Malu Tapi Mau

Malu Tapi Mau
MTM #45 Hukuman 4 : Medis Perbatasan


__ADS_3

__________


Dua Minggu sudah mereka berada di luar kota besar. Alya yang awalnya mengeluh tentang susahnya beradaptasi dengan lingkungan sekitar akhirnya mulai terbiasa dengan jadwal yang di laksanakan secara teratur. Susah untuk mencari signal ponsel di lokasi, beberapa dari mereka mengurungkan niat ke desa sebelah yang amat-amat jauh hanya untuk menelepon sebentar.


Waktu yang di tempuh sekitar 4 atau 5 jam mengingat jalanan yang terjal dan pastinya kurang baik, membuat waktu termakan percuma-cuma saat dalam perjalanan saja. Penggunaan kendaraan tentara pun tidak di ijinkan dengan alasan pribadi semata.


Di saat selesai jam makan siang, Elli berserta lainnya masih berada di dalam tenda darurat.


" Dok, apa kamu tidak merindukan anak-anak mu?". Tanya Elli sambil melirik dan merapikan alat medis.


" Ibu mana yang tidak rindu sama anaknya. Aku sangat rindu, tiap tidur aku selalu menatap fotonya di ponselku. Ponsel secanggih apapun rasanya tidak berguna di sini. Yang berguna hanya doa saja". Nasehat Sinta dengan menahan air matanya. Air mata yang ingin tumpah saat kepalanya teringat anak dirumah.


" Dan anak mana yang tidak rindu dengan Ibunya. Apalagi masakan yang selalu di buat sesuai kesukaan diri sendiri, permintaan yang egois disaat si Ibu masih menahan lelah." Sela Elli menambah suasana hati Sinta Herles jadi kurang baik.


" Dokter mana yang bertugas jauh malah sedih-sedih. Kita lagi bertugas bukan mau perang". Alya ikut mengomentari obrolan kedua wanita tersebut.


" Dan cinta mana yang akan lupa pada orang pertama tempat nya berlabuh". Oceh Gery ikut menyambung kalimat-kalimat mereka. Mendengar kalimat yang sangat menggelitik di telinga Alya dengan cepat dia pelotot pria berbaju kaos putih sedang duduk di depannya.


" Ngomong-ngomong, Gara sama Fikran kemana? Mereka itu sering hilang !". Ujar Sinta celingak-celinguk.


" Ada tugas lain katanya !". Jawab Alya judes. Tidak melihat raut wajah kedua wanita didalam tenda tersebut.


" Tugas apa?". Sinta balik bertanya.


Elli menoleh. " Ada tugas sama medis lainnya !".


Beberapa menit kemudian, seseorang mengucap kata permisi dengan lemah lembut di depan celah tenda. Ketiga wanita itu menoleh ke depan, memandang pria yang menebar senyum di wajahnya. Namun tidak begitu kelihatan karena sebagian wajah tertutup topi putih polos. Baju yang di kenakan pun sangat biasa cuma tinggi badan cukup lumayan. Bagai orang asing masuk tanpa ijin begitu.


" Dokter Sinta, bisa saya meminjam Dokter Elli sebentar untuk menemani saya ke desa sebelah !".


Eh. Seperti pernah dengar. Elli


" Apa tidak masalah sama Atasan Bapak?". Jawab Dokter Sinta yang mengenal pria tersebut.


Ketika ingin menjawab, dia harus terlebih dulu melepas sebuah topi melekat di kepalanya. Terlihatlah sudah rambutnya, potongan tak asing. Mungkin, dia salah satu prajurit. " Di-dimas?". Kata Elli bernada pelan.


" Saya sudah meminta ijin pada komandan saya, Dok. !". Gumamnya


" Tunggu sebentar ya, kami membereskan ini dulu. Tidak lama kok". Jawab Sinta lembut sembari menyelesaikan pekerjaan.


Dimas yang tak ingin berdiri mematung pun ikut membantu apa yang bisa di kerjakan agar cepat selesai. Tak butuh waktu yang lama, pekerjaan tersebut sudah usai. Elli ke tendanya untuk menaruh jas putihnya. Dan mengambil topi putih dalam koper untuk dia kenakan.

__ADS_1


" Dokter Alya, Dokter Sinta. Saya permisi ya". Elli berpamitan lalu berjalan bersama Dimas.


_______


Bersama seorang Dimas Prayudha, Elli menyaksikan alam yang membentang luas di tiap lintasan. Entah kemana, Elli belum bertanya dia masih terpukau dengan pohon hijau dan kicauan burung berterbangan di atasnya. Sampai di depan mobil yang sudah khusus di sediakan jika ada perlu yang mendadak.


" Naiklah, Dok ! Perjalanan kita butuh waktu 4 jam !". Jelasnya membuat Elli terbelalak dan menoleh.


" Lama banget, apa kita hanya pulang pergi? Kalau tidak aku takut di hukum". Kata Elli masih membayangkan dirinya akan di hukum kalau tidak menjalankan tugasnya di sini.


Mobil sudah berjalan menjejali setapak jalan yang hanya terlihat lurus ke depan. " Kita tidak sedang liburan, disana juga kita ada tugas ". Jelasnya sambil memegang kemudi.


" Lalu kita pulang malam?". Masih menggali informasi.Anggukan kepala adalah jawab tersirat karena matanya masih fokus dengan Medan jalan yang benar-benar menyiksa tubuh." Apa disana ada jaringan?".


" Iya. Apa dokter membawa ponsel?". Tanyanya melirik


Wajah pun di tekuk. " Tidak. Kalau tahu pasti tadi ambil ponsel dulu". Memelas.


" Saya bawa ponsel. Kalau ada yang mau di hubungi, pakai saja asal nomornya hafal". Dimas berkata seraya menyetir mobil.


" Terimakasih atas kebaikan nya. Apa kamu juga ingin menghubungi keluarga mu?". Elli berbalik tanya.


" Bukan aku saja. Dalam tas ku sudah banyak titipan surat untuk seluruh keluarga prajurit yang menunggu". Jelasnya.


" Aku nanti setelah Dokter sudah menghubungi keluarga ".


" Elli saja jangan pakai sebutan Dokternya, gak enak di dengar !". Ucap Elli menyandarkan tubuh di bangku mobil.


Tersisa 2 jam perjalanan masih terlihat hutan belum ada tanda-tanda rumah-rumah desa yang di tuju. Yang tadi jalanan sedikit bergelombang sekarang sudah mulus dan mulai enak untuk Elli memejamkan mata sejenak. Kedua mata yang terpejam segera cepat dia tepis.


" Tidurlah. Masih dua jam lagi !". Ujar Dimas pada Elli yang menoleh dengan mata sayu nya. Seketika tumbang dan merebahkan kepala di bangku mobil. Tawa kecil terdengar dari Dimas.


Dia masih melanjutkan lajunya mobil, mulai terlihat sudah rumah-rumah para penduduk warga namun tidak banyak. Seseorang pria paruh baya berdiri di badan jalan, seperti ingin meminta tumpangan pada mobil Dimas.


Dimas pun menginjak rem di depan pria tersebut. " Bapak mau kemana?". Tanya pria tampan yang mengamati atas hingga bawah sang penumpang. Baju kusut dan Kumal, tubuh tua renta sambil membawa karung yang entah isinya apa.


" Ke kampung X, bisa kah saya menumpang?". Ucapnya gelagapan.


" Naiklah di belakang Pak !". Ucap Dimas menebar senyum padanya. Pria yang tidak diketahui namanya pun naik dengan senang hati, duduk di belakang mobil.


Elli tertidur pulas masih menggunakan topi yang tertempel di puncak kepalanya. Dari arah cermin mobil, Dimas melirik ke belakang tanpa si pria itu ketahui. Sepertinya, penumpang di belakang penasaran wajah wanita yang terduduk disisi Dimas.

__ADS_1


" Bapak dari mana?". Suara Dimas memecah heningnya perjalanan. Mata mereka saling melirik di cermin mobil.


" Saya dari rumah kuning tadi ingin berjumpa keluarga di kampung sebelah ". Jelasnya pada Dimas.


Tangannya menyentuh topi Elli dan menurunkan topi tersebut sampai tidak bisa diperhatikan lagi wajah cantik Elli. " Begitu ya Pak, apa bapak sudah makan?". Dimas mulai berbasa-basi agar perhatiaan nya teralihkan. Sejak Dimas mencuri-curi pandangan tanpa dia ketahui, Dimas tahu betul dia terus memperhatikan Elli.


" Su-sudah Mas !". Jawabnya


Hembusan angin membawa sejuknya udara meskipun terik. Partikel debu  masuk dari jendela mobil yang sengaja tidak di tutup. Tidak ada lagi obrolan sejak itu, Dimas masih fokus menyetir. Memasang tampang curiga pada penumpang asing, namun dia tepis agar tidak gaduh dalam mobil.


Tersisa satu jam perjalanan, beruntung saat itu ada warung kecil. Dimas memberhentikan tepat di depan halaman rumah sang pemilik warung. Karena terlalu jauh, takut dirinya tidak bisa mengawasi si dokter yang tertidur.


" Bapak, mau minum?". Tanyanya sudah keluar dari mobil.


" Tidak Mas !". Menjawab dengan sopan.


"Ya sudah, saya beli minuman dulu. Bapak tunggu di sini ya !". Kata-katanya lembut namun sempat membuat si pria tersebut merinding kaku.


Dimas beranjak dari mobil, membeli beberapa cemilan hingga minuman pelengkap sembari melirik dari dalam mobil yang sengaja dia turunkan kaca mobil. Terus melirik padahal tangan mengambil isi dompet untuk dia bayarkan.


Sesegera mungkin melangkah menghampiri mobil dan masuk dengan aman. Syukurlah tidak ada gerak-gerik yang mencurigakan dari si pria. " Ini Pak, kalau ada yang di suka, ambil saja !". Membuka kresek dan memperlihatkan isinya.


" Terimakasih Mas !. Temannya asik tidur, kecapean ya?!". Kata-kata saklar keluar spontan dapat lirikan lagi dari Dimas.


" Iya, soalnya kami jauh mau ke kampung juga. Bapak tidur saja masih sejam lagi !". Ujarnya kembali membawa mobil membelah jalan.


Entah menit keberapa, Elli menggoyangkan tubuhnya lalu menegakkan nya. Menatap Dimas yang masih bertengger di sampingnya membawa mobil, pikirnya masih dalam perjalanan.


Ketika duduk lurus ke depan, Elli seperti ingin membuka topi putih sejak tadi menempel. Dengan cepat si Dimas mengurungkan niat Elli, meletakkan telapak tangan di atas kepalanya dan memberi kode menggeleng. Nyawa yang belum terkumpul itu, nurut saja bahkan matanya masih mengantuk.


" Tidurlah. Masih cukup jauh ". Kedua tangan kembali memegang kemudi mobil tanpa melihat si pria di belakang yang mengambil minuman pemberian Dimas.


Suasana langit mulai sejuk, matahari mulai tidak terik. Dimas memberhentikan mobil mendadak namun Elli tidak goyah dalam mimpinya. Entah Gery dimana, harusnya dia mengawasi si cantik yang amat dia sayangi. Dimas berdiri dari dalam mobil membuka atap mobil sendiri, membiarkan menghirup udara dengan terbuka lalu kembali menyetir mobil.


" Udaranya sejuk Pak masih alami, sengaja saya buka atapnya ". Dimas berkata.


" Hehe iya Mas !". Senyum itu di lirik oleh Dimas dengan seksama. Ada yang mengganjal namun tidak dia gubris.


" Em." Suara Elli mulai terbuka. Matanya mulai terbuka kembali perlahan-lahan. Kepala yang miring kembali di luruskan. Kali ini dia tidak bisa tidur karena lautan awan di atas langit begitu indah dengan hiasan burung berterbangan dengan pelannya. Belum lagi pohon di pinggiran menjulang tinggi. Hiruk pikuk kota besar tidak sesejuk ini, batinnya berkata.


" Kamu sudah bangun?". Tanya Dimas

__ADS_1


" Em. Wah indah ya, sejuk. Asri banget di sini !". Berdecak kagum, ingin berdiri namun tidak jadi, hanya tangan yang keluar dari mobil menyentuh tiap angin yang berhembus. " Hehe, boleh aku foto tidak? Aku membawa kamera sih !". Ujarnya mendapat lirikan si pria di belakang.


" Foto saja yang mau di foto. Oh ya, ini minimum sama camilan, di makan kalau lapar !". Dimas berpesan sambil Elli terus mengambil gambar tiap sudut yang menarik mata.


__ADS_2