Malu Tapi Mau

Malu Tapi Mau
MTM #38 Kris dan Fani


__ADS_3

Beberapa hari kemudian. Undangan pernikahan Kris dan Fani telah di sebar luas termasuk ke rumah sakit, seluruh dokter dan yang lain di undang. Sepertinya, ini pernikahan mewah yang akan dilaksanakan di gedung besar.


Tak terkecuali Elli, dia juga mendapat undangan cantik yang terdapat kartu undangan berlaku untuk dua orang. Bentuknya seperti kartu kredit bank. Wajib di bawa saat memasuki acara.


" Sayang. Kan kesepakatan kita warna nya putih kenapa ada hijaunya?". Tanya Fani


" Hijau daun juga kan, biar ada kesan alam hijau sayang. Putih semua jadi pucat ". Jawab Kris


" Gak mau, aku mau putih dan itu hanya mawar !". Ungkapnya tegas pada calon suami.


" Sayang besok itu acara sudah final, gak bisa di ubah-ubah. Biar begini saja sudah bagus !". Ucap Kris masih kekeh dengan uraian nya. Mereka lagi berdebat dekorasi pelaminan. Hingga para pekerja sempat binggung mau mengikuti kata siapa.


Meninggalkan perdebatan calon suami istri. Beralih ke ruangan Reijal yang sangat berantakan. Dia lagi pusing memikirkan nasibnya, hukuman yang sudah terlanjur Elli terima rasanya ingin di cabut. Sungguh menyesal. Lagian sebagai pimpinan Rumah sakit terbesar di kota ini tidak bisa dia tinggalkan selama berbulan-bulan.


Pekerjaan belum beres malah menimbulkan masalah lagi yang lain. Mau tidak mau dia harus pasrah sama keputusan yang telah di ambil tanpa memikirkan panjang. Elli dan Gara akan pergi, itu pikiran yang amat dia benci.


Jam istirahat kerja sudah di mulai. Bersama rekan kerja dan juga Bu Caca lagi menuju kantin.


" Undangannya hanya untuk dua orang, sedangkan aku punya anak dua. Bagaimana ini?". Keluh Bu Caca memikirkan anak dan suami yang terancam tidak bisa ikut.


" Maaf Bu, Elli ngajakin ponakan. " Sahut Elli.


Fikran berpikir, meskipun dia mengajak Gery itu tidak butuh kartu undangan. " Bu Caca ajak Yudi saja biar Yuda sama saya. Lagian Roni tidak akan mau ikut ke pesta". Kata Fikran membuat Bu Caca kembali tersenyum.


Kembali menekukkan wajah. " Lah, suami saya bagaimana?". Melirik seluruh rekan kerjanya satu-persatu.


Menepuk jidat sendiri. " Bu Caca ini malah ribet loh !". Ketus Kiki yang mendapat senggolan dari Gara.


" Suami Bu Caca sama saya, ntar Adik saya sama Kiki !". Urai Gara memberi solusi.


" Wah kalian baik banget sama Ibu ". Ucapnya takjub


Kiki malah senyum manis mengarah ke Gara. " Terima kasih calon Kakak Ipar. Padahal baru juga aku mau ijin". Ujar Kiki kesenangan merangkul Gara.


" Lepas !". Perintah Gara yang kemudian di lepas Kiki.


" Karena anak-anak Ibu pada baik. Hari ini biar Ibu traktir !". Gumam Bu Caca.


Tawaran itu disambut baik mereka semua. Makan dengan lahap dan kepuasan hati. Hari berlalu begitu cepatnya, pulang kerja Elli ke rumah Kakaknya untuk menjemput Behzad ke rumah karena sang nenek rindu.


" Assalamualaikum !". Kata Elli dari depan rumah. Tak lama pintu terbuka, orang pertama yang menyambutnya adalah sang ponakan gantengnya. Pelukan erat dari Behzad mengharuskan dia mengendong Ezad dan masuk ke rumah.


" Aunty sendirian? Uncle Gara mana?". Tanya sang ponakan yang sudah duduk di sofa depan tv.


Elli ikut duduk di sofa dan melirik anak kakaknya. " Nanti kita jalan bareng Uncle Gara besok. Ezad ikut gak?".


" Ikut. Tapi kemana Aunty?".


" Ke pesta. Nanti Ezad dandan yang ganteng ya". Kata Elli mengusap kepala nya dan tampak mengangguk kata setuju. " Mamah sudah pergi atau belum?".


Menggeleng tanpa sahutan. Melanjutkan tontonan televisi yang menyiarkan kartun. Elli menghela nafas panjang, ternyata hobi sang kakak dia salurkan pada anak laki-laki satu-satunya ini. " Aunty lihat itu, dia berubah jadi banyak !". Tunjuknya ke arah tv.


" Iya, Aunty lihat sayang. !".

__ADS_1


Si kecil yang ganteng itu mengikuti gaya kartun di dalam tv. Berlari ke depan tv dan menirukan gerakan yang seolah benar. " Kage Bunshin No Jutsu !". Sorak Ezad. Mengundang tawa Elli. Korban kartun Jepang.


" Aunty lihat ! Bayangan Ezad banyak kan ?!". Serunya yang menyusun mainan kecil serta mobil-mobilan di dekatnya. Seumpama bayangan dirinya. Ah, lucu. Pikir Elli.


" Wah. Ezad hebat. Bisa-bisa jadi hokage !". Ucap Elli bertepuk tangan.


Asik bermain sang kakak dan suami muncul. Mereka hendak pamit 2 hari ke luar kota mengikuti suami kerja. Bukan tanpa alasan, hanya ingin dekat untuk mengawasi suami.


______


" Kalau aku tidak pergi gak bisa juga. Yang nikah sahabat aku sendiri. Masalahnya gak ada teman, kalau ajak Ibu pasti ribet nanti melihat Elli sama orang lain. !". Pikir Reijal dalam kamar. " Ah. Terserah lah. Aku datang terus pulang cepat. ". Sorak nya menggusar rambut sendiri.


" Memangnya mau kemana?" Tanya Ibu mendadak masuk kamar.


" Hah?!". Melirik Si Ibu. Segera bangun dari kasur dan menyembunyikan kartu undangan ke bawah bantal. " Eh Ibu, ada apa ?". Sangkalnya


Mulai curiga. " Jadi bagaimana dengan Elli. Sudah minta maaf belum? ". Menghampiri putra nya


" Su-sudah kok Bu !".


" Sudah tapi gak di terima. Salah kamu sendiri. Kalau orang tuanya tahu gimana? Kalian pasti di nikahi paksa. Pokoknya harus dapat maaf dari Elli !". Kata Bu Linah tegas memarahi putranya.


" Iya-iya !". Kata Reijal dengan paksa memikirkan caranya memohon ampun atas tindakan kacaunya.


_______


Pukul 12 siang di rumah sakit.


" Em, sekalian Behzad pengen ketemu kamu. Katanya rindu !". Balas Elli


" Ponakannya rindu kalau tantenya gimana?". Lirik Gara memainkan alisnya. Elli tidak menyahuti persoalan itu. Akhirnya mereka di tegur Bu Caca yang masih mempermasalahkan hal nanti malam.


Ketika Elli hendak membayar makan siang, ternyata sudah dibayarkan oleh Reijal. Merasa tidak nyaman, Elli mengumpul uang dari masing-masing mereka, dan memberikan kepada Rika. Sayangnya Rika tidak ada. Uang itu sudah diletakkan di atas meja Reijal dengan tulisan di kertas. Beruntung bos besar sedang tidak ada di ruangan.


"Ngapain kamu?". Tegur Reijal datang dari arah pintu membuat Elli kaget.


" Maaf saya hanya ingin mengembalikan uang Dokter di kantin. Permisi !". Balas Elli kemudian melewati Reijal dengan mudah.


" Tunggu !". Kata itu membuat Elli menoleh pada bosnya berdiri di sampingnya. " Saya mohon maaf atas tindakan yang saya lakukan kemarin !". Membungkuk kan badan.


" Heh ?!. Em tidak apa. Permisi !". Elli nampak menghindari lelaki itu. Kemudian saat Elli keluar, dia melambai ke cctv dan mengacungkan jempol. Agar sang Ibu tahu dirinya berhasil.


__________


Langit sudah gelap, bintang mulai menapaki diri. Saat ini Elli tengah bersiap di depan meja rias sendirian. Baju yang dia beli pun terlihat anggun. Belahan di bawah kaki terlihat hingga atas lututnya. Sangat cocok dikenakan Elli. Makin terpancar dewasanya.


" Aunty ! Ada Uncle Gara di bawah !". Sang ponakan berlari ke kamar Elli. Dengan stelan jas berwarna senada dengan Elli sudah dia pakai. Makin ganteng dan lucu.


" Oke. Aunty dah siap sayang !". Seru Elli semangat. Membawa kartu undangan ke dalam tasnya. Lalu menggandeng tangan Ezad menuruni tangga.


Bidadari surga ! Gara


Seorang Gara pasti selalu terpana melihat sosok cantik dan manisnya Elli. Denyutan jantung semakin kencang saat berjalan bertiga, bagai keluarga kecil saja. Apalagi Ezad sangat manja padanya.

__ADS_1


Sesampainya di dalam gedung hotel. Elli mengandeng Ezad. Sedangkan Gara masih menunggu kedatangan rombongan Kiki dan Fikran. Tak butuh lama, Kiki datang bersama sang adik yang juga cantik. Dan di susul Bu Caca dan Fikran dalam satu mobil.


" Hei, aku adiknya Uncle Gara. Namaku Ana !". Berkenalan dengan Behzad yang masih malu-malu.


" Wah itu si kembar. Lucunya ya mereka, bajunya samaan !". Tegur Elli menoleh pada Gara.


Gara tersenyum." Iya lucu. Kamu mau berapa? Nanti aku usahakan !". Goda Gara.


" Hei Kakak Ipar. Kalian cocok semacam keluarga bahagia gitu loh !". Sindir Kiki yang mendapat pelototan Gara.


Sudah lengkap. Mereka masuk dengan urutan Elli dan Ezad, Gara dan suami Bu Caca, Fikran dan Yudi, Bu Caca dan Yuda barulah terakhir Kiki bersama Ana. Kiki nampak bahagia kali ini bisa bersama Ana. Meskipun di awasi terus sama Gara.


Suasana dalam gedung sungguh ramai. Ada beberapa jajaran artis juga turut hadir dan memeriahkan pesta. Sebelum bersalaman pada pengantin. Mereka makan bersama di meja. Kali ini Ezad sangat aktif membuat Elli kewalahan.


" Ezad diam-diam!". Ucapnya mengejar ponakan berlari mengelilingi meja mereka. Ana melihat hanya tertawa kecil. Gara merentangkan tangan untuk menangkap si bocah lucu itu. Dia berhasil menangkap nya namun Elli terikut dalam rangkulan Gara.


" Ma-maaf". Kata Gara melepas nya dan memangku Ezad.


Adegan itu di perhatikan Reijal dari jauh yang duduk sendirian dan makan sendirian di meja. Beberapa wanita mengajaknya kenalan, dia tolak kasar. Akhirnya, tak ada yang berani mendekati dirinya.


" Cih ! Menebar kemesraan di depan umum !!". Ucap nya jengkel.


Selesai makan mereka bersamaan ke atas pelaminan. Jajaran dokter tersebut di sambut Kris dengan bahagia dan juga Fani. Bersalam-salaman kemudian berfoto bersama.


" Behzad. Jalan aja kenapa minta di gendong Uncle Gara. Ntar Uncle nya cape loh !". Ujar Elli mengandeng tangan si ganteng yang asik di gendong Gara.


" Biarlah. Kalau di lepas nanti lari-larian. Ntar kamu capek ngejarnya !". Menggusar rambut Elli yang terurai . Senyuman saling di lempar .


" Uncle Gara kapan nikah sama Aunty Elli ?!". Seorang bocah kecil menanyakan itu malah membuat Elli cukup kaget dan binggung mau menjawab apa.


" Secepatnya !". Sambung Kiki tertawa. Lalu saling tos dengan ponakan Elli. Entah apa yang mereka rencanakan tapi sungguh berhasil membuat mereka salah tingkah.


Usai sudah dan sekarang mereka dalam perjalanan pulang. Ezad berada dalam pangkuan Tantenya. Sedangkan Elli malah terlelap mungkin kelelahan.


" Hei ganteng. Memang Ezad mau Uncle Gara menikah sama Aunty Elli?". Tanya nya melirik sang bocah.


" Mau. Biar Ezad bisa main sama uncle terus ! Ntar bisa punya adik juga !". Jawab nya dengan polos.


" Uncle akan usahain mengambil hati Aunty mu ya. Doakan Uncle !". Gumam Gara semangat.


" Semangat Uncle !!! Tapi hati Aunty jangan di ambil kan nanti Aunty gak ada gimana?". Ucapnya sedih.


Gara hanya tertawa kecil melihat sosok Ezad rasanya ingin sekali punya anak. Apalagi orang tuanya selalu ingin minta cucu. " Gak gitu sayang !". Jawabnya singkat


" Seperti nya memang Gara orang baik dan cocok untuk Elli dari pada bosmu itu !". Gerutu Gery melihat Fikran lagi berganti pakaian.


" Kalau Gara sih bagus, yang mana aja deh asal Elli suka dari hati !". Jawab Fikran


" Eh ngomong-ngomong. Saat pulang kerja waktu itu, aku berhasil memperlihatkan diriku ke Elli dan bisa memeluk nya !". Seru Gery mengikuti langkah Fikran duduk di atas kasur.


" Kok bisa. Coba lakuin ke aku !". Perintah Fikran


Menekuk wajah. " Nah itu dia, aku tidak tahu caranya bagaimana ?!".

__ADS_1


__ADS_2