
____________
Tek Tek Tek Tek !!!
Detakkan jarum jam terdengar jelas dari dalam rumah. Hari Minggu ini, si Ibu bersama Bibi di rumah belanja ke pasar Induk yang cukup jauh dari rumah. Beberapa menit yang lalu, Bu Sari sudah mengetuk pintu Elli untuk berpamitan. Dan di sahuti Elli dari dalam bilik kamar.
Dari atas meja sudah siap sarapan lengkap. Ada nasi goreng spesial, ada roti sandwich dan ada sereal gandum yang biasa di makan bersama susu putih ke dalam mangkuk. Kesukaan terhadap produk susu sapi tak lepas dari menu sarapannya.
Jarum panjang jam sudah menunjukkan pukul 9. Karena hari ini pulangnya di jadwalkan jam 12 siang saja jadi di harapkan turun tepat waktu. Dari dalam kamar serba merah muda, sosok wanita dewasa masih tertidur pulas yang wajahnya menggunakan masker. Kepala yang bergantung di tepi tempat tidur begitu pula kaki.
Tringggggg !!!! Tringggggg !!!
Tangan spontan juga refleks mengambil, meraba benda yang masih di atas kasur. Itu panggil telepon, lalu di angkat tanpa tahu siapa yang meneleponnya.
" Ha-".
" WOIIIII kunti !!!! Rapat ! Jam berapa ini?". Suara teriakan dari ponsel membuat Elli terlonjak dari kasur. Di matikan nya begitu saja. Dan bergegas bersiap.
Beberapa hari yang lalu memang sudah ada pemberitahuan kalau ada rapat dari jajaran dokter umum dan bedah bersama para aparat militer Negara di rumah sakit. Dan itu di mulai jam 8 pagi.
_______
Satu jam rapat berlangsung. Dari balik meja, Gara masih terus mengirimkan pesan pada Elli. Rapat bintang lima adalah rapat super penting yang tidak boleh di tinggalkan apapun alasannya kecuali ada surat cuti kepada Dokter terkait. Terlambat atau tidak hadirnya akan di kena kan sanksi tegas pada dokter yang teledor akan waktu.
Gara tahu peraturan itu, bahkan dirinya tidak berkonsentrasi dalam mengikuti rapat. Melirik wajah atasan mudanya tersebut sangat jelas pasti dia menyimpan amarah besar pada Elli nanti. Nada suara nge-bass dan lantang dari pada pimpinan tentara yang juga ikut memaparkan perihal rapat di adakan.
Elli kemana? Gara
" Hei Gery, Elli tidak ada dalam ruangan. Coba kamu susul ke rumahnya. Bisa-bisa dia ketinggalan rapat !". Bisik Fikran pada Gery yang lagi duduk di atas meja dekat dengan Fikran.
" Kirain Elli memang gak ikut. Ya sudah !". Gery menghilang bagai kecepatan cahaya.
Menghilang bisa, nyentuh benda sampai berbulan-bulan baru bisa. Fikran
Kunti itu memang harus di hukum ! Sudah sengaja milih rapat Minggu, biar gak sibuk sama pasien !! Bisa-bisa nya dia terlambat terus menerus. Pasti akibat malam Minggu sama pria itu. Reijal
Reijal melirik tajam raut wajah Gara yang sedetik lagi akan menoleh pada bosnya itu. Tatapan mereka begitu mendalam, Fikran saling melihat kedua pria tersebut. Bagaikan ada Sambaran petir berbeda warna saling beradu kuat.
Yang satu suka tapi malu. Yang satu suka tapi gengsi !!! Fikran
" Dokter Reijal? Bagaimana usul saya. Apa di terima?". Tanya seorang pria berbaju tentara yang duduk di dekat Reijal.
Namanya di panggil malah melihat kesana-kemari karena heran. " Oh, Baik. Saya akan mempertimbangkan usulan Beliau Pak !". Berkata seadanya dari pada ketahuan tidak mendengarkan.
_____________
" Elli di mana?". Kedua mata yang nampak menyapu seluruh sudut kamar Elli. Tapi tidak ada Elli disana. Hanya kamar dengan selimut berantakan.
****** Gila deh hidupku memang teledor habis !! Sekolah gak gini-gini amat deh aku ! Elli
__ADS_1
Stelli Putri Wijaya biasa di panggil Elli umur sudah 25 tahun entah kenapa semakin berumur dia semakin tidak tahu waktu. Dan sekarang sudah siap berbaju dinasnya lagi menyetir mobil sungguh buru-buru. Dengan wajah sudah berhias sederhana. Secepat kilat mandi mengejar waktu.
Tanda lampu merah pun dia terobos dengan mudah bersama kecepatan mobil yang cukup tinggi. Akibatnya dia melakukan pelanggaran lalu lintas dan kebetulan polisi sedang berjaga. Akhirnya Elli dalam pengejaran. Dari kaca spion mobil terlihat motor polisi mengikuti dari belakang.
" Aduh, apalagi sih. Lagi buru-buru ini". Ucap Elli panik menyetir sambil melihat kaca spion nya.
Tak lama polisi berhasil mengejar dan mendahului motor dinasnya didepan mobil Elli. Rem di tinjak sangat mendadak, pertemuan ban dan jalan aspal menimbulkan bunyi cukup menyita perhatian pengguna jalan lain.
Elli panik mencari surat-surat kendaraan mobilnya, takut di pertanyakan. Si pak Polisi menghampiri Elli. Mengawali dengan ketukan kaca jendela yang kemudian dia turunkan. Benar saja Pak Polisi itu meminta menunjukkan surat lengkap.
Elli pasrah, sang bapak polisi juga berbicara bertele-tele akhirnya memakan waktu. Menghela nafas berat, kemungkinan rapat sudah berakhir tanpa hadir dirinya hingga detik terakhir.
Sesampainya di parkiran pas pukul setengah 10 lewat. Merapikan diri, baju dan tas. Semua sudah siap seperti biasa. Meraba rambut sampai ujung. Ada yang aneh. Cermin sudah ditujukan ke wajah Elli.
" AGGGHHHHH !!!! Bagaimana ini bisa terjadi. Sejak tadi rambut ku begini? Pantes saja polisi itu ketawa gak jelas ngasih kode-kode handuk !!". Wajahnya shock berat saat tahu handuk masih menggulung rambutnya yang basah.
Membukanya dengan cepat, membiarkan handuk itu tergeletak di bangku belakang. Menyisir hanya menggunakan ruas jari tangan sendiri. Pasrah kan sudah hidupnya sama yang Maha Kuasa. Rambut masih lembab dan berantakan sekarang dia sudah tidak bisa kembali lagi ke rumah.
Lirik kanan kiri melihat situasi, keluar perlahan-lahan dan berpura-pura menutupi rambut dengan tas di atas kepalanya. Berlari secepat kilat ke dalam lift yang terbuka. Beruntung tidak ada siapa-siapa di dalam.
Di dalam lift hatinya terus berdoa agar tidak berpasan dengan pria yang sudah jadi tetangga nya. Hanya berharap jalan dengan mulus ke ruangan, meminjam hair dryer milik Gara lalu menyerah kan diri untuk di hukum.
_______________
Rapat sudah usai. Reijal dengan senang hati mengantar jajaran Pak Tentara keluar hingga menuju parkiran, tentu saja di temani Rika dan dokter senior lainnya.
Siapa dia? Dia sudah bisa di tebak. Pasti Elli , sempat melirik tingkah Elli sebentar lalu kembali berbincang santai pada tamu rapatnya.
Selesai ini. Akan ku gigit kamu !! Reijal
________
Tak lama dirinya sudah sampai dalam ruangan kerja. Menghela nafas lega sebagai wujud dia bisa berjalan santai dengan rambut acakan begini.
" Elli !!!! Kamu kemana saja sih?". Gara berdiri di depan Elli. Memutar paksa tubuh Elli takut ada lecet.
" Aku kesiangan. Lihat rambutku !" Tunjuk nya. " Pinjam pengering rambut dong !! Keburu bos datang. Tadi sepertinya sempat ketemu !". Ujar Elli duduk.
Gara mengambil barang tersebut, itu bukanlah milik nya pribadi melainkan sang Adik. Katanya untuk berjaga-jaga kalau ada yang kebasahan. Firasat adiknya benar, 2 kali kejadian pada Elli. Yang pasti Gara tidak akan meninggalkan benda tersebut.
" Duduk diam ! Biar aku saja !!". Kata Gara tegas. Mulai mengeringkan rambut Elli. Dia sudah lihai dalam urusan begini dikarenakan memiliki adik perempuan.
" Semoga aku tidak di bunuh sama Bos besar !". Gumam Elli seraya berdoa dan juga pasrah.
" Tenanglah. Kamu harus jujur, kalau dihukum ya jalani aja !". Ketus Gara.
" Aku tahu. Yang lain mana?".
" Di bawah. Aku ke sini nungguin kamu. Aku khawatir, kalau tahu aku jemput kamu tadi pagi !". Gerutunya.
__ADS_1
Ting !
Tetangga gila : KE RUANGAN KU SEKARANG JUGA !!!!!!!!!!!!!
Elli terkaget melihat isi pesan huruf kapital semua, yang jelas dia pasti marah. Berdiri dan meminta Gara menghentikan aktivitas nya. Lagian rambutnya sudah rapi karena dirinya.
" Makasih Gara. Nanti aku traktir ! Aku di panggil !". Elli berlari keluar membawa tasnya juga meninggalkan Gara dan rasa khawatir yang masih membekas.
Aku berharap aku tidak di apa-apain makhluk bumi tersebut ! Elli
Ucapan bismillah sudah keluar dalam hati, membuka perlahan pintu ruangan. Meja Rika terlihat kosong dan rapi. Melewati dan berjalan dengan langkah pendek. Rasa gugup memuncak namun harus berani.
Tok tok !!
" Masuk lah !". Sumber suara dari dalam ruangan.
Duduk manis di depan Reijal. " Maaf Dok, saya terlambat !". Ucapnya menundukkan kepala.
" Kenapa terlambat ?". Bertanya sambil memainkan pulpen warna gold.
" Maaf Dok, saya ke-kesiangan !". Terpaksa jujur.
" Kenapa kesiangan?". Tanyanya lagi
" Saya kecapean Dok. Maafin saya!" Jawab Elli.
" Kenapa kecapean?". Suara mulai tinggi
"Ya?" Elli kebingungan mau menjawab apa. Berpikir saja tidak sempat.
" Kecapean karena malam mingguan? Kamu tahu kan, rapat hari ini sengaja saya pilih waktu yang pas biar gak ganggu waktu kerja !". Melempar pulpen ke atas meja, membuat gugup Elli bertambah.
" Ma-maaf !"
" Karena peraturan, hukuman mu ikut dalam pemberangkatan bersama yang lain. Tidak ada penolakan !". Ucapnya tegas.
" Ba-baiklah Dok !". Gerutu Elli. Wajah ditekuk menggambarkan kalau dia memang sejak tadi sudah pasrah apapun yang diputuskan.
" Dan satu lagi hukuman mu !". Membuat Elli mengangkat kepala dan sejajarkan pandangan ke Reijal. Dia beranjak dari kursi dan nampak menghampiri Elli.
Reijal memutar kursi tempat Elli duduk. Dan membungkuk tubuh agar pandangan mereka sama. Saat kejadian dalam lift masih membekas di ingatan, membuat dirinya seakan harus wajib menjauhi pria bernama Reijal Atmojo.
" Kamu tahu, seseorang harus di hukum karena berselingkuh secara terang-terangan?!". Berbisik pada Elli membuat dirinya merinding.
" Se-selingkuh ?!". Tanyanya binggung.
Hal gila itu tidak dapat terhindari. Meskipun pukulan bertubi-tubi mendarat ke punggung belakang Reijal. Meskipun kaki mungil Elli sudah berontak. Mengerang kecil membuat permainan Reijal belum bisa berhenti.
Beberapa menit berlalu. Tamparan keras ke wajah pria tersebut. " Apa maksud kamu? Apa kamu sudah gila? Aku berselingkuh apa? Kita tidak ada hubungan apa-apa !!!! Jangan sok mengaturku ! Aku muak kalau kamu begini, seperti harga diriku ini rendah. Baiklah kalau memang kamu mau mengirimkan ku sampai Merauke atau ke kutub sekaligus juga gak papa. ITU LEBIH BAIK. PERMISI !!!".
__ADS_1