Malu Tapi Mau

Malu Tapi Mau
MTM #40 Perkenalan


__ADS_3

_____________


Menuju ke ruangan berbeda. Ada satu ruangan terdapat Dokter muda namun cukup berpengalaman. Cantik, ramah dan juga baik. Sejajar dengan para Dokter senior. Kembali ke rapat pertama saat para Dokter baru mengelar rapat. Beliau duduk bersebelahan dengan pimpinan.


Saat dimana Reijal tiba sedikit terlambat. Dialah yang dahulu menjelaskan dan memperkenalkan Dokter rumah sakit. Masih muda tapi sangat dihormati dan disegani. Namanya Sinta Herles spesialis umum, keturunan Inggris campur Indonesia. Tak heran kalau memang wajahnya seperti turis.


Beberapa minggu yang lalu memang tak kunjung terlihat karena mengadakan acara sosial berupa kesehatan di berbagai daerah terpencil. Sekarang dia mendapat informasi kalau ada undangan dari pihak Tentara di perbatasan negara untuk mencari tenaga medis, sosok Sinta sangat antusias.


Tanpa basa-basi dia sudah mendaftarkan dirinya tanpa harus bertandatangan di atas kertas dan sebagainya. Asal membantu orang saja membuat dirinya sangat senang dan menyukai pekerjaan sebagai Dokter.


Wanita bergaya modis di mana saja, berambut panjang tapi terkesan cuek ini bernama Alya Yuan. Putih dan cantik pastinya sebagai seorang dokter spesialis Bedah. Saat beberapa kali operasi bersama Elli. Namun dirinya tidak begitu menonjol layaknya Sinta.


Alya panggilan nya, termasuk dalam daftar Dokter relawan yang akan di berangkat bersama yang lain. Seluruh Dokter menerima dengan senang hati berbeda dengan Alya mengaggap itu hal yang membosankan, jauh dari kota dan tinggal di hutan membuatnya sedikit jijik.


Memiliki kekasih dari seorang pria pengusaha sukses. Karena tes menyatakan dirinya sehat, dia tidak bisa menolak perintah atasan. Kalau menolak dirinya harus mencari pengganti lain. Akhirnya terpaksa menyetujui usulan membuat Alya begitu gila jauh dari kekasihnya.


Dari dalam ruangan sang pimpinan besar. Sudah duduk dua wanita berparas cantik, Sinta dan Alya. Duduk manis sambil mendengarkan arahan atasan yang amat serius. Anggukkan kepala dari Sinta sedangkan Alya mencebikkan bibir nya tanda tidak begitu suka.


" Sinta dan kamu Alya. Rekan kalian dokter muda juga tapi saya yakin mereka hebat seperti kalian. Elli, Gara dan Fikran. Semoga kalian selalu bekerja sama !". Kata Reijal sebagai tanda berakhirnya pertemuan.


" Baik Dok. Terimakasih saya akan berjuang keras !". Ucap Sinta dengan semangat membara.


" Saya juga !". Separuh semangat dan bergantian berjabat tangan pada sang pimpinan terhormat yang sudah dikabarkan gosip miring di dunia Maya.


Saat di luar ruangan. Sinta ingin membawanya bertemu dengan rekan tim saat berangkat. Namun Alya menolak secara kasar. Begitulah sifatnya, terkadang dunia ini tidak melulu di isi orang dengan ramah dan baik hatikan.


" Malas. Buang-buang waktu. Aku ada janjian sama pacarku !". Ujar Alya melepas pandangan ke arah lain.


" Baiklah. Sampai bertemu lagi Dokter Alya. " Gumamnya masih senang. Berjalan menuju ruangan Dokter Daniel sambil tersenyum kecil.


Saat hendak mau memasuki ruangan. Terlihat Elli dan yang lain keluar bersamaan. Karena jam makan siang, mereka janjian makan di luar kantin.


" Selamat siang !". Sapa Sinta ramah dan menunduk kan kepalanya membuat orang didepan binggung sedangkan Fikran ikut menunduk.


" Si-siang !". Elli menjawab heran .


" Selamat siang juga Dokter Sinta Herles." Jawab Fikran dengan sopan.


" Suaramu seperti ku kenal?". Menunjuk Fikran yang berdiri di sisi Kiki.


" Dia Fikran,Dok. Yang itu keluar awan hitam sama geledek !". Sambung Kiki


Lirik bawah hingga atas. " Kamu berubah cakep banget ya ". Balas Sinta membuat Fikran malu. Menoleh kelain. " Oh kamu ya yang waktu itu datang terlambat. Saya Sinta Herles. Saya akan ikut berangkat nanti bersama kalian !". Ucapnya berjabat tangan pada Elli.


" Saya Elli. Jadi 4 orang yang berangkat?". Balasnya melepas jabatan kemudian jalan menuju lift.

__ADS_1


" Bukan ada 5. Satu bernama Alya, katanya dia ada urusan ".


" Oh Dokter Alya yang cantik itu. Apa Dokter sering berpergian jauh? Ini pertama kalinya buat saya. " Imbuh Elli.


Mereka berdua tengah asik mengobrol sedangkan para pria berada di belakang sibuk berbisik-bisik. Apalagi saat Fikran begitu mengenal Sinta.


Pada akhirnya, Sinta juga ikutan makan bersama di Cafe biasa mereka nongkrong. Sambil ngobrol agar hubungan makin dekat dengan tim kerja.


" Wah pasti seru bisa jalan-jalan sambil kerja". Gumam Elli menyuapkan nasi ke mulutnya.


" Em. Sudah kemana-mana. Jadi kalau butuh bantuan, tanya kan saja pada saya !". Sahut Sinta menatap Elli. " Jangan minum es, Fik. Air putih ini aja. Gak baik buat kesehatan. !". Ucapnya pada Fikran menyodorkan gelas yang sudah dia minum pada Fikran.


" Tapi ini Dok?". Fikran gelagapan menyentuh gelas tersebut.


" Kenapa? Minum aja!". Balas Sinta mengundang Gara, Elli dan Kiki heran. Pasti ada sesuatu di balik sikap ini, pikiran mereka sama.


Kata orang, kalau begini namanya ciuman secara tidak langsung. Ah !!! Dia kan teman kerja saja ! Fikran


" Minum aja, Fik. Di kasih perhatian juga, sok gak mau ni !". Ketus Gery geram.


____________


Pakkkkkk !!!


" Dirimu meminta aku membatalkan rapat hanya mau menemani mu ke hutan? Pikir dong. Kerjaan ku banyak !". Selanya memarahi Alya.


" Ma-maaf kan aku sayang. Maaf !". Bersujud memohon ampun di kaki sang kekasih.


" Pergilah. Aku masih banyak kerjaan di kantor !". Ucapnya menendang rangkulan sang kekasih.


Alya berdiri tegak kemudian meninggalkan sang kekasih. Namun tiba-tiba sifat pacarnya berubah drastis menjadi lembut dan merangkulnya. " Maafkan aku sayang, aku hanya emosi. Aku sudah bilang kan berhentilah jadi dokter dan bekerja di perusahaan ku !". Bisiknya


" Dokter adalah cita-cita ku sejak kecil. Aku tidak bisa berhenti begitu saja sayang. " Kembali menatap pria tersebut.


" Baiklah kalau begitu. Kita putus saja. Lagian aku tidak cocok punya kekasih seorang dokter bedah. Itu bukan fashion ku ! Pergilah sana dan jangan kembali lagi !". Sang kekasih mengusir Alya.


Mendengar perkataan nya membuat Alya tak sanggup lagi berdiri kokoh apalagi senyum. Hubungan sudah bertahun-tahun lamanya terjalin. Hancur hitungan detik dengan masalah sepele.


" Sayang. Sayang. Ngomong apa sih kamu. Tidak !". Mendekati pria tersebut sambil terus mengikuti langkahnya. " Hubungan kita sudah 8 tahun. Tidak aku tidak mau !". Alya membantah tapi seluruh ucapannya tidak dipedulikan, bahkan si pria masih asik bekerja di mejanya .


Wajah yang memerah dengan rinai air mata terus jatuh, suara tangisan dia tahan sekuat tenaga. Apa arti hubungan bertahun-tahun kalau masalah sekecil ini bisa menghancurkan semua, begitu mudahnya pria berkata putus tanpa mengingat perjuangan bersama.


Alya sering mendapat perlakuan yang sama kasarnya sejak perusahaan yang di jalaninya berkembang pesat. Sikap yang kian berubah-ubah membuat nya susah menebak jati diri sang pacar. Main kasar hingga tangan kerap dia lampiaskan ke Alya. Mungkin tubuh itu sudah biasa di lampiaskan untuk emosi sesaat nya.


__________

__ADS_1


Pulang kerja, sore hari Fikran lagi menyetir mobil. Mendengar musik di dalam mobil sampai Gery terlihat bergoyang mengikuti irama. Tertawa bersama, begitulah ikatan pertemanan mereka berdua meskipun berbeda dunia. Gery masih nampak senang di dunia bukan alamnya asal melihat Elli saja sudah cukup, katanya.


Serrrrttttttt !!!


" Apa maksud mu ngerem mendadak?". Ujar Gery yang tubuhnya keluar menembus mobil.


Fikran tegang. Dia baru saja melihat wanita berjalan didepan jalan dan tak sengaja menginjak rem mobil. Gery kemudian menoleh pada belakang nya. " Fik, ada cewek pingsan !". Teriak Gery. Kerumunan orang sudah berdatangan.


Fikran secepat kilat keluar. Kemudian memeriksa wanita itu. Tidak ada luka serius apapun hanya pingsan. Mencoba mengangkat nya ke mobil. " Mau ke rumah sakit?". Gery bertanya


" Ke rumahku saja. Hanya pingsan. Kalau di bawa ke rumah sakit ntar heboh. Soalnya dia Alya yang dibicarakan Sinta". Jelas Fikran mengemudi mobil.


Beberapa menit sudah sampai. Dengan sibuk dia mengendong Alya ke kamar tamu. Sang Bunda yang binggung anaknya tengah mengendong wanita bahkan Roni berjalan kecil masuk ke kamar tersebut.


" Kak, siapa dia. Kenapa dia?". Tanya Bunda.


Fikran mundar-mandir mengambil kotak obat. Ada luka di pelipis dan dipipi nya juga membengkak. Alya masih tertidur pulas. " Maaf Bu, dia dokter di rumah sakit. Fikran Nemu di jalan pingsan".


" Kenapa gak dibawa ke rumah sakit, Nak?". Tanya Bunda


" Gak papa Bu. Bentar juga dia bangun. Kalau Fikran bawa ke Rumah sakit, yang pingsan pasti marah ". Jawabnya yang seolah dekat dengan Alya. Padahal dia hanya tahu kalau Alya teman sekolahnya dulu.


Anak itu dulu tomboi, berandalan dan sangat kacau. Beda dengan Fikran tidak menonjol dan cenderung kaku bersama orang. Kini keadaan terbalik, malah Alya begitu menghindari orang-orang dan menjadi bucin pada kekasihnya.


Selesai makan malam, Fikran mengantar makan malam di kamar tamu tempat Alya tertidur.


Membuka mata perlahan, mengusap pelipis yang amat sakit. " Pelan-pelan". Gumam Fikran.


Alya sudah duduk di atas kasur. Menoleh pada pria yang mungkin tampan untuk seorang Fikran." kamu siapa?"


Tersenyum. " Anak indigo, pucat, hampa, tidak berteman, ditendang dan di bully !". Jelasnya


" Hah?! Siapa?".


" Fikran Mathin, Al !". Dia lagi duduk di tepi kasur.


Wajah Alya nampak tidak percaya jadi selama ini yang bersama Elli adalah Fikran sendiri bukan orang baru. Fikran yang sudah berubah dari orang tak hidup menjadi layak hidup pikirnya. " Sudahlah. Makan aja dulu. Aku mau ke atas. Kalau mau pulang kasih tahu, ntar aku antar. " Jawab Fikran berjalan keluar kamar. Meninggalkan Alya Yuan penasaran dengan perubahan si anak tidak jelas yang sering dia siksa jaman sekolah dahulu.


Alya memeriksa ponselnya. Mendapatkan pemberitahuan dari sosial media.


" Secepat itu ya dia mendapat pengganti ku? Atau jangan-jangan selama ini dia memang sudah bermain di belakang ku !. Baiklah, aku akan membalas dendam ku !". Ketusnya yang di dengar Gery di dalam kamar.


" Dendam ?".


" Iya dendam. Karena dia sudah menyiksa tubuh dan juga batinku !". Alya membalas pertanyaan Gery. Keduanya saling melirik satu sama lain. Terdiam sejenak. Dan riuhlah suara teriakan Alya dalam kamar.

__ADS_1


__ADS_2