Mamah Untuk Aira

Mamah Untuk Aira
Bab 23.


__ADS_3

Gelak tawa Aira memenuhi ruang keluarga itu.


Gelitikan dan ciuman dari dua orang dewasa di sampingnya lah yang membuatnya tertawa lepas.


"Mas...."


"Ia sayang...."


"Aku mau VC sama orang butik dulu ya...."


"Ia sayang...."


Setelah itu Zea bangkit dari duduknya. Melangkahkan kaki menuju teras.


Zea duduk di kursi kayu panjang yang ada di teras, lalu ia mengeluarkan ponselnya, dan melakukan VC dengan orang butik kepercayaan nya.


"Hai mba Assalamu'alaikum....."


"Wa'alaikumussalam...."


"Jadi bener kalo ada yang mau pesen baju pengantin?"


Tadi sebulum VC, Zea sudah melihat pesan WA yang dikirim oleh orang kepercayaan nya, katanya ada yang mau bikin baju pengantin.


"Ia mba, tiga hari lagi beliau akan ke butik lagi untuk bertemu mba......"


"Berarti belum pilih bahan dan modelnya?"


"Belum mba...."


"Oh ya sudah, tapi butik amankan?"


"Aman mba......"


"Alhamdulillah...."


Selanjutnya Zea menanyakan ketersediaan bahan dan baju di butiknya itu.


Puas mengobrol, Zea pun menyudahi VC nya.


Bangkit dari duduk, meregangkan otot-otot tubuhnya, lalu melangkahkan kaki.


"Mba Zea, jangan masuk dulu...."


Belum sempat Zea melangkah satu kaki, sudah ada yang memanggilnya.


Zea berbalik badan, demi bisa melihat siapa yang memanggilnya.


"Mba Kia....." sapanya.


"Hehehe, ia mba Ze...."


"Silahkan duduk mba..."


Tanpa perlu disuruh dua kali, mba Kia langsung menuruti tutah Zea.


"Tadi mba Zea telponan sama siapa, kaya asik banget sampe senyum-senyum...."


"Sama temen mba...."


"Oh, temen cowo ya mba?"


"Bukan ko, temen cewe..."


"Oh ya, mba Kia ada apa ke sini?"


"Oh jadi aku ngga boleh main kesini?"


"Bukan gitu mba Kia, tapi kenapa anak mba ngga dia ajak, kasian kalo sendirian di rumah...."


"Oh, Bimo sama ayahnya di rumah...."


"Oh...."


"Mba Zea jadi ikut arisan?"


"Oh iya, saya malah belum ngomong ke mas Arka....."


"Lah, gimana sih mba?"


"Kan saya lupa mba Kia...."


"Ia deh ia, oh ya apa benar kalo mba Zea alumni pondok?"


"Hehehe...."


Zea hanya tersenyum sebagai jawaban.


"Berarti benar, bera taun mondoknya mba?" semakin kepo.

__ADS_1


"Sebentar mba...."


"Ya sebentarnya berapa taun?"


" Kurang lebihnya 6 taun..."


"Ohh...."


"Sayang...." panggil Arka dari dalam.


"Maaf ya mba Kia saya tinggal dulu...." bangkit.


"Tunggu mba Ze...."


"Ada apa lagi mba Kia, itu saya udah di panggil suami...."


"Em, aku pinjam duit Rp. 500.000 dong mba..."


Zea tercengan, bagiaman mungkin dia orang baru disana tapi sudah ada yang berani minjam uang padanya.


"Plis ya mba Ze, buat beli beras sama lauknya..." memohon.


"Saya ngomong sama suami saya dulu ya..."


"Ia deh ia, aku tunggu ya mba Ze...."


"Kenapa apa-apa harus bilang dulu sama suaminya sih...." lirihnya menggerutu.


Zea pun masuk kedalam rumahnya.


"Ada apa mas?"


"Ngga ada apa-apa..."


"Hoh, terus kenapa manggil?"


"Ya ngga papa, tadi ada siapa di luar?"


"Oh itu mba Zaskia tetangga sebelah"


"Mau pinjem duit ya?"


"Ko mas tau?" heran Zea.


Bagaimana tidak tau, sedangkan Arka sudah 6 taun mengenal tempat ini dan orang-orang nya. Bahkan Arka hafal tabiat orang-orang asli dukuh ini.


"Ia mas, pinjamin ngga, katanya mau buat beli beras sama lauknya...."


"Yang, kalo mau minjemin orang itu resikonya ngga di balikin, kamu siap?"


"Emang mba Kia gitu mas?"


"Bukan maksud mas menjelakan orang lain, tapi itu kenyataannya....."


"Gitu ya, gimana kalo aku kasih beras sama telor aja?"


"Boleh, itu lebih baik, di banding kamu menjamin uang....."


"Berasnya lima kilo sama telornya setengah kilo ya...."


"Ia sayang...."


Setelah itu Zea bergegas ke ruang sebelah dapurnya, dimana disanalah beras tersimpan.


Zea mulai memasukan satu persatu kaleng beras kedalam kresek, setelah di rasa sudah lima kilo, Zea menimbangnya.


"Alhamdulillah langsung pas...." gumannya.


Lalu Zea mengambil beberapa persediaan telornya di dalam lemari pendingin. Dan Zea juga mengambil teh clup dan gula pasir.


Barulah Zea kembali ke depan.


"Maaf ya mba Kia, saya ngga bisa pinjemin uang, tapi ini, buat mba Kia...." menyerahkan tas kain atau tote bag.


Mba Kia terbengong melihat hal itu.


"Ini mba Kia, semoga bisa bermanfaat ya..."


Mba Kia pun menerimanya. Lalu dia mengintip sedikit untuk melihat isinya.


Tersenyum kecut, setelah tau isinya. Kemudian tanpa berkata satu kata lagi mba Kia main nyelonong pergi dari teras Zea.


Zea sedikit kaget dengan tingkah tetangganya itu.


"Ada-ada saja...." gumannya sembari berjalan masuk.


.............................


Aira mulai rewel di gendongan paphnya, mungkin sudah mengantuk.

__ADS_1


Zea berinisiatif membautkan Aira su*u.


"Ngantuk ya sayang?" tanyanya sembari memberikan botol dot ke Aira.


Aira mengangguk, sembari menerima botol itu, lalu dia merentangkan satu tangannya, minta di bopong oleh mamahnya.


"Utututu, manjanya anak mamah...." mengambil alih Aira.


Setelah itu Zea pun berusaha menidurkan Aira.


Tak perlu waktu lama untuk balita itu tidur, dia akan tertidur setelah menghabiskan su*u nya.


.............................


"Mas" panggil Zea yang baru saja sampai dapur setelah menaruh Aira dalam box nya.


"Ia sayang....." menatap sang istri


"Kemaren bu Rt kesini, nawarin aku untuk ikut arisan, seminggu setornya dua puluh ribu...." lapor Zea.


"Terus?"


"Boleh ngga kalo aku ikut?"


"Boleh dong sayang....."


"Beneran mas?"


"Ia sayang...."


"Ya sudah besok kalo ke temu bu Rt aku bilang jadi ikut...."


"Oh ya mas, ada yang mau buat baju pengantin di aku, terus aku terima, nga papa kan?"


"Ia sayang ngga papa, selama kamu ngga abai dengan kewajiban kamu pada mas...."


"Siap mas, tiga hari lagi aku mau ke butik ya, untuk ketemu sama orang itu...."


"Mas temani....."


"Ia mas...."


Tatapan Arka semakin dalam, menelisik manik mata Zea, dengan penuh kasih sayang. Kakinya menggerakan dirinya untuk bergerak mendekati sang istri yang terpaku di tempatnya.


Terus mendekat, mendekat dan semakin dekat.


Tatapan dan gerakan tubuh Arka sedik membuat Zea takut, hingga dia memundurkan dirinya beberapa langkah.


Arka tidak berhenti, dia terus mendekati Zea, hingga tubuh Zea sudah terpentok tembok dapur.


Dug.


"Mas, kamu kenapa sih?" takut Zea.


"Mas menginginkanmu sayang....." ucapnya di telinga Zea, membuat bulu-bulu halus di tubuh Zea berdiri.


Zea tak bisa bergerak lagi, karena Arka sudah membatasi pergerakannya.


"Boleh ya sayang, mumpung Ai lagi tidur...."


Zea mengangguk pasrah.


Setelah itu Arka mengajak Zea ke kamar samping kamar mereka tidur.


"Sayang pakai ini ya?" menyerahkan baju haram.


Zea menelan salivanya dengan susah payah, kala melihat baju haram itu


"Ya sayang?"


Zea mengangguk pelan.Jika bukan karena sang suami yang memintanya, Zea tak kan pernah sudi memakai baju haram itu.


Zea membiarkan sang suami untuk wudu terlebih dahulu. Selesai suaminya wudu, gantian Zea yang masuk kamar mandi dengan membawa baju haramnya.


...................


Ceklek..... suara pintu kamar mandi terbuka.


Menampilkan Zea yang berdiri malu-malu sembari menutupi bagian tubuhnya yang tak tertutup sempurna oleh baju haramnya.


Arka menatap sang istri tanpa kedip. Seketika itu syahwatnya membuncah.


"Sayang...." panggil Arka dengan suara tercekat.


Zea berjalan pelan sembari malu-malu ke arah suaminya yang duduk di tepi ranjang.


Karena Arka merasa istrinya itu berjalan terlalu lama, dia berinisiatif untuk menggendong Zea.


Tanpa aba-aba, Arka membopong tubuh Zea ala bridal styel. Membuat Zea memekik kaget.

__ADS_1


__ADS_2