Mamah Untuk Aira

Mamah Untuk Aira
Bab 17.


__ADS_3

Sesampainya di kamar, Arka segera memindahkan Aira ke dalam box nya, dengan sangat hati-hati.


"Hufft, alhamdulillah ngga bangun...." guman Arka setelah berhasil memindahkan Aira.


Setelah itu Arka naik ke atas tempat tidurnya, lalu merebahkan dirinya di samping tubuh sang istri.


"Kamu kenapa yang, kaya lagi mikirin sesuatu..."


"Emm, sebelum kita nikah, aku punya rencana untuk membeli tanah......"


"Terus...." mengubah posisinya menjadi memeluk sang istri.


Jantung Zea mendadak berdebar lebih cepat dari pada biasanya.


"Aku mau ijin sama mas, untuk beli tanah itu..."


"Kenapa harus ijin dulu, bukankah itu hak kamu sepenuhnya?"


"Ia sih mas, tapi biar bagaimana pun aku ini udah jadi istri, dan aku bakal ngga enak kalo ngga ijin dulu sama mas...."


"Ia mas ijinin, mau buat butik lagi?"


"Kata mas Yoga baiknya buat swalayan aja...."


"Oh, emang berapa luas tanahnya?"


"774m²....."


"Apa itu bukan tanah sengketa?"


"Insyaalloh bukan, beliau menjual tanah itu karena sedang butuh uang, sebab anaknya ada yang mau ikut magang Jepang dan untuk biaya oprasi kista mertuanya......." jelas Zea.


"Oh begitu, berapa per ubinnya?"


"Karena tanahnya termasuk daerah pelosok desa, pastinya berbeda dengan harga tanah di sini, harganya lebih murah....."


"Kemaren bilangnya berapa?"


"Belum tau, mas Yoga yang akan berembug dengan pemiliknya...."


"Ok, nanti kalo sudah dil harganya kabari mas ya...."


"Ia mas...."


"Ya sudah sekarang tidur ya, kan udah malam..."


"Ia mas...."


Keduanya membaca do'a tidur, lalu memejamkan mata mereka. Keduanya pun tertidur dengan posisi yang sama seperti tadi, Arka memeluk Zea yang tidur telentang.


.............................


Keesokan paginya, Zea yang terbiasa bangun pagi, kini dirinya juga sudah bangun.


Matanya langsung melihat kearah wajah tampan suaminya yang masih tertidur. Tangannya mulai menjelajahi wajah tampan itu.


"Sungguh indah ciptaan Mu, Alloh....." batin Zea.


Arka yang merasa ada sentuhan di wajahnya, malah semakin mengeratkan pelukannya.


"Bangun mas, ayo kita solat malam...." perintah Zea, yang tau kalo suaminya sudah bangun dari tidurnya.


Tanpa kata, Arka membuka matanya lalu ia menyingkap selimut yang menutup tubuh mereka.


Zea yang melihat kelakukan suaminya merasa heran.


"Mas...." tegurnya.


Arka tak menjawab, dia malah bangkit dari tempat tidur, lalu berjalan memutari ranjang, kemudian Arka membopong tubuh Zea ala bridal style.


"Mas" pekik Zea.


"Mas pengin Ze, dari tadi malam mas ngga bisa tidur gara-gara pengin...." jelas Arka.


Zea menjadi merasa bersalah, karena membiarkan sang suami tersiksa menahan hasrat.


Zea pernah dengar dari guru biologi nya kalo seseorang yang menahan hasrat, bisa pusing bahkan sakit kepala.

__ADS_1


Tapi itu bukan sepenuhnya salah Zea, karena Arka juga tak meminta 'hak' nya tadi malam padanya.


Sampailah mereka berdua di dalam kamar mandi. Arka dengan perlahan mendudukan tubuh Zea diatas closet duduk.


Jantung Zea sudah tidak karu-karuan.


"Boleh ya sayang......"


Zea mengangguk pasrah.


Dengan semangat 45 Arka mulai menc**bu istrinya.


Setelah berhasil membuka seluruh pakaiannya dan juga milik Zea. Arka memindahkan tubuh Zea kedalam bath tube yang berisi air hangat dan bunga.


Bahkan Zea tak tau kapan suaminya menyiapkan semua ini.


.......................


Kini Zea dan Arka sudah berkumpul bersama yang lainnya di ruang makan.


Zea dengan cekatan mengambilkan makanan untuk Arka. Lalu ia juga mengambil untuk dirinya sendiri.


Mereka pun sarapan bersama.


Zea bergantin menyuapi Aira dan dirinya, untungnya Aira bukan anak yang harus main kejar-kejaran sambil makan.


"Kalian jadi pindah hari ini?" tanya bu Aminah.


"Ia bu....."


"Emang barangmu sudah di packing Ka?"


"Sudah dong, punya Aira juga sudah...."


"Kenapa harus pindah sih Ka?" kepo mba Airin.


"Arka pengin mandiri mba, lagian juga disini udah ada mba sama mas Bimo...."


"Tapikan mas Bimo pulangnya 9 bulan sekali, jadi sepi dong....."


Bimo Aditya, suaminya mba Airin, merupakan nahkoda kapal pesiar. Mas Bimo kadang pulang 6 bulan sekali, tapi yang paling sering dia pulang 9 bulan sekali. Maka dari itu mba Airin memilih menetap di rumah sang ibu.


"Sudahlah Airin, biarkan Arka dan Zea membangun rumah tangga sesuai impiannya..." ucap bu Aminah.


"Ia ia, tapi jangan lupa sering-sering lah main kesini...."


"Bisa diatur, ya sudah Arka mau siap-siap pindahan...."


"Ia sana...."


"Sayang mas mau menata barang dulu ya..."


"Ia mas...."


..............................


Peluh membasahi tubuh dan kening Arka. Nafasnya memburu tak beraturan.


"Minum dulu mas...." ucap Zea sembari meletakan satu gelas minuman di meja.


"Makasih sayang...."


"Sama-sama, apa sudah beres?"


"Alhamdulillah sudah, tinggal kita berangkat..."


"Belangkat ke mana pah?" tanya Aira yang sedari tadi mengekor kemanapun Zea pergi.


"Kita akan pindah rumah sayang...." jawab Arka sembari mencium gemas pipi Aira.


"Belalti Ai, punya lumah balu?"


"Ia sayang...."


"Yey yeye, punya lumah balu...." girang Aira.


.......................... ......

__ADS_1


Jam 10 pagi, berangkatlah mereka kerumah baru.


Aira terus bertanya apa saja yang dilihatnya pada sang mamah.


Zea dengan sabar terus menjawab setiap pertanyaan yang kelur dari mulut anak sambungnya itu.


Satu jam berlalu, sampailah mereka di sebuah desa yang masih asri. Hawa sejuk pepohonan seolah menyambut kedatangan mereka.


Arka terus melajukan mobilnya hingga sampai di depan halaman luas sebuah rumah sederhana. Walaupun sederhana namun rumah itu sudah permanen.


"Alhamdulillah sampai...." syukur Arka.


"Alhamdulillah....." syukur Zea.


Zea turun dengan membopong Aira yang tertidur lelap.


Arka pun menyusul turun.


Mereka berdua berjalan menuju pintu utama rumah itu.


Dengan cekatan Arka membuka pintu rumah itu.


"Assalamu'alaikum....." ucap Zea ketika melangkahkan kakinya, masuk kedalam rumah.


"Wa'alaikumssalam....." jawab Arka.


Zea terpana dengan luas ruang tamunya.


Di ruang tamu itu ada satu kamar tidur yang berfungsi sebagai kamar tidur untuk tamu.


Rumah itu terdiri dari 4 kamar tidur, dapur, ruang mesin cuci serta jemuran dan kamar mandi.


Rumah itu juga sudah lengkap dengan perabotannya.


Setelah menunjukan ruangan yang ada di rumah itu pada istrinya, Arka bergegas menurunkan barang bawaan mereka.


"Wah akhirnya mas Arka jadi juga menempati rumah ini....." ucap seorang ibu.


"Ia bu, Alhamdulillah, udah waktunya....."


"Mana istrinya mas?"


"Ada di dalam, lagi masak buat makan siang...."


"Oh, terus anak mas mana?"


"Lagi tidur bu...."


"Oh, besok ajak jalan-jalan istri sama anaknya mas, biar kenal sama warga sini....."


"Ia bu...."


Selesai menurunkan dan memindahkan barang, Arka langsung kedapur untuk melihat sang istri.


"Wanginya enak banget yang...."


"Alhamdulillah kalo mas suka......." jawab Zea yang masih sibuk memindahkan sayur kangkung kedalam mangkuk.


"Huhuhu mamah...." tangis Aira.


Tanpa perlu di perintah, Arka langsung menghampiri Aira.


"Hai sayang udah bangun ya?" sapanya.


"Huhuhu mamah mana?" tanyanya.


"Ada, tapi Ai jangan nangis ya, kalo Ai ngga nangis papah anterin ke mamah...."


Aira langsung berhenti menangis.


"Anak pintar, ayo ke mamah....."


Arka membopong Aira menuju dapur.


"Nah itu mamah....."


"Mamah...."

__ADS_1


"Hai sayang...." melepas celmeknya.


__ADS_2