Mamah Untuk Aira

Mamah Untuk Aira
Bab 16.


__ADS_3

Tak pernah terbayang dalam benak Zea menikah di usia muda. Namun dia tetap bersyukur atas takdirnya ini.


Kini Zea harus menjalani takdir barunya, menjadi istri sekaligus ibu dengan ikhlas semata karena Alloh.


....................


Jam 14:00 WIB Arka terbangun dari tidurnya.


Dia langsung melihat sang istri yang masih tidur lelap berbantalkan lengan kanannya.


"Terima kasih sayang....." ucapnya sembari mencium pucuk kepala istinya.


Zea yang merasa terganggu tidurnya pun membuka matanya.


"Mas...."


"Sore sayang...." sapa Arka.


"Jam berapa ini?" tanya Zea, dia ingat mereka belum solat zuhur.


"Jam dua...."


"Apa"


Zea langsung menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya, lalu turun dari ranjang.


"Au..." rintih Zea yang merasakan sakit dan perih di area ke*anitaanya.


"Sayang...." panggil Arka khawatir.


"Perih..." lirih Zea.


Arka langsung bangun dan memakai celananya, lalu ia membungkus tubuh Zea menggunakan selimut dan membopongnya ke kamar mandi.


"Terima kasih...." ucap Zea.


"Sama-sama, bagaimana kalo kita mandi bersama?" goda Arka.


"Ngga mau" mendorong Arka agar keluar dari kamar mandi.


"Baiklah-baiklah..." ucap Arka mengalah.


........................


Lima belas menit kemudian, Zea baru saja selesai mandi, namun sialnya dia tadi tak membawa baju.


"Mas...." panggil Zea dari balik pintu.


"Ya sayang, kenapa?"


"Bisa minta tolong?"


"Minta tolong apa?"


"Ambilkan baju..."


"Apa?" goda Arka.


"Ambilkan baju...."


"Oh sayang mau keluar ngga pakai baju, ngga papa ko keluar aja, kan udah halal...." semakin menggoda.


"Mas ih, cepetan ini waktu solatnya udah mau habis loh" sewot Zea.


Arka tertawa kecil kala mendengar kesewotan Zea. Tapi Arka tetap mengambilkan baju milik istrinya.


"Nih sayang...."


Zea segera memakai bajunya, lalu ia wudu, setelah itu Zea baru keluar kamar mandi.


"Loh mas udah mandi dimana?" bingung Zea yang melihat suaminya sudah siap mengimaminya solat.


"Kamar sebelah, udah jangan bengong gitu, cepetan pakai mukenahnya...."


"Ia ia...."


Zea segera memakai mukenahnya, lalu berdiri siap di belakang Arka.


.................................


Kini keduanya sudah berada di jalan menuju pulang.


Tadi Zea terus merengek untuk pulang, padahal Arka masih ingin berlama-lama berduaan dengannya.


"Ini mau pulang kemana mas?"


"Ke rumah ibu...."


"Oh...."


"Pak, berhenti....."


"Siap mas...."


"Mau ngapain?" heran Zea.


"Mau beli siomay sebentar...." ucap Arka sembari turun dari mobil.


"Yang pedes ya...." kata Zea.


"Ok...."

__ADS_1


Arka segera mengahmpiri penjula siomay yang memang mangkal di trotoar jalan itu.


"Monggo pak siomaynya....." sapa sang penjual.


"Ia mas, saya beli tiga puluh ribu ya, jadi tiga, yang pedes satu...."


"Komplit pak?"


"Ia, saya tinggal beli munim sebentar...."


"Siap pak...."


Arka berjalan ke indoapril yang ada di sebelah tukang siomay untuk membeli air mineral.


Arka memilih air mineral yang berukan 1500ml 3 botol dan beberapa camilan. Selesai membayar, Arka kembali lagi ke penjual siomay.


"Ini pak sudah jadi...."


"Terima kasih ya mas, ini, ambil saja kembaliannya...." menyerahkan uang lima puluh ribuan satu lembar.


"Beneran pak?"


"Ia...."


"Terima kasih pak...."


"Ia sama-sama mari...."


Arka segera kembali ke mobilnya.


.........................


Keringat sebesar biji jagung mengalir deras dari pori-pori seluruh badan Zea. Hidung dan bibirnya juga merah merona akibat kepedeean memakan siomaynya.


Arka yang melihat itu langsung memberikan satu botol air mineral yang dibelinya.


Zea langsung membuka tutup botol itu dan menimunnya.


Arka tercengang melihat Zea sudah menghabiskan satu botol air meneral itu.


"Alhamdulillah...." syukur Zea.


"Kamu kenapa mas?"


"E... Ngga papa...."


"Hihi, kamu heran ya, liat aku bisa menghabiskan satu botol ini?" tebak Zea.


"Ia"


"Ngga usah heran gitu, aku emang lebih suka minum air putih ko, dan emang aku banyak minumnya...." jelas Zea.


"Oh begitu...."


........................


Sampailah mereka di rumah ibunya Arka.


"Mamah....." girang Aira.


"Hai sayang...."


"Mana ade Ai?"


"Ade?" heran Zea.


"Ia ade, ata bude Ai, mamah cama papah bikin ade buat Ai...."


"Ade Ai belum jadi, masih perlu proses panjang, tapi kalo Ai mau adenya cepet jadi, nanti Ai tidurnya sendiri ya...." jawab Arka yang mengambil kesempatan dalam kesempitan.


"Oh gitu ya pah?"


"Ia sayang...."


"Ya udah nanti Ai mau tidul sendili....."


"Au, sayang apaan sih sakit tau...." protes Arka yang dicubit perutnya oleh Zea.


"Biarin, usil sih...."


"Ayo sayang kita kedalam....."


Zea membopong Aira masuk kedalam.


Zea langsung disambut oleh mba Airin yang sedang menyuapi Alisa makan, dan bu Aminah yang sedang duduk-duduk santai.


"Assalamu'alaikum......"


"Wa'alaikumussalam....."


"Sini Ze duduk dekat ibu...."


"Ia....."


"Panggil ibu, kaya Arka dan Airin, kamu kan sekarang sudah jadi bagian dari kami...."


"Ia bu...."


Mereka pun mengobrol bersama. Temanya adalah random, semuanya dibicaran, dari harga cabai, artis yang sedang viral, sampai tukang sayur keliling, bakso, mie ayam, cilok, cimol dan lainnya mereka bahas.


Begitulah wanita, jika sudah berkumpul pasti akan membicarakan apapun sampai lupa waktu.

__ADS_1


............................


Saat azan asar terdengar Zea yang sedang menemani Aira bermain bersama Alisa pamit untuk solat terlebih dahulu.


"Mba, Zea mau solat dulu ya...."


"Ia Ze, nanti gantian..."


"Ia mba......"


"Ai mamah solat dulu ya...."


"Ia mah...."


Zea bergegas mengambil wudu.


"Mba Airin...."


"Ya Ze?"


"Tempat solatnya dimana ya, Zea belum tau...."


"Oh ia, kamu lurus aja, nah itu pintu nomer dua...."


"Ok terima kasih mba..."


"Ia sama-sama...."


Zea bergegas ke arah pintu nomer dua.


Ceklek.


"Hai sayang....." sapa Arka.


"Eh mas...."


Mba Airin memang bukan memberi tau dimana letak tempat solat, tapi memberi tau dimana kamar Arka.


Arka segera menyilahkan Zea untuk solat, sementara dirinya akan pergi ke musola dekat rumahnya.


.....................


Selepas solat, Zea berdo'a memohon ampunan untuk dirinya, kedua orang tuanya dan seluruh saudara semuslimnya.


Selesai berdo'a Zea segera kembali ke tempat Aira bermain.


"Udah Ze?"


"Ia mba...."


"Ya udah mba solat dulu ya...."


"Ia mba...."


Zea pun menemani dua balita itu bermain.


......... ............


Malam harinya....


"Haduh gini nih, kalo nikah udah punya anak duluan, ga bebas....." guman Arka.


Arka merasa iri, karena Zea lebih banyak menghabiskan waktu dengan Aira daripada dengan dirinya.


"Mau kemana mas?" tanya Zea yang melihat suaminya melangkahkan kaki, ingin keluar.


"Mau cari angin...."


"Oh ya sudah...."


Zea meneruskan menidurkan Aira. Dia bersolawat kecil, dan menepuk-nepuk panta* Aira, agar bocah kecil itu cepat tertidur.


...............................


Jam sepuh malam tepat, Zea baru keluar kamar untuk mencari sang suami.


Zea mencari ke ruang keluarga, tapi disana gelap, tanda sudah tak ada orang. Selanjutnya ia mencari ke ruang tamu, namun sama tak ada juga. Lalu ia beralih kedapur, sama juga tidak ada.


Satu-satunya tempat yang belum Zea lihat adalah dekat kolam renang.


Tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang.


"A...." teriak Zea tertahan, karena ia di bekap.


"Suut, jangan teriak, ini mas....." bisik Arka di telinga Zea.


"His, jadi orang ko usilnya kebangetan, gimana kalo aku jantungan?" omel Zea.


"Ia maaf....."


"Heem...."


"Ai udah tidur?"


"Udah, makannya aku cari mas....."


"Kangen ya?"


"Ngga, biasa aja...."


"Terus kenapa nyariin?"

__ADS_1


"Mau nyuruh tidur, ini kan sudah malam...."


"Oh ok, ayo ke kamar....."


__ADS_2