sofa. Membalas dengan senyum melebar sudah cukup mewakil semua kebahagiaan hatinya saat ini.


" Hem Hem Hem !". Si Bunda lagi bersenandung kecil di dapur sambil membuka plastik belanjaan sayur dan memilahnya.


" Bunda perlu bantuan tidak ?". Tanya Fikran melihat Bundanya.


" Memangnya kakak bisa ?". Tanyanya ragu.

__ADS_1


Fikran tidak menyahuti persoalan bisa atau tidak. Dengan cekatan membantu Bundanya masak. Lumayan tenaga nya berguna sedikit. " Katakan pada Bunda. Di antara kedua wanita cantik itu, apa ada yang Kakak sukai?". Pertanyaan keramat terlontar juga akhirnya.


" Tidak ada ! Semua teman Bun !". Ketusnya santai. Fokus membantu sampai suara pun tidak keluar. Setelah itu, dia meninggalkan sang Bunda sendirian untuk melanjutkan sisa-sisa pekerjaan di dapur. Dan duduk di ruang sofa yang masih kosong.


" Seharian gosip itu-itu aja yang muncul di tv !". Roni berbicara sendiri sambil memegang remote tv.


" Hushh !!!! Anak-anak jangan nonton gosip ! Berita aja, biar nambah wawasan dikit !". Sindirnya pada Roni yang asik.


Ting !!


Dentingan ponsel Fikran di atas meja. Sekilas melihat dari layar ponselnya yang menyala. Ternyata suara notif dari sosial media miliknya.


@tora_ni mengirimkan komentar pada postingan Cerita Anda


Mengambil ponsel lalu membuka komentar yang dikirim untuknya.


@tora_ni : Suka sama hal yang mistis ya? Dari dulu statusnya gitu Mulu deh.


@marvik : Biar beda aja dari yang lain hehe.


@tora_ni : Pasti kamu cowok ya? Gak mungkin cewek, pasti sudah pada takut.


Fikran belum menjawab pesan dari akun tersebut. Dia melayani rasa penasaran nya sedikit, mencari tahu tentang akun yang berkomentar pertama. Ketika dibuka, tidak ada foto terkait di postingan ataupun di beranda nya. Malah foto yang di posting sama halnya dengan Fikran. Kecuali foto profil yang dia gunakan, sayangnya itu menghadap ke  belakang. Jadi tidak kelihatan namun yang pasti dia cewek.


@marvik : Iya. Kalau kamu pasti cowok juga ya? Mana mungkin cewek. Kan mereka takut lihat foto yang serem-serem !.


@tora_ni : Sok Tempe Lo ! Gak semua cewek penakut kali !


@marvik : Wah. Jadi kamu cewek ! Keren dong. Langka banget cewek seperti kamu !


" Assalamualaikum !". Sapa seseorang dari luar rumah alias depan pintu.


Roni menoleh kebelakang. " Loh Bun. Itu mereka sudah pada datang !". Ujarnya pada Bunda.


Membantu Roni beranjak keluar menyambut teman-teman yang datang. Sedangkan Fikran masih bolak-balik menaruh makanan tersebut. Cukup banyak memang Bundanya masak malam ini. Layaknya pesta kecil-kecilan saja.


Lanjut ke ruang tamu menyapa tamu sang adik. Sungguh, para cewek-cewek terpana melihat sosok Fikran yang memperkenalkan dirinya. 2 orang cowok dan 3 sisanya perempuan.


Sebentar saja mengobrol dia ruang tamu, mereka beranjak ke ruang makan . Karena sudah waktunya makan malam. Makan bersama sungguh nikmat. Tidak ada keheningan yang biasa terjadi saat Fikran dan Roni makan malam di kamar masing-masing. Sungguh ini momen langka bagi Bundanya.


Dulu dia menganggap sang anak anti sosial karena terus saja berkurung di dalam kamar. Sekarang terjawab sudah membuat hatinya lega.


" Di antara kalian bertiga, apa ada yang menaruh rasa suka sama Roni?". Kata Fikran sangat ceplos namun dapat balasan tatapan tajam dari adik. Sungguh, sekarang dia pandai mengatur mimik wajah dimana pun.


" Tidak ada kak ! Semuanya berteman kok !". Jawab salah satu cewek di dihadapannya kini.


Cengengesan membuat dirinya tidak sanggup menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya. "Begitu ya. Sering-seringlah main ke rumah. Siapa tahuuuu.....". Goda sang Kakak melirik Roni menunduk dan nampak merah wajahnya. Menggemaskan, pikirnya.


" Kakak !!!!" Gumam Bunda.


Hanya lelucon . Dia sudah pandai mengatur ekspresi wajah. Sudah bisa senyum, marah, kesal, senang dan lainnya. Akibat Gery sering melatihnya tiap hari. Yang biasanya awan hitam selalu muncul dari balik punggung Fikran ditambah gemuruh petir, kini sudah tidak muncul lagi. Dan entah kemana.


Setelah makan malam selesai, mereka berlanjut ke ruang tamu berbincang-bincang biasa. Fikran menuju kamarnya. Dia ingin melihat sesuatu di kamar. Dan semoga itu sudah ada kemajuan yang pesat.


" Bagaimana . Apa ada kemajuan?". Tanyanya dari balik pintu terbuka lebar. Kemudian di tutup rapat.


Melemas dan tidak semangat. " Tidak ada ! Bantu aku dong, Fik ! Kepalaku full mikirin Elli Mulu !". Keluhnya mengusarkan rambut hingga berantakan.

__ADS_1


" Kan sudah ku bilang , kamu harus mikir kejadian tempo hari. Ulang saja, atur mundur memori ingatanmu itu teman !". Jawab Fikran yang duduk di tengah kasur.


Dirinya memerhatikan Gery yang kaki dan tangannya masih saja belum berinteraksi dengan benar selalu menembus benda-benda di sekitar. Tidak ada efek sama sekali. Sungguh melihat nya saja Fikran sudah geram dan gemas, dia juga tidak bisa menyentuh Gery. Jadi kalau kesel ya diam saja dalam hati.


Tidak mau ambil pusing. Kembali mengambil ponsel.


@tora_ni : Biasa aja ! Tidak berharap langka. Malah berharap punah saja !


Fikran berpikir sejenak tentang kata perkata yang cewek itu kirim ke akunnya.


@marvik : Emang nya binatang. Pake punah segala !


@tora_ni : Memangnya kamu tidak pernah merasakan nya ya?


@marvik : Pernah !


" Bantuin dong, Fik ! Malah maini *h*andphone Mulu dari tadi !". Sindir Gery kesal.


Karena itu, Fikran menyudahi pesan tadi. Berlanjut ke hadapannya yang duduk seorang Gery. Masih sana sini berusaha menyentuh sedikit benda. Sungguh melelahkan.


" Buruan ! Aku ngantuk !". Keluh Fikran lagi tengkurap di atas kasur sambil membuka celah sedikit matanya.


" Ini juga lagi usaha, Fik ! Tapi ya, waktu itu aku mudah banget masuk ke dalam mimpi bos mu itu. Tahu gak, sekali aku tekkk gini posisi tempat ku berpijak berubah !". Jelasnya pada Fikran yang sedikit lagi terpejam.


Fikran mengamati sudut ruangan nya. Tidak ada yang berubah sedit pun. " Kekuatan itu tidak berlaku di bumi. Kalau memang bisa, kamu bawa aku ke kutub Utara aja !".


" Jangan mengejek ku ! Kalau pun aku bisa, aku sudah jalan-jalan ke luar negeri. Satu-satunya hantu pertama kali keliling Dunia !". Ucap nya bangga.


Dari detik, menit hingga jam. Semakin malam masih juga nihil. Segala usaha masih di lakukan Gery. Belum juga dia di ijinkan menyentuh benda di sekitar nya. Menyebalkan mata juga sudah tersisa 6 Watt lagi.


" Aku merem dulu ya. Kalau bisa kasih tahu aku !". Memejamkan matanya.


" Fik ! Jangan gitu dong. Bantu aku !". Rengekan melayang ke Fikran yang tengah baring di tengah-tengah kasur.


" Em. 5 menit aja kok !". Alasannya saja itu. Paling tidur nyenyak di mana saja .


Betul mata Fikran sudah tidak mampu. Sungguh ngantuk, pikirnya.


" Oh ya aku tahu !". Pekik nya nyaring membuat mata Fikran kembali terbuka besar. "Fik ! Ayo bangunlah. Aku butuh bantuan mu !". Katanya penuh arti .


" Iya !".


" Aku sudah tahu. Sebelum menyentuh benda itu. Elli bilang ' Gery tolong aku !' seolah-olah kata itu yakin kalau aku ada di ruangan . Itu sebabnya aku mudah menyentuh benda". Jelasnya lagi melihat Fikran tengah ngorok.


" Oh !".Jawab nya singkat padat dan jelas.


" Fik ! Bantu aku. Habis ini aku ada kerjaan. Tolong lah !". Rengek lagi dan lagi. Dia mengira Fikran adalah Maminya mungkin.


Mengucek mata, mengumpulkan tenaga dan jiwa raganya. Kemudian mengambil nafas panjang lalu dia hembuskan cepat. " Ya sudah !". Mengumpulkan kata perkata untuk dia utarakan malam ini.


" Hei Gery Mahesa ! Teman ku sekaligus orang tidak jelas ! Sungguh menyusahkan orang ! Duduk sana berdiri di sini. Melayang ke situ melayang ke sana kemari. Hidup enak banget, tidak makan bahkan istirahat tidur ! Cepat selesaikan misi mu !!! Aku ngantuk mau tidur. Aku percaya kamu bisa !!". Ungkapnya tanpa jeda bagaikan kereta api melaju kencang.


Tringggggg !!!!


Bukan sulap bukan sihir. Dengan mudah saja Gery menyentuh dan mengangkat kamus tebal yang bermiliar-miliar tebalnya. Sungguh keajaiban yang patut di acungi jempol. Mata Fikran membesar dan ngantuk nya memudar dan hilang.


" Yes !!! Aku bisa !". Katanya dengan semangat empat lima. Sungguh kerasukan kegirangan. Mereka berdua sudah bisa bersentuh tangan dan kini malah berjoget untuk merayakan nya sampai saat Fikran pun tumbang.

__ADS_1


__ADS_2