
______
Sebuah koper warna pink beserta tas ransel yang dia tenteng sudah siap dia bawa. Keluar dari kamar layaknya di iringi musik dan tiupan angin mengenai rambut yang terkibas ke belakang. Bagai hari ini lagi ikut Medan tempur.
Ibu dan Ayah ikut dalam pengantaran sang putri tersayang. Ayu, Putra dan Behzad bahkan tidur di rumah hanya ingin berpamitan pada sang adik. Seperti biasa, Ezad memeluk nya dengan kasih sayang.
" Aunty baik-baik ya di sana !". Pesan si ponakan.
" Baik kok, di sana juga ada Uncle Gara. Kalau ada signal, pasti Aunty telepon". Mengelus punggung bocah lucu tersebut.
" Hati-hati dek. Jaga diri ya, pertama kalinya kamu kerja jauh dari rumah". Pesan sang Kakaknya yang masih menggunakan daster.
Anggukan dan ciuman ke tangan kakaknya. " Hati-hati dek. Semangat kerja nya !". Sambung Putra.
Selesai mencium tangan, Elli merasa aneh dan tersenyum. " Kalian kok sedih, Elli kerja bukan lagi mau perang". Sahut Elli.
" Ya kali kan barengan. Semacam film Korea tentara sama dokter itu juga ada adegan tembak-menembak nya, El". Jawab Ayu membuat Elli berpikir sejenak.
" Eh, iya juga. ih, kakak jangan mancing doa gitu. Semoga gak ada nembak-nembak nya. Yang ada cukup cowok gantengnya aja ". Ceplos Elli membuat Ezad berkacak pinggang.
Elli yang melihat mengundang nya untuk bertanya. " Si ganteng kenapa marah-marah sama Aunty? Gak mau Aunty cari pacar?". Mencubit pipinya yang bulat.
" Gak mau !". Tidak mau menatap Elli. " Uncle Gara nanti nangis !".
" Kalau Ezad gak mau ya sudah, gak jadi kok. Aunty jalan dulu ya!". Mendengar kalimat pamit, si ponakan memeluknya kembali.
_________
Dari sudut rumah berkedok apartemen, Gara yang tengah menyelesaikan sarapan bersama sang adik dan orang tua tercinta.
" Dek, mungkin disana susah signal, kalau ada apa-apa coba tanya sama Kiki ya?". Ucap Gara menyuap nasi terakhir.
" Iya kak. Tumben kakak percayakan Ana sama cowok?". Kata Ana kurang yakin dengan sikap kakaknya yang sekarang berubah.
Gara beranjak dari ruang makan." Gak papa, kali ini aja."
" Kiki itu siapa Dek?". Tanya Mama yang kebetulan belum dikenalkan dengan Kiki
" Teman Kak Gara di rumah sakit, Ma. Tenang masih aman kok. Cuma teman doang !". Jelas si anak yang tidak mau orang tua nya curiga.
" Kalau teman, kenalin dong ke Papa sama Mama". Papanya ikutan nimbrung.
Gara tiba-tiba muncul dari balik kamar membawa koper dan tas ransel berwarna senada. Menggunakan topi putih lalu bersalaman dan pamit pada orang tua juga adik.
" Pa, Ma. Doakan Gara disana. Titip Ana. Dan Ana jangan aneh-aneh sama Kiki ". Mencium punggung tangan orang tuanya. Di susul Ana juga mencium tangan sang Kakak tersayang yang akan ninggalin dia jauh.
Dari sebuah parkiran apartemen milik Gara tinggal. Sebuah mobil sudah menunggu. Fikran bersama Kiki karena Kiki ingin mengantarkan mereka yang rela terlambat kerja tidak masalah. Kali ini Kiki membawa mobil sedangkan Fikran duduk didepan.
__ADS_1
" Sedih gak Bunda mu saat tahu kamu pergi jauh dari bumi?". Oceh Kiki yang mulai absurd.
" Kamu kira aku mau kemana? Ke Mars? Ya sedih dong ! Sesedih kamu ninggalin Ana.". Jawabnya jutek.
" Tapi sayangnya, aku tidak ikut pergi. Keberuntungan memihak padaku !". Sahut Kiki dengan bangga dan membiarkan kedua tangan di belakang kepalanya. Sambil melirik Gara yang tidak muncul-muncul.
" Beruntung apa Lo !!!!". Gara membuka pintu mobil melirik kedua pria yang lagi bercengkrama tidak jelas. " Buka, mau simpan koper ni. Buruan !". Perintahnya
" idih kalau pagi-pagi sudah galak aja. Sudah tu !". Jawab Kiki membuat Fikran tersenyum.
Selesai sudah jemput-jemputnya sekarang mereka dalam perjalanan ke markas besar Tentara di kota tersebut. Sama dengan halnya Elli juga masih dalam perjalanan. Sinta yang sangat semangat sudah datang terlebih dahulu menunggu para tim dokternya. Sedangkan Alya masih meringis kesakitan di pipi juga luka-luka lebam yang dulu di tubuhnya sekarang berasa sakit akibat pancaran hati yang patah.
" Awas lu macam-macam sama Ana. Ortu belum boleh dia pacaran." Gumam Gara memainkan ponselnya.
" Aku tahu. Aku juga gak maksa dia Nerima aku, berkali-kali dia menolakku. Tapi sebagai pria sejati, pantang mundur !". Balasnya dengan tegas mendapat tolehan Gara dan Fikran.
" Ya sudah. Usaha aja, kalau serius !". Jawab Gara singkat.
" Nah Ki, kamu sudah dapat restu dari kakaknya. Buruan lamar !". Sela Fikran.
Fokus menyetir mobil." Gampang bener ngomongnya. Jadian juga gak segampang kamu ngasih es krim. Nikah gak segampang ngasih undian milyaran yang entah dapat atau tidaknya. Masih nabung kali !". Kiki berceloteh panjang. Tapi tidak ada tanggapan dari kedua pria tampan tersebut. Suasana hening, mungkin kedua nya merasakan hal yang sama. Jadi enggan membahas lebih lanjut.
Tak lama sampailah mereka di tempat yang di tuju. Kiki ikut membantu mengeluarkan barang. Mobil mereka berpas-pasan dengan mobil Elli. Kiki menurunkan koper Gara sedangkan Gara menurunkan koper Elli.
" Anak itu kalau jatuh cinta, lupa sama barang sendiri !". Ketusnya jengkel. Mana koper sama tasnya juga pada berat.
" Pagi, kalian hati-hati ya jangan lupa makan di sana. Jaga kesehatan. Ibu titip Elli ya". Ucap si Ibu berpesan pada Gara.
" Saya akan jaga Bu. Lagian nanti rame ada Fikran juga dua dokter wanita lagi ". Ucap Gara menjelaskan. Akhirnya mereka pamit pada orang tua Elli dan juga Kiki.
" Agh ! Pasti kangen Kiki ". Ucapnya dengan nada manja.
" Ya sudah peluk sini !". Perkataan yang selalu mengundang Gara emosi.
Elli melirik Gara yang menatap Kiki dengan tajam. " Hehe gak jadi deh, ada yang marah !". Sindirnya melihat Gara.
Para dokter sudah siap menunggu pesawat tentara mendarat di lapangan besar. Sambil menunggu sambil mengobrol. Fikran melirik Alya yang nampak merenggut dan diam. Wajahnya tidak lagi lebam hanya sedikit berwarna biru.
" Al, kamu gak papa?". Tanya Fikran berbisik
" Gak papa. Makasih sudah mau menolong ku. " Balasnya jutek
Fikran tersenyum ramah yang juga di tatap Alya. " Balasan kamu sudah menolong ku waktu SMA dulu". Bisiknya.
Idih. Sok baik banget sih, senyum-senyum segala. Gak lihat apa orang kesakitan. Mana wajah nya tampan begitu lagi !!! Alya
Di sudut lain, Gery juga ikut berdiri sambil memegang kopernya yang entah dari mana dia dapatkan.
__ADS_1
__________
Hembusan angin yang kencang membuat seluruh orang yang berdiri di lapangan besar terbawa angin. Helaian rambut berterbangan menutup sedikit celah debu yang terikut terbang dengan tangan.
Pesawat yang mendarat tepat di depan mereka membuat pasang mata terpana. Apalagi saat prajurit keluar dari kapal terbang tersebut. Benar kata sang Kakak, bagaikan di film drama yang itu hanya saja ini berbeda negara.
" Selamat datang di markas kami. Dan terima kasih atas partisipasi Dokter sekalian yang ikut membantu kami dalam menjalankan tugas". Ucapnya sebagai sambutan.
Sambutan singkat yang dibalas sang perwakilan dokter, Sinta Herles dengan ramah dan sopan serta senyum yang memekar lebar. Tak lama, mereka di persilahkan masuk ke dalam pesawat mirip dengan helikopter. Dalam perjalanan memang terasa tegang dan hening. Ada juga beberapa prajurit didalam pesawat namun tidak bergeming.
Beberapa menit dalam perjalanan, mereka di suguhkan atraksi pesawat tempur yang menghiasi langit biru. Elli tak lupa mengabadikan momen langka tersebut ke kameranya, untuk di tunjukkan pada sang ponakan tercinta.
Pesawat tempur tersebut sungguh menyuguhkan pemandangan di atas langit dengan atraksi belok dan kesana kemari membuat rasa tegang para tenaga medis sedikit memudar. Apalagi Alya, sikap acuhnya mulai sedikit mencair akibat pemandangan indah di atas langit.
" Wahhhhh !". Ucap Alya takjub hingga terus melirik jendela.
" Keren !!". Sambung Sinta ikutan takjub.
Entah berapa menit atraksi itu berlanjut dan menghilang meninggalkan sisa-sisa rasa semangat di dalam hati para orang didalam pesawat.
Semoga cerita ini tidak ada perang-perang atau bertumpah darah. Elli
Perjalanan yang memakan waktu lama tersebut akhirnya sampai juga dan mendarat di lokasi tujuan. Sepasang mata Elli di suguhkan pepohonan hijau yang amat lebat. Suara-suara alam dan menghirup udara yang cukup sejuk. Itu lokasi pesawat mendarat. Bukanlah tempat mereka tinggal.
Lima petugas medis yang di jemput pun berjalan mengikuti arahan sang pemimpi prajurit. Sebelum itu, barang-barang juga sudah di ambil dan di tenteng masing-masing. Melewati jalan cukup menyiksa kaki. Entah becek atau berlobang dan rawa membuat relung hati Alya berteriak histeris. Mereka di suruh berjalan menyusuri hutan.
" Aduh !". Keluh Alya yang kesandung di ikuti koper berjatuhan.
Elli yang ingin menolong sudah ke duluan oleh Fikran. " Al, kamu gak papa?".
"Oh. Em !". Jawab nya singkat sambil di bantu berdiri.
" Hei !! Ngapain itu? Buruan jalan. Harus kuat, harus semangat !". Ucap pak tentara yang mengawasi mereka.
Jalan terus di lewati sambil mengangkat koper yang berat. Elli menyesal membawa barang begitu banyak di dalam kopernya. Akibat itu dia lelah mengangkat dan menurunkan kembali koper untuk melewati arena jalan yang tidak mulus.
Sinta yang sudah biasa tanpa kendala, disusul Fikran kemudian Alya masih kesusahan berjalan mengikuti setapak jalan yang sama sekali tidak pernah dia lalui dan dibelakang nya Gara lalu Elli. Terkadang Gara melirik ke belakang memantau Elli takut kenapa-kenapa. Terlihat sepatu yang mereka kenakan sangat kotor hingga lutut.
Tujuan ini untuk melatih fisik tiap anggota medis yang akan terjun langsung ke lokasi. Agar lebih berpengalaman lagi menyusuri jalan yang memang tak semulus kota besar.
Sekitar 20 menit berjalan terlihat sudah tenda-tenda besar. Beristirahat sejenak melonggarkan otot kaki, mengambil nafas sambil duduk.
" Ni El, !". Ucap Gara menyodorkan botol mineral yang sudah dia minum.
" Hah. Makasih !". Ucap Elli meraihnya.
" Ribet banget sih. Aku sudah lama ni nunggu nya !". Keluh Gery duduk santai. Pelototan dari Fikran. Disusul juga Alya.
__ADS_1