Malu Tapi Mau

Malu Tapi Mau
MTM #37 Ingin Sendiri 2


__ADS_3

__________


Harga diri nya begitu terasa hancur, seenaknya saja menyentuh bahkan pria yang sudah berkali-kali melakukan hal sama tidak memiliki hubungan apa-apa pada Elli.


Pria yang belum genap setahun menjadi atasan Elli sudah berlaku senonoh, kasar dan angkuh. Kata maaf hanya sekali terucap dibibirnya. Tak sebanding dengan kelakuan gila yang terus dia lakukan.


Tidak menangis justru marah, kesal, emosi yang memuncak tiap langkahnya. Elli masih berjalan menuju ruangan namun dia urungkan, lebih baik memeriksa pasien di ruangan inap. Sambil menyimpan amarah dengan baik agar kerjanya berjalan lancar.


______


" Aku harus cari cara agar bos mu itu tidak kurang ajar !". Suaranya terdengar kesal hingga kepalan tangan di adu dengan tangannya yang lain.


" Dokter Reijal kenapa?". Bisik Fikran.


Gery berhenti dalam langkah bolak-balik nya dan menoleh pada Fikran. " Dia begitu nafsu dengan Elli. Aku pribadi tidak setuju kalau dia manusia baik !". Masih jengkel.


" Bukannya kamu memilih dia dari awal? Aku sih gak. !". Ujar Fikran yang memperhatikan Gery.


" Baiklah, lupakan dia . Gara bagiku baik. Tidak pernah menyentuh Elli secara berlebihan. Tapi?". Tertegun sesaat memikirkan nasib hati yang masih setengah-setengah.


" Tapi hatimu belum move on ?!".


Gery terdiam dalam lamunannya sendiri. Tidak juga bisa menjawab pertanyaan Fikran, hatinya saja masih bimbang tak tentu arah.


Andai ada seseorang yang bisa membantu ku. Gery


" Assalamualaikum !". Sapa Kiki memasuki ruangan kerja yang hanya terdapat Fikran.


" Walaikumsalam. Bagaimana pasien di ruang melati?". Tanya Fikran


" Aku sudah memeriksa nya, kan aku ahli nya hahaha!" Jawab Kiki dengan berbagai aksi tawa. " Gara, Elli kemana?". Sudah duduk di kursi.


" Gara di bawah kalau Elli di panggil bos besar !".


" Kalian berangkat ninggalin aku sendirian. Awas lu gak bawa Oleh-oleh !". Gumam Kiki menunjuk wajah Fikran yang tertekuk kaget.


" Loh bukannya itu berita bagus ya. Ana ?". Memainkan alis sambil senyum genit ke Kiki. Kode itu di artikan Kiki dengan wajah gembira.


Gara memasuki ruangan. Namun, Kiki tidak melihat. " Betul juga, ini kesempatan sempurna untuk dekatin Ana. Agh ! Aku jadi bersemangat Guys !!!!". Sorak Kiki kesenangan. Melompat dan memutar badan hingga mengundang Fikran tertawa kecil.


Ketika putaran tubuh mengarah depan pintu, terpampang nyata Gara berkacak pinggang sudah kesal setengah hidup. Kiki terdiam kaku sedangkan Fikran menertawakan dirinya. " Coba ulang, tadi bilang apa?!". Gara melangkah maju seperti menantang Kiki yang jalan mundur


" Ti-tidak ! Aku gak bilang apa-apa, cuma minta oleh-oleh aja. Ya gak Fik?". Menoleh pada Fikran untuk segera meminta bantuan . Gawat darurat ini,pikirnya.


" Awas aja kalau aku tahu dan dapat laporan kamu mempermainkan adikku. Ku hapus namamu dalam daftar keluargaku !". Ketusnya menyentil telinga Kiki.


" Eh, sejak kapan kalian adik kakak?". Tanya Fikran, masih ada sisa tawa yang terdengar.


Kiki tersenyum lebar. " Eh? Jadi aku sudah di anggap adik ipar mu. Jadi, Dokter Gara sudah setuju?". Mengerakkan tubuh Gara berulangkali

__ADS_1


Menepis tangan Kiki. " Diam lah ! Awas aja !". Gara meninggalkan Kiki tampak bahagia tingkat internasional. Dia duduk masih memikirkan Elli sejak tadi belum kembali dari ruangan bos besar.


________


" Aku ke ruangan sebentar baru pulang. Lelah sekali !". Keluh Elli yang baru usai memeriksa beberapa pasien bersama perawat lain.


Keluar dari lift berjalan sambil memijit lehernya sendiri. Ketika sampai dalam ruangan. Teman-teman kerjanya pada melihat, namun ada sosok yang dia cari untuk membagi keluh kesah nya saat di ruangan bos.


Gara berdiri dari tempat duduk nya untuk menyambut wanita yang sangat dia sayangi. " El, kamu dari ma-?".


" Kamu bawa mobil gak hari ini?". Elli berdiri di depan Gara.


" Tidak, aku di jemput Ana. Kenapa?". Tanyanya penuh arti


Elli menebar senyum lalu duduk. " Bareng ya, kan dah janji aku traktir. Aku ingin jalan sebentar sama kamu, boleh gak?". Menaruh tas di atas meja kembali menoleh pada Gara yang berdiri kaku.


Mata Gara melirik kedua teman didepannya yang lain. Kemudian duduk dengan rasa bahagia. " Boleh, kemana aja kamu mau aku temani kok !".


" Kalian tahu tidak. Aku dapat hukuman apaan ?!". Merebahkan kepala di atas meja. Menghela nafas berat rasanya tidak ikhlas.


Ketiga pria tampan tersebut penasaran dan mendekat pada Elli. Duduk mendengar penjelasan Elli satu-satunya wanita paling muda di tim mereka.


Duduk tegak, membuka tas dan mengeluarkan lembaran surat tugas. " Ini, aku di tugaskan ikut berangkat sama relawan yang lain. Ku berharap saat di tes kesehatan gak lulus eh malah lulus. Aghh ! Sepi gak ada kalian tahu !!". Ucapnya berkeluh kesah pada mereka


Gara dan Fikran tersenyum lebar kecuali Kiki bersandar pada kursi. " Kalian bertiga pergi. Aku tahu aku spesialis Anak bukan bedah atau umum. Aku yang kesepian !". Gerutu Kiki.


Mereka menganggukkan kepala bersama. Hukuman yang semula berat untuknya sekarang sudah mulai ingin dia jalani dengan senang hati bersama para sahabatnya.


________


Sepulang bekerja Elli bersama Gara menghabiskan waktu bersama. Itu lebih baik dari pada di rumah memikirkan hal tidak jelas dan mengundang masalah terus datang. Tawa, cerita dan segalanya bersama Gara mengalir begitu saja.


" Apa Dokter Reijal tidak jahat padamu?" Tanya Gara. Sejak tadi pertanyaan itu selalu dia urungkan namun rasa penasaran lebih besar dari itu.


" Em, gak ada kok. Cuma ngasih surat terus aku lama karena ada pemeriksaan pasien aja !". Ujar Elli menutupi kebenaran yang nyata.


" Serius?!".


" Em. Oh ya, di kawasan apartemen mu ada yang kosong tidak. Aku ingin tinggal sendiri. Kalau dekat sama tempat kamu juga gak papa, biar bisa bareng Ana terus !". Kata Elli.


" Em, nanti ku tanyakan ya sama pemilik nya. Memangnya kenapa kalau tinggal di rumah mu? Apa Reijal iseng?!".


Menggeleng. " Bukan itu masalah nya, aku pengen tinggal sendiri aja. Kan enakan kalau ada teman,di rumah sepi kalau ada Ezad aja rame ! ".


" Nanti aku coba tanyakan ya sama yang punya. !".


Pukul 2 siang mereka sudah berada di rumah masing-masing. Melepas masalah kemudian rebahan sebentar di kamar.


" Andai ini dunia fantasi, aku lebih ingin pacaran sama makhluk astral dari pada makhluk nyata. Yang jelas aku ingin Gery ! Bukan siapa-siapa." Ucapnya sendiri sambil memandang langit kamar yang juga berwarna merah muda.

__ADS_1


Elli, ini memang dunia fantasi. Buktinya aku di sini. Di sebelahmu. Gery


" Mau bagaimana pun, aku mana bisa menghapus begitu saja cinta pertama ku. Seperti kak Ayu meskipun ada Kak Heru yang peduli tetap memilih kak Putra yang jelas-jelas selalu nyakitin hati nya. !".


Rebahan ditengah ranjang, memikirkan kembali masa sekolah. Sebenarnya, sosok Gery lagi baring disisi Elli sangat dekat. Lagi memperhatikan Elli memandangi foto mereka berdua.


" Mimpi itu kenapa di akhiri begitu saja. Aku hanya ingin bilang I Love You to, Gery !". Mengusap foto Gery dari layar ponsel.


Meletakkan ponsel di atas kasur, memiringkan tubuh dirinya lagi membayangkan Gery lagi bersamanya.


" Aku rindu. Aku minta maaf tidak bisa menjaga diriku di sini, aku malu di atas sana pasti kamu melihat ku !." Keluh Elli sambil mengelus lembut dan pelan sebuah seprei merah muda nan tebal.


Kenyataannya dia memang sudah mengelus pipi Gery. Elli tidak tahu yang dia tahu dia hanya membayangkan pria tersebut bersamanya di sini. Ah, rindu ! Begitulah pikirnya. Kembali ingin memeluk sebentar saja.


" El, kamu tidak salah jangan minta maaf. Aku yang tidak bisa menjaga mu !".  Menyentuh tangan Elli yang lagi mengusap pipi putih Gery.


Air mata seakan turun begitu saja. " Ah, ini mimpi ya? Ku harap aku tidak bangun !". Kedua mata sudah memandang jelas Gery terbaring di depannya. " Gery, aku ingin ikut bersama mu ! Aku rindu !". Ucap Elli dengan sangat dalam.


" Jangan ! Belum waktunya kamu pergi El, aku sudah bilang kan akan menjaga mu. Kalau rindu, ucapkanlah dengan jelas. Aku pasti dengar !". Balas Gery menyeka air mata Elli yang jatuh ke kanan hingga bawah membasahi helaian rambutnya.


" Jika aku rindu datanglah. Peluk aku ! Aku hanya tenang dan aman di dekatmu. Sungguh, aku rindu kamu di sini . Andai kamu masih hi-". Bibir nya berhenti terucap karena Gery tidak ingin dia melanjutkan.


" Diamlah. Sini peluk !". Ucapnya tulus dan merentangkan kedua tangan lurus. Dengan senang hati amat dalam dia memeluk Gery begitu erat. Biarlah air mata itu terus terjatuh sebagai tanda dia lagi bersyukur.


" Aku menyayangimu sampai kapanpun !". Bisik Gery dan terus mengelus kepala Elli. Kecupan mesra di kening Elli membuat dirinya terlelap begitu saja.


_________


" Bu. Ampun ! Aku hanya spontan !" Reijal memohon ampun pada Emaknya.


" Ternyata anak Ibu seperti ini. Ibu akan mengirim kamu ke kutub aja !". Ketus Ibu Linah jengkel.


Bukan di rumah saja kamera terpasang. Bahkan di ruang kerjanya terhubung kamera tersembunyi ke laptop sang Ibu tercinta. Akibat kelakuan itu, sang Ibu marah besar.


" Minta maaf ! Kalau tidak Ibu akan mengirim mu ke kutub Selatan !". Perintah Beliau membuat anaknya sendiri tak berkutik.


Pasrah saja dari pada hidupnya dikutuk. Memasuki rumah Elli dengan sopan. Dia berhasil mendapat ijin ke atas mengunjungi kamar Elli. Ketukan pelan dan salam di ucapkan berkali-kali.


Entah berapa kali, Elli pun menyahuti dengan suara sedikit parau. Membuka perlahan daun pintu sambil membersihkan air mata yang menetes saat dia tertidur lelap. Ketika kesadaran sudah terkumpul rapi. Matanya membesar kaget.


" El, maafin aku atas kejadian di ruangan tadi si-".


Brakkkkkkk !!!!


Pintu tertutup keras hingga Reijal terlonjak mundur karena kaget. Kalimat nya saja sudah di potong, yang jelas sungguh sangat marah.


" PERGI !!!!!!". Teriak Elli keras.


Sang Ibu datang menghampiri dan mencoba mencari informasi permasalahan mereka berdua yang tak kunjung selesai. Namun, Reijal menjelaskan kalau dirinya lah yang bersalah dan pantas di marahi.

__ADS_1


__ADS_2