
( sebenarnya karakter visual Ana memang ada, tapi susah juga kalau ada foto review nya berhari-hari )
๐__________๐
" Lalu bagaimana hubungan mu dengan Kiki, apa ada kemajuan?". Tanya Elli saat mereka berdua lagi jalan-jalan sore di salah satu pusat perbelanjaan di kota.
Ana tertegun. " Tidak ada kak, teman aja. Kalau kakak gimana ?". Tanya Ana balik.
" Apanya? Semua teman. Memangnya kamu belum di bolehkan pacaran?". Melirik Ana yang masih melirik sepasang sepatu.
" Belum kak. Memang gak boleh sih sama orang tua !". Jawab Ana masih fokus menatap susunan sepatu dan beralih ke rok.
" Oh apa jangan-jangan langsung nikah aja gak pake pacaran lagi gitu?". Elli menebak.
" Iya gitu lah Kak. Maka dari itu Ana belum bisa buka hati. Kalau kakak Kiki, orangnya baik kok terus lucu !". Jelas Ana memegang gantungan rok.
" Itu cocok buat kamu. Bajunya yang ini !". Elli menyodorkan baju berwarna coklat. " Coba dulu sana. Aku tunggu !". Kata Elli mendorong punggung Ana yang berjalan menuju kamar ganti.
__________
" Susah juga nurutin kemauan calon kakak ipar. Di suruh ngawasin adiknya tapi gak boleh dekat-dekat ". Memilah baju di toko baju. " Baju apa yang pas di pake acara Reunian sekolah Ana? Elli mana lagi gak balas wa ku ?!". Mengambil ponsel di saku celana.
" Ini ni cocok !". Fikran memperlihatkan celana jeans merah muda.
Kiki menoleh. " Kamu kira aku ini apaan? Yang sering mangkal di lampu merah gitu?!". Ketus Kiki membuat Fikran tersenyum.
Elli : Warna Coklat
Kiki Alatas : Aku pake apaan El? Semi formal atau formalin?
" Yaelah. Aku typo gini balas pesannya. " Keluh Kiki.
" Karena otak dan hatimu tidak seimbang. Banyakin makanan yang sehat jangan makan masalah !". Celoteh Fikran membuat Kiki jadi malas membalasnya.
Elli : Formalin? Kamu mau ngapain Ki? Baju biasa aja Kasual gitu lohhh
" Fik, gaya kasual kata Elli. Cariin dulu buat aku yang mana !". Suruh Kiki masih fokus sama ponselnya. Sahutan belum ada, lalu Kiki menoleh. " Astaghfirullah ! Malah ngerayu cewek !". Ucap Kiki melihat Fikran seperti berbagi nomor pada salah satu pengunjung.
" Eh, bukan ngerayu. Dia nya yang datang duluan !". Jawab Fikran bangga.
" Iya tahu. Susah memang jadi orang ganteng di rebutin. Nah, yang di bawah standar macam aku ni, boro-boro di rebutin. Di kejar aja pada mikir ?!". Celoteh Kiki bagaikan curhat pada Fikran.
Fikran tertawa. " Curhat?". Menepuk bahu temannya.
" Buruan cari baju bergaya Kasual. Tanya sama penjualnya kalau gak tahu. Intinya harus warna coklat !".
" Kok nyuruh aku. Ya kamu dong !". Mendorong Kiki.
Kiki bersama Fikran untuk berbelanja sepasang baju di pakai ke acara Reuni sekolah Ana. Kebetulan sang Kakak lagi berbaik hati karena pesan Elli mampu mengubahnya.
Ana juga nampak senang ada yang menjaga saat dia bertemu teman semasa sekolahnya. Karena Gara tahu, semenjak sekolah Kejuruan Ana selalu di perlakukan buruk oleh teman-temannya di sekolah.
Setelah membeli baju untuk di gunakan esok malam, Elli mengantar Ana di sore menjelang malam. Saat ini Elli masih menggunakan baju kerjanya. Sesampainya didepan pintu apartemen Gara. Ana mengajak masuk sebentar.
" Assalamualaikum !". Ucap Ana membuka pintu.
" Walaikumsalam !". Jawab seseorang dalri dalam. Elli berjalan pelan dan melihat sosok Ana lagi memeluk wanita paruh baya.
" Elli?! Kok gak bilang mau mampir ?". Ucap Gara menghampiri Elli.
" Ana yang ngajak. Itu-?". Lirik Elli kebelakang Gara
" Ma, ini Elli yang Gara ceritain. Pah, ini Elli !". Ujar Gara memperkenalkan Elli pada orang tuanya yang mendadak tiba berkunjung.
__ADS_1
Elli tidak bisa menolak ajakan Mama Gara untuk makan bersama. Bersama Ana dia juga nampak membantu sang Mama untuk menyiapkan makan malam. Ana senang berasa memiliki kakak perempuan yang amat dia sayangi ditambah Gara yang sungguh menjaga dirinya.
Sedangkan Gara masih duduk membaca sedikit laporan yang dia bawa ke rumah. Di temani sang Ayah duduk di atas sofa dan menonton tv. " Jadi? Kapan Papa punya cucu?!".
Jlebbb !!!
" Pa, ntar aja. Papa doakan aja Gara berhasil merebut hati Elli dari bos Gara sendiri. "
" Bos? Jadi saingan kamu Bos di rumah sakit. Waduh berat, Nak. Ya sudah ikhlaskan saja !". Mengelus pundak sang putra.
" Papa bukan mendukung namanya, malah menjatuhkan semangatku. " Gumamnya kesal.
Beberapa menit, makanan telah siap diletakkan di atas meja makan. Keluarga bahagia ini kemudian berkumpul untuk menyantap makanan bersama.
________
" Elli kamu habis dari mana sayang?". Tanya Ibu yang melihat anaknya baru pulang kerja malam hari
" Oh ya Elli lupa ngasih tahu Ibu. Elli Nemani Ana belanja terus berkunjung ke apartemen mereka. Bertemu Mama sama Papa nya Gara !". Jelas Elli kemudian masuk ke kamar membersihkan diri.
" Kadang binggung, Gara atau Reijal. Sama Gara baik-baik aja. Sama Reijal malah bertengkar terus !". Bisik si Ibu yang di dengar Ayah.
" Namanya anak muda Bu, doain aja anak yang terbaik !". Seru si Ayah masih menonton televisi.
" Lah Ayah gimana sih, dukung Gara atau Reijal ?".
" Ayah dukung Indonesia aja Bu. Soalnya lagi nonton bola !". Ucap Ayah membuat istrinya marah dan beralih dari ruang keluarga.
Beberapa jam berlalu sekarang sudah pukul 8 malam. Ibu Sari bertamu ke kamar putrinya. " Apa kamu sudah memaafkan dia?".
" Sudah Bu. Memangnya kenapa?". Jawab Elli singkat.
" Ya sudah baguslah kalau begitu. Ibu minta antarkan kue untuk Reijal. Buruan !". Perintah Beliau menarik tangan Elli dari kasur.
" Gak ada tapi-tapi gak ada nolak-nolak. Antarin Kue nya kesebelah ya sayang !". Merayu sang anak nya.
****** Gila. Ke rumahnya itu anggap aja mau bunuh diri ! Elli
Elli menuruti kemauan Ibunya, menuruni tangga dengan raut wajah kusut dan ditekuk sedemikian rupa. Beralih pada sekotak berukuran sedang yang berisi biskuit coklat. Melangkah saja berat bagi Elli. Rasanya enggan deh ke sana.
" Assalamualaikum !". Ucap Elli dari depan pintu tetangganya. Kebetulan pagar rumah terbuka.
" Walaikumsalam. Eh Elli, masuk sayang!". Si Ibu menyambut Elli dengan senyum dan keramahannya.
" Dokter Reijal nya ada Bu? Ada titipan dari Ibu katanya buat dokter !". Kata Elli sopan. Padahal malas banget menyebut nama atasannya itu.
" Ada. Ketuk aja pintu kamarnya. Gak papa kok !". Ucap si Ibu merangkul Elli memasuki rumah.
" Bareng Ibu deh, ya ?!". Meraih lengan Emak Linah yang hampir saja pergi.
" Maunya gitu. Cuma Ibu kebelet sayang !". Jawabnya kemudian pergi melambai.
Malas banget. Elli
Undakan tangga di naiki sangat perlahan-lahan sambil memanjatkan doa agar dia di lindungi Maha Kuasa. Sungguh, niatnya ingin terus jauh dari Reijal malah keadaan selalu mendekatkan dirinya pada sosok pembawa masalah di kehidupannya.
Bismillah ! Elli
Tok tok tok
Mengetuk pintu kamar yang beberapa detik sampai menit tanpa sahutan. Pintu tak dikunci kemudian dia buka pelan lalu mengintip. Tidak ada orang pikirnya, melangkah masuk dengan aksi jinjit. " Kue nya ku letakkan di sini aja kali ya !". Pikir Elli dan kotakan kue di taruh atas kasur.
Saat berbalik sosok pria kokoh berdiri dan menghantam tubuhnya. " Aduh !". Keluh Elli
__ADS_1
" Ngapain masuk tanpa ijin?". Tanya Reijal membuat langkah Elli mundur.
" Eh. Itu kue Ibu kasih. Aku cuma mengantarkan saja !". Kata Elli masih berjalan mundur akibat Reijal terus memajukan langkahnya. Akhirnya dia duduk bersebelahan dengan kotakan biskuit coklat.
" Benarkah?" Reijal memojokkan Elli.
" Em !".
Wajah yang terus maju membuat Elli binggung. Gugup dan jantung berdebar. Sisa beberapa senti saja jarak pandangan mereka. Namun, Reijal beralih ke kue dan dibukanya. " Terimakasih !". Gumamnya pelan lalu duduk .
" Sama-sama. Permi-".
" Duduklah sebentar. Aku mau memperlihatkan ini padamu !". Reijal mengambil ponsel dan menunjukkan foto Elli bersama Gara dengan berbagai komentar jahat. Elli merebut ponsel itu.
" Apa ini? Aku tidak memeriksanya sampai ke bawah". Ucapnya kaget. Membaca satu persatu komentar netizen yang amat kasar dan menghina dirinya. " Salah ku apa? Aku hanya memposting kegiatan bersama teman-teman ku. Kenapa Gara seolah di kata-katain perebut?". Tanyanya menoleh pada Reijal.
Mendelik kan bahu tanda tidak tahu pasti maksudnya apa.
" Ini karena perkataan mu waktu di depan wartawan. Aku jadi tidak bisa berteman dekat dengan laki-laki selain kamu gitu?". Elli mulai kesal dan meletakkan ponsel pria itu di kasur.
Mengunyah kue dengan santai. " Mana aku tahu. Makanya periksa, kita sudah menjadi trending saat itu dengan berbagai tanda pagar mengatasnamakan kamu dan aku. Kamu malah posting foto sama cowok. Salah sendiri !". Jelasnya.
" Loh kamu yang salah. Pokoknya kamu harus bilang kalau kita tidak ada hubungan apapun. !". Kata Elli begitu tegas dan bernada tinggi.
" Nasi sudah menjadi bubur, El. Biarkan netizen berkata apa. Yang tahu kehidupan mu ya kamu !". Reijal sok menasehati. Padahal dalam lubuk hatinya dia senang. Hubungan Gara dan Elli tidak di sukai orang di luar sana.
" Ya sudah. Aku permisi !". Saat berdiri dan belum melangkah Reijal sudah dengan cepat meraih tangan Elli dan menariknya hingga jatuh dalam pangkuan pria tampan tersebut.
" Aku sudah bilang, jangan selingkuh. Tanggung sendiri akibatnya !".
" Selingkuh apaan? Sedangkan kita ti-". Elli memandang ke arah lain. Tapi lingkaran pinggang di peluk Reijal kuat.
" Oke. Aku kasih pilihan jawab pertanyaan atau mau tantangan?". Lagi bernegosiasi dengan Elli yang mulai risih.
" Hah? Lepasin dulu aku ! Kalau Ibu tahu kita di marahi ". Berusaha keluar dalam rangkulan Reijal. Namun sayang itu aksi yang tidak berbuahkan apa-apa.
" Jawab dulu baru aku lepas !".
" Pertanyaan nya aneh-aneh pasti? Ya sudah tantangan aja. Tantangan makan cabe, lompat pagar atau apa?". Tanya Elli melirik Reijal.
Reijal melepas pelukannya dan memutar tubuh Elli hingga terbaring di atas kasur. Mendekatkan pandang mata wanita itu yang terlihat ketakutan . " Kamu tahu, aku tidak suka melakukan ini. Tapi karena ini kamu yang pilih, apa boleh buat. Dan juga hukuman kamu berani menjalin hubungan bersama orang lain !". Ujar Gara pelan.
" Kamu mau ngapain?!". Tanya Elli merayap dari atas kasur.
" Berikan aku rasa manis itu. Kalau tidak aku yang berikan?!". Bisiknya
" Gak !". Kata Elli menggeleng.
" Sekali saja !". Memohon pelan.
" Aku tidak bisa,Jal. Aku tidak mau lagi memberikan nya padamu yang sudah kasar padaku !". Lirih Elli dan berhasil lari dari Reijal. Namun kembali di tangkap Pria itu.
" Baiklah. Aku minta pelukan mu saja !". Memeluk Elli hingga terus membenamkan wajahnya di dada Reijal dengan dipaksa .
Entah kenapa ringisan tangis terdengar pelan. Bukan Elli tapi pria itu. " Kamu tahu, sifat mu mirip dengan Rara. Maaf kalau aku selalu ingin menciummu. ". Melepas Elli dan membelakangi untuk menyeka air mata.
" Rara?".
" Mantan kekasih ku yang meninggal akibat kecelakaan !". Jawabnya.
Jadi? Elli
Hati yang iba berpikir kalau nasib kedua insan ini sama persis. Elli memutar haluan dan sekarang lagi berdiri di depan pria sombong tapi berlinang air mata. Menjijitkan kakinya lalu memberi pelukannya. " Sudah diamlah. Anak cowok gak boleh cengeng !".
__ADS_1