
Lanjut MTM 26 ~
__________________
Saat ini, Elli tengah menunggu Ayah nya menjemput untuk di ajak makan siang bersama. Katanya, sebentar lagi sampai di gerbang rumah sakit. Dia menolak untuk sang Ayah membawa mobil, dirinya ingin bernostalgia dengan suasana masa kecil yang dulu selalu di bonceng naik motor .
Teman yang lain sudah di kantin, Elli baru saja berjalan menuju lift yang kebetulan pintunya terbuka lebar. Segera melangkah cepat memasuki lift sendirian. Berbalik badan dengan tegap lalu menekan tombol lift ke lantai dasar.
Tersisa beberapa senti lagi pintu lift tertutup, namun itu di cegah seseorang entah siapa hanya kelihatan sebelah tangan yang masuk dari celah pintu.
" Tu-tunggu !". Ucapnya kemudian melirik Elli dari luar. Melongo sejenak, jarinya refleks memencet tombol lift agar tertutup rapat . Dan itu dia lakukan berkali-kali sembari memasang wajah jengkel.
" Ad-aduhhhhh. AGHHH !!". Ringisnya kesakitan. " Hei Dokter hobi teriak, apa yang kamu lakukan. Tangan ku bi-bisa putus !". Gumamnya masih menahan sakit di tangan yang terjepit.
Mampus Gila !
" Apa? Aku tidak dengar !". Kata Elli masih kesal. Jarinya terus memencet tombol tersebut. Tidak peduli deh, mau putus atau patah. Yang penting puas.
" Hei manusia setres ! Hentikan itu !!!!". Bentaknya dan berusaha menarik tangannya keluar. Elli masih acuh yang dikatakan bos kerjanya tersebut. Ketika tangan itu sudah keluar. Elli sungguh puas dan menjulurkan lidahnya ke arah wajah Reijal tampak kesakitan .
" Menyebalkan wanita Kunti itu ! Awas saja, aku tangkap lalu ku gigit !!!!". Ancamnya masih berdiri kokoh didepan lift. Sudah tidak peduli lengannya yang sakit, berlari ke arah tangga sekencang-kencangnya.
" Ngapain Bos besar itu berlari? Apa dia lagi main kejar-kejaran?". Ketus Kiki yang tak sengaja melihat Reijal berlari menuruni tangga.
Gara binggung. Mencoba mengambil ponsel untuk mengirim pesan.
Wawan Negara : Pak Reijal lagi berlarian turun tangga, kamu tahu dia kenapa? Hati-hati El.
" Bahaya !". Ucap Elli setelah membaca pesan dari Gara. Pikirnya, dia mau balas dendam karena sakit di tangannya.
Bersamaan itu Elli melihat lagi pintu lift nya mulai terbuka. Berjarak tidak jauh, Reijal berlarian menghampiri lift. Elli tidak peduli pada orang-orang yang ingin masuk. Kembali menutup lift. Terus-menerus memencet tombol tersebut. Alhasil, tidak ada yang masuk dalam lift.
Sementara itu, Reijal mulai ngos-ngosan nafasnya. Bertumpu pada lutut nya, pasti lelah berlarian siang hari menuruni tangga. Sialnya berlanjut sampai ke lantai dasar. Menggunakan tangga berlarian menyusul Elli. Kesal bertumpuk pada rasa lelahnya.
Belum juga sampai ke depan lift, Elli sudah keluar berlari sambil mengeluarkan lidahnya. Hatinya puas kecuali Reijal sangat-sangat geram, baru kali ini ada bawahan yang berani padanya.
" Tun-tunggu saja pembalasan ku !". Lirihnya kecapean. Tidak sanggup melangkah, dia pun duduk di undakan anak tangga. Sambil terus mengatur nafasnya.
Elli dengan santai melewati para awak media yang masih berhamparan dimana-mana. Cukup beruntung, sang ayah tiba dengan motor bututnya. Elli melambai riang ke arah sang ayah tercinta. Dirinya hanya membawa ponsel dan dompet, jjas putih tidak perlu dia gunakan saat keluar dari rumah sakit.
" Ayah lama !". Omelnya sambil memakai helm kemudian duduk menyamping. Lagi pakai rok pendek , gak mungkin juga dia duduk ngangkang.
" Maaf. Di jalan macet Dek !". Jawab Ayah kemudian meluncur ke jalan besar.
Tak lama, motor Ayah Elli sudah berhenti di parkiran tempat makan. Bukan warung pinggiran melainkan Cafe tempat nimbrung nya anak-anak muda. Elli juga tidak protes, asal makan bersama Ayahnya saja dia sudah senang.
" Elli mau pesan apa?". Tanya ayahnya masih membaca lampiran menu di meja duduk.
Berpikir, mata nya kebawa ke atas. Bolak balik lampiran menu dia lihat. " Yang enak aja deh Yah". Jawabnya menaruh buku menu ke atas meja.
" Semua enak. Pesanlah, kan ayah yang bayar. Asal jangan semua !". Sangkal Beliau melirik Elli.
__ADS_1
Mendengar kata itu dia senang, lalu memesan makanan yang menarik matanya saat dibuku menu tadi beserta minuman lainnya. Kemudian, pesanan tadi tulis sendiri di kertas yang sudah tersedia. Beranjak ke bagian pemesanan untuk memberikan kertas berisikan menu yang dipesan Elli dan Pak Wijaya.
" Mas. Ini pesanannya !". Menyodorkan kertas kemudian dia letakkan di mangkuk kecil atas meja. Sembari melempar senyum.
" Iya. Di tunggu ya Mbak !". Balasnya dengan ramah.
" Ayah sudah pernah ke sini?". Tanya Elli, sudah duduk di hadapan Ayahnya yang sudah berumur 50 tahunan.
" Pernah, cuma suasana nya berbeda. Jaman Ayah, ini bukan Cafe tapi kedai kopi biasa yang di seduh pakai air panas lalu di sajikan. Sekarang, ngikutin jamannya". Tutur sang Ayah.
" Wah, lama banget dong Yah ". Ujarnya terkagum-kagum. Cafe kekinian yang biasa di ucapkan segelintir orang. Bagus juga untuk foto-foto posting di sosial media.
" Yang punya itu teman Ayah. Tapi sudah meninggal, jadi di teruskan sama adiknya !". Jelas Beliau lagi.
Elli ber-Oh panjang, langsung juga makanan sudah datang menghampiri dan di taruh di atas meja. Bersama Ayah yang dia sayangi, mereka makan dengan tenang. Sungguh, moment langka karena si Ayah kerja jauh.
Makan siang sudah selesai. Meninggalkan kenyang di perut dan kesenangan di hati. Sayangnya cuaca tidak mendukung, malah gerimis di sertai guntur di atas langit. Awan juga menghitam.
" Gerimis Yah !". Kata Elli melihat Ayahnya usai membayar di kasir.
" Kan gerimis doang, mau hujan badai juga Ayah lewati !". Gurau Beliau yang mengundang geli anaknya.
" Ayah ih, macam lagu aja. Jadi kita terobos aja gitu?". Kurang yakin.
Mengangguk kemudian berlari ke parkiran motor. Hanya gerimis, dengan memaksa menerobos ke jalan raya. Dirinya tidak bisa menatap jalan ke depan hanya menunduk. Akhirnya, perjuangan sang Ayah sudah di ujung.
Mereka tiba di rumah sakit, berhenti di parkiran. Karena hujan mulai deras, Elli membawa Ayah masuk ke rumah sakit untuk berteduh sejenak. Lagian, masih banyak waktu untuk menemani sang Ayah.
" Memangnya kunci mobil sama adek?". Ayah nanya balik. Mereka duduk di ruang tunggu yang tampak sepi .
" Gak sih yah".Ujar Elli memelas.
Entah kenapa hujan semakin deras siang ini. Waktu juga terus berjalan. Elli sudah berniat ingin mengirim pesan pada Gara untuk dimintakan tolong. Tapi sungguh sial, bosnya tiba-tiba saja nongol dan sangat sok akrab dengan Pak Wijaya.
" Siang Om". Sapa Reijal mendadak mendekat.
" Eh, siang juga". Sapa Ayah balik. Elli yang duduk di dekat sang Ayah, malah Reijal ikut-ikutan duduk di sisi kiri ayahnya.
" Om ngapain? Berobat ?". Tanyanya penuh arti. Tapi mata melirik ke Elli tajam.
" Tidak ! Nunggu hujan reda. Om bawa motor, nanti basah aja !". Jawab Pak Wijaya.
Reijal berpikir. Seperti nya dia memiliki ide untuk membalaskan dendam nya. " Eh, Om bawa saja mobilnya pulang. Biar nanti saya bawa motor sama Elli. Ya kan Dokter Elli ?". Tatapan penuh arti dan menantang ke wajah si Elli
" Serius gak papa kalian naik motor? Bukannya di luar masih ada wartawan, Nak?". Ayah kurang yakin sama usulan si tetangganya itu.
Senyum palsu bagi Elli yang di torehkan dari Reijal untuk Ayahnya. " Tenang, itu nanti Reijal yang urus. Ayah pulang lah. Ini kuncinya !". Memberi kunci di telapak tangan Pak Wijaya.
Mampus Gila ni cowok mesum ! Sok akrab banget panggil Ayah !!! Elli
" Ya sudah. Ayah pake ya. Kalau ada apa-apa, kasih tahu nanti Ayah ke sini lagi !". Katanya.
__ADS_1
Ayah pun beranjak dari bangku tersebut dan berjalan menyusuri parkiran, melindungi kepala dengan tangan nya sambil berlari kecil. Melambai ke arah Elli dan Reijal yang masih berdiri di pintu masuk.
Ketika mobil itu sudah berjalan hampir keluar gerbang. Elli melangkah mundur tanpa sepengetahuan dari pria di sampingnya.
Sretttt !
Tangan nya sudah berhasil Reijal tangkap. Elli mencoba menolak dan melawan, sungguh itu tidak bisa. Reijal masih kesal setengah hidup akibat ulah dirinya. Dia di bawa ke dalam lift dengan paksa.
Menyudutkan Elli ke dinding lift, dibatasi kedua lengan kanan dan kiri bertumpu dan di tindih menggunakan tangan Reijal kiri dan kanan. Akhirnya dia terjepit tidak bisa kemana-mana. " Jadi, mau bagian mana di gigit? Kanan apa kiri?". Memberi usulan namun tatapan nya mengintimidasi.
Elli gugup. " A-apa maksudnya?". Lirih Elli.
" Kamu kira tangan ku tidak sakit apa terjepit di lift. Jadi bawahan, berani banget ! Nyawamu ada berapa sih?". Membentak Elli.
Gemetaran. Takut menatap mata si bos, dia hanya menunduk. " Ya, ma-maaf. Sa-saya hanya main-main aja kok !". Kata Elli yang tubuhnya masih berguncang kecil.
" Main-main katamu?!!! Jadi, kalau aku ngajak kamu main-main kamu mau?". Mengangkat dagu Elli.
Elli menggeleng cepat. Tidak menjawab apa-apa. Ketika lift sudah mengeluarkan suara dan berhenti. Reijal memencet lagi tombol entah ke lantai berapa. Pokoknya terserah dia.
" Jangan salahkan aku, kalau aku hari ini akan bermain-main dengan mu !". Dengusnya judes. Sungguh itu tidak Elli mengerti. Dia butuh penjelasan maksud dari ancamannya. Tapi bibir masih tertutup rapat.
" Kenapa tidak bicara ! Mana lidah yang kamu julurkan itu tadi siang? Mana !!!!!!". Ucapnya bernada tinggi. Elli tidak tahu kemauan bosnya apa. Dia ingin lari tapi tidak bisa. Kaki nya juga terjepit dengan kuat. Satu-satunya cara, dia menuruti permintaan orang gila di hadapan nya.
Begitu lift berhenti dan terbuka. Entah kenapa Reijal memberi isyarat di tangan. Dan seketika lampu lift mati. Lift tidak lagi beroperasi. Masih menatap tajam Elli, meskipun gelap. Dia bisa melihat raut wajah takut Elli, matanya juga terpejam.
" Kenapa kamu memejamkan mata? Aku menyuruhmu mengeluarkan lidah mu. Mana tunjukkan itu, aku bisa melihat wajah mu itu. Aku tidak buta meskipun gelap !". Mengerang keras .
Mampus Gila. Kalau aku di perkosa bagaimana ?! Pria ini ingin rasanya ku bakar hidup-hidup. Oh Elli, jangan menangis. Kau harus berani ! Satu-satunya cara, ikuti dulu baru mencakar wajahnya dengan kuku mu ! Elli
Membuka matanya, wajah mereka sangat dekat. Sungguh membuat dia gerah padahal hujan tapi di sini panas, pikir Elli. Terpaksa dia mengeluarkan lidahnya perlahan-lahan.
Mata pria itu melihat lidah Elli keluar seluruhnya. Kepalanya dia miringkan ke kanan. Dan apa yang dia lakukan, sungguh gila. Elli tahu rasanya di diapakan hari ini. Meskipun digigit namun lembut. Jantung mulai tidak karuan rasanya. Elli mendesah karena panas.
" Apa kamu menggoda ku? Kenapa nafasmu begitu ?". Reijal sudah puas dengan apa yang di lakukan. Tiba-tiba lampu lift menyala. Dan akhirnya terbuka perlahan.
Elli melayang kan niat dihatinya ketika pria itu melepaskan dirinya.
Srt !!!!
Cakaran tepat di dada nya. Kemudian Elli lari sekuat mungkin masih saja tidak kapok menjulurkan lidahnya ke arah pria tersebut. Bajunya memang sedikit sobek.
" Agh ! Aku membuatnya jera malah dia berulah lagi !". Reijal berjalan menutupi robekan dan memasuki ruangannya. Tapi kali ini, jantungnya masih berdebar kian kencang. Duduk di sofa menetralkan perasaan hatinya yang campur aduk.
" Rika, ambilkan saya kemeja baru !". Perintah nya pada Rika. Tak lama juga, Rika dengan sigap membawa baju tersebut.
" Ini Dok !". Menyerahkan kemeja yang terlipat rapi.
Di ambilnya dengan kasar." Apa kamu tahu penyakit apa yang jantung mulai berdetak kencang saat bersama wanita gila itu? Masa iya aku kena penyakit jantung. Itu tidak mungkin !". Melirik Rika.
Apaan sih si Bos ini. Apa dia anak kecil umur 5tahun? Masa hal itu tidak tahu . Bukan kah dia pernah pacaran sama artis ? Rika
__ADS_1
Menunduk kan kepala sedikit. " Maaf Pak Dokter, kalau tidak salah itu bukan penyakit. Dokter cari tahu pada Dokter Kris. Bukankaj dia tahu ?". Usul Rika