Mamah Untuk Aira

Mamah Untuk Aira
Bab 1.


__ADS_3

"Jangan nakal ya na, nurut sama pak yai bu nyai......" ucap seorang ibu ketika menasehati anaknya.


"Ia bu, Naila janji akan mematuhi peraturan yang ada...."


"Ya sudah kalo gitu ibu sama ayah pamit pulang ya....."


"Ia, hati-hati dijalan, dan jangan lupa setiap hari minggu tolong jenguk Naila...."


"Pasti sayang....."


Para pengurus yang melihat interaksi keluarga kecil itu ikut tersenyum. Namun ada satu pengurus putri yang merasa sedih ketika melihat hal itu.


Calania Fiona Syafazea, atau yang kerap disapa Zea, itulah namanya. Dia merasa sedih dan sekaligus iri terhadap para santri baru itu yang diantarakan oleh kedua orang tuanya ke PonPes Al-Ikhlas ini.


Bagaimana tidak, sementara dirinya dulu hanya diantar oleh ibunya saja, dan sama sekali tidak pernah dijenguk. Ia seolah dibuang oleh ibunya sendiri.


"Mba Zea....." tegur seorang penguris yang berdiri disampingnya.


Gadis manis itu tersentak kaget.


"Ya?" tanyanya bingung.


"Kenapa mba?"


"Nggak papa....."


Ya begitulah Zea, selalu menyimpan perasaannya sendiri. Dia hanya akan bercerita pada orang yang dianggapnya sebagai sahabat.


"Hem, ya sudah kalo gitu ayo kita anterin mba ini ke aula...."


"Ia....."


Zea bersama temannya itu pun mengantar santri putri itu ke aula. Tempat berkumpulnya para santri putri baru.


Sepanjang perjalanan, pikiran Zea melayang jauh, dia memikirkan bagaimana keadaan kedua orang tuanya. Apakah saat ini masih hidup atau bahkan sudah tiada?. Natahlah Zea juga tidak tau, bagaimana keadaan kedua orang tuanya.


Yang dia ingat, hanya satu, yaitu bahwa kedua orang tuanya sudah berpisah dan dia dibuang oleh ibunya sendiri ke PonPes Al-Ikhlas ini.


Sampailah mereka di aula, Zea segera meletakan barang bawaan milik santri itu di pojok ruangan. Lalu ia mengenalkan santri itu pada santri yang lain.


Setelah dirasa santriwati itu sudah bisa berbaur dengan yang lainnya, Zea bersama temannya kembali ke pos jaga mereka.


*****


Kini Zea dan temannya sudah kembali ke pos jaga mereka.


"Emm, maaf nih ya mba Ze, emang orang tuanya mba Zea kemana, ko aku nggak pernah liat mereka kesini jenguk mba?" tanya mba Dian, temannya.


Zea menghela nafas, dia tak mau menjawabnya, karena dengan ia menjawab pertanyaan itu sama saja ia menggali masa lalunya sendiri yang sudah ia kubur dalam dalam.


Untungna ada seorang anak kecil perempuan yang mengenakan gaun berwarna pink serta sepatu kecilnya berlarian kesana kemari, mengalihkan perhatian dan mengundang tawa tiap orang yang melihatnya. Begitu juga dengan perhatian mba Dian. Sehingga Zea bisa bernafas lega.


"Ih lucunya, anak siapa sih itu?" tanya Zea.


"Mana saya tau mba, saya aja baru pertama liat anak itu..." jawab Dian


Bruk


Anak kecil itu terjatuh dan menangis keras, mengundang perhatian orang-orang.


Zea segera menghampiri anak itu dan membopongnya.


"Huhuhu, aki atu akit..." adu anak itu


"Yang mana yang sakit?"


"Ini..." menunjuk kakinya yang sakit


Zea segera memeriksa kaki anak itu. Dan ternyata tidak ada yang terluka.


"Huuh..." Zea meniup kaki anak itu

__ADS_1


"Udah ya jangan nangis lagi, ayo kita beli eskrim, mau?"


"Benelan?"


"Ia..."


"Hole, ayo mah..." triak anak itu dengan girang


Zea mengernyitkan dahinya, kala mendengar panggilan anak itu untuk dirinya.


"Mah?" gumannya


"Ayo mah, atanya au beli ekim..."


"Ia ia, mba Dian saya mau ke koprasi dulu ya..."


"Ia mba..."


........... ............... .........


"Syukurlah ternyata disini..." ucap seorang lelaki di belakang Zea, dengan nafas memburu.


Zea yang sedang asik memilih eskrim segera membalikan badannya.


"Oh ini putri anda?" tanya Zea sembari menundukan kepalanya


"Ia, terima kasih ya..."


"Sama-sama..."


"Ayo sayang sini sama papah..."


"Nda au, au cama mamah..."


Anak itu melingkarkan kedua tangannya di leher Zae, dan menenggelamkan kepalanya disana, seolah tidak mau dipisahkan dengan Zea.


"Ayo sayang sama papah..."


"Hua, nda au, Ai mau cama mamah..." tangis bocah itu.


"Ya, nanti sore pulang..."


"Kalo begitu biar anak anda bersama saya dulu, nanti jika waktunya anda pulang saya akan mengembalikannya..."


Pria itu berfikir sejenak.


"Baiklah, siapa namamu, agar aku gampang mencarimu nanti..."


"Zea..."


"Em, ya sudah, sayang jangan nakal ya, jangan nyusahin mba Zea nya..."


"Ini mamah, bukan mba..." protes anak itu di ssela-sela sesenggukannya.


"Ia mamah..."


"Saya permisi...."


Zea pergi ke kasir untuk membayar eskrim yang dipilih oleh anak itu. Selesai membayar, Zea langsung keluar dari koprasi menuju komplek putri.


Sementara itu, ayah anak itu masih terpaku di tempatnya, memikirkan perkataan anaknya yang menyebut Zea 'mamah',sampai sang keponakan menghampiri dan menyadarkannya.


"Om Arka, ko lama, katanya cuma mau beli ember..."


Namanya Arkana Zein Assafiq. Pria berkulit kuning langsat, tubuh tinggi tegap, dan badan yang bagus. Statusnya duda beranak satu.Dia seorang pengusaha sukses dibidang pertanian dan perkebunan.


Hasil dari taninya sudah berhasil menembus pasar ekspor global.


"Oh ya, maaf, ayo kita beli..."


"Dede Aira belum ketemu om?"

__ADS_1


"Udah, ayo kita beli..."


Kedua berlalu ketempat per-emberan.


Setelah memilih keduanya pergi ke kasir.


"Ini mas..."


"Oh ya...."


"Mas tau yang namanya Zea?" tanya Arka saking penasarannya dengan sosok Zea.


"Mba Zea?"


"Ia.."


"Dia pengurus putri yang sudah mondok disini lebih dari 10 taun..."


Memang tak banyak orang yang tau sudah berapa lama Zea mondok di pesantren ini.


"Tujuh belas ribu mas, mas suka ya sama mba Zea?" goda sang penjaga kasir koprasi


"Cuman pengin tau aja, ini..." memberika uang pas


"Terimakasih mas, kalo mas suka sama mba Zea mending ga usah, udah banyak saingannya, haha...."


Arka langsung keluar dari koprasi tanpa menghiraukan ucapan sang penjaga kasir.


"Darimana saja si Ka, ko lama banget?" omel kaka perempuan Arka


"Ya maaf..."


"Aira nya udah ketemu?" tanya bu Aminah, ibu Arka


"Sudah bu, tapi tadi dia ga mau ikut aku, malah ikut sama pengurus putri...."


"Masa?" heran Airin, kaka Arka


Pasalnya Aira tidak akan mau diajak oleh orang yang baru pertama kali ia temui. Aira akan memberontak dan menangis jika dipaksa ikut dengan orang yang baru pertama ia lihat.


"Aku juga heran mba, mana dia manggil 'mamah' lagi..."


"Wah, pertanda itu namanya Ka..."


"Pertanda apa mba?" heran Arka dengan wajah polosnya.


Tuk. Airin menyentil kening Arka, sebab gemas.


"Ka, kamu ini be** apa bo*** si, masa gitu aja ga tau..."


"Suer aku ga tau apa yang mba maksud..."


"Udah Rin jangan nagajak adikmu ribut... " tegur sang ibu.


"Ia deh, maksud mba pertanda kalo Aira sudah cocok dengan calon mamah barunya..."


"Coba kamu hitung berapa kali kamu ajak calonmu ketemu Aira dan Aira selalu ga mau kalo di gendongkan?"


Arka berfikir sejenak, sebelum menganggukan kepalanya mantap.


"Nah..."


"His ini kenapa malah jadi bahas calon istrinya om Arka?" protes Adam, keponakan Arka


"Oh ya jadi lupa tujuan utama, kamu sih Rin..." omel bu Aminah


"Loh ko jadi Airin sih bu..."


"Udah ayo, kasian tuh Adam..."


Keempat orang itu lekas pergi dari parkiran, menuju ke pos pengurus.

__ADS_1


................ ............... ......... ......


Bersambung....


__ADS_2