Malu Tapi Mau

Malu Tapi Mau
MTM #50 Hukuman 7 : Lanjutan


__ADS_3

_________


" Hentikan ceritanya, jangan menggundang makhluk itu ke sini !". Ucap Elli, matanya terpejam serta terus menutup kedua daun telinga. Dia tidak mau menyaksikan apa-apa disekitarnya lagi.


" Kan kamu mancing aku ceritain. Tahu enggak lucunya dimana?". Ucap Dimas balik.


" Hah?". Satu kata dari Elli


" Lucunya itu saat tahu kamu ketakutan gini. Yang aku tahu dokter itu tidak takut, kan sudah biasa". Ujarnya lagi. Makin membuat Elli terus menunduk kan kepalanya.


" Dimas sok berani juga ya. Tengah hutan gini mengundang tamu !". Oceh Gery duduk di bangku belakang. Ketika Gery menoleh ke kanan sangat sekilas itu entah siapa namun kembali menoleh ke depan. Saat menoleh ke kanan lagi, Gery kaget tidak karuan hingga terlonjak. " AGHHHH !!!!!! Setan !!!!!". Teriak Gery, maklum manusia didepannya tidak mendengar dan tidak tahu keberadaan nya jadi percuma saja.


" Bang ! Tolong bantu-".


" Maaf, aku bukan dukun beranak !". Balas Gery meringis ketakutan.


" Bang ! Jadi suami saya aja !". Tersenyum indah tapi tidak bagi Gery. Itu sangat menyeramkan, gigi menghitam bersama bibir. Belum lagi rambut acak-acakan dan pasti berbaju putih.


" Maaf Mbak. Mbak bukan tipe saya ! Pergi sana, saya sudah punya pacar !". Balas Gery lagi.


" Dimas. Jangan ketawa dong. Aku merinding ini !". Keluh Elli masih enggan membuka matanya.


" Kenapa takut sih, ada aku juga disini !". Celotehnya masih tertawa kecil dibalik kemudinya.


Meskipun hantu sama hantu, Gery tetap saja takut. Karena hantu selain dirinya pasti seram. Untung aja para makhluk aneh itu sudah menjauh. Dia bisa lega dalam perjalanannya.


" El, rumah kamu dimana?". Tanya Dimas pelan. Sudah tidak ada suara tawa.


" Di X . Kenapa?"


" Tidak. Kamu tidurlah, kan perjalanan kita masih jauh". Gumamnya.


_____________


Di sebuah kantin nan besar, terdapat jajaran kursi dan meja panjang di sana. Bersamaan itu para pengabdi negara tersebut sudah siap dengan piring-piring di atas meja. Di sisi lain pun terlihat petugas medis sudah duduk bersama di sudut yang berbeda.


Ketika instruksi pemimpin sudah di layangkan didepan sana, mereka memulainya dengan doa di dalam hati lalu mulai makan bersama. Setiap orang makan dengan lahapnya tanpa suara. Tidak untuk Gara, lagi-lagi dia begitu memikirkan perihal Elli di luar sana entah bagaimana kabarnya sekarang. Kecemasannya belum juga mencair.


Melamun, sorot matanya saja sudah ketahuan hanya melihat sisi atas meja sedangkan tangan memegang sendok makan. Wajah yang semakin ditekuk sesaat pikiran cemburu mulai menghasut.

__ADS_1


" Gara, makanlah. Elli pasti pulang kok". Fikran berkata dengan pelan. Dia mulai kesal pada tingkah sahabatnya itu.


Berbeda dengan sang Leader yang lagi makan namun sambil tersenyum kecil. " Aku sampai lupa, bagaimana masa aku jatuh cinta sama suamiku sendiri. Dan kamu Gara, kamu mengingat kan aku pada suamiku !". Bisiknya pelan.


" Jatuh? Cinta? Jatuh ya jatuh saja kenapa harus di campur sama cinta?". Ujar Alya tidak menyukai pembahasan itu.


Sinta membuang mukanya pada Alya dan itu masih membuatnya tersenyum lucu. " Gara makanlah, nanti tengah malam kamu lapar". Nasehatnya pada Gara. " Apa perlu di suapin sama Fikran?". Melirik orang disebalah Gara.


" Enggak ! Aku makan sendiri saja !". Ketusnya lalu menyuapkan sesendok nasi dilanjut lagi lauk dan itu terus menggumpal dalam mulutnya.


" Cemburu boleh tapi jangan nyiksa. Wajar saja pria itu mengejar Elli, kamu sendiri tidak mengungkapkan perasaan mu padanya kan?". Mencondongkan wajah ke arah Gara.


" Gara malu. Dia belum bisa jujur, jadinya dia menyukai Elli diam-diam". Mengelus sang sahabat di sampingnya.


" Malu tapi mau gitu? Tinggal bilang aja suka, apa susahnya coba?". Sambung Alya dengan nada ketusnya yang menjengkelkan. Dan perkataannya didengar Gara bersama  Fikran juga.


" Kamu bilang seperti itu karena kamu belum menyukai seseorang. Kamu pasti rasain bagaimana malunya ungkapin isi hatimu". Si Sinta mulai geram dan berdebat pada Alya yang tengah makan .


" Dokter, jangan beritahu hal ini pada Elli. Aku akan coba nanti ungkapin seluruhnya tapi tidak saat bertugas begini". Ujarnya ketika sudah menelan dan mengunyah makanan yang tadi tersendat di mulut.


" Baiklah !". Menghela nafas. " Dan kamu Alya, bagaimana kisah cintamu pada pengusaha kaya raya itu. Apa putus? Sebelum berangkat aku melihat dia bersama cewek !".


" Fik, apa kamu sudah menemukan calon pasangan mu?". Kembali menoleh Fikran yang sudah menghabiskan makanannya.


Menggeleng. " Masih nyari. Kalaupun ada pasti dikenalin dulu sama Bunda. Kalau Bunda bilang oke, aku oke aja tapi tidak mau aku pacari". Gumamnya.


Mereka sudah menghabiskan makanan dan keluar dari kantin. Tempat mereka mengobrol adalah didepan tenda Sinta sambil membuat api unggun untuk menghangatkan diri. Beruntung malam ini tugas tidak ada. Alya ikut duduk disana mengambil kursi lipat nya dan mereka duduk memutar api.


" Kalau tidak kamu pacari terus buat apa?". Jawab Sinta masih penasaran dengan kisah cinta teman cupu nya dulu


Fikran tersenyum manis. Sangking manisnya senyum itu, Alya tidak melepaskan matanya pada sosok teman sekolahnya yang selalu di jadikan asisten. " Langsung dilamar aja".


Gara menoleh cepat pada Fikran, merangkulnya erat. Bangga sekali dia mendengar sahabatnya berkata begitu. Apalagi kesan pertama kali mereka bertemu sangat-sangat menakutkan. " Mantap !". Seru Si Gara menjitak kepala Fikran.


Lamar? Alya


" Kamu diam-diam menghanyutkan ya, Film semoga lekas dapat. Sepertinya Bunda kamu sudah ingin memiliki cucu ya? Hehehehe". Goda Sinta menunjuk Fikran yang sekarang lagi tersipu malu.


Cih ! Sejak sekolah dia tidak pernah sekalipun memasang ekspresi seperti itu. Dari mana coba dia belajar? Alya

__ADS_1


" Itu dia, tiap teman wanita di ajak ke rumah selalu Bunda bisik itu pacar atau bukan. Padahal hanya teman kerja". Jelas Fikran. Kedua bola matanya melirik Alya di ujung sana tengah benggong menyaksikan dirinya bicara. Reflek saja mata keduanya memandang lalu ditepis Alya, berpura-pura memainkan ponsel.


" Agh !!! Baterai ku habis lagi. Aku ke dalam dulu mau cas ponsel !". Ujarnya kaku berjalan masuk tenda. Meskipun listrik ada namun jaringan tidak sampai ke lokasi mereka. Jadi peran ponsel hanya sebagai bermain game atau sekedar foto-foto.


" Masalah Gara ini yang belum tuntas. Sampai kita kembali, kamu harus segera ungkapin semuanya. Jangan di tunda. Takut di ambil orang". Sinta mengeluarkan nasihat yang membuat nyali dan semangat Gara menciut kecil. Apalagi saat ini Elli bersama seorang pria lain.


______________


Kembali ke sudut dimana Elli tengah tidur didalam mobil yang sedang melaju cepat dijalan, tepatnya tengah hutan. Saat tidur dia sudah melepaskan topi putihnya. Rambut pendek tersebut sempat menutup wajah manis seorang Elli. Dengan cepat di tepis Dimas.


" Idihhhhh modus banget !". Oceh Gery.


Dimas melajukan kendaraannya di jalan yang sudah tidak mulus. Tubuh keduanya terguncang kecil. Kali ini Elli benar-benar tidak bangun atau bahkan bergerak sekalipun. Mungkin saja lelah, sungguh indah bukan sinar bulan di malam hari masuk dari celah kaca jendela.


Dimas hanya tersenyum bahagia, entahlah hatinya mulai menyukai wanita disampingnya kini. Entah karena cantik atau dia seorang dokter melainkan sisi lain dari Elli yang apa adanya. Posisi ini hanya berlangsung sampai 3 bulan. Setelah itu Elli akan kembali ke kota.


Dimas Prayudha seperti nya berharap dalam doanya suatu saat nanti akan bertemu lagi dengan Elli. Pasti itu hal yang membahagiakan dalam hidupnya. Memang selama ini dia masih enggan membuka hati untuk wanita manapun meskipun para temannya selalu bergonta-ganti pasangan.


Dia diajarkan pada orang tua untuk menjadi pria kelas atas bukan karena seragam atau pangkat Letnan nya. Melainkan satu hati hanya untuk satu wanita yang akan dia labuhkan entah pada siapa. Bukan gayanya menebar janji atau merayu wanita diluar sana, itu sangat membuang waktu.


" Aku berharap suatu hari nanti akan bertemu kamu,El". Ungkap nya tulus. Seraya tangan itu mengelus rambut Elli. Dan kembali memegang kemudi.


" Aku berharap tidak !". Balas Gery balik. Dia melihat tingkah lakunya Dimas sambil terus mengumpat dalam hatinya. Entah rasa apa yang lebih dominan, mungkin saja jengkel karena membawa Elli begitu jauh. Apalagi tadi ada kejadian seram membuat panik orang.


Perjalanan terus berlangsung, tidak ada rasa takut dalam diri Dimas. Masih tetap konsentrasi mengemudi mobil.


5 jam sudah berlalu. Mobilnya sudah terparkir didepan pos keamanan. Dirinya turun duluan untuk melaporkan kejadian pada sang komandan tertinggi nya. Kemudian membawa Elli yang masih tertidur pulas dalam gendongan nya. Gery tidak sadar kalau posisi nya sudah berada di lokasi, dia ikutan tertidur dalam mobil.


Gara masih saja gelisah dalam tendanya. Sedangkan didepan tenda Dimas lewat dengan sempurna tanpa diketahui keduanya lalu berjalan lurus menuju tenda tempat Elli tidur.


" Permisi !". Sapa Dimas dari luar. Sapaan itu di dengar Alya dan Sinta.


" Iya !". Ucap keduanya berjalan keluar. Dan membuka celah pintu disana. " Dimas?". Ucap Sinta kaget.


" Maaf mengganggu. Tempat tidur Elli dimana?". Tanyanya masih menggendong Elli.


Sinta berjalan masuk dan menunjukkan tempat tidur apa adanya tersebut. Dengan hati-hati dan pelan dia menurunkan Elli dari punggung belakang nya di bantu Sinta juga Alya.


" Sepertinya dia lelah. Terimakasih sudah menjaganya ya". Ucap Sinta lembut layaknya berbisik.

__ADS_1


" Sama-sama. Saya permisi dulu!". Ucap Dimas keluar dari tenda.


__ADS_2