
Berjalan kaki hingga sampai juga di rumah sakit. Entahlah, dia sudah kegerahan. Tumitnya pun lecet, jelas saja jalan kaki berjarak cukup jauh menggunakan high heels. Setibanya didalam lift, mencoba mengumpulkan tenaga dengan penuh.
Sesampainya di ruangan, terlihat lengkap hanya dirinya terlambat 10 menit. Karena lelah, dia langsung duduk merebahkan kepalanya. Merentangkan kedua kaki dan tangan di atas meja, hingga menindih buku yang lagi di baca Kiki.
Kiki melirik heran. " Dokter El, apa lagi kehujanan? Kok merembes gitu mukanya ??" Tanya nya.
Karena ucapan Kiki, sontak saja Gara dan Fikran melihat yang di maksud teman kerja nya. Maklum panas jadi bawaannya keringatan. Kedua pria di depannya nampak heran, cuaca panas kenapa hanya Elli yang kena hujan.
" El, kamu kenapa?". Ucap Gara kemudian duduk di kursi kosong lainnya.
" Ada apa?". Tambah Fikran mengharapkan penjelasan Elli.
Dia belum bisa menjawab, jiwa nya masih lemah. Mencoba mengembalikan posisi duduk normal dan menarik nafas dalam-dalam lalu dihembuskan pelan. " Minum !". Satu kata perintah keluar. Tapi Bu Caca sudah menaruh gelas berisi air di depan Elli.
Meneguk air sekali nafas. Jiwa nya sudah mulai bangkit. " Makasih Bu. Seret banget tadi Bu. Perjalanan jauh !". Imbuhnya.
" Dari mana El? Gurun pasir? Seperti nya haus bener ?". Kata Kiki .
" Cobaan di pagi hari sungguh banyak, apalagi nekad naik bus". Keluhnya kembali merebahkan kepalanya di atas meja.
" Mobil mu mana?". Tanya Gara.
" Lagi malas nyetir. Tahu gak, orang di bus tadi kentut sembarangan. Di godain kakek-kakek. Pas aku di depan rumah sakit. Eh, sandalku terjepit trus di tendang orang. Bus nya ya jalan lah, aku asik ngambilin sandal ku . Sempit buanget !!". Celoteh nya sendiri dengan keadaan tubuh lemes.
Nyaris yang mendengar cerita pendek Elli membayangkan bagaimana Elli didalam bus. Suara tawa di mulai dari Kiki berlanjut ke yang lain. Semua lagi menertawakan nasib Elli, dia hanya diam dan berpikir mungkin saja akibat melawan sang Ayah tadi pagi.
Selesai hiburan di pagi hari, padahal dirinya lagi gak stand up comedy entah kenapa di tertawa kan. Sungguh kalau mereka naik bus, pasti merasakannya dan gantian biar dirinya yang tertawa.
Jam terus berlalu begitu saja. Masing-masing melaksanakan tugas yang ada. Mengecek seluruh pasien yang ada di rawat inap kan. Akhir-akhir ini, Elli berniat untuk menyibukkan dirinya sesibuk mungkin sampai kepalanya tentang si pria gila itu keluar dengan sendirinya.
Melakukan pekerjaan sudah kewajiban mereka. Karena itulah sumpah serapah sebagai seorang ahli medis. Mondar-mandir ke ruangan berikutnya bersama Dokter Daniel dan rekan timnya yang lain. Entah jam berapa, mereka ke ruang IGD melihat beberapa pasien yang dilarikan ke ruangan tersebut.
" Dokter El, saya dengar kamu pernah menolong anak kecil ke IGD ya ?". Tanya Beliau saat rombongan nya pergi keluar ruangan.
" I-iya Dok. Tidak sengaja, reflek saya bawa ke IGD !". Jelas si Elli gugup kemudian menatap teman-teman nya karena ketakutan.
Langkahnya berhenti, berlanjut menoleh ke belakang. " Kerja bagus, itu adalah dokter sejatih". Senyumnya di lempar ke Elli.
" Terimakasih Dok !". Mendapat pujian Elli senang apalagi dari pembimbing nya sendiri. Lupa sudah masalah sejak di rumah sampai kejadian naik bus tadi pagi.
" Kalian semangat kerjanya. Saya mau ke ruangan. Kembali lah, kalau ada pekerjaan yang bisa kalian tangani. Ambil jangan diam saja !". Kata Dokter Daniel dengan bangga. Kemudian beranjak pergi bersama bayangannya.
Dia memang orang yang baik bukan hanya cantik dan manis. Gery
Karena Fikran melirik Gery dengan senyum yang tak biasa. Dia menoleh padanya, mengangkat dagu agar temannya itu menjelaskan perihal dirinya begitu bahagia nya sejak tadi pagi. " Sssttt !!! Aku senang melihat dia tersenyum. Apalagi sejak pagi dia menangis !".
" Menangis, kenapa?". Gumam Fikran tak bersuara hanya mulut yang terbuka .
__ADS_1
Gery senyam-senyum sendiri, salah tingkah. " Aku mengakhiri mimpi nya begitu saja. Mungkin, dia mau bilang sesuatu . Tapi tidak ku dengarkan !". Jelas Gery murung. Menyesali perbuatan sendiri. Ada-ada saja.
Fikran auto tepuk jidat saat mereka lagi berjalan menuju loket pendaftaran. Gara menoleh binggung. " Kenapa Fik?". Ujarnya.
Gelagapan. " Em tidak. Nyamuk aja !". Ketus si Fikran menuai tawa di wajah Gery.
Bisa dibilang deretan para dokter muda lagi survei, ingin melihat langsung calon-calon pasien dari meja depan. Cukup banyak. Sampai ada wanita hamil ingin daftar tapi saat melihat mereka si Ibu yang hamil ingin di elus-elus perutnya. Pikir si Ibu, agar ketularan biar besar jadi dokter .
Banyak cerita tapi sementara itu Elli tidak sadar dia di samperin Reijal dengan mendadak . Beruntung sekali dia, wartawan tidak sampai masuk di rumah sakit hanya sampai gerbang depan saja. Reijal spontan menarik tangan Elli, risih memang iya. Tapi dia tidak bisa menolak . Karena tidak enak dilihat .
" Lepasin. Orang melihat kita !". Kata Elli masih melihat lengannya di sentuh dan di genggam.
" El -". Gara mencoba menyusul tapi di hentikan Fikran. Dia tahu masalahnya karena Gery lah yang memberikan informasi pada Fikran seorang. " Kenapa?". Tanya Gara heran.
" Biarkan. Gak papa ,mungkin bos lagi ada perlu !". Jawabnya santai.
Kebetulan lift terbuka dan masih kosong. Dia membawa dan menarik Elli masuk. Seluruh mata memang memandang, tapi tidak ada yang berani bertanya kalau tidak mau pelototan tajam dari sang Atasan muda.
" Ada apa sih?". Mulai kesal. Lift pun tertutup.
" Heh. Kamu kira sifat mu itu tidak kekanak-kanakan apa? Supaya apa? Supaya aku mengejar mu gitu?" .Ketusnya berkacak pinggang berjalan mendekati tubuh Elli.
Langkahnya mundur dan mulai resah. " Ma-maksud mu apa?".
Cih
" Hentikan ! Aku mau keluar !". Bentak Elli berjalan melewati sosok pria tersebut. Berdiri didepan pintu lift .
Cih ! Dasar jual mahal !!! Reijal
Keberanian muncul setelah banyak pertimbangan.
Bushhh !!!!
Semacam hembusan angin membawa tubuh kekar nya bertekuk lutut di sisi Elli. Dan memohon maaf pada Elli. " Maafkan aku El, sungguh Maaf !". Rengek nya .
Mampus Gila !!! Sejak kapan sih orang gila ini lemah? Bukannya dia seperti punya gengsi yang besar . Kesambet kali ! Elli
Elli cuma melirik sedikit ekspresi wajah atasannya itu. Lucu juga pikirnya kalau orang bertipe dingin jadi lemah begini. Menahan tawa kalau di lepas begitu saja pasti yang ada si Reijal tidak jadi bersungguh-sungguh minta maaf.
" Dokter Stelli Putri Wijaya. Maafkan aku ! Oke, aku banyak salah. Tapi maafkan aku, aku gak mau di teror sama orang tidak jelas hanya karena aku tidak memohon maaf sama kamu !". Rengek nya lagi .
" Teror?". Gumam Elli pelan .
" Iya, aku tidak takut cuma tidur dan hidupku tidak tenang kalau di ganggu. Bisa-bisa aku setres. Dia juga datang ke mimpiku !". Jelas Reijal melemas.
Siapa? Elli
__ADS_1
Ya Allah, rendah banget harga diriku di depan wanita ini ! Sungguh memalukan aku ingin loncat dari atas atau aku Operasi saja wajahku. Binggung mau taruh dimana ! Reijal
Lift terbuka lebar. Posisi pria masih berlekuk lutut di sisi Elli yang berdiri melipat kedua tangannya di depan dada. Siapa didepannya kini, menatap binggung. Maksud adegan itu apa dia juga tidak tahu. Gara yang mengamati ke empat bola mata tersebut langsung menarik Elli keluar dari lift .
" Ga-" .
" Diamlah. Kita banyak kerjaan tahu !". Sahut Gara kesal karena menyaksikan kecemburuan terus menggebu-gebu dihati.
Cih. Cemburu ! Reijal sudah berdiri tegak membetul kan dan merapikan kemeja juga celananya dari sedikit noda
" Ga-gara. Kamu kenapa?". Berdecak heran .
" Apa kamu berpacaran dengan bos itu?". Meskipun ceplos sungguh Gara tidak menyesal.
" Te-tentu tidak lah. Tidak mungkin, jangan sembarangan ngomong. Tipe ku itu seperti artis-artis Korea !". Ujar Elli bangga namun bercampur kacau dan salah tingkah.
Hatinya sudah lega, tangan Elli sudah perlahan dia lepas. Kemudian berjalan menuju ruangan lantai atas. Karena sudah jauh dari lift, mau tidak mau jalan kaki sajalah. Hanya tersisa satu lagi sudah dekat ruangan.
" Jadi siang nanti mau makan apa? Aku traktir !". Ucap Gara kesenangan.
" Tidak usah, aku makan bersama Ayah di luar. Mumpung lagi di sini. " Cetus Elli jalan sejajar dengan Gara.
" Ya sudah gak papa !". Wajahnya sedikit kecewa.
Ketahuan banget mukanya. Pengen di ajak makan sama Pak Wijaya. Hahahahaha. Gery
Dimana-mana Gery sudah mengikuti Elli bahkan di dalam lift. Untuk berjaga-jaga kalau si pria itu berbuat ulah. Hanya toilet dan kamar mandi saja dia tidak mau mengikuti si gadis tersebut.
Sesampainya di ruangan. Mereka duduk bersama berunding dan saling bertukar pikiran tentang pasien-pasien yang menurut mereka bisa mempelajari penyakit yang mereka derita.
Seperti biasa. Bu Caca masih di ruangan nya. Seperti nya beberapa orang ada yang berobat ke Beliau. Tersisa berempat di ruangan. Keadaan memang lagi hening. Elli pun mencoba membuat kopi untuk mereka dan meletakkan nya pas di hadapan masing-masing.
" Minumlah dulu. Pada tegang gitu !". Ucap Elli .
" Makasih El. Tidak tahu jadinya kalau tidak ada malaikat seperti mu di ruangan ini. Pasti sepi !". Umpat Kiki mengundang tatapan sinis dari Gara lagi dan lagi.
" Hehehe. Jangan gombal. Cari pacar sana, terus di gombalin puas-puas !". Sentil Elli tersenyum.
Fikran hanya menggelengkan kepalanya. " Buruan Ki, sebelum aku tikung !". Ketusnya santai tapi mengejek.
Melirik Gara yang masih fokus membaca dan menyeruput kopi. " Sudah sih. Cuma sayangnya, Kakaknya belum merestui diriku. Apalah daya !". Memelas.
Pakkkk !
Gulungan kertas melayang ke puncak kepala Kiki, siapa lagi kalau bukan Gara. Karena dia menyinggung si manis Gara, itulah akibatnya. " Awas macam-macam sama adikku !". Peringatan terus di lontarkan dari Gara.
" Bagaimana mau macam-macam. Kakaknya aja begini, ya gak sempat lah . Dasar cangcimen !!". Olok Kiki yang menambah suasana tidak hening lagi.
__ADS_1
" Lu tu kerupuk melempem !!". Balas Gara .