Malu Tapi Mau

Malu Tapi Mau
MTM #51 Hukuman 8


__ADS_3

__________


Ketika bulan berganti mentari dan mulai sedikit menapaki sinarnya ke bumi, di sambut suara ayam jago yang bernyanyi riang layaknya alarm di tiap sudut rumah warga.


Bagaikan pengingat seorang Wawan Negara untuk bangkit dari alam mimpi nya. Tubuh tergelatak lurus, mata terbelalak membesar  menatap langit tendanya sendiri segera  mungkin menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya. Pria manis bernama Gara ini mulai bangkit secepat mungkin berlari menuju tenda dimana Elli, Sinta dan Alya tertidur.


" Itu makhluk kocar-kacir pasti ke sebelah deh". Gerutu Fikran dengan mata sedikit terbuka melihat Gara berlarian tak jelas.


Elli, Elli, Elli !!!! Gara


Gara berlarian kecil keluar dari tenda nya, di dalam hati dia sudah merencanakan hal ini ketika bangun di pagi hari. Menemui Elli dan bertanya banyak hal padanya, sungguh pertanyaan itu terus menggebu-gebu di kepala nya sendiri hingga tak kuasa menahan gejolak cemburu yang memuncak sejak kemarin.


" Etsssss !!!!! Tunggu dulu !". Kedua kaki yang melangkah tadi mendadak berhenti sejenak menetralkan semua rasa yang panas. " Kenapa aku seperti seorang pacar yang takut kehilangan wanita? Bukan kah hubungan ini cuma sebatas sahabat?". Gara menggertak kan tubuhnya. Membalikkan tubuh dan memasuki kembali tenda.


Fikran yang sudah bangun sontak kebingungan pada sahabat nya sejak kemarin-kemarin telah menjadi bucin nya Elli. " Eh kok balik? Sudah ?". Tanya Fikran memasang wajah penasaran.


Wajah nya menekuk tak jelas, senang juga tidak sedih juga tidak. Mengambil handuk yang bergantung dan seperangkat alat mandi. " Ah enggak tahu ! Kita mandi saja, lalu sholat !!". Ujar Gara.


" Dia kenapa?". Gery ikut berkomentar pada sosok di sana.


Fikran tak menyahuti pertanyaan yang mengarah padanya, delik kan bahu menandakan dia juga tidak tahu perihal pria bernama Wawan Negara tersebut. Kedua pria ini bergegas mandi dan menjalankan ibadah dengan khusyuk.


Sementara itu di sudut tempat lain~


" Serius ada orang jahat menodong senjata?". Alya menimpali pertanyaan demi pertanyaan karena penasaran.


Elli menganggukkan kepala sebagai tanda iya. " Untung saja Letnan Dimas menembak ke arah nya, kalau tidak uhhhh... Serem !". Ujar Elli memainkan tubuh nya sendiri.


" Seperti apa gaya nya menembak?". Alya masih tersulut rasa penasaran di kepalanya.


Elli memasang kuda-kuda lalu membuat tangan berbentuk pistol layaknya permainan masa kecil dulu. Lalu membidik ke arah pintu tenda masih tertutup. Dengan posisi Alya berdiri di sisi Elli, kedua wanita ini masih saja melakoni adegan kemarin lalu.


Pakkkk !! Pakkkk !!!


Alya dan Elli bersama-sama mengerang kesakitan di bagian atas kepalanya, menggusar sedikit rambut.


" Diam ! Mandi sana !!". Sinta memasang wajah sinis. Ternyata dia menyiapkan gulungan kertas entah apa, di pakai untuk memukul kepala keduanya.


" Apaan sih, pagi-pagi main gebukin aja?!". Kembali Alya membuka suara penuh, sambil terus bertatap tajam pada sang Leader.

__ADS_1


Sinta keburu pergi keluar menenteng alat mandinya. Elli mengajak Alya untuk mandi bersama sekalian melanjutkan cerita tentang topik kemarin. Hari ini tak ada cekcok antara Elli juga si judes Alya, karena cerita Elli yang spontan membuat rasa penasaran Alya memuncak drastis. Akhirnya, kedua wanita ini akrab juga.


Dalam perjalanan ke kamar mandi umum wanita, Elli masih saja mengoceh riang bersama teman baru yang tak lain adalah Alya sendiri. Melewati tenda dimana Fikran dan Gara menginap, seperti nya pria itu sudah pergi mandi.


____________


Rekan medis sudah siap seperti biasa. Namun kali ini, baru saja Elli hendak menuju tenda tempat dimana dia melaksanakan tugas Dimas keburu menghampiri dirinya yang tengah sibuk merapikan baju.


" Susah juga, disini gak ada setrikaan !". Bergumam sendiri.


" Pagi Dokter Stelli". Suara sapaan itu terdengar dekat dengan Elli. Wajah ke atas mengikuti alur tubuh yang tegap dan kekar didepannya. Dia adalah Dimas Prayudha.


Elli membalas dengan senyum manis khas nya. " Pagi juga Letnan Dimas !". Balas Elli. Dia bahkan tidak tahu di sudut nan dekat disitu, ada sosok dua pria yang amat menyukai dirinya sedang teriris tajam di hati terdalam. Mengepal tangan saja sudah berbarengan apalagi umpatan dan cacian yang tersimpan dihati.


Dasar !!! Gara


Si ganjen mulai beraksi !! Gery


Elli bersama Dimas terlihat akrab satu sama lain, bahkan kali ini mereka berdua diri tugas kan bersama untuk mengecek beberapa anak-anak perbatasan yang tak jauh dari lokasi mereka bertengger.


Karena tugas di layangkan secara langsung dari komandan, Elli tak bisa untuk menolak. Bersama Dimas dia sudah mengantongi ijin dari sang leader  Sinta, apalagi Alya sudah siap memasang telinga untuk cerita berikutnya dari Elli.


Lalu dengan Gara? Sejak pagi juga tidak ada sapaan karena kedua nya tidak berpasan. Meskipun ada celah pasti di ambil Sinta atau Alya. Mulai kemarin hingga hari ini Gara masih belum berbicara seperti biasa pada Elli, padahal jarak keduanya dekat.


Fikran sendiri memang pusing mendapat kedua teman yang membingungkan kondisinya. Dia juga tak mengerti, karena perihal asmara dia tidak pandai dan perlu belajar banyak. Sinta dan Alya saling diam ketika Elli sudah menjauh, ketika Elli kembali mungkin saja keseruan Alya sudah mulai terpancar terang nan silau.


Ku harap, kali ini ada cerita tembak menembak nya ! Alya


Tidak juga jauh jaraknya hanya butuh beberapa menit sudah sampai di lokasi, dimana rumah warga terdapat hanya 10 kepala keluarga. Bersama Dimas dia di sambut anak-anak disana dengan tatapan binggung. Elli sedikit cemas, mengingat kemarin dia tidak bisa leluasa mengobrol di karenakan anak-anak tersebut tidak fasih dalam berbahasa Indonesia.


Sesampainya disana, Elli mengikuti Dimas duduk di gubuk sederhana terbuat dari kayu-kayu dari pohon sekitar dengan beratap daun. Ke sepuluh anak yang  duduk di tengah mengikuti arahan Dimas untuk keluar . Dimas mengajak anak-anak untuk belajar menyanyi kan lagu Kebangsaan Indonesia Raya.


Bibir-bibir mungil mereka begitu hafal lirik serta nadanya, di barengi penghormatan dan tegapnya posisi tubuh saat mengumandangkan lagu tersebut. Elli juga berdecak kagum yang awalnya tidak mengira semua tidak dapat bahasa Indonesia kini begitu lancar mengucap kata per kata dalam lagu Kebangsaan.


Setelah usai larut dalam pembukaan semangat mereka hingga Gery ikut dalam penghormatan dalamnya pada bangsa dan Tanah air, lanjut untuk seluruh anak berbaris rapi di depan Elli.


" Anak-anak, Ini adalah Dokter Elli yang akan memeriksa kalian sebentar sebelum kegiatan belajar di mulai". Sahut Dimas di ikuti ulasan senyum nan manis hingga terpanah lah seorang Elli di samping nya.


" Di suntik enggak?". Seorang anak berbaju kucel warna putih keruh mengajukan jari meninggi ke udara.

__ADS_1


" Kalau sakitnya parah tinggal pilih di suntik atau minum obat". Elli menjawab pertanyaan anak tersebut.


Setengah pun tidak malah hanya satu anak yang santai mendengar Elli berkata suntik. Hampir yang lain beranjak bubar sudah tak berniat mengikuti periksa kesehatan. Baru juga ingin di hentikan, anak-anak sudah pergi menjauh meninggalkan Elli serta Dimas yang saling bertatapan.


" Yaaaa... bagaimana dong?". Lirih Elli, memang setahu nya anak kecil sangat ketakutan pada jarum suntik. Bukan itu saja, ada juga orang dewasa sangat menakuti benda berujung tajam tersebut.


Dimas tertawa lepas,menutupi wajah merahnya. " Kamu bagaimana sih? Mendengar penjelasan itu justru membuat anak semakin takut !".


Memantau tawa yang terukir di raut wajah Dimas. " Jadi bagaimana dong?".


Elli terperangah melihat sosok anak kecil menarik kain bajunya dengan pelan. Sedikit menunduk hingga sejajar dengan si bocah. " Ada apa, Dek?". Tanya Elli pada gadis berambut kepang coklat.


" Dokter harus pandai merayu mereka". Dia memberi kode agar Elli mendekati daun telinganya. " Berikan permen atau camilan, pasti mereka mau". Bernasehat atau memberi pelajaran menyogok teman-teman nya sendiri.


" Eh?!!!". Elli mengerjap kecil. Dimana dia harus menemukan permen di sini, bukankah ini hanya permukiman kecil yang tak seberapa. Mana ada toko di sekitar rumah.


Dimas malah berusaha menahan senyum dengan kepalan tangan di depan mulutnya. Gery memandang kedua manusia itu hanya binggung. Bukan tidak mengerti, tapi memang informasi yang di dapat begitu minum karena saling berbisik atau kode-kodean.


Elli pun menilik tajam ke arah Dimas. " Kok ketawa bukannya bantuin?!". Ucap Elli terpampang nyata jengkelnya. " Camilan kemarin yang di beli mana?".


Sedikit berhenti tertawa. " Aku bawa ke tenda Dokter Elli, tapi gak tahu kalau masih utuh hingga sekarang". Jawabnya balik.


Kembali mengarah pada bocah gadis kepang di depannya. Mereka nampak berbisik pelan sambil si anak mengangguk dan membalas berkata iya. Entah rencana apa yang sedang di susun, sungguh Dimas tidak ingin ikut campur dalam aksi mereka.


Apalagi Gery sejak tadi tidak mengerti apapun. Diam dan benggong sesekali berdoa agar hidupnya kembali bahagia seperti dahulu.


_________


Sejam berlalu dengan cepat, seluruh anak telah di periksa kesehatan nya dengan Elli, berimbalan beberapa bungkus permen dan satu persatu cemilan wafer renyah itu sudah cukup membuat mereka tenang.


Bersama Dimas dia kembali mengajar anak-anak dengan hikmat. Namun sayang di pertengahan pelajaran bocah di belakang tiba-tiba mengalami hal tak biasa.  Mata Elli langsung tertuju pada bocah yang mungkin saja masih berumur belasan tahun dengan bobot badan bisa di katakan obesitas grade 2.


Memang sejak tadi mata Elli tertuju padanya, bagaimana bisa anak itu segemuk melebihi batas normal. Dia juga terlihat sibuk dengan mengunyah makanan sambil mengisap permen yang diberikan Elli. Elli bergegas mendekat disisi sang anak bertubuh gemuk bahkan Dimas ikut bersamanya. Anak-anak lain terdiam kaku menatap temannya sendiri.


" Seperti nya dia tersedak permen !". Ucap Elli tergesa-gesa.


Sebuah permen bisa saja masuk dan menyumbat saluran pernapasan. Elli sudah memposisikan dirinya di belakang punggung, kemudian memukul punggung Peto berkali-kali atau back blows namun sayangnya belum berhasil.


Selanjutnya, Teknik kedua (  first aid ) melakukan heimlich maneuver yaitu pelukan dari belakang dan meletakkan kedua tangan saling menggenggam pada daerah pertengahan diafragma nya tersebut. Tangan Elli kembali melakukan gerakan menekankan perut si anak lalu menariknya ke atas beberapa kali.

__ADS_1


Untung saja usaha Elli sesaat berhasil, anak bernama Peto itu sudah mengeluarkan atau memuntahkan permen yang tertelan nya tadi. Dan napasnya perlahan-lahan kembali normal. Anak-anak pun ikut lega dan memeluk si buntal. Sedangkan Elli hanya ikut turut dalam kegembiraan mereka dengan ulasan senyum, begitu juga Dimas tak henti-hentinya dia senyum menatap Elli begitu dalamnya hingga mampu membuat Gery kembali terbakar cemburu.


__ADS_2