Mamah Untuk Aira

Mamah Untuk Aira
Bab 22.


__ADS_3

Di perjalanan pulang, Zea tatap masih mendiamkan suaminya. Sehingga kedaan di dalam mobil hening.


Sampi di halam rumah, Zea langsung turun dari mobil dengan menggendong Aira yang sedang lelap tertidur.


Huffttt, lagi-lagi Arka hanya bisa menghela napas, melihat tingkah istrinya.


.......................


Zea meletakan Aira ke dalam box tidurnya setelahnya ia berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Ceklek


Zea membuka pintu kamar mandi.


"Awas" ketusnya ke sang suami yang menghadang jalannya.


Namun Arka tidak mau pergi.


"Kamu kenapa sih yang, ko dari tadi kamu mendiamkan mas?" tanya Arka yang sudah tidak tahan di diamkan oleh istrinya.


"Ngga papa, lagi males ngomong aja" jawabnya dengan nada yang masih ketus.


"Oh mas ingat sekarang, kamu cemburu?" tebak Arka.


"Pikir aja sendiri"


"Cie cumburu, cie...." ledek Arka


"Siapa juga yang cemburu, aku ngga cemburu"


"Masa sih, mas ngga percaya ah...." masih ngeledek.


"Terserah, awas aku mau lewat"


"Ngga mau, sebelum kamu ngaku"


Dengan terpaksa akhirnya Zea mengaku juga, kalo dirinya cemburu.


"Ia aku cemburu, aku takut mas akan diambil mantan......" diam terpaku, karena kaget.


Bagaimana tidak kaget, tanpa aba-aba Arka mencium bibirnya.


"Mas ngga mungkin kembali ke dia sayang, mas ngga bisa jika harus hidup dengan orang yang pernah menghianati mas....."


"Jadi mas minta, apapun yang terjadi, kamu percaya ke mas ya?"


Zea menatap lama manik mata suaminya, sebelum akhirnya ia mengangguk.


"Pinter....." mengusap kepala Zea yang sudah tak tertutup jilbab.


"Iss, rambutku jadi berantakan mas....." protes Zea dengan suara yang sudah normal kembali.


"Hehehe...." ringis Arka.


"Ayo ke tempat tidur......"


"Ia...."


Mereka berdua berjalan ke tempat tidur.


Arka menyenderka tubuhnya di ujung ranjang, lalu ia menuntun tubuh Zea untuk menempel di dada bidangnya.


Mengelus dan mencium ubun-ubun Zea penuh kasih sayang.


"Ini....." menyodorkan sebuah kartu anjungan tunai dari bank ternama.


"Untuk?" bingun Zea.


"Uang nafkah, dan uang bulanan rumah tangga..." jelas Arka.


"Terima kasih mas..."


"Sama-sama, ini juga...." menyerahkan ampol berwarna coklat.


Zea menerimanya dan langsung membuka amplop itu.


"Lima juta?"


"Ia, kan ngga mungkin sayang beli sayur terus abanga suruh nunggu dulu, mau ambil uang di ATM......."


"Hehe, ia juga sih mas...."

__ADS_1


"Ya udah sekarang uangnya sama kartu ATM nya, simpen, terus tidur....."


"Ia mas....."


Zea menuruti titah suaminya. Dia menyimpan kartu ATM dan uangnya ke dalam lemari pakaiannya.


..................................


"Eh kamu istrinya Arka ya?" tanya seorang ibu, kala Zea membeli sayur, di tukang sayur keliling.


"Ia bu, saya Zea istrinya mas Arka, salam kenal..." jawab Zea ramah.


"Ko kamu mau sih sama Arka yang udah duda, kalu aku liat-liat, kamu itu masih muda...."


"Hehe, namanya juga udah jodoh bu...."


"Hem, bukan karena kamu ngincer harta nya doang?"


Zea langsung beristighfar dalam hatinya.


"Astaghfirullah, Limah, ucapanmu itu loh, ngga pernah di filter" tegur seorang ibu yang usianya paling tua.


"Sabar ya mba Zea, Limah memang gitu orangnya, ucapannya ngga pernah di filter..." mengusap punggung Zea.


"Ia bu ngga papa ko"


"Lah, aku kan hanya nanya, apa salahnya, dijaman sekarang itu banyak perempuan yang rela nikah sama duda, bahkan kakek-kakek tua, asal hartanya banyak....." ucap bu Limah.


Zea hanya menggelengkan kepalanya pelan.


Tak mau berlama-lama mendengar ucapan julid tetangganya, Zea segera memilih sayuran yang akan di masaknya untuk sarapan, dan langsung membayarnya.


"Mari bu-ibu, saya duluan...." pamit Zea


"Ia mba Zea, silahkan...." jawab para ibu-ibu.


"Eh, jangan pergi dulu, jawab pertanyaan ku dulu...." cegah bu Limah, menahan lengan Zea.


Menghela nafas berat. Zea tersenyum ramah ke bu Limah.


"Bu, kalo saya mau ngincer hartanya doang, saya ngga perlu samapi susah-susah nikah, tinggal pacarin mas Arka terus porotin hartanya...." jawab Zea yang sudah terkadung kesal, walaupun wajah manisnya masih tersenyum ramah.


Bukankah benar begitu, kalo hanya ngincer hartanya ngaipain susah-susah ngurus-ngurus surat nikah, yang memakan banyak waktu itu. Tinggal pacaran dan porotin harta sang lelaki, gampang bukan?. Tentunya itu hanya berlaku untuk orang yang ngga takut dosa.


"Sudah ya bu, saya permisi mari..."


Setelah itu Zea langsung pulang.


................................


Sesampainya di rumah, Zea langsung mengeksekusi sayuran yang telah di belinya.


"Sayang...."


"Ya mas, Ai belum bangun?" jawab Zea tanpa menoleh, karena sibuk mengupas bawang.


"Belum...."


"Oh...."


"Mau masak apa?"


"Sop kubis dicampur wortel, seledri sama kentang..."


"Ngga pake daging?"


"Mas mau yang dikasih daging?" menoleh.


"Kamu sukanya yang mana?" balik bertanya.


Beginilah jika nikah dengan orang yang baru di kenal, dan tidak pacaran. Sama-sama belum tau selera masing-masing.


"Kalo aku, ngga suka di kasih daging, soalnya jadi amis...."


"Ya udah, mas ikut aja....."


"Yakin?"


"He'em...."


"Ya sudah, ako boleh minta tolong ngga mas?"

__ADS_1


"Minta tolong apa?"


"Tolong irisin cabai sama bawang, buat di bikin sambal kecap...."


"Ok siap"


Setelah itu keduanya sibuk dengan tugas masing-masing.


"Alhamdulillah udah mendidih airnya...." ucap Zea sembari memasukan kobis.


"Sayang ini udah selesai..."


"Ia terima kasih, jangan lupa cuci tangan pake sabun yang bersih ya...."


"Ia sayang...."


Sembari menunggu sopnya matang, Zea menggoreng cabai dan bawang yang sudah di iris.


Tepat saat bawangnya selesai di goreng, sopnya pun matang.


"Alhamdulillah, udah mateng...."


Selanjutnya Zea meracik sambal kecapnya.


.......................


"Hai sayang, mas, ayo sarapan...." panggil Zea.


"Ia..."


Arka membopong Aira ke ruangan makan.


Kini keluarga kecil itu sudah duduk manis di kursinya masing-masing, siap menyantap sarapannya.


"Ayo sayang berdo'a dulu...." titah Zea ke Aira.


Dengan cedalnya Aira membaca do'a sebelum makan, tentu dengan di tuntun Zea.


"Pinternya anak papah...." puji Arka.


"Ia dong...." jawab Zea mewakili Aira.


Kemudian mereka semua makan dengan tenang dan lahap.


Seperti hari kemaren, selepas makan Zea akan memcuci piring dan perabotan yang kotor.


Mumpung Aira sedang anteng bersama papahnya, Zea sekalin mengepel lantai.


Sementara itu, Arka menyapu halaman rumahnya sembari mengawasi Aira yang berlari kesana kemari dengan kaki mungilnya.


Tawa bahagia keluar dari mulut Aira, setiap dia mendekat ke papahnya, dan mendapat gelitikan di perutnya.


Zea ikut tersenyum bahagia melihat tingkah anak sambung dan suaminya itu.


Sungguh, keluarga kecil yang bahagia.


"Ayo sayang, mainnya udah ya, kita mandi dulu..."


Aira dengan kaki kecilnya berlari ke arah Zea.


"Utututu, pinternya...." membopong Aira.


"Mas, aku sama Ai masuk dulu ya...." pamitnya pada sang suami yang sibuk membakar sampah dedaunan.


"Ia sayang...."


Setelah mendapat ijin dari suaminya, Zea membawa Aira masuk.


Beristirahat sebentar, sebelum mandi.


"Mas hari ini ngga ke kebon?" tanya Zea pada suaminya yang baru masuk.


"Ngga, hari ini mas dirumah aja...."


"Oh...."


"Kenapa memangnya?"


"Ya ngga papa, cuma nanya aja...."


"Hem...."

__ADS_1


"Ya sudah, aku mau mandi sama mandiin Ai ya..."


"Ia...."


__ADS_2