
________
Empat Minggu sudah berlalu begitu cepatnya. Kini seusai bekerja Reijal menuju parkiran mobil, akhir-akhir ini awak media sudah tidak lagi mengejarnya dan berusaha mengulik informasi kehidupan pribadi nya. Bersyukur sangat-sangat bersyukur, jalan hidupnya kembali tenang. Namun, ada moment yang terkadang mengganggu benaknya beberapa kali.
" Aghh !!! Kenapa juga aku harus mengingat raut wajah si Kunti itu?". Ungkapnya tidak mengerti. " Kan lebih baik kalau di rumah atau di rumah sakit enggak ada dia? Kenapa aku jadi pusing mikirin dia?!". Tambah Reijal lagi. Tangan masih sibuk memegang kemudi mobil, mata begitu fokus ke arah badan jalan. Sayangnya tidak di bagian pikiran, wajah Elli tersirat jelas di otaknya dengan tampang menyebalkan berasa ingin dia cabik-cabik.
Akhirnya mobil sudah sampai di depan rumah pribadinya, tak ada sambutan dia memasuki seperti biasa dengan wajah di tekuk tak enak di pandang. Membanting tas di atas kasur, merentangkan otot yang kaku hingga tubuh tergeletak di atas ranjang.
" Membosankan. Shift malam ku dua hari lagi, jadi aku harus apa sepulang kerja?". Berpikir didalam kamarnya sendiri.
Bersamaan dengan itu, dentingan telepon rumah didalam kamar Reijal berdering nyaring membuat lamunannya buyar.
Reijal : Hallo?!
Ibu : Jemput Ibu di bandara, Pamanmu ada kesibukan mendadak.
Reijal : Jam berapa jemputnya, Bu?
Ibu : Lebaran !! Ya sekarang dong, kamu ini tidak ingat kalau hari ini Ibu Pu-.
Menutup telepon dengan memelas sekali, segera mengumpulkan tenaga lagi untuk bangkit berjalan ke lantai bawah. Tapi, baru saja beranjak dari cermin didekat jendelanya ada moment terbesit. Dimana daerah balkon itulah saksi bisu Reijal mendapat kecupan kecil dari Elli meskipun dengan paksaan.
______🌟______
Kembali ke hari itu dimana mereka berdua begitu dekat~
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
" Boleh, asal kecupan selamat malam buat aku mana. Barulah aku melepas mu!". Elli sudah di peluk erat pinggang nya, pandangan mereka semakin dekat. Gery sejak tadi geram sungguh tidak berguna, pikirnya.
Tok tok tok !!!
" Mocuuuu, apa kamu belum tidur?".Emak Linah datang. Membuka kunci pintu kamar sang anak.
" Itu Ibu mu !". Ucap Elli panik melihat arah pintu kaca yang tertutup rapat.
" Tenang lah, pintu balkon ku kunci. Tidak mungkin Ibu membukanya !". Bisik Reijal yang nafasnya sudah terdengar Elli.
" Mocu kamu dimana, Nak?". Kata si Emak sudah di dalam kamar dan menyalakan lampu.
Elli gugup. " Dokter, itu suara Ibu mu. Aku harus pulang !". Elli mulai bergerak tapi masih di hentikan Reijal.
" Kecupannya mana !". Perintah Reijal.
Kemudian ketukan yang keras sudah terdengar dari balik jendela balkon kamar Reijal, nampak panik adalah Elli sendiri sedangkan Reijal memasang wajah tanpa ekspresi alias datar dengan terus menatap mata Elli entah mengandung arti apa.
__ADS_1
Penahanan tubuh Elli sudah mulai goyah karena pemberontakkan kecil yang tak sebanding dengan tenaga Reijal amat kuat. " Lepaskan ". Ujar Elli bernada rendah, begitu takutnya dia ketahuan Bu Linah yang posisinya begitu dekat pada kedua insan tersebut.
" Kecupan !". Ucapan satu kata dengan kandungan arti membuat bulu kuduk Elli seketika naik dengan tingginya.
Hah ! Elli
Kurang ajar !! Gery
Dengan geram dan pasrah, Elli melakukan hal gila tersebut secara cepat entah sedetik atau seperdetik mendarat di bibir Reijal. Sayangnya, bukan mendapat perjanjian bebas justru Reijal membalas kecupan itu dengan liar hingga Elli memukul punggung nya dengan keras berkali-kali baru lah si manis Elli lolos.
_____________
Lamunan tadi segera dia hempas menjauh dari benak juga hatinya lalu berlari menuju mobil yang terparkir di garasi dan meluncur menjemput si Emak yang mungkin saja tak betah menunggu.
Dalam perjalanan menuju bandara, tenggorokan Reijal mulai terasa kering. Sejak pulang memang belum menyentuh makanan atau minuman, namun untung saja ada botol air mineral yang baru dia beli nya saat singgah sebentar di toko serba ada pinggiran jalan. Kembali mengemudikan mobil sesambil meneguk air dengan cepat.
Ketika menuang air ke dua kalinya, tangan Reijal meleset hingga air membasahi baju dan juga celana nya. " Aghhh!!!!!". Keluh Reijal membersihkan air di baju kemeja birunya.
Mobil pun dihentikan sejenak di pinggir jalan sambil dia membersihkan sambil juga kepalanya kembali terisi kejadian silam yang menimpa dia dan Elli. Ingatan saat dimana Elli melakukan semburan tak sengaja yang mengarah ke wajah tampan Reijal Atmojo. Lalu karena ulah dirinya sendiri pun, Elli menangis dan enggan menatap wajah bak idola .
Sebenarnya mungkin saja saat itu Reijal bersungguh-sungguh untuk mengejar Elli, menarik tangannya dan meminta maaf. Entah kenapa rasanya kedua kaki Reijal tidak ingin beranjak keluar dari dalam mobil.
" AGHHHH sudah lah !!!". Reijal lagi-lagi menggeleng kan kepala agar serpihan kejadian bersama Elli pergi menghilang.
" Kamu lama bener !". Sahut Bu Linah memberikan barang-barang bawaan ke Reijal untuk di masukin ke mobil.
" Maaf Bu, macet. Ini lihat". Memperlihatkan bajunya yang masih basah. " Ketumpahan air di mobil !!". Tambah nya lagi.
Keduanya sudah duduk dalam mobil. Namun, Reijal masih memasang wajah juteknya. " Kamu kenapa sih Mocuuu? Wajah kamu tidak ada bagus-bagus nya. Harusnya senang dong, Ibu hari ini balik".
" Enggak ada apa-apa, Bu. Reijal hanya capek, pulang kerja belum makan belum mandi". Ujarnya masih tengah fokus mengendarai mobil.
Sebagai seorang Ibu yang melahirkan juga membesarkan seorang anak, Bu Linah tahu dan hafal sekali raut wajah anaknya. Itu bukanlah perihal lelah tapi pasti masalah hatinya. Beliau memilih tidak menyahuti lagi celetukan sang putra jagoannya. Dia diam sambil terus berpikir mencari solusi terbaik.
Tak butuh waktu lama, kedua Ibu dan anak ini telah sampai di rumah. Reijal membawa barang masuk ke kamar sang Ibu sedangkan dia kembali ke kamar membaringkan tubuhnya.
" Ahh, antara lelah juga sepi !". Gerutunya pelan. Kembali menegakkan badan lalu pergi mandi membersihkan tubuh yang tadi kebasahan.
Hari mulai beranjak sore memancarkan warna jingga di atas langit. Pemandangan indah bukan dari balkon kamarnya sudah terlihat awan menggumpal warna jingga serta burung-burung mulai terbang ke sarangnya.
Sambil menggusar rambut yang basah, sore hari ini kesekian kali nya dia merasa sepi dan rindu. Entah perasaan apa yang terus menjalar ke tubuhnya, dia binggung untuk memastikan rasa ini dan lebih memilih untuk diam dengan bibir terkatup rapat.
" Apa yang terjadi pada ku? Semenjak dia pergi aku mulai merasakan hal aneh seperti sepi, bosan dan juga rindu !". Gumam nya masih berdiri di dekat balkon kamar, memperhatikan balkon di depan sana yang orangnya sudah tak pernah muncul lagi.
Dia berdiri tepat di mana mereka berdua memberi kecupan selamat malam. Reijal menggenggam erat tepi pagar balkonnya seolah kejadian kembali terbesit jelas. Tangan kanan pun memegang bibirnya sendiri, hei ! Dia tersenyum kecil mengingat hal tak lazim itu. Begitu senang nya dia mendapat kecupan pertamanya dari Elli.
__ADS_1
" Aku mulai gila !". Sahutnya sambil terus mengulas senyum yang mekar di daerah wajahnya. Bayangan wajah Elli masih saja bermunculan kali ini dia tidak menghilangkan pikiran itu namun membiarkannya begitu saja.
__________
Hingga di tempat makan sang Ibu yang terus menyaksikan buah hati yang sudah dewasa terus senyam-senyum sendirian di depan makanan. Begitu juga si Bibi, kedua wanita paruh baya ini terheran-heran.
" Tuan Reijal sudah gini Nyonya". Memberi isyarat garis miring di jidatnya dengan jari telunjuk si Bibi, menandakan seorang Reijal sedang tak waras.
" Hushh kamu ini !". Ucap si Ibu. " Mocu kamu kenapa? Apa makanan nya gak enak di lidahmu?". Tanya Bu Linah lagi.
Reijal pun segera memposisikan tubuh dengan normal dan memegang sendok kembali. " Tidak, enak kok Bu". Sahut si tampan itu kembali. Namun tidak bisa di bohongi senyum terus bertebaran dimana-mana.
" Kamu kenapa senyum-senyum sendiri, jangan buat Ibu khawatir dong, Nak !". Sela si Ibu masih menatap tajam anaknya.
Reijal menghentikan suapan nya. " Kok Reijal senyum Ibu yang khawatir?!". Memasuki suapan sendok tadi ke dalam mulutnya dan di kunyah sambil terus melihat wajah si Ibu.
" Kamu senyam-senyum sendiri seperti orang di jalanan itu jadi Ibu khawatir, kalau ada kabar gembira bagi ke Ibu jangan senyum-senyum seperti orang gila". Ungkap sang Ibu.
" Ibu ngatain anak sendiri gila. Parah ni ! Enggak ada apa-apa, Bu. Reijal ke ingat tayangan tv yang lucu !". Jelasnya masih sambil makan, sayangnya itu pernyataan paling bohong sedunia.
" Bohong deh kamu sama Ibu !". Balas si Ibu. Tapi tak di sangkal sang putra dia masih saja senyam-senyum tak jelas. Pokoknya bisa ditebak deh kalau orang sedang mulai jatuh cinta, rasanya bahagia saja mengingat orang yang di sukai masuk kedalam kepalanya.
Ibu Linah mencondongkan wajahnya kedepan melirik Mocu nya. " Apa karena Elli?". Tanya nya penuh arti. Kesekian kalinya pria tampan di depannya masih saja tersenyum, membuat si Emak geram. " Jadi kalian sudah pacaran? Kenapa tidak jujur ke Ibu sih. Ibu akan melamar cepat-cepat !!".
Reijal melirik si Emaknya. " Apaan Bu, melamar bagaimana anaknya saja di perbatasan negara menjalankan tugas bersama rekan medis lainnya". Reijal meneguk air putih di sisinya.
" Eh sejak kapan kenapa Ibu tidak tahu. Lalu kapan dia balik ke sini?". Bu Linah enggan melanjutkan makanan yang tersisa beralih ke minuman nya.
" Dua bulan lagi, Bu. Aku mengirimkan nya sebagai hukuman karena dia selalu membuatku jengkel !!!". Kata Reijal mengundang sang Ibu bertatap tajam, lebih baik begitu dari pada semburan maut lagi dan lagi kan tak enak.
Ibu geram, menaruh gelas saja hingga mengeluarkan bunyi nyaring dan posisi badan malah berdiri dan berkacak pinggang didepan Reijal. " Kenapa karena alasan jengkel kamu mengirimkan Elli ke hutan? Kamu enggak mikir bagaimana susahnya nanti dia disana, kamu membuat dia semakin menjauh bukan membuat dia bahagia !!!". Berjalan ke sisi Reijal kanan dan kiri.
Astaga , Emak kalau marah ngalah-ngalahin preman ! Reijal
" Bu, aku-".
" Diam !!!! Ibu belum selesai bicara. Bagaimana kalau dia menjauh terus tidak mau menjadi menantu Ibu? Dimana kamu mencari wanita lagi sedangkan kamu sibuk bekerja, Ibu kesepian !!!". Bentaknya dengan nada nyaring membuat si Bibi menutup telinganya.
" Bu jangan nyaring-nyaring nanti tetangga dengar !". Nasehat Reijal yang tak akan di dengar sang Ibunda karena tersulut emosi berkepanjangan.
" Biarkan !". Si Ibu mendekati wajah anaknya. " Pulangkan Elli atau Ibu yang akan mengirimkan kamu ke Afrika Selatan berteman dengan hewan buas sekalian jadi Tarzan. Ibu pulang ini ingin melihat Elli, kamu mengirimkan dia jauh !". Kali ini berbicara pelan.
" Tidak bisa, Bu." Perkataan yang terlontar membuat sang Ibu membulatkan matanya besar-besar didekat Reijal. " Oke, pulang nanti ku coba bicara pada Elli untuk melamarnya. Itukan keinginan Ibu?!". Ujar Reijal.
" Benarkan. Itu keinginan Ibu atau keinginan kamu sendiri ?!". Syukurlah amarah berumah menjadi senyum meskipun sinis.
__ADS_1