
_________
" Fik, Elli pergi sama cowok !". Gery muncul entah dari mana di hadapan Fikran.
Menoleh. " Apa?". Jawabnya heran dan itu terdengar oleh Gara yang berjarak dekat darinya.
Segera Gara melirik. " Apanya kenapa? Penyakitmu mulai kambuh, bicara sendirian?". Tukas Gara. Kedua pria ini dalam perjalan menuju tendanya.
Gery memberi kode agar dia menjelaskan pada Gara dan itu dijawab dengan kedipan mata Fikran. " Elli jalan berdua bersama prajurit tentara lain. Namanya-". Perkataan itu terhenti menunggu sambungan dari Gery yang sedang berbisik. " Dimas Prayudha".
Gara berlari mengecek tenda darurat tidak ada siapapun disana dan beralih menuju tenda Elli tidur. Saat mengecek dan bertanya pada Sinta, benar saja apa yang dikatakan Fikran, entah dari mana dia mendapatkan info tersebut. Itu bagi seorang Gara tidak penting.
________
Kembali ke Elli dan Dimas. Dalam sisa perjalanan dia asik memfoto tiap lintasan mobil yang membelah jalan. Senyum terus dia torehkan, sungguh manis bukan?. Saat ini masih asik foto-foto pemandangan. Disisi lain, pria yang menumpang masih saja memperhatikan Elli dengan tampang tidak lazim.
" Boleh pinjam kameranya?". Ujar Dimas mengulurkan tangan sebelah.
" Eh?. Oh. Ini ". Jawab Elli memberi, tak sengaja juga menoleh ke sisi kanan. Tepat seorang pria paruh baya menatapnya tajam. " Dimas, dia?". Melihat Dimas sedikit takut.
" Dia ingin menumpang. Karena tujuan sama. Aku bawa saja". Jawab Dimas.
Elli mencoba melirik kembali. " Pak, nama bapak siapa?". Bertanya kalimat sederhana sampai gugup hingga kaki nya bergetar.
" Mukhlis !". Singkat nya menjawab. Sekian detik tatapan seperti mengintimidasi. Elli kembali dalam posisi duduk yang sempurna, menepis rasa kaku di tubuh.
" El, kita foto dulu yuk ! Boleh tidak? Hanya untuk kenang-kenangan". Sahutnya melihat Elli sebentar.
" Boleh ! Biar aku saja yang memegang kamera, kamu nyetir !". Gumamnya merebut kamera digital dari tangan Dimas. Saat posisi sudah pas dengan keinginan masing-masing. Jepretan sekali hingga dua kali mengambil gambar dengan dekat. " Oke !". Ucap Elli.
Akhirnya mereka sudah sampai di tujuan. Papan nama desa yang terpasang menjulang tinggi, sudah terlewati. Dalam perjalanan mulai terlihat jajaran rumah penduduk warga sekitar. Tak lama, mobil berhenti di depan pos penjaga keamanan.
Dimas bersama Elli keluar begitu pula Pak Mukhlis pamit pada keduanya dan pergi entah kemana tanpa menoleh lagi kebelakang. Dimas mengambil tasnya, berjalan bersama melewati anak-anak yang bermain
" El, bisakah kamu menunggu disini. Aku ingin menitip surat-surat ini sebentar?!". Kata Dimas.
" Em, baiklah. !". Elli menjawab.
" Dengarlah, jangan jauh-jauh. Kalau ada apa-apa segera beritahu aku !". Tambah nya lagi.
Dimas pun pergi menenteng tas ransel penuh. Sedangkan Elli mencoba berinteraksi pada anak-anak desa yang tengah bermain di sore hari. Anak-anak kecil seusai ponakan tersayangnya, lagi asik ketawa bersama entah bermain apa.
Dari bibir Elli keluar sapaan, namun anak-anak itu tidak mengerti bahasa apa yang di gunakan Elli. Masih terus mencoba ikut dalam permainan mereka, sayangnya bagi Elli susah memahami ucapan dari si anak-anak tersebut.
__ADS_1
Dia tidak menyerah, bicara lagi dan lagi tetap saja anak-anak pada bengong dan mendelik kan bahu mereka. " Ada apa El?" Suara Dimas mendekat.
" Dimas, aku tidak mengerti bahasa mereka dan mereka tidak tahu bahasa yang aku gunakan". Jelas Elli menekukkan wajah nya di depan Dimas.
" Mereka belum mengerti bahasa kita. Memang mau bicara apa, biar aku sampaikan?".
" Heh? Kamu bisa bahasa mereka?". Tanyanya penuh arti dan penasaran yang bertubi-tubi.
Mengangguk tanda nya iya dia mengerti. Dimas memang mahir dalam bahasa daerah sini. Terbukti dia begitu lancar berbicara menyampaikan pesan Elli. Bidikkan kamera mengarah pada Dimas dan ketiga anak yang lagi mengobrol. Jepretan ini akan jadi cerita jika dia pulang nanti ke kota.
Selesai dari itu mereka berjalan kaki melihat isi kampung seraya mengobrol tentang kampung ini." Kita berhenti di depan dekat tower. Mau menelepon keluarga kan?". Tanyanya lagi pada Elli.
" Em !". Perkataan itu sangat-sangat membuat Elli semangat. Akhirnya, dia bisa menelepon keluarga kesayangan nya. Rindu sekali.
Ketika ponsel itu dia raih dengan tangan putihnya, hati sungguh tidak bohong. Sangat-sangat senang rasanya ingin lompat kegirangan. Ponsel itu sudah tepat di depan telinga Elli, menunggu sapaan dari dalam ponsel. Dimas sejak tadi mengawasi daerah sekitar, sore hari nampak sepi di sini karena letaknya lumayan jauh dari rumah warga.
" Assalamualaikum. " Itu suara Ibunya yang menjawab.
" Walaikumsalam, Bu. Ini Elli, Bu ". Jawabnya kegirangan. " Ibu apa kabar, Elli disini sehat. Maaf gak bisa telepon, karena jaringan tempat Elli gak ada. Harus jalan 4 jam lagi baru bisa menghubungi Ibu ". Jelasnya tanpa jeda.
" Anak Ibu yang cantik. Alhamdulillah, ibu lega sekali anak ibu sehat. Jangan lupa makan ya sayang ". Sahutnya dari ponsel.
Telepon sang Ibu terus di sambut sang Ayah kemudian kakaknya. " Ini nomor siapa dek? Hp kamu mana?". Tanya si kakak.
" Dimas itu siapa? Dokter teman mu?". Ayu masih menimpali pertanyaan
" Bukan dia prajurit tentara tempat Elli bertugas kak. Kak sudah dulu ya gak enak lama-lama. Salam sama Ibu dan Ayah. I love u kak ." Kata Elli sambil menunduk memainkan kaki di bawah dengan pasir yang bercampur tanah.
Dimas yang tadi membelakangi kembali melirik wanita bertopi putih di hadapannya. " Menunduk !!!!!" Teriak Dimas melihat Elli.
" Hah?!". Jawabnya kebingungan, ponsel juga belum sempat dia matikan. Segera Elli menundukkan kepala dan menjongkok kan dirinya sembari tangan menutup telinga serta mata yang terpejam.
Brukkkkk !!!!
Sigapnya bola tersebut di tangkap Dimas tanpa memajukan tubuh alias mematung disana. Bola kaki terbuat dari plastik itu sudah di tangannya, kedua mata memandang tajam ke sekeliling hanya menampilkan pohon-pohon lebat.
" Halo. El, ada apa di sana? Siapa yang teriak?". Suara telepon masih saja terdengar.
" Halo. Bu-"
" El, matikan telepon nya dulu ". Mendekat pada Elli yang melihat sepasang sepatu didepannya. " Jangan jauh dari ku". Melihat Elli ke bawah. Elli tanpa meneruskan kata-katanya pada sang Ibu langsung mematikan telepon yang terhubung. Berdiri dari situ, melihat Dimas mengeluarkan pistol.
" Dimas, a-ada apa?". Tanya Elli gugup.
__ADS_1
" Tidak. Aku tidak tahu bola ini dari mana. Tiba-tiba saja mengarah tepat di kepalamu. Tetaplah waspada". Ucapnya tegas, membuang bola itu ke tanah. Tangan sudah memegang pistol yang kapan saja siap dia tembakkan. Sebelah tangan lagi memegang Elli.
" Eh, anu mungkin anak-anak main". Gumam Elli menatap mata Elli, ada segumpal rasa takut terlihat jelas disana.
Dia menurunkan kembali pistol dan meletakkannya di punggung belakang. " Ya sudah, kita kembali ke sana saja."
" Tapi bagaimana dengan keluarga yang menunggu kabar mu?". Tanya Elli merasa tidak enak.
Pria tampan didekatnya membalas hanya dengan senyum yang amat manis. " Aku hanya mengirimkan surat pada mereka, setelah itu tidak ada lagi yang ku hubungi". Jelasnya melepas pegangan pada Elli.
Menyusuri jalan bersama. " Begitu ya". Menjawab balik
Hari mulai sore, langit berwarna jingga sungguh indah. Layaknya, matahari itu akan tenggelam tepat di depan sana. Udara nya pun sejuk, oksigen melimpah di sini. Elli segera menghirupnya untuk stok dia pulang. Siapa tahu bisa berbagi udara yang amat menyejukkan ke teman kerjanya. Itu kalau bisa.
" Apa kamu menelepon Ibu mu saja?". Sela nya
" Ibu terus disambut sama Ayah sama kakak. Itu saja. Maaf kalau pulsanya tersisa sedikit ". Gumamnya. Apalagi si Ayah banyak sekali pesan yang entah apa, Elli sudah lupa perihal itu.
" Apa pacarmu tidak kamu hubungi?". Melirik ke Elli yang sedang membuka topi untuk lebih leluasa menikmati alam.
" Heh? Aku tidak punya sejenis itu. Masih pengen menikmati pekerjaan yang belum setahun aku jalani". Jawab Elli tersenyum.
Perjalanan masih mereka telusuri. Dimas Prayudha sungguh sangat terkesan dengan senyum seorang dokter muda bernama Elli. Mungkin karena kerjanya dia tidak pernah melihat senyum semanis itu, entahlah. Dia hanya mengumpat dalam hatinya sendiri.
" El, bisa pinjam kamera tadi. Ada yang ingin ku periksa". Mengulurkan telapak tangan tepat didepan Elli
Memberikan kamera yang bergantung di lehernya. " Terimakasih sudah meminjamkan ku ponsel". Timpal Elli sembari memberikan benda canggih itu pada tangan Dimas yang besar.
" Sama-sama. Setelah ini kita ke pos sebentar ya". Ucapnya masih fokus pada layar kamera yang menyala. Entah apa, Elli tidak penasaran tentang itu. Hanya menganggukkan kepalanya tanda dia setuju-setuju saja.
Sesampainya mereka di depan pos, Elli bersama Dimas masuk kedalam sana. Tidak besar, ruangan kecil hanya ada seorang polisi paruh baya dan seperangkat meja serta kursi. Ditambah kasur kecil di belakangnya, mungkin untuk tidur.
" El, tunggulah dalam mobil ya". Gumamnya pelan memberi kunci mobil yang dia raih lembut. Berjalan mundur dan meninggalkan pos tersebut.
" Maaf Pak, apa dia warga sini?". Dimas bertanya pada polisi tersebut sambil menunjukkan foto yang di zoom dekat. Wajah pria yang menumpang pada mobilnya, jelas bukan dia masih menatap tajam Elli meskipun jepretan itu tak sengaja mereka ambil.
Polisi bernama Herman tersebut tidak juga menyahutinya. Dia mengambil sesuatu benda dalam laci mejanya. Dimas masih melirik ke depan sana melihat mobil terparkir.
" Ini !". Meletakkan kertas berupa foto. Kedua pria itu memeriksa nya dengan seksama dan teliti. Wajah nya sama pada foto tersebut.
" Maafkan saya Pak, orang ini sudah di sini !". Dimas berkata pada Pak Herman.
Tetttttt tetttttt !!!
__ADS_1
Suara klakson mobil terdengar dari dalam pos. Ketika tubuh Dimas berbalik, mobil itu terguncang kecil hingga terdengar suara teriakan wanita dari dalam mobil. Itu suara Elli yang sangat histeris.