
Zea baru bisa memejamkan mata saat ada suara lantunan ayat suci Al-Qur'an dari speaker masjid.
Jam setengah 6 pagi, Zea baru terbangun dari tidurnya, ia langsung mengambil wudu dan solat subuh yang sudah kesiangan itu.
Selesai solat Zea mencari suami dan anaknya. Zea sudah mencari kesana kemari, namun tak ada siapa pun, seperti hanya dia yang dirumah.
"Pada kemana sih, ko semua orang nggak ada ya" gumannya.
Akhirnya Zea kembali ke dalam tak lupa ia menutup pintu.
"Lebi baik aku masak untuk sarapan sendiri"
Zea melangkahkan kakinya menuju dapur.
Membuka lemari es, lalu mengmbil setengah ikat kangkung, satu buah terong dan satu papan tempe. Setelah itu Zea pun mulai mengeksekusi kangkung, terong dan satu papan tempe itu.
.................
Kini semua masakannya telah tersaji di atas meja makan, namun sampai saat ini suami, anak, ibu mertua serta pembantu rumah tangganya belum juga pulang.
Tak mau memusingkan keberadan mereka, Zea segera menyantap menu sarapannya.
"Bismillah...." berdo'a sebelum makan.
Selesai makan, Zea pun meminum obatnya. Setelah itu, ia mencuci kembali peralatan yang tadi digunakan untuk masak.
Selesai mencuci peralatan, Zea merebahkan dirinya di ruang keluarga, lalu ia mencoba menelfon suaminya.
"Lah, ponselnya aja ada di rumah..." keluhnya, kala mendengar suara nada dering ponsel suaminya.
Tak menyerah, Zea mencoba menelfon nomer ponsel mba Airin, namun sama saja, ponsel ada di rumah.
"Hem, sudahlah nanti juga pulang" ucap Zea menyerah.
Kemudian Zea mengecek laporan butiknya yang dikirim melalui E-Mail.
********
Suasana pasar begitu ramai. Namun anehnya orang yang berada di pasar itu berbeda. Tubuhnya manusia, namun kepalanya binatang. Dari kuda, ba*i, hingga keledai.
Mereka semua saling berbondong-bondong ke tempat pedagang satu ke satunya lagi. Terus begitu, ntah apa yang mereka jual dan beli, Zea tak berani mendekat.
Zea sendiri merasa familiar dengan pasar itu, namun dirinya belum pernah ke pasar itu.
Mengamati sekeliling, dari kejauhan Zea merasa melihat sebuah kereta kencana yang ditarik oleh dua ekor kuda mulai mendekat. Namun ntahlah, ia belum bisa memastikan itu sebab pandangannya terhalang kabut yang begitu tebal.
"Hei, kamu warga baru ya?" seru seorang berkepal keledai kearah Zea.
"Saya?" tanya Zea seraya menunjuk diri sendiri.
"Iya, mari sini, apa yang kamu cari?" tanya 'orang' itu lagi.
Zea menggeleng. Memang dirinya tak mencari apa pun di pasar itu, bahkan Zea merasa bingung kenapa dirinya bisa ada disana.
__ADS_1
"Lalu untuk apa kamu datang kesini?"
Belum sepat Zea menjelaskan, seseorang dari 'mereka' berteriak, mengabarkan raja datang.
"Siap siap, raja datang..." serunya.
Para 'orang' itu langsung berhamburan meninggalkan dagangannya, dan berdiri rapi di tepi jalan. Dengan perasaan bingungnya, Zea juga ikut berbaris.
Sedetik kemudian, kereta kencana yang tadi diliat Zea, kini sudah berada di depan mereka. Zea terheran-heran dengn kejadian di luar nalar yang sedang dialaminya ini.
Seorang lelaki berambut putih yang memakai mahkota diatas kepalanya turun dari kereta kencana itu, dan semua orang membungkukan badannya, tanda hormat. Kecuali Zea yang masih berdiri tegak dengan tatapan bingungnya. Sebab hanya dirinya dan lelaki bermahkota itu yang terlihat sebagai manusia normal, tidak berkepala binatang.
Lelaki bermahkota itu tersenyum tulus kearah Zea, lau ia juga mendekatkan dirinya ke tempat Zea berdiri.
Tanpa Zea duga sebelumnya, lelaki itu memeluk tubuhnya.
"Cucuku, akhirnya kau datang juga...." bisiknya di telinga Zea.
Zea hanya bisa diam mematung di tempat.
"Jangan takut, aku kake buyutmu dari ibumu" jelas orang itu seraya melerai pelukannya.
Kemudian orang itu memperkenalkan Zea sebagai cucunya ke semua 'orang'. Orang-orang itu pun memberi hormat pada Zea.
"Ayo ikut kake sebentar, ke kerajaan..." titahnya.
Dan ntah mengapa Zea mengangguk, padahal hatinya menolak. Zea merasa ada sesuatu yang menggerakan tubuhnya, namun ntah apa itu.
Sekejap mata kemudian Zea disuruh turun. Betapa kagetnya Zea, kala melihat sebuah kerajaan kuno, seperti di film film yang waktu kecil sering ia tonton, berdiri kokoh di depan matanya.
"Kamu memang sedang berada di alam lain" jelas orang bermahkota itu yang seakan paham dengan isi pikiran Zea.
"Ayo masuk...."
Zea menurut. Lalu berjalan di belakang orang bermahkota itu.
Zea dibawa ke salah satu lapangan yang ada di dalam kerajaan itu.
Tiang-tiang yang terbuat dari kayu, berdiri rapi di tengah lapangan itu, nath untuk apa fungsinya.
"Duduklah, sebentar lagi kamu akan tau fungsi dari tiang tiang itu...."
Zea kembali menurut, dia duduk di tempat yang memang sudah tersedia.
"Bawa kemari...." titah orang bermahkota itu, pada pengawalnya.
Kini di tempat itu hanya ada Zea dan orang itu.
"Kenapa hanya aku, kake, dan orang yang berada di kerajaan yang normal?" tanya Zea.
Orang bermahkota itu tersenyum kearah Zea.
"Sebab orang yang diluar kerajaan sudah bukan murni orang lagi. Jiwa mereka sudah bersatu dengan 'peliharaan'nya...."
__ADS_1
"Maksud kake?"
"Mereka yang berkepa binatang itu, orang yang bersekutu dengan iblis..."
"Astaghfirullah hal azim..." lirih Zea.
"Ingatkan pada ibumu untuk berhenti bersekutu dengan iblis"
Lagi-lagi Zea hanya mengiyakan titah orang yang mengaku sebagai kake buyutnya itu.
Beberapa orang pengawal datang membawa sandraan. Dengan kasar mereka mengikat para sandraan itu di tiang-tiang yang ada di lapangan itu.
"Panggilkan algojo"
Tanpa di suruh dua kali, salah satu dari pengawal itu langsung pergi memanggil algojo.
$$$$
Zea menjerit tertahan, ketika algojo itu mulai menyi*sa para sandra itu.
"Kenapa mereka disiksa ke?"
"Itu hanya sebuah peringatan, agar mereka sadar apa yang di perbuatannya adalah salah dan mau bertaubat...."
Zea sudah tak bisa berkata-kata lagi, tubuhnya begitu lemas, bahkan dirinya tak mampu bangkit dari duduknya.
"Sepertinya kamu terlalu lama disini, pulanglah, kake nitip salam untuk suamimu dan keluarganya serta untuk umi dan abimu...."
Kemudian Zea di 'tuntun' menuju kereta kencana. Saat ia melewati para sandraan itu, Zea melihat satu wajah yang familiar, menatapnya dengan tatapan yang seolah memohon pertolongan.
**********
"Alhamdulillah, akhirnya kamu sadar sayang..."
Samar-samar Zea mendengar suara suaminya. Hidungnya juga mulai mencium bau obat-obatan yang khas.
"Mas...." lirihnya saat pandangan dan kesadarannya sudah seratus persen.
"Ia sayang..." jawab Arka.
"Kenapa aku disini?" herannya.
"Kamu pingsan di ruang keluarga sejak tadi pagi...."
"Pingsan?"
"Ia...."
Zea mulai mengingat apa saja yang ia lakukan sejak bangun tidur. Seingatnya setelah bangun tidur ia solat subuh, kemudian mencari semua orang, namun di rumah itu sepi, hanya ada dirinya seorang.
Setelah itu ia pun masak untuk sarapannya sendiri, setelah matang ia pun sarapan. Kemudain ia mencuci piring beserta teman-temannya, lalu ia merebahkan dirinya di ruang keluarga. Mencoba menelfon namun semua ponsel ada di rumah, setelah itu ia mengecek laporan butiknya.
Akh, rupa-rupanya Zea ketiduran saat mengecek laporan butiknya, tapi mengapa Arka mengatakan bahwa Zea pingsan?.
__ADS_1